Teman Masa Kecil

1120 Kata
“Mas Frans…!” Seorang gadis bermata sipit berlari mendekati Frans. Gadis itu seperti hendak memeluk Frans, tapi Frans justru beringsut mundur dengan tatapan tidak suka. Ia bahkan tidak mengenal siapa gadis itu. “Mas lupa denganku, ya?” tanya gadis itu setelah melihat reaksi Frans yang dingin. Frans tidak menjawab, ia justru menoleh pada Tuan Richardson. “Ini Gritte, Frans. Putri bungsu Mr. Kazuto, teman papa.” Tuan Richardson memperkenalkan Gritte pada Frans. Frans menoleh pada sosok itu lagi. “Oooh.” Frans mengangguk-anggukkan kepala saat mulai mengingat tentang sosok itu. Ternyata gadis kecil yang dulu suka merengek itu sudah beranjak dewasa. Frans memang sudah lama sekali tidak bertemu dengan Gritte, sudah tujuh tahun. “Gritte baru lulus kuliah tahun lalu, dan dia bekerja di sini sebagai staff department research and development,” terang Tuan Richardson lagi. Frans mengerutkan dahinya. Bukankah ayahnya Gritte juga punya restaurant Jepang yang sudah cukup besar? Lantas mengapa gadis itu justru mau menjadi karyawan biasa di Geoff Company? Seolah membaca apa yang ada dalam benak Frans, Tuan Richardson pun berkata, “Gritte ingin mencoba mandiri juga. Dia anak yang aktif dan mau belajar. Progresnya bagus selama di sini.” Frans hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampak tidak tertarik. “Gritte, silakan kembali ke pekerjaanmu. Kami akan melakukan meeting dengan klien,” ujar Tuan Richardson. “Oh, baik, Om. Maaf mengganggu sebelumnya.” Gritte membungkukkan tubuhnya dengan sopan. “Mas, nanti kita cerita-cerita tentang London, ya,” bisik Gritte di telinga Frans sebelum berlalu dari ketiga orang itu. Frans tampak tidak menghiraukan bisikan Gritte. Ia meneruskan langkah menuju ruang meeting bersama Charley dan Tuan Richardson. Itu adalah pertama kali Frans mengikuti meeting di perusahaannya. Ia memang tidak banyak mengerti tentang perusahaan itu. Bahkan Frans saja tidak hafal seluk beluk perusahaan itu. Tapi, dari meeting pagi itu, Frans memahami bahwa perusahaan mereka akan membangun sebuah hotel bintang lima di Bali. Meski merasa jenuh dan mengantuk, Frans tetap mengikuti meeting itu sampai selesai. Usai meeting dengan klien dari Australia, Tuan Richardson membawa kedua putranya itu ke ruangannya. “Frans, apa kau bersungguh-sungguh ingin berpartisipasi di perusahaan ini?” Tuan Richardson kembali menanyakan keseriusan putranya. “Kenapa Papa masih menanyakan itu? Bukankah Papa sudah melihat, aku telah pulang ke Indonesia untuk itu.” “Jujur saja, Papa masih belum merasa yakin. Apa lagi selama ini kamu selalu menolak jika Papa minta berkontribusi di perusahaan. Kamu selalu mengatakan kalau kamu hanya ingin jadi pelukis. Lantas kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran?” Pertanyaan Tuan Richardson terang-terangan menyudutkan Frans. “Bagaimana pun, aku tahu aku punya tanggung jawab atas perusahaan ini, Pa.” “Kau tidak punya tanggung jawab apa-apa selama papa tidak memberikan tanggung jawab itu terhadapmu,” tandas Tuan Richardson. Telinga Frans menggelegar mendengarnya. “Apa maksud Papa? Apa Papa tidak akan mewarisi perusahaan ini padaku? Apa Papa akan menyerahkan pada orang lain?” Tuan Richardson tersenyum arti. “Seperti yang sudah Papa katakana sebelumnya, Papa butuh diyakinkan, Frans,” ucapnya. “Maka mulai sekarang Papa harus melihat keseriusanmu. Kamu bisa belajar banyak pada Charley tentang menjalankan perusahaan.” Frans mendelik Charley. Dia tidak akan sudi belajar pada sosok itu. Sementara Charley menyunggingkan senyum kemenangannya. Begitu ke luar dari ruangan Tuan Richardson, Charley dan Frans berhadap-hadapan. Charley memberikan sebuah berkas tebal pada Frans. “Kau harus mempelajari latar belakang dan visi misi perusahaan terlebih dahulu, Adikku,” sindir Charley tajam. Frans tersenyum sinis. “Kau tidak perlu mengajariku. Dan satu lagi, aku tidak punya ikatan darah denganmu. Jangan panggil aku adik,” tandas Frans. Frans meninggalkan Charley. Emosi yang ia tahan sedari tadi sudah nyaris meledak. Jika lama-lama berhadapan dengan Charley, ia bisa hilang saja. Frans yang hendak meninggalkan kantor, dihampiri kembali oleh Gritte. “Mas Frans!” panggil Gritte sambil berlari kecil mendekati Frans. “Mas mau ke mana?” “Mau ke luar.” “Mau makan siang, ya? Kebetulan aku juga belum makan siang, Mas. Kita makan siang bareng, yuk!” “Saya tidak lapar.” Frans ke luar dari lobi kantor, menghampiri anwar yang menunggu parkiran. Sementara Gritte hanya bisa menghela napas kecewa. “Antarkan saya pulang,” perintah Frans pada Anwar. “Baik, Tuan,” jawab Anwar. Frans pulang ke rumah barunya. Ia ingin menenangkan diri. Ia sedang tidak ingin membahas perebutan hak perusahaan. Frans merasa benar-benar muak. Karena sebenarnya Frans merasa tidak butuh perusahaan itu. Ia bisa mandiri dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Tapi ini memang bukan soal harta, tapi soal harga diri. Baru saja Frans tiba di rumah, Nyonya Richardson sudah menelepon kembali. “Frans, mama baru datang ke kantor, tapi kamu tidak ada. Kamu ke mana, Nak?” “Aku pulang, Ma, ingin istirahat.” “Lalu, sudah di rumah?” “Aku pulang ke rumah baru.” Nyonya Richardson pun menyusul putranya itu. Dan saat itulah Frans menyadari ia akan kembali kehilangan waktu istirahatnya. Nyonya Richardson datang dengan membawakan berbagai furniture untuk mengisi rumah baru putranya itu. “Kok nggak bilang-bilang dulu mau beli furniture sih, Ma?” “Kamu juga nggak bilang-bilang beli rumah. Kamu juga nggak bilang-bilang pulang ke Indonesia.” Frans menghempaskan dirinya sendiri ke sofa. Ia merasa lelah, lebih tepatnya ia merasa muak. “Ma, sepertinya Papa tidak memercayaiku untuk memimpin perusahaan.” “Papamu sudah termakan mulut manisnya si anak haram itu,” cetus Nyonya Richardson. Frans tidak menanggapi. Dari dahulu, Frans juga sudah merasa bahwa sang ayah selalu lebih berpihak pada Charley. “Frans, kamu hanya perlu meyakinkan papamu. Percayalah, dia tidak akan bisa menyerahkan perusahaan pada Charley. Charley sama sekali tidak punya hak. Kamu adalah ahli waris yang sah.” “Ma, kita bahas besok saja, ya. Semua ini membuatku jadi sakit kepala. Aku ingin istirahat. Dan aku ingin sendiri dulu. Mama pulang dulu saja, ya,” balas Frans. Meski merasa sedikit tersinggung karena mendapat usiran dari Frans, pada akhirnya Nyonya Richardson tetap bisa memahami keadaan putranya. Ia tidak bisa terlalu mendesak Frans. “Baiklah, Mama akan pulang. Nanti akan ada yang mengantarkan mobil baru ke sini, untukmu. Apa kau butuh supir dan beberapa orang pekerja di rumah ini? Biar sekalian nanti mama sediakan.” “Tidak usah, Ma. Cukup Anwar saja yang tinggal di sini bersamaku, sekaligus menjadi supir pribadiku,” balas Frans. “Baiklah.” Nyonya Richardson pun bangkit berdiri. Sebelum meninggalkan kediaman itu, ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. “Rumah ini terlalu besar untuk ditempati sendiri, Frans. Tolong pertimbangkan lagi untuk tinggal bersama mama saja di rumah.” “Aku nyaman tinggal di sini, Ma,” tandas Frans. “Sepertinya, selain memikirkan perusahaan, kau juga harus memikirkan pendamping hidupmu, Frans. Kau sudah cukup umur untuk menikah,” ucap Nyonya Richardson lagi. Frans menghela napas panjang dan menghembuskannya dalam sekali hentakan. Satu desakan lagi yang membuat kepalanya terasa semakin runyam saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN