Tamu Dini Hari

1141 Kata
Karena kelelahan, Frans sampai tidak sadar ketiduran di sofa. Saat ia bangun, hari sudah malam. Semua furniture pun sudah tertata rapi. Anwar mendekati majikannya itu. “Apa Tuan mau makan malam sekarang? Biar saya siapkan makanannya,” ujarnya. “Saya mau mandi dulu,” balas Frans. Ia pun menaiki lantai dua, memasuki kamarnya. Usai membersihkan diri di kamar mandi, Frans berdiri di balkon untuk mencari angin segar. Ia memejamkan mata merasakan sepoin angin yang bertiup di wajahnya. Malam itu tampak mendung, tidak ada sebutir bintang pun di langit. Pandangan Frans beralih pada rumah di hadapannya. Ternyata balkon kamar mereka berhadap-hadapan. Frans melirik ke bagian jendela, melihat pintu kamar yang menyela, pun melihat bayang-bayang perempuan dari tirai jendela yang sedikit terbuka. “Ah, apa aku bisa mengintipnya dari sini?” pikir Frans. Tapi tidak lama berselang, tirai jendela itu ditutup rapat oleh pemiliknya. Lampu kamar itu pun tampak dipadamkan. “Apa dia sudah mau tidur?” Frans melirik jam tangannya yang baru menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Pun tidak lama setelah itu, Frans melihat perempuan itu ke luar dari rumahnya. Sepertinya ia hendak pergi. Frans bergegas turun dari lantai dua itu dan berdiri di teras rumahnya. Dari teras rumah, Frans bisa melihat perempuan itu lebih jelas. Ia mengenakan dress ketat yang memiliki belahan d**a rendah, berwarna hitam dengan hiasan manik-manik keemasan, tampak serasi dengan high heels yang dikenakannya. Riasan wajahnya pun terlihat lebih berani dengan lipstick merah menyala. Penampilannya malam itu membuat Frans lupa bahwa perempuan itu adalah perempuan yang sama dengan perempuan berpiyama yang dilihatnya tadi pagi dan perempuan mengenakan outer cokelat yang ditemuinya di London beberapa hari yang lalu. Sebelum menaiki mobilnya, perempuan itu tampak berjongkok pada sebuah kucing persia berwarna orange. Mata Frans terpaku pada paha putih perempuan itu yang masih terlihat terang meski malam sekali pun. Pinggangnya ramping dengan ukuran panggul dan d**a yang tampak padat berisi. Perempuan itu benar-benak menggairahkan. Frans terhipnotis. “Aku ke luar sebentar, ya. Kau jaga rumah baik-baik.” Paula mengelus bulu-bulu lebat kucing persia yang ia beri nama Bram itu. Setelah itu Paula memasuki mobilnya. Kaki jenjangnya yang mengenakan highheels berwarna keemasan adalah pemandangan terakhir yang dilihat Frans sebelum wanita itu raib dari hadapannya. “Mau ke mana dia malam-malam begini?” gumam Frans dalam hati. Frans menunggu Paula di beranda itu hingga larut, bahkan hingga dini hari, tapi perempuan itu belum juga terlihat batang hidungnya. “Apa dia tidak pulang malam ini?” tanya Frans dalam hati. “Kalau tidak pulang, dia tidur di mana?” pikirnya lagi. Frans mengusap wajahnya sendiri. Kenapa juga ia harus berpikir macam-macam? Bukankah ia dan tetangganya itu tak saling mengenal? Ya, memang tidak saling kenal, atau lebih tepatnya belum saling kenal, tapi entah kenapa Frans benar-benar menantikan kepulangan sosok itu. Lebih dari sekadar menantikan, Frans juga mengkhawatirkan. Tepat sebelum Frans memutuskan untuk memasuki kediamannya, mobil silver mengkilat itu pun kembali mendarat di rumah yang ada di hadapannya. Seorang wanita ke luar dari mobil tersebut, menampakkan kaki jenjangnya terlebih dahulu sebelum menampakkan badan sepenuhnya. Merasa sedang diperhatikan oleh seseorang, Paula pun memutar kepalanya, mendapati Frans yang memang sedang menatap ke arahnya. Seperti maling yang tertangkap basah, Frans langsung mengalihkan pandangannya lantas memasuki rumahnya. Di dalam rumahnya, Frans masih mengintip Paula yang juga sudah lenyap di balik pintu rumahnya. Frans melirik arloji di pergelangan tangannya. Sudah pukul tiga dini hari. Dari mana sebenarnya wanita itu? Frans masih sibuk bertanya-tanya dalam hati, mempertanyakan tetangganya yang terlihat misterius, lantas Frans mendengar suara bel. “Siapa yang bertamu dini hari begini?” pikir Frans. Ia kembali mengintip di jendala untuk memastikan si tamu lebih dahulu. Samar-sama Frans melihat seorang wanita yang mengenakan dress ketat manik-manik berdiri di atas kedua kakinya yang jenjang. “Apa benar itu adalah dia?” Frans bergegas membukakan pintu, mendapati seorang wanita dengan sorot mata tajam berdiri berdiri di hadapannya. Frans terpaku diam, ternyata tatapan wanita itu tak hanya menghipnotis, tapi juga mematikan. “Apa kau melihat Bram?” tanya Paula dengan nada dingin, tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. Frans mengerutkan dahi. “Bram?” “Maksudku, apa kau melihat seekor kucing Persia berwarna orange?” “Ohhh.” Frans baru tahu bahwa kucing orange yang dielus wanita itu sebelum pergi bernama Bram. Nama yang sangat tidak cocok untuk seekor binatang sejenis kucing. “Tidak, saya tidak melihatnya,” jawab Frans. “Ya, sudah, kalau kau melihat Bram, tolong kabari aku,” ujar Paula sebelum membalikkan punggungnya. “Tunggu!” cegah Frans, spontan. Paula menoleh dan menaikkan alis. “Apa kau mengingatku? Aku Frans, kita pernah bertemu di London beberapa hari yang lalu,” ujar Frans. Paula memerhatikan laki-laki di hadapannya itu, seperti sedang mengingat-ingat. “Oh, ternyata kalian orang yang sama, kupikir hanya mirip saja. Bukankah waktu itu kau mengatakan kita tidak akan mungkin bertemu di Indonesia?” “Hehehe.” Frans tertawa lirih. “Nyatanya kita bertemu kembali. Sepertinya ini adalah tanda-tanda dari semesta.” Frans mencoba melempar kode, tapi sepertinya Paula sama sekali tidak peka. “Oh ya, saat di London kau pernah mengatakan bahwa kau akan menyebutkan namamu jika kita bertemu lagi di Indonesia.” “Paula,” potong Paula cepat. Ia seperti enggan berlama-lama. “Ohh.” Frans mengangguk-angguk. “Nama yang cantik, seperti orangnya.” Frans melempar satu jurus lagi, dan sepertinya juga tidak mengenai sasaran. Ekspresi Paula tetap datar dan dingin saja. “Oh ya, kita jadi tetangga sekarang. Apa boleh aku berkunjung ke rumahmu?” ujar Frans lagi. “Boleh,” jawab Paula. “Mari.” Paula membalikkan punggungnya dan lebih dahulu berjalan menuju rumahnya. Frans masih melongo. Apa maksud perempuan itu? Apakah Paula baru saja mengajaknya berkunjung detik itu juga? Tapi, Frans tentu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia pun mengikuti Paula. Frans terkagum sendiri melihat rumah Paula yang rapi. Wajar saja Paula memiliki taman yang tak kalah terawatnya. “Mau wine?” Paula menawarkan. “Kau punya wine?” balas Frans yang seolah tidak percaya. “Aku juga punya whisky, champagne, dan Vodca.” “Wine saja.” Paula melenggang menuju lemari minumannya. Ia berjinjit sedikit untuk mengambil minuman botol itu. Frans menatap lekuk tubuh bagian belakang wanita itu. Sosok itu memang penuh kejutan. “Kau tinggal sendiri?” tanya Frans lagi. “Berdua,” jawab Paula sembari menuangkan wine tersebut di gelas. “Dengan Bram,” lanjutnya sambil menyerahkan gelas berisi minuman beralkohol itu pada Frans. “Terima kasih.” Frans meminum satu tegukan. “Saya masih belum terbiasa mendengar kucing bernama Bram.” Laki-laki itu mencoba bercanda namun sepertinya Paula tidak tertarik dengan lelucon seperti itu. Wajahnya datar saja. “Oh ya, kira-kira ke mana perginya kucing itu?” Paula mengangkat bahunya. “Entahlah, belakangan ini Bram memang sering ke luar sendiri. Mungkin karena aku juga sering meninggalkannya.” “Kau tadi dari mana?” “Bekerja.” Frans diam mendengar jawaban itu. Pekerjaan apa yang mengharuskan wanita itu pulang dini hari dengan kostum seterbuka itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN