“Siapa dia?” Margareth melirik Frans yang masih mematung di antara mereka.
“Temanku,” jawab Paula singkat.
Merasa sungkan, Frans pun mengulurkan tangannya untuk menyalami Margareth, tapi Paula menahannya. “Tidak perlu, Frans,” tandas Paula.
Margareth menyipitkan matanya pada Paula. “Kamu punya teman sekarang? Atau mungkinkah dia pacarmu?” Margareth menaikkan alisnya, lantas melirik mobil yang terparkir di halaman itu. “Mobilnya bagus juga,” cetus Margareth lagi.
Paula menghela napas, benar-benar muak menghadapi kelakuan mamanya itu. “Aku ke sini cuman untuk jenguk mama dan mastiin kalau mama baik-baik saja. Ingat ya, Ma, aku nggak mau mama ke meja judi lagi, aku juga nggak mau mama makai gigolo kayak tadi lagi.”
“Kamu tahu, mama tidak akan menuruti perintahmu itu, kan?” Margareth tersenyum sinis.
“Mama mau liburan ke Bali?”
“Maksudmu?”
“Aku akan biayain seluruh akomodasi mama untuk liburan di bali selama satu bulan,” ucap Paula.
“Kamu serius?” Bola mata Margareth langsung membesar.
“Ya, aku di sini juga datang untuk memberitahu tadi. Nanti ada orang yang akan menemani mama selama liburan di bali,” terang Paula lagi.
“Brondong nggak? Mama lagi suka yang muda-muda sekarang.” Margareth mengedipkan matanya pada Frans. Tatapan penuh godaan yang berhasil membuat Frans bergidik geli.
“Frans, kita cabut sekarang, ya!” ajak Paula pada Frans.
“Oh, eh, ya.” Frans masih bingung sendiri dengan apa yang terjadi di depan matanya. Kendati ia lama tinggal di London, pembicaraan ibu dan anak seperti yang baru saja dilakukan oleh Paula dan Margareth tetaplah terasa ganjil baginya.
“Frans, nggak mau masuk dulu? Tante ada kopi dan s**u hangat,” goda Margareth sambil menurunkan belahan kimononya. Frans semakin panas dingin melihat tingkah wanita paruh baya itu.
“s**t!” umpat Paula lantas menarik tangan Frans ke mobil.
“Eh, Paula! Kurang ajar ya kamu berani ngatain mama kayak gitu! Awas kamu jadi anak durhaka!” Margareth masih berteriak-teriak di depan pintu sementara Paula dan Frans telah raib bersama mobil itu.
Setelah bengong sekian lama sambil menyetir, tiba-tiba Frans tertawa sendiri. “Mama kamu lucu, ya,” celetuknya.
Kontan saja Paula mendelik pada Frans. “Excuse me? Lucu yang kamu maksud itu beneran funny atau cuman ngeledek?”
“Mama kamu beneran lucu, Paul.”
“Jangan bilang kamu naksir Mamaku juga!”
Frans tertawa sendiri mendengar tudingan Paula. “Nggaklah, saya kan udah duluan naksir anaknya,” cetusnya yang berhasil membuat wajah Paula merah padam. Paula kehilangan kata selama beberapa detik, hingga akhirnya Frans kembali berkata, “Mau makan siang?”
“Ya, eh, ya, boleh.” Paula mulai merasa canggung.
Mereka berdua berhenti di sebuah restoran. Paula masih menatap Frans, seolah meminta penjelasan dari kalimat yang tadi diucapkan oleh laki-laki itu. Tapi, sayangnya Frans tidak lagi membahas topik itu.
“Sekarang kamu sudah lihat semuanya, kan, Frans. Hidup aku seberantakan itu. Keluarga aku sekacau itu. Jika kamu masih bertanya kenapa aku mau melakukan pekerjaan itu, maka bagiku itu bukan sekadar pekerjaan, tapi sudah seperti kodratku. Aku lahir dengan cara seperti itu, dan sudah sewajarnya aku hidup dengan cara itu juga. Bahkan, sampai sekarang saja, aku tidak tahu siapa ayahku, dan aku yakin mama sendiri juga tidak tahu siapa ayahku,” ucap Paula yang terdengar getir.
Frans mengusap punggung tangan Paula. “Tidak, Paula. Itu bukan kodratmu. Kamu masih bisa mengubah semuanya.”
Paula tertawa getir, sudah seringkali ia mendengar ucapan seperti itu dari orang lain, semisal dari teman-teman sekolahnya dulu. Tapi pada kenyataannya, ucapan seperti itu hanya ilusi saja. Paula sudah berada di goa gelap yang tidak punya pintu ke luar, dan tidak akan ada seorang pun yang bisa menariknya ke luar dari sana.
“Saya tahu kamu adalah orang baik, Paul. Kamu punya hati yang tulus. Dan saya yakin, mamamu juga sama tulusnya denganmu. Kalian berdua hanya tidak berani untuk ke luar dari belenggu itu. Padahal jika kalian mau, sebenarnya kalian sangat bisa.” Frans meyakinkan Paula. “Saya senang tadi malam kamu tidak ke luar, saya berharap sampai malam-malam selanjutnya kamu tidak melakukan pekerjaan itu lagi. Saya tahu, di awal-awal mungkin akan terasa sulit, tapi kalau kamu butuh sesuatu, apapun itu, kamu bisa bilang ke saya. Tuhan sudah menakdirkan saya ketemu kamu, itu artinya Tuhan punya rencana lain, tidak hanya sekadar pertemuan ini.”
Air mata menggenang di mata Paula ketika mendengar ucapan Frans. Sepanjang hidupnya, Frans adalah orang pertama yang berbicara selembut itu padanya. Mustahil jika hati Paula tidak tersentuh. Pramusaji datang membawa makanan, menyelamatkan Paula dari kecanggungan itu.
***
Sebelum pulang, Paula mengajak Frans ke Pantai Rancabuaya. Menurut Paula, itu adalah salah satu pantai yang indah di Bandung. Paula melepaskan alas kakinya, membiarkan kaki telanjangnya bersentuhan langsung dengan pasir dan air laut.
“Well, kamu kan sudah tahu banyak tentang hidup aku. Sekarang saatnya aku ingin tahu kehidupan kamu juga,” ucap Paula sambil berjalan santai di pasir.
“Memangnya apa yang ingin kamu ketahui dari saya, Paula?” tanya Frans.
“Pertama, kenapa kamu tiba-tiba ada di Indonesia? Aku masih ingat banget, waktu kita ketemu di London, kamu dengan yakinnya bilang kita nggak akan ketemu di Indonesia,” balas Paula.
Frans tersenyum mendengar pertanyaan Paula. Baginya, mengingat London sama saja dengan mengingat luka. Tapi, pertanyaan Paula tidak mungkin diabaikannya. “Saya di London kuliah, sudah berencana akan menetap di sana selamanya. Saya bahkan sudah membuat sebuah galeri lukisan di sana. Tapi, tiba-tiba, mama saya minta saya pulang ke Indonesia. Saya anak tunggal, mau tidak mau, saya harus meneruskan perusahaan keluarga. Ketimbang ngurus perusahaan, saya jauh lebih suka hidup dengan hasil lukisan saya saja. Tapi, sebagai seorang anak, saya juga nggak mau apa yang menjadi hak mama saya justru pindah ke tangan orang lain. Papa saya punya anak angkat, lebih tepatnya anak hasil perselingkuhannya dengan wanita lain. Dan orang itu adalah ancaman terbesar bagi saya dan mama,” terang Frans. Paula tercenung menyimak penjelasan Frans.
“Jika kamu menganggap hidupmu terlalu kotor, maka kamu salah, Paul. Semua orang punya masalah dan sisi gelapnya tersendiri. Hanya saja, ada orang yang memilih bertahan dalam ruang gelap itu, da nada juga yang memilih ke luar. Semua pilihan ada di tangan kita, bukan?” lanjut Frans.
Paula menatap Frans dengan sorot mata teduhnya. “Boleh aku lihat lukisan kamu?” ujarnya tiba-tiba.
“Maksudnya?” Frans tampak mengerutkan kening.
“Kamu seorang pelukis, kan? Aku pengen ngelihat salah satu lukisan kamu.”
“Oh, tentu saja boleh. Dan saya punya sebuah lukisan special buat kamu. Sudah saya buatkan bahkan sebelum kita bertemu kembali ke Indonesia.”
“Oh ya?”
“Ya, nanti akan saya perlihatkan di rumah.”