Menyewa Gigolo Brondong

1088 Kata
Paula menyuguhkan semangkuk sup panas untuk Frans, buatannya sendiri. Frans mencium aroma sup itu sambil tersenyum simpul. “Kalau dari baunya sih enak, nggak tau deh gimana kalau rasanya,” celetuk Paula. “Pasti enaklah,” balas Paula dengan percaya diri. Frans pun mencicipi sup buatan Paula tersenyum lantas kembali tersenyum sendiri. “Kalau saya bilang ini sup paling enak yang pernah saya makan, kamu bakal bilang saya peres nggak?” ujar Frans. Paula tertawa kecil. “Tentu tidak. Aku sendiri tahu kok masakanku memang enak, itu makanya aku tidak punya pembantu atau tukang masak di rumah ini.” Frans menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui kesombongan Paula. “Kamu jago masak, kenapa nggak buka restoran sendiri aja?” lanjut Frans. Paula menatap wajah laki-laki itu, ia tahu pembicaraan malam itu pasti akan kembali menyinggung soal pekerjaannya. “Menurut kamu, siapa yang akan mau makan masakan perempuan yang pernah tidur dengan ratusan laki-laki?” Frans meneguk ludahnya, sup yang lezat itu mulai terasa pahit begitu mendengar pengakuan Paula. Ia balas menatap mata Paula. “Saya yang akan memakan masakan kamu sampai habis, Paul,” jawabnya. Paula tertegun sejenak. “Kenapa kamu masih mau menemui aku, padahal kamu sudah tahu seberapa menjijikkannya diriku?” Frans meletakkan sendok yang dipegangnya itu di pinggir mangkok. Ia ingin lebih fokus bicara dengan perempuan satu itu. “Setelah melihat pekerjaanmu tadi malam, jujur saja saya sangat kecewa, Paula. Saya tidak habis pikir, kenapa perempuan secerdas kamu mau melakukan pekerjaan sebodoh itu. Tapi, semua itu tidak merubah kamu dari penglihatannya. Bagi saya, kamu tetaplah perempuan cantik yang pernah saya temui di London, pun yang pernah mengajak saya bertamu dini hari dua hari yang lalu. Hanya saja, saya sangat ingin tahu kenapa kamu mau melakukan pekerjaan seperti itu?” “Kamu bertanya karena penasaran atau karena memang benar-benar ingin tahu?” Paula menaikkan alisnya. “Saya bertanya karena saya peduli.” Paula tertegun untuk yang kesekian kalinya. Pertama kalinya ia melihat ada seseorang yang menatapnya dengan tulus, seperti sorot mata Frans. “Kalau kamu sungguh-sungguh ingin tahu, kamu bisa ikut denganku ke Bandung besok pagi. Jawabannya ada di sana,” ucap Paula. Frans tersenyum mendengar jawaban Paula. “Kamu memang suka ngasih teka-teki ya?” “Karena tidak akan cukup untuk menjelaskannya secara lisan padamu, Tuan Frans,” jawab Paula. Mereka bertatapan lama hingga akhirnya Frans menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Frans lanjut menyantap sup hangat buatan Paula. Topik obrolan mereka pun beralih kemana-mana, mulai dari membicarakan soal politik, hingga sosial. Ternyata Paula memang wanita yang cerdas sehingga asik diajak mengobrol soal apapun. Pukul tiga dini hari, barulah Frans kembali ke kediamannya. *** Pukul tujuh pagi, Frans ke luar dari kamarnya. Pakaiannya lebih santai, tidak mengenakan setelan kemeja dan jas seperti kemarin-kemarin. Ya, hari itu Frans tidak akan ke kantor, melainkan pergi ke Bandung bersama Paula. “Sarapannya sudah siap, Tuan,” ujar Anwar saat melihat majikannya itu turun dari lantai dua. “Anwar, sepertinya saya akan sarapan di luar saja. Oh ya, hari ini saya akan pergi dengan Paula. Saya akan bawa mobil dan menyetir sendiri. Jika ada yang mencari saya, entah Mama atau siapapun itu, katakan saja kalau kamu tidak tahu ke mana saya pergi. Satu lagi, jangan pernah mengatakan pada siapapun kalau saya pergi dengan Paula,” tegas Frans. “Memangnya Tuan dan Nona Paula mau pergi ke mana?” tanya Anwar yang merasa bingung. “Itu bukan urusanmu, Anwar. Tugasmu cukup menjalankan perintah saya tadi,” tandas Frans. “Baik, Tuan.” Seiring dengan itu, mereka berdua mendengar suara seseorang menekan bel di luar. Ketika Anwar membukakan pintu, ternyata sosok itu adalah Paula yang datang sambil menggendong Bram. Frans pun langsung menghampiri Paula. “Apa Bram akan ikut dengan kita?” tanya Frans. “Oh tidak, kan sudah aku katakan bahwa Bram sepertinya tidak suka denganmu. Aku ingin menitipkan Bram di sini bersama Anwar. Ini juga sudah aku bawakan makanannya.” Paula memberikan makanan kucing itu ke tangan Anwar yang masih kelihatan bingung. “Bram itu siapa atuh, Non?” tanya Anwar. Paula pun tersenyum. “Kucing ini namanya Bram,” terang Paula. “Ooohh.” Anwar tampak manggut-manggut. “Ya, sudah, kalau begitu, apa kita bisa berangkat sekarang, Paul?” tanya Frans pada Paula. “Ya, boleh.” Frans dan Paula pun ke luar dari kediaman itu. “Pakai mobil saya saja, ya,” ujar Frans. “Kenapa tidak pakai mobilku saja?” balas Paula. “Gantian,” jawab Frans lantas membukakan pintu untuk Paula. Paula pun tersenyum kemudian memasuki mobil Frans. Mereka berdua pun berangkat menuju kota Bandung. Sepanjang perjalanan, mereka tidak henti mengobrol, selayaknya orang yang sudah saling mengenal sejak lama. Mereka juga bernyanyi bersama karena ternyata selera musik mereka juga sama. Paula benar-benar merasa bisa tertawa lepas hari itu. Untuk pertama kalinya ia merasakan kehidupan normal seperti orang-orang pada umunya. Mereka tiba di Bandung pukul sebelas siang. Frans memarkirkan mobilnya di sebuah rumah sederhana yang disebut Paula sebagai rumah mamanya. Jika dibandingkan dengan rumah Paula yang sangat mewah itu, kediaman tersebut memang tidak apa-apanya. “Ayo, masuk, Frans!” ajak Paula. Ia mengetuk pintu rumah itu. “Ma…! Mama…!” Setelah mengetuk berkali-kali, barulah pintu tersebut dibukakan oleh sang mama. Margareth masih mengenakan kimono tidurnya, ia kelihatan belum mandi. Margareth tampak terkejut dengan kedatangan Paula. “Kamu ke sini kok nggak ngabarin Mama dulu?” “Kan mama yang minta aku buat datang ke sini semalam,” jawab Paula. “Mama pikir kamu tidak akan datang,” lirih Margareth sambil melirik-lirik ke dalam rumahnya seolah mengantisipasi sesuatu. “Kenapa? Mama takut kepergok sedang main sama simpanan mama, ya?” tuding Paula langsung. Ia juga mendorong pintu yang sedari tadi ditahan oleh Margareth. Begitu pintu dibuka, Paula langsung melihat seorang laki-laki umur tiga puluhan ke luar dari kamar Margareth dengan hanya mengenakan celana boxer. “Oh, ternyata Mama ngincar brondong sekarang,” desis Paula. “Eh kamu, ke luar sekarang juga!” Paula membentak laki-laki itu. “Tidak bisa begitu, saya akan pergi jika sudah dibayar,” jawab laki-laki itu. Paula langsung menghela napas panjang, lantas mengeluarkan uang dari dalam tasnya, nominalnya sekitar dua puluh juta. “Bawa uang itu dan jangan datang ke sini lagi!” kecam Paula. Laki-laki tersebut pun mengemasi pakaiannya lantas ke luar dari kediaman Margareth. Paula masih menatap tajam pada mamanya. “Aku ngasih Mama uang itu untuk kebutuhan Mama, bukan untuk membayar gigolo,” ucap Paula pada sang mama. “Paul, gigolo itu juga salah satu kebutuhan mama,” balas Margareth. Sementara Frans yang menyaksikan hal itu masih bingung dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN