Latar Belakang Paula

1094 Kata
Malam itu, Paula berbaring di rooftop sambil ditemani oleh Bram. Paula menikmati hembusan angin malam bersama secangkir kopi yang ia minum sedikit demi sedikit dari tadi. Ia mengkosongkan semua agenda malam itu karena merasa hati dan fisik tidak sedang baik. Kalau soal keprofesional, memang Paula juaranya. Ia selalu melakukan pekerjaannya dengan optimal, selalu datang tepat itu, dan tidak pernah mengecewakan kliennya. Tapi malam itu, ia hanya ingin bersantai sejenak untuk memulihkan hati, sekaligus menunggu Frans pulang, meski Paula sendiri pun tidak tahu apakah Frans akan pulang malam itu atau tidak. “Meongg…!” Bram bersandar manja dalam pelukan Paula. Paula membelai kucing persia orange itu. “Bram, aku merindukan dia. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, aku merindukan seseorang,” lirih Paula. “Tapi, setelah apa yang ia lihat tadi malam, mungkinkah ia masih mau bertemu denganku? Lihatlah, tadi pagi saja dia meminta Anwar untuk membangunkan aku, kenapa bukan dia sendiri. Mungkin dia marah. Oh bukan mungkin lagi, dia pasti sangat kecewa atau bahkan jijik padaku.” Paula menarik napasnya dalam-dalam. Dalam hening itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Semula Paula tidak berniat untuk mengangkatnya, tapi setelah mengetahui panggilan itu dari sang mama, Paula pun terpaksa menekan tombol connecting. Karena kalau tidak, mamanya juga akan menelepon sampai pagi. “Ya, halo, Ma?” ujar Paula saat mengangkat telepon. “Paul, mama kalah judi malam ini. Tolong kamu kirimkan uang dua ratus sejuta sekarang, ya,” pinta Margareth tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. Paula langsung menghela napas panjang. “Kalau Mama tidak punya uang, ngapain datang ke meja judi?” “Aish, nggak usah pake ceramahin mama segala. Pokoknya kamu kirimkan saja sekarang uang dua ratus juta, kalau lebih juga nggak apa-apa,” tegas Margareth. “Paula akan kirimkan lima ratus juta tapi Mama harus pulang sekarang,” balas Paula tidak kalah tegasnya. “Nggak bisa gitu dong, Paul. Ini teman-teman Mama lagi ramai di sini.” “Lima ratus juta atau tidak sama sekali,” tandas Paula. “O-oke, Mama pulang sekarang. Kirimkan lima ratus jutanya, ya.” Paula langsung mengakhiri panggilan itu. Ia mengirimkan uang sesuai permintaan mamanya. Ya, Paula memang tidak pernah membantah permintaan sang mama kendati wanita itu selalu memerasnya setiap hari. Dari kecil, Paula hanya mengenal mamanya. Ia tahu sang mama telah berkorban banyak hal untuk membesarkannya, dan mungkin saja pengorbanan itu tidak akan bisa dibalas oleh Paula kendati ia telah menyerahkan seluruh hartanya pada sang mama. Hidup Paula memang sudah gelap dari kecil. Dahulu, ibunya juga menjalankan pekerjaan yang sama dengannya. Paula terbiasa melihat ibunya ke luar dengan laki-laki lain setiap malam meski hatinya teriris melihat pemandangan itu. Paula sempat menempuh sekolah formal, tapi ketika SMP ia dibully habis-habisan saat teman-teman sekolahnya mengetahui pekerjaan ibunya. Semenjak itu, Paula sadar, ia tidak akan bisa masuk ke kehidupan orang lain di luar sana. Sepanjang hidupnya, ia akan tetap terisolasi. Tiga tahun yang lalu, Margareth menjadikan Paula taruhan di meja judi. Itulah pertama kali kegadisan Paula dirampas dengan cara yang sangat menjijikkan. Semenjak itu juga Paula memutuskan untuk menjalankan pekerjaan seperti ibunya dengan syarat ibunya harus berhenti dari pekerjaan itu. Penghasilan Paula berkali-kali lipat lebih besar dari sang mama. Satu bulan menjalani pekerjaan itu, Paula bisa membuatkan toko fashion yang besar untuk mamanya. Namun, karena sikap Margareth yang konsumtif dan suka berjudi, tahun lalu toko fashion itu jatuh bangkrut, dan kini Margareth terlilit hutang sana-sini. Ponsel Paula kembali berdering, panggilan vidio dari Margareth lagi. “Mama sudah di rumah,” ucap Margareth. “Bagus. Besok-besok, aku nggak mau ngelihat Mama ke meja judi lagi, ya,” balas Paula. “Kamu tidak akan bisa melarang mama, Paul,” tandas Margareth. “Oh, ya, kirim alamat rumahmu, besok mama mau ke sana. Mama bosan di sini tiap hari dikejar-kejar rentenir terus.” “Tidak, aku nggak akan ngizinin mama ke sini. Lagian kalau Mama nggak terus-terusan nambah hutang, pasti hutang-hutang itu juga udah lunas sekarang.” “Jangan mentang-mentang kamu yang sekarang negbiayain hidup mama, kamu jadi ngendaliin hidup mama juga, ya! Kamu temui mama besok atau mama yang akan nyari alamat kamu sampai ketemu!” kecam Margareth. Paula segera mengakhiri panggilan itu karena merasa lelah berdebat dengan sang mama setiap hari. Seiring dengan itu, Paula melihat mobil Frans baru saja pulang. Paula spontan berdiri dan menatap ke bawah. Frans turun dari mobil seorang diri. Wajahnya tampak lelah, mungkin karena bekerja dan menempuh perjalanan jauh seharian tadi. Paula mengurungkan niat untuk menghampiri laki-laki itu. *** “Mau saya siapkan makanan, Tuan?” ujar Anwar pada majikannya. “Tidak usah, Anwar. Saya sudah makan. Oh ya, apa sarapan tadi pagi sudah kamu berikan pada tetangga kita?” balas Frans. “Sudah, Tuan. Bahkan Nona Paula belum mengembalikan piringnya sampai sekarang,” seloroh Anwar sambil nyengir lebar. “Biar besok yang minta sendiri ke sana,” balas Frans sambil tersenyum tipis. Lantas Frans pun memasuki kamarnya. Hal yang pertama ia lakukanlah adalah mandi dan membersihkan diri. Badannya sudah terasa gerah karena beraktivitas seharian, kepalanya juga terasa berat mengurus pekerjaan yang benar-benar baru baginya. Usai mandi, Frans sempat mengintip kea rah rumah Paula dari jendela kamarnya. Ia melihat lampu kamar Paula masih menyala. Biasanya Paula selalu mematikan lampu kamarnya kalau hendak ke luar. Frans juga melihat mobil Paula masih terparkir di carport. Mungkinkah perempuan itu benar-benar tidak keluar malam ini? Atau mungkinkah ia sudah pulang bekerja? Frans langsung turun dari kamarnya dan menuju rumah Paula. Ia ingin memastikan perempuan itu benar-benar ada di rumah. Setelah menekan bel, Frans melirik jam tangannya, pukul setengah dua belas malam, memang bukan waktu yang tepat untuk bertamu, tapi Frans yakin Paula akan tetap membukakan pintu. Benar saja, tidak lama berselang, pintu pun dibukakan oleh Paula. Perempuan itu mengenakan terusan selutut, rambutnya digerai, wajahnya tanpa riasan tebal, namun terlihat anggun sekali. “Kenapa bertamu malam-malam begini, Tuan Frans?” ujar Paula. Ia merasa canggung berhadapan dengan Frans setelah apa yang terjadi di malam sebelumnya. “Saya ingin mengambil piring yang tadi pagi diberikan oleh Anwar padamu,” jawab Frans. Paula tersenyum tipis mendengar jawaban Frans yang konyol. “Oke, silakan masuk!” Paula mempersilakan tetangganya itu. “Di mana Bram?” Frans menanyakan keberadaan kucing persia orange milik Paula. “Tadi ada bersamaku, tapi sekarang entahlah. Sepertinya Bram selalu menghilang setiap kali aku bersamamu. Mungkin dia cemburu,” jawab Paula asal sambil mengambilkan piring Frans. “Mungkin juga ia ingin memberikan kesempatan buat kita.” Frans menimpali. Paula tersenyum lagi mendengar ucapan Frans. “Apa kamu memasak sesuatu hari ini, Paul?” ujar Frans lagi. “Apa kamu ingin meminta ganti sarapan tadi pagi dengan sebuah makan malam?” Frans hanya balas dengan tawa lirihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN