Di Depan Kamar Hotel

1128 Kata
Di hotel yang berbeda, di pintu kamar yang berbeda, tapi Frans kembali menyaksikan adegan yang sama. Seorang laki-laki berkimono telah menunggu Paula dan langsung menarik perempuan itu masuk. Tatapannya seperti tatapan binatang buas yang hendak melahap mangsa. Frans sama sekali tidak melihat sisi manusia dari para lelaki hidung belang itu. Dan lagi, seperti dejavu, Frans menunggu di depan pintu tanpa bisa melakukan apa-apa. Hingga di depan pintu kamar yang ketiga, Frans menahan tangan Paula. “Paul, tolong, ini sudah pukul satu. Kita harus pulang. Kamu harus istirahat,” ucap Frans. Ia merasa tidak sanggup lagi jika harus melihat Paula menekan bel kamar hotel untuk yang ke tiga kalinya di malam itu. Paula melepaskan tangan Frans. “Tidak bisa Frans, ini pekerjaanku. Aku harus melakukan pekerjaanku sebaik mungkin. Dalam profesi apapun, keprofesionalan tetap diperlukan,” balas Paula. “Tapi, Paula…-“ Frans merasa tidak sanggup melanjutkan ucapannya sendiri. “Ini bukan sebuah pekerjaan,” tegas Frans. “Ini pekerjaanku. Kamu tidak berhak bicara seperti itu,” balas Paula, tidak kalah tegasnya. Frans menghela napasnya. “Kamu butuh uang seberapa banyak, Paul? Katakan! Saya kasih seberapa pun yang kamu mau, tapi tolong jangan ketuk pintu kamar itu lagi!” Paula terdiam mendengar ucapan Frans. Seketika itu juga ia merasakan ada yang tersendat di tenggorokannya. Berlama-lama di hadapan Frans hanya akan membuat pertahanannya runtuh. Paula menekan bel kamar itu. Saat pintu itu terbuka, Paula langsung menyelinap masuk. Untuk pertama kalinya, air matanya jatuh di dalam kamar hotel. Untuk pertama kalinya Paula menangis saat menjalankan pekerjaannya. *** “Kamu terlihat tidak seceria biasanya,” ucap Jamal, klien Paula malam itu. “Tapi tetap bisa memuaskan anda dengan sangat baik, kan?” tandas Paula. “Aku bukan pelawak, aku tidak berkewajiban memasang wajah ceria atau melihat anda tertawa.” “Yang di luar tadi siapa?” tanya Jamal lagi. Usai mengenakan kembali pakaiannya secara utuh, Paula berdiri di hadapan Jamal yang masih bertelanjang d**a. “Transaksi kita selesai. Tidak perlu obrolan tambahan,” ucap Paula dingin lantas ke luar dari kamar itu. Begitu membuka pintu, Paula melihat Frans masih berdiri di tempat semula, menatap Paula dengan tatapan sayunya. Melihat wajah Frans, hati Paula langsung terasa remuk. Tapi ia tidak bisa memaki laki-laki itu, karena Frans memang tidak punya kesalahan apa-apa. Barangkali kesalahannya hanya satu, kenapa harus berdiam diri di sana yang pada akhirnya membuat Paula merasa bersalah sendiri.  “Pekerjaanku malam ini sudah selesai. Aku mau pulang dan beristirahat,” ucap Paula yang terdengar lirih. Frans menganggukkan kepalanya. Ia mengiringi langkah Paula memasuki mobil tanpa bicara sepatah kata pun. Hening terus menyergap mereka berdua hingga mobil itu mendarat di depan kediaman Paula. Frans menghela napas dan melirik jam tangannya, sudah pukul empat pagi. “Terima kasih sudah menemaniku bekerja mala mini. Apa kamu ingin sebuah hadiah dariku, Frans?” Paula akhirnya buka suara. Frans langsung memutar kepalanya menghadap Paula. “Memang hadiah seperti apa yang akan kamu berikan?” tantang Frans yang terdengar dingin. “Apapun yang kamu inginkan,” jawab Paula. “Saya ingin kamu nggak berangkat kerja lagi besok malam. Apa kamu menyanggupinya?” “Aku mengizinkan kamu ikut bukan agar kamu menghakimi pekerjaanku kayak gini!” tandas Paula. “Berapa kali harus saya bilang, Paul, yang kamu lakukan ini tidak pantas disebut pekerjaan!” Nada suara Frans terdengar tinggi karena ia memang sedang emosi. “Berapa kali juga harus aku bilang sama kamu Frans! Ini pekerjaanku!” balas Paula. “Kamu butuh uang berapa? Berapa jumlah uang yang ingin kamu hasilkan dari pekerjaan seperti ini, hah?” “Ini bukan soal uang, Frans!” Paula merasakan bola matanya mulai panas. “Aku nyesal ngajak kamu ikut tadi,” lirihnya. “Saya nyesal karena baru bisa ikut denganmu hari ini. Mulai besok, saya nggak mau lagi ngelihat kamu kerja seperti tadi, keluar malam dengan pakaian seperti ini, apalagi ketemu sama laki-laki b******n yang tidak jelas seperti tadi,” tegas Frans. Paula menatap tajam mata Frans. “Kita baru kenal tiga hari, kamu nggak berhak ngatur-ngatur aku kayak gitu. Keluar dari mobil aku! Sekarang!” bentak Paula. Frans menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya turun dari mobil Paula. Frans memasuki kediamannya. Ia memukul dinding kamarnya sampai tangannya memar. Tidak ada cara lain yang bisa Frans lakukan untuk melampiaskan amarah dalam tubuhnya. Lebih menyakitkannya, ia tidak tahu harus menumpahkan sumpah serapah itu pada siapa. Frans hanya bisa memaki kehidupan yang sedang dijalaninya, kenapa ia harus kembali ke Indonesia, kenapa ia harus bertemu dengan perempuan seperti Paula, dan kenapa ia harus jatuh cinta pada perempuan yang seperti itu! Sementara di dalam mobilnya, Paula juga mengerang seorang diri. Ia memukul-mukul tubuhnya yang terasa begitu menjijikkan. Perkataan Frans tadi benar-benar terasa menamparnya, tapi Paula tidak bisa menampar balik. Kenapa Frans harus menemaninya bekerja malam itu? Kenapa Frans harus menunggu sampai selesai? Kenapa juga ia harus memberitahu Frans soal pekerjaannya? Sebenarnya, hal yang sama pernah Paula lakukan pada laki-laki yang pernah ingin mendekatinya dahulu. Tapi, begitu mengetahui pekerjaan Paula, laki-laki itu justru mengambil kesempatan dengan turut menikmati tubuh Paula. Itulah mengapa Paula sempat menawarkan hadiah pada Frans tadi. Ternyata, hadiah yang diminta Frans bukanlah hadiah yang biasa diinginkan oleh lelaki pada umumnya. Kenapa laki-laki itu harus menjadi sosok yang berbeda? Kenapa juga Frans harus menyentuh hati Paula dengan cara yang sedemikian menyakitkannya? *** “Non! Non! Nona!” Paula tersentak saat mendengar seseorang mengetuk pintu mobilnya. Ya, ia memang tertidur di dalam mobil itu sampai pagi. Melihat seseorang di luar, Paula pun menurunkan kaca mobilnya. “Ya, ada apa?” tanya Paula pada Anwar. “Maaf mengganggu Nona. Tadi majikannya saya berpesan untuk membangunkan Nona. Saya juga jadi khawatir kenapa Nona sampai ketiduran di mobil. Apa nona baik-baik saja?” ujar Anwar. Paula memang tidak tahu siapa nama Anwar, tapi Paula tahu bahwa Anwar adalah orang yang bekerja dengan Frans, dan majikan yang dimaksud Anwar sudah pasti Frans. “Ya, saya tidak apa-apa. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan saya,” ucap Paula. “Sebagai sesama tetangga kan juga harus saling tolong menolong, Nona. Ini Nona, majikan saya juga minta saya nganterin sarapan buat Nona.” Anwar menyodorkan roti dan segelas s**u ke tangan Paula. Paula menerima makanan itu dengan tertegun. “Di mana majikan kamu sekarang?” tanya Paula. “Tuan Frans sudah berangkat tadi pagi, katanya mau ke Anyer, ada urusan pekerjaan. Apa Nona butuh kontak Tuan Frans?” “Oh tidak perlu. Terima kasih ya,-“ Paula berhenti sejenak. “Siapa nama kamu?” “Anwar, Non.” “Oke, terima kasih Anwar.” “Sama-sama, Nona Paula,” balas Anwar. Paula mengerutkan dahinya. “Dari mana kamu tahu nama saya?” “Dari situ, Nona.” Anwar menunjuk secarik kertas di atas piring roti itu. Ternyata Frans juga menyisipkan sepucuk surat kecil yang bertuliskan. “Maaf untuk tadi malam. Have a nice breakfast, Paula!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN