bc

Menantu Cengil Ustadzah

book_age12+
5
IKUTI
1K
BACA
revenge
BE
opposites attract
submissive
stepfather
heir/heiress
drama
no-couple
mystery
campus
civilian
like
intro-logo
Uraian

Seorang putri pengusaha dipaksa masuk ke dalam pesantren, sebuah ruang yang tak pernah ia bayangkan, belum genap satu bulan ia harus tertimpa masalah dan harus menikah dengan seseorang yang tak ia kenal dan tak ia cintai. Semua begitu mendadak seperti bom waktu yang meledak.

chap-preview
Pratinjau gratis
Perdebatan
Rayya Kusumawardani, gadis muda dengan kecantikan yang memesona, adalah sosok yang sulit ditebak. Ia terkenal di kalangan sosialita Bandung sebagai ratu pesta. Malam-malamnya selalu diwarnai dengan lampu gemerlap klub malam dan dentuman musik DJ yang memekakkan telinga. Alkohol seakan menjadi sahabat setianya. Tak ada yang tahu bahwa di balik itu semua, ia adalah putri tunggal dari Wirawan Kusumawardhana, seorang pengusaha sukses dengan kerajaan bisnis yang luas. Namun, di balik senyumnya yang penuh percaya diri dan tawa riangnya di tengah gemerlap malam, Rayya menyimpan rasa gelisah. Kehidupannya yang liar tak lepas dari tatapan penuh kecewa ayahnya, yang berharap putrinya bisa menjadi sosok yang lebih bertanggung jawab. Hingga pada suatu malam, setelah sebuah insiden yang hampir mencoreng nama baik keluarga, Pak Wirawan tak lagi bisa menahan kemarahannya. "Rayya! Apa lagi kali ini? Kamu mau sampai kapan seperti ini?" suara bariton Pak Wirawan menggema di ruang tamu rumah mewah mereka. Mata tajamnya menatap putrinya yang duduk dengan santai di sofa. Rayya hanya mengangkat bahu, seolah tak peduli. "Apa sih, Pa? Aku cuma seneng-seneng aja. Kita punya segalanya! Uang bukan masalah, kan?" Pak Wirawan mendekat, wajahnya memerah. "Ini bukan tentang uang! Ini tentang harga diri dan tanggung jawab. Kamu tahu apa yang kamu lakukan tadi malam hampir membuat kita kehilangan kontrak besar dengan partner bisnis kita?" Rayya mendengus, "Jadi, semuanya cuma tentang bisnis? Papa nggak pernah peduli apa yang Rayya rasain. Selalu aja urusan kerja, kerja, dan kerja!" Pak Wirawan menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan emosinya. "Rayya, ini semua demi masa depanmu. Papa sudah memutuskan, kamu akan masuk pesantren." Rayya terbelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Apa? Pesantren? Papa pasti bercanda, kan? Aku nggak mau masuk ke tempat seperti itu!" Pak Wirawan tetap tenang, tapi suaranya penuh ketegasan. "Ini bukan diskusi, Rayya. Kamu perlu belajar disiplin dan tanggung jawab. Pesantren adalah tempat yang tepat untukmu." Rayya berdiri, menatap ayahnya dengan tatapan penuh kebencian. "Papa nggak ada hak memaksaku! Ini hidupku, bukan hidup Papa!" Pak Wirawan menghela napas berat. "Rayya, Papa hanya ingin yang terbaik untukmu. Kamu bisa membenci Papa sekarang, tapi suatu saat kamu akan mengerti." Rayya menghambur keluar dari ruang tamu, berlari menuju taman belakang rumahnya. Di sana, ia berdiri terpaku, memandang langit malam yang dipenuhi bintang. Tangisannya tak lagi bisa ditahan, air mata mengalir deras di pipinya. Di tengah keheningan itu, terdengar suara langkah lembut yang mendekat. "Rayya sayang, ada apa?" Suara lembut mamanya, membuyarkan kesunyian malam. Rayya menoleh, matanya masih merah karena menangis. "Mama, Papa tidak adil! Papa mau ngirim aku ke pesantren! Rayya nggak bisa, Ma, Rayya nggak mau!" Ibunya mendekat, meraih bahu Rayya dan menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Rayya, Papamu hanya ingin yang terbaik untukmu. Dia khawatir denganmu, dengan cara hidupmu yang sekarang." Rayya menggeleng kuat, suaranya penuh putus asa. "Tapi, Ma, pesantren? Itu kayak penjara buat aku! Aku nggak bisa hidup di tempat seperti itu. Mama tolong bicara sama Papa, bujuk Papa supaya Papa berubah pikiran." Ibunya menghela napas panjang. Ia tahu ini adalah keputusan sulit, tapi ia juga tahu betapa keras kepala suaminya. "Rayya, kamu tahu Papamu tidak akan mengubah keputusan semudah itu. Tapi, Mama akan mencoba berbicara dengan Papamu, Mama akan berusaha." Rayya memegang tangan ibunya erat-erat, seperti anak kecil yang takut kehilangan satu-satunya pelindungnya. "Tolong, Ma, aku nggak bisa hidup di sana. Aku janji akan berubah, aku janji nggak akan membuat masalah lagi. Asal jangan kirim aku ke sana." Ibu Melati membelai rambut Rayya dengan lembut, berusaha menenangkan putrinya. "Mama tahu kamu bisa berubah, sayang. Tapi kamu juga harus buktikan kepada Papa bahwa kamu serius. Ini bukan hanya tentang berjanji, tapi menunjukkan bahwa kamu memang bisa bertanggung jawab." Rayya mengangguk pelan, meski hatinya masih diliputi kecemasan. "Aku akan buktikan, Ma. Asal Mama bisa ngeyakinin Papa, aku akan lakukan apa saja." Ibu Melati menarik Rayya ke dalam pelukan hangatnya. "Mama akan mencoba, sayang. Tapi kamu juga harus siap menghadapi apa pun yang terjadi. Ingat, Papa hanya ingin yang terbaik untukmu." Rayya mengangguk dalam pelukan ibunya, mencoba mencari kekuatan di dalamnya. Malam itu, di tengah kecamuk emosi, ia merasakan kehangatan yang sedikit meredakan kegelisahannya. Malam semakin larut ketika Ibu Rahayu mendatangi suaminya di ruang kerja. Pak Wirawan duduk di belakang meja besar, matanya masih terpaku pada berkas-berkas di depannya. Ibu Melati mengetuk pintu perlahan sebelum masuk, membawa secangkir teh hangat. "Mas Wirawan," panggilnya lembut, sambil meletakkan cangkir teh di atas meja. "Aku ingin bicara tentang Rayya." Pak Wirawan mengangkat kepalanya, tatapannya melembut sedikit melihat istrinya. "Apa yang ingin kamu bicarakan, Mel?" Ibu Melati duduk di kursi di depan meja, menghela napas sejenak sebelum memulai. "Aku tahu kamu ingin yang terbaik untuk Rayya. Aku juga. Tapi apakah memasukkan dia ke pesantren adalah satu-satunya cara? Rayya sangat terguncang dengan keputusan ini. Dia butuh waktu untuk berubah, bukan hukuman." Pak Wirawan menghela napas panjang, meletakkan berkas-berkasnya dan menatap istrinya dengan serius. "Mel, ini bukan hukuman. Ini adalah kesempatan untuknya belajar disiplin dan menemukan jati dirinya. Di pesantren, dia akan jauh dari godaan yang membuatnya terus berbuat salah." Ibu Melati menggenggam tangan suaminya dengan lembut. "Aku mengerti maksudmu, Mas. Tapi dia sangat menolak. Dia merasa terasing dan takut. Bisakah kita memberi dia kesempatan untuk membuktikan dirinya di sini, di rumah, tanpa harus mengirimnya jauh ke Jawa Tengah?" Pak Wirawan menggeleng tegas. "Mel, kita sudah memberi dia banyak kesempatan. Setiap kali, dia kembali dengan masalah yang sama. Aku sudah memutuskan, pesantren di Jawa Tengah adalah tempat yang terbaik untuknya. Di sana, dia bisa fokus tanpa gangguan." Ibu Melati menatap suaminya dengan mata penuh harap. "Mas, tolong pikirkan kembali. Apa tidak ada cara lain? Aku takut kalau kita terlalu keras, Rayya malah semakin menjauh dari kita." Pak Wirawan menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya. "Mel, aku tahu ini sulit. Tapi aku yakin ini adalah jalan terbaik. Kita tidak bisa terus membiarkan dia hancur seperti ini. Aku berharap kamu bisa mengerti dan mendukung keputusan ini." Ibu Melati terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca. "Aku akan selalu mendukungmu, Mas. Hanya saja, aku tidak ingin kehilangan Rayya. Aku ingin dia merasa bahwa kita ada untuknya, bukan memaksanya." Pak Wirawan meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat. "Aku juga tidak ingin kehilangan dia, Mel. Tapi kadang-kadang, kita harus mengambil langkah yang keras demi kebaikannya. Aku harap suatu saat dia akan mengerti dan memaafkan kita." Ibu Melati mengangguk pelan, berusaha menahan air matanya. "Kalau begitu, kapan kamu berencana mengirim Rayya ke pesantren itu?" Pak Wirawan menatap istrinya dengan penuh tekad. "Besok pagi." Ibu Melati terkejut. "Besok pagi? Secepat itu?" Pak Wirawan mengangguk. "Iya, Mel. Semakin cepat, semakin baik." Ibu Melati terdiam, hatinya dipenuhi kecemasan. Malam itu, dia tahu bahwa keputusan ini akan membawa perubahan besar dalam hidup Rayya. Namun, di tengah kegelapan malam, ada harapan bahwa semua ini akan membawa kebaikan bagi putri mereka. Saat malam semakin larut, di dalam kamarnya, Rayya masih terjaga, menatap langit-langit dengan pikiran berkecamuk. Ia tidak tahu bahwa keesokan harinya hidupnya akan berubah selamanya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.7K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.3K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.1K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook