Tempat Yang Baru

1050 Kata
Pagi-pagi buta, ketukan keras di pintu kamar Rayya membangunkannya dari tidur yang tak nyenyak. Ia menggeliat malas, mencoba menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. "Rayya, bangun! Kita harus pergi sekarang," suara Pak Wirawan terdengar dari balik pintu. Rayya mengerang, matanya masih setengah tertutup. "Papa ngapain sih, ini masih pagi. Aku butuh tidur, aku masih ngantuk, Pa." Namun, ketukan di pintu semakin keras. "Bangun sekarang juga, Rayya! Kita tidak punya banyak waktu." Dengan enggan, Rayya bangkit dari tempat tidur, menendang selimutnya ke samping. Ia membuka pintu kamar dengan wajah kusut dan mata yang masih berat. "Apa sih, Pa. Papa serius masukin aku ke Pesantren?" tanyanya dengan nada marah. Pak Wirawan menatap putrinya dengan tegas. "Iya, kita harus pergi sekarang. Kamu sudah tahu ini keputusan yang tidak bisa ditunda." Rayya mendengus kesal, namun tak ada pilihan lain selain menuruti perintah ayahnya. Ia melangkah dengan wajah yang cemberut menuju kamar mandi untuk mencuci muka, lalu berganti pakaian dengan asal. Ketika ia turun ke ruang tamu, ia melihat koper yang sudah tertata rapi di dekat pintu. Ibu Melati berdiri di sana, menatap Rayya dengan mata penuh kesedihan. "Rayya, tolonglah. Lakukan ini demi dirimu sendiri, sayang," kata Ibu Melati lembut. Rayya hanya menatap mamanya dengan mata penuh kemarahan dan ketidakpercayaan. "Kalian benar-benar nggak peduli dengan perasaanku, ya? Aku nggak mau pergi!" Pak Wirawan mendekat, suaranya tegas dan penuh wibawa. "Rayya, cukup! Ini bukan saatnya untuk berdebat. Kamu harus mengikuti keputusan ini." Rayya mengerutkan kening, tatapan marahnya berpindah ke ayahnya. "Papa nggak berhak mengatur hidupku seperti ini!" Pak Wirawan mendekat, menatap putrinya dengan mata yang dingin. "Aku Papamu, Rayya. Tugas Papa adalah memastikan kamu tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab. Sekarang masuk ke mobil!" Dengan terpaksa, Rayya menyeret kakinya menuju mobil. Ia membanting pintu mobil saat masuk, wajahnya masam dan matanya masih penuh dengan kebencian. Pak Wirawan masuk ke mobil di depan kemudi, sementara Ibu Melati duduk di sampingnya, mencoba menahan tangis. Mobil pun melaju, meninggalkan rumah besar itu. Di dalam mobil, keheningan yang tegang mengisi udara. Rayya menatap keluar jendela, melihat pemandangan kota Bandung yang mulai ditinggalkannya. Hatinya dipenuhi oleh berbagai perasaan marah, takut, dan sedikit penyesalan. Perjalanan menuju pesantren di Jawa Tengah terasa sangat panjang bagi Rayya. Sepanjang jalan, ia hanya diam, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Ketika akhirnya mobil berhenti di depan gerbang besar pesantren, hatinya semakin berat. Pak Wirawan mematikan mesin dan menghela napas panjang. "Rayya, kita sudah sampai. Ayo turun!" Rayya tetap diam, tidak bergerak sedikit pun dari tempat duduknya. Ia memeluk erat tasnya, seolah-olah itu bisa melindunginya dari kenyataan yang harus dihadapinya. Pak Wirawan membuka pintu mobil dan berjalan mengitari mobil untuk membuka pintu di sebelah Rayya. "Rayya, ayo turun. Jangan membuat ini lebih sulit dari yang sudah ada." Rayya menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca. "Papa, tolong. Aku nggak mau di sini. Aku nggak cocok dengan tempat ini." Pak Wirawan menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan emosinya. "Rayya, ini sudah keputusan yang terbaik untukmu. Papa dan Mama hanya ingin kamu menjadi pribadi yang lebih baik." Ibu Melati keluar dari mobil dan mendekati Rayya, berusaha menenangkan. "Sayang, kami melakukan ini karena kami sangat mencintaimu. Kami ingin kamu memiliki masa depan yang lebih baik." Rayya menatap ibunya dengan mata penuh harap. "Mama, tolong jangan biarkan Papa maksa aku. Aku janji akan berubah, aku janji akan berusaha lebih baik." Pak Wirawan, yang berdiri di dekat pintu mobil, kehilangan kesabarannya. "Rayya, ini bukan lagi soal janji. Ini soal tindakan. Sekarang turun dari mobil!" Rayya terkejut mendengar nada suara ayahnya yang keras. Dengan terpaksa, ia membuka sabuk pengaman dan melangkah keluar dari mobil. Ia berdiri di depan gerbang besar pesantren, merasa kecil dan tak berdaya. Pak Wirawan mengangguk puas. "Baik, sekarang kita masuk. Mama dan Papa akan menemanimu sampai proses pendaftaran selesai." Dengan berat hati, Rayya melangkah mengikuti kedua orang tuanya. Di dalam hatinya, ia merasa ada yang terenggut dari dirinya, kebebasan yang selama ini ia nikmati. Ia tidak tahu apa yang menantinya di dalam pesantren ini, tetapi satu hal yang pasti, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Pak Wirawan, Ibu Melati, dan Rayya melangkah masuk ke dalam kantor pesantren dengan perasaan campur aduk. Ruangan itu sederhana namun teratur, dihiasi dengan kaligrafi Arab dan potret ulama besar yang menggantung di dinding. Di meja depan, seorang ustadz dan ustadzah menyambut mereka dengan senyum ramah. "Assalamu'alaikum," sapa Ustadz Fikri dengan suara lembut namun penuh wibawa. "Selamat datang di pesantren kami. Apa yang bisa kami bantu?" Pak Wirawan menjawab dengan sopan, "Wa'alaikumussalam, Ustadz. Kami datang untuk mendaftarkan putri kami, Rayya." Ustadz Fikri mengangguk, lalu memanggil Ustadzah Hana yang berdiri di sampingnya. "Ustadzah Hana akan membantu dengan proses pendaftaran. Silakan duduk." Rayya duduk dengan enggan, pandangannya menyapu ruangan dengan penuh ketidaknyamanan. Ia merasa seperti ikan di luar air, jauh dari gemerlap kota yang biasa ia kenal. Ustadzah Hana tersenyum hangat, mencoba menghilangkan kegugupan Rayya. "Rayya, kami akan memastikan kamu merasa nyaman di sini. Pesantren ini adalah tempat yang penuh dengan ilmu dan persahabatan." Rayya hanya mengangguk singkat, tidak tertarik untuk berbicara. Pak Wirawan dan Ibu Melati mengikuti proses pendaftaran dengan seksama, sementara Rayya semakin gelisah. Ketika ustadzah Hana menjelaskan aturan-aturan pesantren, Rayya merasa semakin tercekik. "Di sini, kami memiliki jadwal yang ketat untuk sholat, belajar, dan kegiatan lainnya. Kami berharap kamu bisa menyesuaikan diri secepat mungkin." Rayya akhirnya meledak. "Aku nggak mau di sini! Ini bukan tempat untukku!" Ia berdiri dengan tiba-tiba, membuat semua orang di ruangan terkejut. Pak Wirawan mencoba menenangkan putrinya. "Rayya, jaga bicaramu, Jangan membuat keributan di sini. Jangan bikin malu Papa kamu!" Namun, Rayya tidak bisa ditenangkan. "Papa, Mama, kalian tidak mengerti! Aku tidak cocok di tempat ini. Aku ingin pulang sekarang juga!" Ustadz Fikri berdiri, mencoba mendekati Rayya dengan tenang. "Rayya, kami di sini untuk membantumu. Kami mengerti ini sulit, tapi kami yakin kamu bisa menemukan kenyamanan di sini. Banyak teman Rayya disini." Rayya menatap Ustadz Fikri dengan penuh kemarahan. "Nggak ada yang bisa membuatku nyaman di sini! Kalian tidak tahu apa-apa tentangku!" Situasi semakin tegang, dengan mata semua orang tertuju pada Rayya yang masih berdiri marah. Pak Wirawan dan Ibu Melati merasa bingung dan tidak berdaya. Tiba-tiba, pintu kantor terbuka lebar, dan seorang wanita paruh baya dengan tatapan tegas masuk. "Apa yang sedang terjadi di sini?" suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Rayya menoleh, pandangannya bertemu dengan wanita itu. Hatinya berdegup kencang, perasaannya campur aduk antara takut dan penasaran. Siapakah wanita ini? Apakah kedatangannya akan mengubah segalanya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN