Setelah keributan di kantor pesantren mereda, Ustadzah Khusnul yang sudah diberitahu oleh staf kantor bahwa tugasnya adalah menjemput Rayya ke asrama putri, melangkah mendekati Rayya dengan tenang.
"Rayya, sekarang saatnya kamu ke asrama putri," kata Ustadzah Khusnul dengan suara yang wibawa.
Rayya menatap Ustadzah Khusnul dengan tatapan penuh pemberontakan. "Aku nggak mau! Aku nggak akan pergi ke mana pun!"
Pak Wirawan menghela napas panjang, menatap putrinya dengan tatapan tegas namun penuh kasih. "Rayya, kamu harus mengikuti aturan di sini. Kami melakukan ini demi kebaikanmu."
Ibu Melati mencoba menenangkan dengan suara lembut, "Sayang, kami tahu ini sulit. Tapi kamu harus mencoba. Kami akan selalu mendukungmu dari kejauhan."
Rayya menggertakkan giginya, menahan tangis yang hampir pecah. "Kalian tidak mengerti! Kalian tidak peduli dengan perasaanku!"
Pak Wirawan menatap Rayya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kami sangat peduli, Rayya. Itulah mengapa kami mengambil keputusan ini."
Ustadzah Khusnul, yang masih berdiri dengan sabar, berbicara lagi. "Rayya, kamu tidak sendiri di sini. Kami semua akan membantumu beradaptasi. Semua awalnya juga begitu tapi nanti kamu akan terbiasa dengan lingkungan ini."
Rayya tetap teguh pada pendiriannya. "Aku nggak mau ke asrama! Aku benci tempat ini!"
Pak Wirawan akhirnya mengambil keputusan berat. "Rayya, kami harus pergi sekarang. Kami harap kamu bisa belajar dengan baik disini. Jangan membuat masalah."
Dengan berat hati, Pak Wirawan dan Ibu Melati berbalik untuk meninggalkan kantor pesantren. Rayya, yang masih berdiri dengan tatapan penuh ketidakpercayaan dan kemarahan, menatap punggung kedua orang tuanya yang semakin menjauh.
Rayya berteriak, "Papa, Mama! Jangan tinggalin aku di sini!"
Namun, mereka terus melangkah pergi, hati mereka berat namun yakin bahwa ini adalah langkah yang benar.
Ustadzah Khusnul mendekati Rayya lagi, kali ini dengan lebih lembut. "Rayya, mari kita ke asrama. Aku akan menemanimu."
Rayya tidak punya pilihan lain selain mengikuti Ustadzah Khusnul. Dengan langkah berat dan hati yang penuh dengan rasa marah dan kecewa, ia melangkah menuju asrama putri, tempat di mana babak baru dalam hidupnya akan dimulai.
Rayya melangkah masuk ke asrama putri dengan enggan, diikuti Ustadzah Khusnul yang berjalan di sampingnya. Saat mereka tiba, suasana asrama dipenuhi dengan suara riang para santriwati yang sedang berbincang dan tertawa bersama. Namun, Rayya tidak tertarik untuk bergabung.
"Rayya, ini kamarmu," kata Ustadzah Khusnul sambil menunjukkan tempat tidur yang telah disiapkan. "Kamu bisa berkenalan dengan teman-temanmu nanti. Beradaptasilah perlahan-lahan."
Rayya hanya mengangguk singkat, lalu duduk di tempat tidurnya. Ia merasa asing dan terasing di tengah keramaian. Seorang santriwati lain menatapnya dengan rasa ingin tahu, tetapi Rayya tidak menunjukkan minat untuk berbicara dengan mereka.
Salah satu santriwati itu mendekati Rayya dengan senyum ramah. "Hai, aku Sarah. Kamu anak baru di sini, ya?"
Rayya hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, lalu berbaring di tempat tidurnya dengan punggung menghadap Sarah. Santriwati itu terlihat sedikit kecewa namun segera kembali ke kelompok teman-temannya.
Ustadzah Khusnul memperhatikan dari kejauhan, memberikan ruang kepada Rayya untuk beradaptasi. Ia tahu bahwa memaksa Rayya untuk langsung berinteraksi hanya akan membuat keadaan semakin sulit. "Biarkan dia menemukan jalannya sendiri," pikir Ustadzah Khusnul.
Menjelang maghrib, Adzan maghrib berkumandang. Para santriwati mulai berbondong-bondong menuju masjid, mengenakan mukena. Namun, Rayya tetap berbaring di tempat tidurnya, matanya tertutup rapat.
Seorang santriwati lain, Siti, mendekati Rayya dan mencoba mengajaknya. "Rayya, ayo ke masjid. Sudah waktunya sholat maghrib."
Rayya membuka matanya sedikit dan menatap Siti dengan tatapan lelah. "Aku nggak mau. Aku mau tidur aja."
Siti tampak bingung namun akhirnya mengangguk pelan dan pergi menuju masjid bersama yang lain. Rayya menarik selimutnya lebih erat, berusaha mengabaikan semua yang terjadi di sekitarnya.
Ketika asrama akhirnya kosong, Rayya merasa lebih nyaman. Ia terbaring di tempat tidurnya, merenungi segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Perasaan marah, kecewa, dan kesepian bercampur menjadi satu.
Di masjid, Ustadzah Khusnul memimpin sholat maghrib bersama para santriwati. Ia menoleh sejenak ke arah asrama, mengerti bahwa Rayya butuh waktu. "Semoga Allah memberikan petunjuk dan kekuatan pada Rayya," doanya dalam hati.
Rayya, yang kini sendirian di asrama, mulai merasakan dinginnya malam yang merayap masuk. Dalam kesunyian itu, ia merenung, mempertanyakan masa depannya dan bagaimana ia akan bertahan di tempat yang begitu asing baginya.
"Mama, Papa nyebelin banget sih! Apa aku harus menghabiskan seumur hidupku disini?" gerutu Rayya lalu tertidur.
Seminggu kemudian, tepatnya hari Jumat, suasana di Pondok Pesantren Al-Munawwir penuh dengan aktivitas. Para santri dengan semangat menjalankan kegiatan ro'an, membersihkan pondok dari ujung ke ujung. Suara sapu beradu dengan lantai, tawa riang para santri, dan aroma segar dari sabun pembersih memenuhi udara.
Namun, di sudut asrama putri, Rayya masih tertidur lelap di tempat tidurnya. Selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya, hanya menyisakan sedikit ruang untuk bernafas. Sejak pertama kali tiba di pesantren, ia belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan.
Para santri lainnya, termasuk Sarah dan Siti, sibuk dengan kegiatan ro'an. Mereka menyapu, mengepel, dan membersihkan setiap sudut asrama. Siti sesekali melirik ke arah Rayya yang masih tidur. "Kenapa Rayya gak ikut kegiatan ro'an? Anak itu anak baru tapi selalu cari masalah." tanya Siti pada Sarah.
Sarah menghela napas. "Jangan gitu, mungkin Rayya masih belum siap. Biarkan saja dulu. Mungkin suatu saat nanti dia akan berubah."
Ustadzah Khusnul, yang mengawasi kegiatan para santri, memperhatikan bahwa Rayya masih di tempat tidurnya. Ia berjalan mendekati kamar Rayya, kemudian mengetuk pintu dengan lembut namun tegas.
"Rayya, sudah waktunya bangun. Semua santri sedang melaksanakan kegiatan ro'an," kata Ustadzah Khusnul dengan suara yang penuh otoritas.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Ustadzah Khusnul membuka pintu perlahan, menemukan Rayya yang masih terbaring di tempat tidurnya, matanya tertutup rapat. "Rayya, kamu harus mentaati peraturan pesantren ini. Jangan seenak kamu!"
Rayya menggerakkan tubuhnya sedikit, namun tetap tidak bangun. "Aku nggak mau. Lebih baik aku tidur," gumamnya pelan.
Ustadzah Khusnul menarik napas panjang, mencoba mengendalikan kesabarannya. "Rayya, kamu harus berubah, kamu harus belajar bertanggung jawab dan saling tolong menolong."
Rayya tetap diam, mengabaikan semua perkataan Ustadzah Khusnul. Ketegangan terasa semakin meningkat di dalam kamar yang sempit itu. Ustadzah Khusnul tahu bahwa memaksa Rayya tidak akan memberikan hasil yang baik, namun ia juga tidak bisa membiarkan Rayya terus-menerus menghindari tanggung jawabnya.
Ustadzah Khusnul berdiri sejenak, memandang Rayya dengan tatapan yang campur aduk antara kekecewaan dan harapan. "Rayya, saya berharap kamu bisa melihat kenyataan. Tapi, jika kamu tetap memilih untuk tidak bangun, maka kamu harus menghadapi konsekuensinya."
Rayya hanya bergeming, masih tertidur di bawah selimutnya. Ustadzah Khusnul akhirnya keluar dari kamar, meninggalkan Rayya sendirian.
Akankah Rayya akhirnya menyadari pentingnya tanggung jawab dan kebersamaan, atau akankah ia terus melawan takdir yang telah ditentukan untuknya?