Ketika Ustadzah Khusnul keluar dari kamar Rayya, seorang wanita cantik dengan aura tenang melangkah masuk ke asrama. Namanya Nazilatul Nafisah Abdurrahman, atau lebih akrab dipanggil Zila. Zila adalah putri KH. Abdurrahman, pengasuh pesantren yang sangat dihormati oleh semua orang. Dia baru saja kembali dari Universitas Al-Azhar di Mesir, tempat dia lulus dengan predikat cemerlang.
Semua santri memandangnya dengan penuh takzim saat dia lewat, menghormati kehadirannya yang anggun dan berwibawa. Dengan senyum lembut, Zila melangkah menuju kamar Rayya, membawa kehangatan dalam setiap langkahnya.
Zila mengetuk pintu kamar Rayya dengan lembut, kemudian membuka pintu dan melihat Rayya masih terbaring di tempat tidurnya. Dengan langkah perlahan, Zila mendekati Rayya dan duduk di tepi tempat tidurnya.
"Rayya," panggil Zila dengan suara lembut. "Bangunlah, sudah saatnya kita ikut kegiatan ro'an."
Rayya mengerang pelan, menarik selimutnya lebih erat. "Siapa lagi sih!Aku nggak mau! Biarin aku tidur," gumamnya dengan nada malas.
Zila tidak menyerah. Dia tahu bahwa Rayya butuh pendekatan yang berbeda. "Rayya, aku mengerti ini semua sulit untukmu. Tapi aku di sini untuk membantumu. Tapi kalo kamu hanya berdiam disini itu nggak ada artinya dan kamu yang akan merugi."
Rayya membuka matanya sedikit, menatap Zila dengan ekspresi bingung. "Apa pedulimu? Kenal aja enggak."
Zila tersenyum hangat. "Para santriwati disini semua adalah keluargamu Rayya dan sebagai keluarga, kita harus saling mendukung. Aku percaya kamu bisa melakukannya."
Rayya menatap Zila dengan tatapan skeptis, namun ada sesuatu dalam cara Zila berbicara yang membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Meski masih enggan, Rayya akhirnya duduk di tempat tidurnya.
"Aku benar-benar nggak suka tempat ini," kata Rayya pelan.
Zila mengangguk mengerti. "Aku tahu, Rayya. Tapi cobalah memberi kesempatan pada dirimu sendiri. Kadang-kadang, kita menemukan kekuatan dan kebahagiaan di tempat yang paling tidak kita duga."
Rayya terdiam sejenak, lalu dengan berat hati, dia mulai bangun dari tempat tidurnya. "Deeeh, iyalah aku bangun. Ini untuk terakhir kali aku ikut apa tadi rokan? Nggak penting banget bagiku."
Zila tersenyum lebar. "Terima kasih, Rayya. Ayo! ikut aku."
Dengan bimbingan lembut dari Zila, Rayya akhirnya keluar dari kamar dan bergabung dengan para santri lainnya. Meski masih terlihat enggan, kehadiran Zila di sisinya memberikan rasa nyaman dan keyakinan baru. Para santri lainnya menyambut Rayya dengan senyum hangat, membuat suasana lebih ringan dan bersahabat.
Setelah bergabung dengan kegiatan ro'an, Rayya mulai perlahan-lahan menyesuaikan diri. Meskipun masih canggung, dia mencoba ikut serta dalam membersihkan asrama bersama teman-temannya.
"Rayya, buang sampah ini ke belakang pesantren untuk dibakar." kata Siti sambil menyerahkan kantong besar berisi sampah.
Rayya mengangguk, mengambil kantong sampah itu dengan enggan. Dengan langkah yang masih sedikit berat, Rayya menuju ke belakang pesantren. Di sepanjang jalan, dia memperhatikan suasana pesantren yang mulai terasa akrab, meskipun masih ada perasaan asing yang menyelinap dalam hatinya.
Saat sampai di belakang pesantren, tanahnya agak licin karena hujan semalam. Rayya berusaha berjalan hati-hati, tapi tiba-tiba kakinya terpeleset. Dia kehilangan keseimbangan dan jatuh menabrak seorang santri putra yang sedang membawa seember air.
"Aduh!" seru Rayya, merasa tubuhnya jatuh ke tanah. Ember air itu tumpah, membasahi keduanya. Dalam sekejap, mereka jatuh berpelukan di tanah yang becek.
Suasana di sekitar mereka seketika hening, semua santri memandang kejadian itu dengan mata terbelalak.
Dari kejauhan, Ustadzah Khusnul dan Ning Zila berjalan mendekat, wajah mereka menunjukkan ekspresi tercengang dan tidak percaya. Melihat Rayya dan Fahmi dalam posisi seperti itu, Ustadzah Khusnul merasa bingung dan cemas. Dia tahu bahwa kejadian ini akan segera menyebar di seluruh pesantren.
"Rayya, Fahmi, apa yang terjadi di sini?" tanya Ustadzah Khusnul dengan suara tegas, namun ada nada khawatir yang terselip.
Rayya dan Fahmi segera berusaha bangkit, mencoba membersihkan diri dari lumpur dan air yang mengotori pakaian mereka. "Apaan sih? Orang kita gak sengaja aku jatuh, salahnya dia juga ngapain sih disitu buat apes orang aja," jelas Rayya dengan santai
Ning Zila, yang berada di samping Ustadzah Khusnul, menatap Fahmi dengan wajah menunduk, merasa ada kesalahpahaman yang terjadi. "Ustadzah, mungkin kita bisa membawa mereka ke kantor untuk membicarakan ini lebih lanjut."
Di dalam kantor, suasana hening dan tegang. Ustadzah Khusnul duduk di belakang meja, sementara Rayya dan Fahmi berdiri di depannya dengan kepala tertunduk. Ning Zila berdiri di samping, menatap Fahmi dengan perasaan bersalah dan cemas.
"Rayya, Fahmi, saya ingin penjelasan yang jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi," kata Ustadzah Khusnul dengan suara tegas namun tetap tenang.
"Umi sumpah demi Allah, aku ndak kenal sama dia. Ning Zila percaya kan sama aku," jelas Fahmi meyakinkan.
"Saya rasa, saya harus melibatkan Mas Zien disini," kata Zila dengan lalu memanggil salah satu santriwati untuk memanggil kakaknya.
Beberapa saat kemudian, Gus Zein datang dan menanyakan tentang apa yang terjadi. Rayya mengajak Ustadzah Khusnul dan kakaknya untuk berdiskusi di sebuah ruangan.
"Ini masalah yang rumit, Zila. Kita harus bertindak dengan bijaksana agar tidak memperburuk keadaan," ujar Gus Zein dengan nada serius.
Ning Zila mengangguk setuju. "Aku tahu, Mas. Tapi apa yang harus kita lakukan? Semua santri sudah tahu tentang kejadian ini, dan kita harus menjaga nama baik pesantren."
Gus Zein berpikir sejenak sebelum akhirnya memberikan usulan. "Mungkin, solusi terbaik adalah menikahkan Rayya dan Fahmi. Dengan begitu, kita bisa meredakan gosip dan menjaga nama baik keluarga serta pesantren."
Mata Ning Zila melebar sedikit, terkejut dengan usulan tersebut. "Menikahkan mereka? Mas yakin?"
Gus Zein tersenyum lembut. "Memang cepat, tapi ini adalah cara terbaik untuk mengatasi masalah ini tanpa memperpanjang keributan. Kita bisa memberi mereka kesempatan untuk mengenal satu sama lain lebih baik setelah menikah. Bagaimana menurutmu?"
Ning Zila merenung sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah jika itu yang terbaik. Aku harap abah dan Umi ridho dengan keputusan ini.
Setelah Ning Zila dan Gus Zein menyepakati solusi untuk menikahkan Rayya dan Fahmi, mereka berdua melangkah keluar dari ruang kerja dengan perasaan campur aduk. Ning Zila tahu bahwa menyampaikan keputusan ini kepada Rayya dan Fahmi akan menjadi tantangan tersendiri.
Ning Zila menatap mereka berdua dengan serius. "Setelah mempertimbangkan semuanya, kami telah memutuskan bahwa untuk menjaga nama baik pesantren dan keluarga, kalian berdua akan dinikahkan."
Mata Rayya membelalak, dan Fahmi terkejut tak percaya. "Menikah? Tapi... Ning Zila, saya ndak melakukan apa-apa Ning! Gus Zein saya mohon ralat." protes Fahmi dengan suara bergetar.
Ustadzah Khusnul mencoba menenangkan mereka. "Kami tahu ini mengejutkan, tapi ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi situasi ini."
"Ummi, aku mohon, aku masih ingin mondok disini."
Rayya merasa seluruh dunia berputar, dan pertanyaan-pertanyaan memenuhi benaknya. Apa yang akan terjadi pada hidupnya sekarang? Bagaimana ia bisa menerima ini semua?
Saat pertanyaan itu bergema di dalam pikirannya, suara adzan maghrib menggema, mengingatkan semua orang bahwa waktu untuk beribadah telah tiba. Namun, bagi Rayya, adzan kali ini terasa seperti lonceng yang mengiringi langkahnya menuju takdir yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Bagaimana ia akan menghadapi masa depannya setelah keputusan ini?