Pihak pesantren segera menghubungi orangtua Rayya untuk menginformasikan keputusan yang telah dibuat. Telepon diangkat oleh Pak Wirawan yang mendengarkan dengan penuh perhatian, tetapi semakin lama pembicaraan berlangsung, raut wajahnya semakin tegang dan marah.
"Kami akan segera ke sana," katanya dengan suara dingin sebelum menutup telepon. Dia memberi tahu istrinya, dan mereka bergegas ke pesantren.
Saat tiba di pesantren, suasana semakin tegang. Pak Wirawan langsung menemui Ustadzah Khusnul, Gus Zein dan Ning Zila di kantor pesantren. Wajahnya merah padam dengan kemarahan yang ditahan.
"Apa maksud kalian menikahkan anak saya tanpa persetujuan kami?" bentak Pak Wirawan, suaranya menggema di ruangan itu.
Gus Zein, berusaha tenang. "Pak Wirawan, ini adalah keputusan terbaik untuk menjaga nama baik pesantren dan keluarga."
Rayya berdiri di sudut ruangan, menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "Papa, ini semua hanya kecelakaan. Aku nggak pernah bermaksud...," kata Rayya, suaranya gemetar.
Namun, Pak Wirawan memotongnya dengan suara keras, "Kecelakaan? Ini lebih dari sekadar kecelakaan, Rayya! Kamu telah mempermalukan keluarga kita!"
Ibu Rayya berdiri di samping suaminya, mencoba menenangkan keadaan. "Mas Wirawan, tenanglah. Mari kita dengarkan penjelasan mereka."
Pak Wirawan menghela napas berat, wajahnya masih penuh kemarahan. "Baik, apa solusi kalian?"
Gus Zein maju dan menjelaskan keputusan yang telah dibuat. "Kami memutuskan bahwa Rayya dan Fahmi harus menikah. Ini akan menyelesaikan masalah dan menjaga nama baik semua pihak."
Pak Wirawan terdiam sejenak, menatap putrinya dengan kecewa. "Kalau begitu, kami setuju. Tapi dengan satu syarat. Fahmi dan Rayya akan mendapatkan rumah dan fasilitas yang layak dari kami."
Fahmi, yang berdiri di dekat pintu, menggelengkan kepalanya. "Maaf, Pak. Saya lebih memilih tinggal di rumah ibu saya, Ustadzah Khusnul. Jika pernikahan ini terlaksana, Rayya harus tinggal di tempat yang sama."
Pak Wirawan menatap Fahmi dengan mata tajam, mencoba memahami keputusan pemuda itu. Akhirnya, dia mengangguk perlahan, meskipun jelas bahwa dia masih marah dan kecewa.
"Baiklah," katanya akhirnya, suaranya penuh ketegangan. "Kami berharap kamu bisa membimbing Rayya dengan baik."
Rayya merasa dunianya runtuh. Ia tahu bahwa keputusan ini tidak bisa diubah dan kehidupannya akan berubah drastis. Apa yang akan terjadi padanya setelah pernikahan ini? Bagaimana ia bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya?
"Pa! Kenapa sih Papa setuju? Aku nggak mau nikah sama dia!" teriak Rayya.
"Diam Rayya! Ini konsekuensimu karena kamu ceroboh! Saya harap pernikahan ini akan membawa Rayya menjadi sosok perempuan yang baik."
Rayya tidak bisa menerima keputusan ini. Hatinya dipenuhi kemarahan dan kesedihan yang bercampur aduk. Dia merasa hidupnya diambil alih, dan masa depannya ditentukan oleh orang lain. Di dalam hatinya, dia berteriak, namun tidak ada yang mendengarkan.
Fahmi, yang juga merasa terbebani oleh situasi ini, mencari ketenangan di taman pesantren. Ia menemukan Ning Zila sedang duduk di bangku taman, terlihat merenung. Fahmi mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian sebelum mendekati Ning Zila.
"Ning Zila, boleh, aku duduk di sini?" tanyanya dengan suara pelan.
Ning Zila mengangkat wajahnya, tersenyum tipis. "Ada yang ingin Mas Fahmi bicarakan?"
Fahmi duduk di sebelahnya, menatap tanah dengan tatapan kosong. "Aku tidak mengerti mengapa Ning memutuskan hal ini. Kenapa saya harus menikah dengan Rayya? Kenapa tidak ada pilihan lain?"
Ning Zila menarik napas panjang, matanya penuh empati. "Mas Fahmi, ini bukan keputusan yang mudah. Kami hanya berusaha mencari solusi terbaik untuk situasi yang sulit."
Fahmi menggelengkan kepalanya, air mata hampir tumpah. "Tapi ini menghancurkan hati saya, Ning. Saya hanya mencintai Ning Zila. Saya tahu saya tidak pantas, saya hanya santri biasa, sementara Ning adalah putri Kyai. Tapi saya tidak bisa membohongi perasaan saya."
Ning Zila terdiam, hatinya terasa berat mendengar pengakuan Fahmi. Dia tahu bahwa keputusannya telah membuat banyak hati terluka, termasuk hatinya sendiri. Dia selalu menghormati Fahmi sebagai santri yang rajin dan baik, namun perasaan ini adalah sesuatu yang tidak pernah ia duga.
"Mas Fahmi, aku mengerti perasaa Mas Fahmi. Tapi kadang-kadang, kita harus menerima kenyataan yang sulit. Aku juga terluka dengan keputusan ini, tapi demi kebaikan bersama, kita harus kuat."
Fahmi menundukkan kepalanya, merasa seluruh dunia hancur seperti nasi yang sudah menjadi bubur. "Saya akan mencoba menerima, Ning. Tapi saya tidak tahu bagaimana cara melupakan perasaan ini."
Ning Zila, berusaha memberikan dukungan. "Terkadang semua yang kita cintai tak semua harus dimiliki. Mas Fahmi kuat dan ikhlas, mungkin Rayya adalah jodoh yang Allah kasih untuk Mas Fahmi."
Ustadzah Khusnul melihat Fahmi dan Ning Zila dari kejauhan, hatinya merasa berat melihat kesedihan di wajah putranya. Ia tahu bahwa keputusan ini adalah untuk kebaikan semua pihak, namun menyadari bahwa banyak hati yang terluka dalam prosesnya.
Setelah mengaji, Fahmi pulang ke rumah dengan langkah gontai. Sesampainya di rumah, ia disambut oleh Uminya.
"Fahmi, ada apa? Mengapa wajahmu terlihat begitu muram?" tanya Ustadzah Khusnul dengan cemas.
Fahmi menghela napas panjang, menundukkan kepala sebelum menjawab, "Umi, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Aku mencintai Ning Zila."
Mendengar itu, wajah Ustadzah Khusnul seketika berubah serius. "Fahmi, jangan suul adab. Kalian tidak sekufu. Ning Zila tidak pantas untukmu. Dia adalah putri seorang Kyai, dan kamu hanya santri biasa."
Hati Fahmi berontak mendengar kata-kata Uminya. "Umi, ini tidak adil. Kenapa aku tidak bisa mencintai seseorang hanya karena status? Apakah perasaan ini harus dibatasi oleh sekufu?"
Ustadzah Khusnul menatap putranya dengan lembut namun tegas. "Fahmi, cinta itu bukan hanya soal perasaan. Ini juga tentang tanggung jawab dan kesesuaian. Kamu harus bisa menerima kenyataan ini dengan ikhlas."
Sementara itu, di pesantren, Rayya semakin hari semakin merasa terjebak. Ia sebal karena harus menikah dengan seseorang yang bahkan tidak dikenalnya. Setiap harinya, ia merasa marah dan frustrasi, berjuang menerima kenyataan pahit ini.
Rayya duduk di sudut kamarnya, memandangi dinding dengan tatapan kosong. "Kenapa sih aku harus menjalani hidup seperti ini?" gumamnya pelan. "Menikah dengan orang yang nggak aku kenal, sementara hatiku dipenuhi kemarahan dan ketidakadilan."
Di sisi lain, Fahmi juga merasakan ketidakadilan yang sama. Hatinya hancur, merasa terjebak dalam situasi yang tidak bisa ia kendalikan. "Mengapa hidup ini begitu rumit?Ya Allah ini bukan kesalahan hamba," pikirnya.
Keduanya, dengan hati yang penuh luka dan kebingungan, hanya bisa berharap bahwa takdir akan membawa mereka ke arah yang lebih baik, meskipun jalan di depan masih penuh dengan ketidakpastian. Bagaimana mereka akan menghadapi pernikahan ini? Apakah ada jalan keluar dari semua kebingungan dan kesedihan ini?