“Mau ikut?” Kulirik Mas Athar yang menyambar dompetnya dari atas nakas. “Ke mana?” tanyaku jutek, masih kesal karena ucapannya yang ingin mencari wanita lain untuk melahirkan. Saat ini aku sedang duduk di ranjang sambil membaca buku, sementara Mas Athar berdiri di sisi ranjang. Pria ini bahkan tidak ke mana pun seharian, dia juga tidak bekerja. Bukannya menjawab, Mas Athar justru terdiam seperti orang bingung. “Mas Athar mau pergi ke mana memangnya? Tumben ngajak-ngajak,” ujarku. “Ke mana aja yang kamu mau.” “Eh?” Kedua alisku terangkat, apa aku tak salah dengar? “Begini ….” Mas Athar langsung duduk di hadapanku, wajahnya begitu dekat dengan wajahku hingga memantik debaran tak biasa di d**a. “Mulai sekarang aku akan membagi waktu dengan adil, satu minggu denganmu dan satu minggu d

