ZYANA PoV Nyeri haid membuatku lemas hingga hanya ingin berbaring di ranjang, tetapi kupaksakan bangun di pagi hari hanya untuk sarapan bersama ibu mertua tapi ternyata beliau sibuk dan buru-buru. Alhasil, aku kembali menawarkan bekal dan ibu mertuaku mau. Setelah itu aku kembali ke kamar, aku meringkuk sendirian di ranjangku yang terasa dingin seakan ranjang itu terbuat dari es. Ketika teringat dengan Mas Athar yang kembali meninggalkanku untuk istri pertamanya, aku langsung menangis begitu saja. Saat datang bulan, perasaanku memang lebih sensitif dari biasanya. Aku menangis sejadi-jadinya di kamar tapi kemudian sadar harus menahan diri, tak mau ada yang mendengar suara tangisku. “Astaghfirullah.” Aku meringis melihat noda darah di ranjang. Aku ingin segera mengganti seprei dan mencuc

