Aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi supaya bisa sampai ke kantor sebelum Rania tapi terlambat. Sesampainya di kantor, aku langsung ke ruanganku di mana sudah ada Rania di sana, duduk tegak di kursiku sambil bersandekap tangan di d**a, tatapan tajamnya seakan ingin menusukku. “Sayang, aku_” Tidak tahu penjelasan seperti apa yang harus aku berikan padanya sekarang, aku kikuk, seperti maling yang tertangkap basah oleh polisi. “Kamu bahkan nggak sempat mengeringkan rambutmu, Mas,” ucapnya yang seketika membuatku menyentuh rambut. “Aku nggak masalah dengan apa yang kalian lakukan pagi ini tapi kenapa harus bohong?” Rania berkaca-kaca, suaranya bergetar hingga memantik rasa bersalah yang kian menjadi dalam hati. “Aku sudah mengizinkanmu menikah dengannya supaya kamu nggak diam-diam me

