Gladys segera berpura-pura tidur saat Gibran masuk ke dalam kamarnya. Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh saat ini, namun Gladys sudah tertidur. Meski terlihat aneh, ia tak peduli. Yang ada di dalam pikiran Gladys hanyalah bagaimana caranya agar ia tak perlu berbincang dengan Gibran. "Gladys ... " Gibran memanggil Gladys pelan. lelaki itupun duduk di pinggiran ranjang, tangannya memijat hidung dan dahi, seolah kelelahan dan sedang dibebani oleh sesuatu. Perempuan itu sebenarnya mendengar panggilan Gibran, akan tetapi ia memilih untuk tidak bereaksi. Hingga tanpa disangka sebuah kecupan mendarat di pipinya. "Maafin aku, Sayang ... " bisik Gibran. Gladys sontak membuka kedua kelopak matanya perlahan, memandang lekat ke arah lelaki itu. "Kamu pura-pura tidur, kan?" tanyanya, Gladys pu

