Jelita kesal saat Dimas memutuskan sambungan teleponnya sepihak, tetapi dia segera menepis perasaan itu. karena tidak penting juga harus merasakan hal itu kepada Dimas.
Jelita yang sudah rapih segera melangkah keluar apartemen, sebelumnya dia sudah memberitahu Yuki untuk menjemputnya di apartemen milik Dimas.
tentu sahabatnya itu merasa sedikit heran saat mendengarnya tetapi dia tidak terlalu memikirkannya. tidak begitu lama mobil yang dikendarai Yuki telah sampai di depan lobi apartemen.
“Sorry,” ucap jelita sambil tersenyum saat melihat Yuki.
“Udah ayo,” ajak Yuki.
Tanpa menunggu lama Jelita bergegas masuk ke dalam mobil, Yuki langsung melakukan mobilnya meninggalkan apartemen. selama perjalan menuju kampus sesekali dia melirik ke arah Jelita, berjuta pertanyaan hinggap dalam pikirannya terlebih dia masih merasa penasaran mengapa Jelita meminta dirinya menjemput di apartemen adik iparnya.
Yuki segera memarkirkan mobilnya saat sampai di kampus, dari kejauhan sudah ada seorang wanita yang melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah mereka berdua yang baru saja turun dari mobil.
Dia langsung menghampiri keduanya yang berdiri tidak jauh darinya.
“Aduh pengantin baru, udah kuliah aja,” goda Niki.
“Kapan acara resepsinya? Gue sama Niki kan mau datang,” ucap Yuki.
Keduanya tentu sudah tidak sabar ingin melihat sahabatnya bersanding di pelaminan kerena mereka berdua tidak bisa hadir di acara ijab Qabul Jelita, mengingat itu hanya acara keluarga inti saja.
“Ayo masuk,” ucap Jelita, dia tidak memperdulikan perkataan keduanya, terlebih dia belum siap memberi tahu mereka bahwa yang menikah dengan dirinya bukan Riko melainkan Dimas.
Yuki dan Niki yang ditarik tangannya hanya saling melempar tatapan satu sama lain, mereka merasa bingung dengan sikap Jelita yang tidak seperti biasanya. Jelita tau pasti keduanya merasa penasaran terlebih karena dia yang tidak ingin membahas masalah pernikahan.
Karena mata pelajaran hanya satu mereka bisa pulang lebih awal, mereka memutuskan untuk pergi berbelanja terlebih dahulu sebelum mereka pulang, karena mereka sudah lama tidak pergi bersama.
“Laki loo marah gak? Kalau kita pergi?” tanya Niki.
“Iya gue gak enak,” sambung Yuki sambil menghentikan langkahnya.
“Udah jangan bahas itu Mulu, sekarang kita bersenang-senang aja,” jawab Jelita.
Karena yang ada dipikirannya saat ini hanya ingin melupakan semua, terlebih dia masih belum bisa menerima kalau dirinya sekarang sudah menyandang status sebagai seorang istri. Walau itu memang harapannya tetapi kenyataan kalau dia tidak menikah dengan pria yang di cintainya.
**
Dimas menaruh kembali ponselnya sambil memijat pelipis, dia sungguh tidak percaya karena Jelita mengganggu dirinya hanya demi hal tidak penting seperti itu. Tidak begitu lama Adit yang sudah mengetuk pintu beberapa kali. Namun, tak ada sahutan akhirnya memberanikan diri untuk masuk.
Seketika matanya membulat saat melihat Dimas sedang menyandarkan tubuhnya sambil memijat kepala, dengan rasa cemas Adit bergegas menghampiri karena dia takut terjadi apa-apa kepada Dimas.
“Maaf tuan, apa anda sedang sakit?“ tanya Adit.
“Tidak,” jawab Dimas sambil membenarkan posisinya menghadap ke arah Adit yang sudah berdiri di depan meja kerjanya.
"Syukurlah kalau begitu, Tadi maaf saya langsung masuk. Karena sudah beberapa kali di ketuk tidak ada sahutan,“ ucap Adit.
"Tidak masalah, ada apa?“ jawab Dimas.
“Meeting kita akan dimulai 1 jam lagi, tuan,” ucap Adit.
“Baiklah, kamu sudah mengurus semuanya kan,” sahut Dimas.
"Sudah tuan, kalau tidak ada lagi yang tuan perlukan. Saya permisi," ucap Adit.
“Tunggu,” pinta Dimas. saat melihat Adit akan melangkah pergi dari sana.
“Ada yang perlu saya bantu tuan?” tanya Adit.
“Dit, apa keputusan saya sudah benar?dengan menikahinya?“ ucap Dimas.
“Tuan minta pendapat saya?“ tanya Adit yang sedikit bingung dengan pertanyaan bosnya itu.
Dimas menaikan satu alisnya menatap tidak percaya mendapatkan jawaban seperti itu dari Adit, tentu saja dia meminta pendapatnya demi membuat dia sedikit tenang. karena semenjak menikah pikirannya begitu kacau.
Sebagai sahabat Adit memberikan saran dan pendapatnya kepada Dimas, tentu dia hanya ingin yang terbaik untuknya. terlebih setelah mengetahui pengorbanan Dimas yang begitu besar untuk keluarganya.
Setelah sedikit tenang karena mendapat saran dari Adit, membuatnya merasa lega terlebih beban yang dia tanggung begitu besar. Melihat jam sudah menunjukan pukul 7 dia langsung bersiap-siap.untuk pulang.
Sampai di apartemen dia langsung mencari sosok Jelita tetapi setelah berkeliling tidak dapat menemukannya, seketika dia teringat bahwa tadi sore Jelita sudah memberi tahukan tentang rencananya untuk pergi bersama teman-temanya.
Terlebih dia tidak perlu menghawatirkan kemana Jelita pergi karena itu tidak ada urusan sama sekali dengannya, Tubuhnya yang sudah terasa lengket membuat dia bergegas menuju kamar untuk membersihkan diri. Setelah selesai dia lalu mulai menyiapkan makanan.
“Apa dia lupa pulang” gumam Dimas saat melihat jam yang berada di dinding menunjukan pukul 10 malam.
Dimas yang mulai perduli langsung menepis rasa khawatirnya, sambil membawa makanan sambil berpikir kalau ternyata menikah itu bukan hal yang indah. Tapi dia segera sadar bahwa pernikahan yang di jalaninya tidak lebih demi menutupi rasa malu keluarga saya tidak lebih dari itu.
Saat sedang asyik menyantap makanannya tiba-tiba pintu terbuka memperlihatkan sosok Jelita yang baru saja pulang, dia hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus makan.
“Dari mana kamu?” tanya Dimas.
“Apa perlu aku memberi tahu kamu?“ ucap Jelita.
“Tentu saja, karena kamu sekarang istri aku,” jawab Dimas
Tanpa dia sadari ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya membuat Jelita membulatkan matanya. Apalagi Dimas menggunakan kata istri di akhir kalimatnya.
Jelita lantas protes kepada Dimas bukankah mereka sudah tahu kalau pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan nama baik keluarga mereka saja dan tidak ada artinya apa-apa, dan tidak seharusnya dia mengunakan kata istri kepadanya.
“Dengar Dimas bukan berarti kita menikah kamu adalah suami aku, karena kita semua tahu bahwa pernikahan ini hanya untuk menutupi rasa malu kedua keluarga," ucap Jelita.
“Iya aku tau itu, tapi setidaknya hormati hubungan ini," jawab Dimas. Yang sadar bahwa apa yang telah dia ucapkan kepada Jelita itu salah.
“Kamu jangan takut, aku menghormati hubungan ini dan tenang saja karena selama kita terikat dalam pernikahan, aku tidak akan membuat kamu repot atau pun malu," ucap Jelita.
Tanpa menunggu jawaban dari Dimas, dia segera melangkah pergi begitu saja tentu saja ucapan yang barusan terucap dari mulut Dimas membuatnya begitu marah dan kesal.
Melihat kepergian Jelita membuat Dimas hanya menghela napas panjang, sungguh dia terbawa suasana hingga mengucapkan hal itu padahal dirinya sadar kalau hanya menjadi pengantin pengganti bagi kakaknya.
Sedangkan Jelita masih merasa kesal dja marah membanting pintu kamar dengan sangar keras hingga membuat Dimas kaget, tetapi dia hanya bisa diam karena tahu kalau Jelita kesal karena ucapannya yang asal keluar saja.
Dia langsung melempar tas ke sembarang tempat sambil mengomel sendiri, karena merasa kesal Dimas menyebutnya istri padahal mereka berdua tau kalau pernikahan ini hanya formalitas saja. Dia kembali teringat dengan Riko yang begitu tega meninggalkannya hingga membuat dia harus menikah dengan Dimas.
“Kamu kemana? Kenapa kamu tega ninggalin aku,“ batin Jelita. Dia tidak kuasa menahan kesedihannya saat teringat kembali kepada Riko. Andai saja hal ini tidak terjadi mungkin saat ini dirinya orang yang paling bahagia.
Pagi harinya Dimas yang sudah berpakaian rapih melangkah keluar kamar sejenak dia berdiri di ambang pintu sambil menoleh ke kamar yang ditempati jelita dirinya yang berniat membangunkan jelita mengurungkan niatnya karena mengingat kejadian kemarin malam.
Dimas kembali berjalan menuju pintu dan melangkah keluar apartemen sedangkan di dalam apartemen jelita yang sudah rapih dengan pakaiannya segera membuka pintu kamar dia melihat sekeliling apartemen dia yakin bahwa Dimas sudah berangkat, karena jarak kampus dan apartemen Dimas lumayan jauh jelita harus berangkat lebih awal mengingat dia tidak membawa mobilnya saat pindah kesana.
• Kantor
Dimas yang baru sampai kantor di sambut oleh semua karyawan. Namun, mereka sedikit aneh melihat sikap bosnya yang begitu dingin berbeda dari biasanya. membuat mereka penasaran sekaligus takut.
Adit baru saja tiba sejenak menghentikan langkahnya saat karyawan berbisik tentang bosnya, dengan rasa penasaran Adit berjalan kearah ruangan CEO. Dia segera mengetuk pintu.
“Masuk," titah Dimas.
Setelah mendapatkan sahutan Adit langsung membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam, dia bisa melihat jelas wajah murung Dimas, pantas saja semua karyawan berbisik akan hal itu. Rasa penasaran dalam diri Adit mulai meronta-ronta ingin mengetahui apa yang membuat bosnya terlihat murung seperti ini.
“Tuan," panggil Adit.
“Ada apa?“ tanya Dimas
“Sepertinya anda kurang sehat, biar saya panggilkan dokter,” ucap Adit.
“Saya baik-baik saja, bagaimana apa sudah ada informasi tentang mas Riko?” tanya Dimas. Dirinya akan baik- baik saja jika kakaknya kembali
“Belum tuan,“ sahut Adit dengan suara pelan.
“Apa sulit bagi kamu untuk mencari informasi tentang keberadaan mas Riko?” tanya Dimas.
“Saya sudah kerahkan semua orang kita, tetapi sampai saat ini belum membuahkan apa-apa," jawab Adit.
"Saya tidak mau tahu, kamu harus segera menemukan di mana pun keberadaan Kak Riko," pinta Dimas.
"Baik tuan, saya akan memaksimalkan semuanya. Agar tuan Riko segera ketemu," jawab Adit.
Dimas hanya menjawab dengan anggukan, tentu saja dia berharap bahwa Adit bisa segera menemukan Riko. Agar semua Maslaah ini cepat selesai dan dia terbebas dari pernikahan yang membuatnya terikat.
Tentu saja Adit paham apa yang ingin di lakukan oleh Dimas, tetapi jauh di lubuk hatinya dia berharap bahwa pernikahan yang di jalani oleh Dimas dan Jelita bisa langgeng.
Merasa tidak tega melihat keadaan Dimas membuat Adit berinisiatif untuk memberikan saran agar pernikahan itu menjadi nyata.
“Tuan, lebih baik anda mencoba menjalani rumah tangga anda dengan nyonya muda, maaf kalau saya lancang,” ucap Adit. dia memberanikan diri untuk mengatakan hal itu.
“Itu tidak mungkin! apa kamu lupa kami menikah demi menyelamatkan mana baik keluarga,” tegas Dimas.
Dirinya memikirkan untuk hubungannya dengan jelita, tetapi dia takut jika nanti mempunyai perasaan kepadanya akan membuat masalah baru. Terlebih dia tidak ingin mengkhianati Riko.