Jelita langsung membalik tubuhnya saat sadar ternyata di sana ada Dimas, tentu saja dia lupa bahwa sekarang dirinya telah menikah hingga lupa dengan kebiasaan yang selalu dia lakukan jika selesai mandi.
“Tutup mata kamu,” Pinta Jelita sambil menyilangkan tangannya di atas d**a.
“Kenapa?aku suami kamu,” jawab Dimas.
“Dimas. aku bilang tutup mata kamu,” teriak Jelita.
“Iya,” jawab Dimas.
Jelita berlari kecil menuju ruang ganti sampai di sana di menggerutu atas kebodohannya, Dimas langsung membuka mata setelah mengetahui Jelita sudah pergi.
Tidak begitu lama dia sudah kembali dengan tampilan ala kadarnya, saking penasaran dengan lukisan yang ada di dinding Dimas bergegas turun untuk melihatnya.
“Itu Riko yang pesan, untuk hadiah ulang tahunku," ucap Jelita.
"Apa kamu begitu mencintainya?" tanya Dimas sambil berbalik menghadap ke arah Jelita.
“Tentu saja, kami telah melewati semuanya selama 5 tahun,” sahut Jelita.
Dimas menganggukkan karena memang dirinya sangat tahu berada lama mereka menjalin kasih. Namun, sampai detik ini Dia masih bingung mengapa Riko justru pergi di hari pernikahannya.
“Apa kamu punya kekasih?” tanya Jelita. dirinya sangat penasaran dengan kehidupan pribadi Dimas, karena selama ini dia adalah sosok yang tertutup.
“Iya, kami sudah tinggal bersama selama 2 tahun,” jawab Dimas.
Dia tak mengira bahwa pria yang telah resmi menjadi suaminya itu ternyata memili kekasih, bahkan keduanya sudah tingga bersama sungguh sangat mengejutkan.
Mereka mengobrol sebentar tetapi ada rasa tidak nyaman terjadi di antara keduanya, hingga akhirnya Dimas memilih untuk duduk di balkon kamar sambil menunggu waktu makan malam.
Semua sudah berkumpul di meja makan, suasana terlihat canggung karena untuk pertama kali bagi Dimas makan malam dengan keluarga Jelita, berbeda dengan Jelita berharap bahwa yang duduk di sampingnya adalah Riko.
“Kalian besok jadi pindah?” tanya Hendra. memecahkan keheningan di ruangan itu.
“Iya Pi, soalnya aku juga harus mulai bekerja kembali," Jawab Dimas.
“Apa Kalian lebih lama tinggal di sini?” tanya Mia yang belum rela berpisah dengan jelita.
“Maaf, Mi, tapi aku harus kembali ke kantor dan jarak dari sini cukup jauh," sahut Dimas.
Mia memasang raut wajah sedih karena secepat ini Dimas akan membawa Jelita pergi.
“Papi setuju, kamu sekarang sudah berhak membawa Jelita, dan begitu juga dengan kamu harus ikut Dimas," ucap Hendra.
“Iya Pi," jawab jelita.
Mereka kembali melanjutkan makan malam, keheningan yang terjadi hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu. Dimas yang telah selesai terlebih dahulu segera meninggalkan ruang makan karena dirinya sudah merasa lelah.
Setelah berada di kamar rasa canggung kembali hadir diantara mereka terlebih ini untuk pertama kalinya bagi Jelita berada di ruangan dengan seorang pria, menyadari hal itu Dimas langsung mengambil bantal dan memutuskan untuk tidur di sopa. Walau mereka telah menjadi suami istri tetapi bagi keduanya pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja.
Dimas bangun lebih dulu segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, selang lima belas menit dia keluar kamar mandi. Namun, pandanganya langsung tertuju ke arah tempat tidur dimana Jelita masih tertidur pulas.
“Bangun, jadi cewek malas amat,” ucap Dimas seraya menggoyahkan lengan Jelita.
“Bentar lagi Mami," jawab Jelita. dia belum sadar kalau uang membangunkannya adalah Dimas.
Dimas menggeleng ternyata dia tau sisi lain dari wanita yang kemarin resmi menjadi istrinya, tidak bukan ternyata dia sosok manja. Hingga ide jail muncul dalam benaknya.
"Kebakaran," teriak Dimas.
"Mana kebakaran?" tanya Jelita yang kaget langsung terbangun saat mendengar teriakan itu.
“Gak ada," ucap Dimas dengan santainya.
“Dimas. Kamu itu keterlaluan,” kesal Jelita.
“Lagian aku bangunin, malahan gak bangun,” ejek Dimas.
Jelita langsung kesal karena perbuatan Dimas membuat tidurnya terganggu, padahal dia masih sangat mengantuk.
Melihat Jelita yang hendak tidur kembali membuat Dimas kesal, lalu menarik tubuhnya dan meminta untuk segera mandi dan bersiap-siap.
"Ya ampun, aku masih ngantuk," keluh Jelita.
"Cepetan mandi, setelah itu beresin barang yang perlu kamu bawa," ucap Dimas.
"Memang kita mau kemana?" tanya Jelita.
“Setelah sarapan kita akan pindah,” sahut Dimas.
“Apa tidak bisa sore?" tanya Jelita.
"Tidak bisa, aku ada meeting, jadi sebelum ke kantor aku akan mengantar kamu terlebih dahulu," jawab Dimas.
Sebenarnya Jelita masih merasakan ngantuk tetapi dia tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan Dimas, semata-mata dia melakukan ini demi kedua orang tuanya.
Suasana menjadi harus saat Lina melepas kepergian putrinya, sama hal juga dengan yang di rasakan Jelita. Namun, semua sudah menjadi keputusan dari Papinya hingga tidak kuasa untuk menolak.
Karena jarak rumah mertua dan apartemennya cukup jauh hingga butuh waktu 1 jam untuk sampai di sana.
“Kenapa? apa kamu tidak nyaman kalau tinggal di sini?" tanya Dimas. Yang melihat Jelita hanya berdiri saja.
“Gak, hanya aku merasa aneh saja, seorang pengusaha muda seperti kamu tetapi memilih tinggal di apartemen," jawab Jelita.
"Kerena aku merasa nyaman," sahut Dimas.
Dia langsung menaruh koper milik Jelita di kamar yang sengaja bersebelahan dengan dirinya, karena mereka tidak mungkin tidur dalam satu kamar.
"Ini kamar kamu, dan yang sebelah kamarku," ucap Dimas.
"Oke," jawab Jelita.
“Kalau mau makan, semua ada di dalam kulkas, nanti tidak usah menunggu aku karena aku akan pulang larut,” tutur Dimas.
“Iya,” Jawab singkat.
Dimas bergegas pergi meninggalkan Jelita, karena pekerjaan yang sangat banyak hingga dirinya tidak mungkin untuk bersantai padahal tubuhnya sangat terasa lelah karena acara kemarin.
Dimas yang sudah sampai di kantor segera di sambut oleh para karyawan seperti biasa, dari kejauhan Adit yang melihat ke datangan bosnya bergegas menuju ruangan kerja untuk mengambil berkas yang harus di pelajari oleh Dimas.
Dimas mendudukan dirinya di kursi kerja, tidak begitu lama suara pintu diketuk dengan cepat Dimas menyuruh masuk. Setelah mendapat izin Adit langsung membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam.
“Maaf tuan, ini berkas yang harus Anda pelajarin untuk meeting siang ini,” ucap Adit segera menaruh berkas di atas meja.
“Apa sudah ada informasi tentang Ka Riko?" tanya Dimas.
“Belum ada tuan, sepertinya tuan Riko sudah merencanakan semua ini. Hingga saya sulit untuk melacak keberadaannya,” sahut Adit yang masih menundukkan sedikit badannya.
“Baiklah, terus cari di mana Ka Riko berada," pinta Dimas.
“Baik saya akan melakukannya tuan,” jawab Adit, “kalau begitu saya permisi tuan.”
Dimas menganggukan kepala sebagai jawaban, Adit segera membalik badannya dan melangkah keluar dari sana. Tentu saja dia terpaksa meminta hal itu kepada Adit karena tidak mungkin jika sampai semua karyawan tau mengenai pernikahan dirinya. dia tidak bisa bayangkan rasa malu yang akan di terima karena telah menikahi calon kakak iparnya sendiri.
Dimas segera mempelajari berkas untuk meeting sore itu. Namun, saat bersamaan dering ponsel mengganggu konsentrasinya, dia berusaha tidak memperdulikan ponsel yang terus berdering tetapi semakin lama malahan semakin mengganggu. Hingga membuatnya terpaksa mengangkatnya.
“Ada apa? Aku sedang sibuk,” tanya Dimas.
“Aku tidak tanya, cuma mau bilang kalau pulang kuliah nanti langsung pergi dengan teman-temanku," ucap Jelita.
“Jadi kamu telepon aku, hanya mau ngomong itu saja? kan bisa kirim pesan” jawab dimas dengan nada sedikit kesal.
“Aku malas mengetik pesan, lagian lebih gampang ngomong kan,” sahut jelita yang tidak mau kalah.
“Terserah kamu saja, udah aku tutup teleponnya,” ucap Dimas yang langsung mematikan sambungan teleponnya sepihak.