Hendra langsung bergegas menemui istri serta putrinya, untuk membicarakan hal ini. Dia langsung menceritakan semuanya kepada mereka seketika tubuh Jelita terasa lemas dan hampir saja terjatuh saat mendengar tentang Riko.
"Papi bohong! tidak mungkin Riko pergi, dia sayang sama aku," ucap Jelita. Dia masih tidak percaya bahkan berpikir kalau Papinya sedang bercanda.
"Papi jangan bicara sembarangan," sambung Lina.
Hendra segera menundukkan kepalanya sambil menggeleng.
Seketika tangisan Jelita pecah, tubuhnya terasa lemas hingga membuat dia terjatuh terkulai di lantai. Dia masih tidak percaya bahwa pria yang begitu di cintainya dengan begitu tega pergi begitu saja. Mia tidak tega melihat keadaan putrinya langsung mencoba menenangkan Jelita yang menangisi histeris.
"Sayang, jangan seperti ini," ucap Mia. Sambil merengkuh tubuh Jelita masuk kedalam pelukannya.
"Mami, apa yang papi katakan itu bohong kan?" tanya Jelita di tengah Isak tangisnya
Mia hanya bisa terdiam karena apa yang dia dan Jelita berapa saat lalu benar adanya, sungguh dia tidak menyangka bahwa hari bahagia putrinya berubah jadi seperti petaka.
Hendra menatap tidak tega melihat keadaan Jelita. Namun, ini semua kenyataan yang harus putrinya dengar dan apa pun keputusan yang telah di ambil olehnya itu demi kebaikan semua.
"Papi sudah memutuskan, akan menikahkan kamu dengan," Ucap Hendra.
Keduanya segera menoleh secara bersamaan saat mendengarnya tentu saja perkataan itu mampu membuat mereka shock bahkan tidak percaya, dan sekali lagi Jelita menganggap kalau semuanya hanya lelucon untuk mengerjai dirinya tetapi untuk kedua kalinya Hendra menjelaskan bahwa semua itu adalah kebenaran yang harus di terima oleh Jelita.
"Aku tidak mau," tolak Jelita tegas sambil berdiri.
"Papi sedang mempermainkan kehidupan anak kita?" tanya Mia.
"Papi sudah putuskan pernikahan ini akan tetap dilanjutkan," jawab Hendra.
"Mami tidak setuju, bagaimana bisa Jelita menikahi adik dari Riko?" ucap Mia.
"Aku hanya akan menikah dengan Riko," sambung Jelita.
"Setuju atau tidak. Kamu akan menikah dengan Dimas," ucap Hendra.
"Papi," kata Mia.
Dia masih berusaha menyakinkan suaminya bahwa keputusan ini begitu sangat konyol, terlebih dia tidak rela putrinya harus menikah demi untuk menyelamatkan nama baik mereka. Tetapi Hendra tidak menggubris penolakan dari keduanya karena menurutnya ini keputusan terbaik untuk semua orang, terlebih dia sudah begitu sangat kecewa terhadap Riko.
"Untuk apa? Kamu menunggu lelaki pengecut seperti itu," cibir Hendra.
"Jelita yakin Riko akan kembali," jawab Jelita. Dia masih berusaha membela Riko di hadapan papinya.
"Jadi kamu menolak? Baiklah Papi akan membatalkan pernikahan ini. Biarkan keluarga kita menanggung malu," ucap Hendra.
Dia tidak mungkin membiarkan keluarganya malu, tetapi tidak mungkin juga bagi dirinya menerima pernikahan ini.
"Baik aku setuju," sahut Jelita.
"Sayang, apa yang kamu katakan?" tanya Lina.
"Kalau ini demi nama baik keluarga kita, maka aku rela menikah dengannya," sahut Jelita.
"Mami tidak setuju," ucap Lina.
Jelita hanya tersenyum getir saat mendengar ucapan dari maminya, tentu saja dia melakukan ini demi nama baik keluarga meski dia harus mengorbankan kebahagiannya sendiri.
Hendra yang hendak membuka pintu segera mengurungkan niatnya saat mendengar jawaban dari Jelita, dia langsung membalik badannya menghadap kepada mereka berdua.
"apa kamu yakin?" tanya Hendra.
akan membuka pintu, segera mengurungkan niatnya dia segera membalik badannya menghadap ke arah Jelita " apa kamu yakin." Tanya papi Hendra.
"Jika ini demi nama baik keluarga kita,maka aku akan rela berkorban," sahut Jelita.
"Tapi sayang," ucap Mia.
"Aku tidak ingin membuat keluar kita malu," sahut Jelita sambil melihat ke arah maminya.
Semua orang sudah berkumpul, begitu pun dengan Dimas yang sudah duduk didepan penghulu untuk menggantikan Riko menikahi Jelita.
"Apa sudah siap?" tanya Pak Penghulu sambil menatap Dimas.
Dimas segera menganggukkan sebagai jawaban. Tanpa menunggu lama ijab kabul di laksanakan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Jelita andriani binti Hendra Wiratmaja dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Dimas. Dengan satu tarikan napas Dimas mengucapkan ijab kabul.
"Bagaimana para saksi?" tanya Penghulu.
"Sah," ucap para saksi.
"Alhamdulilah," sahut Penghulu.
Dimas masih tidak percaya dia baru saja menikahi calon kakak iparnya sendiri, hingga lamunannya Buyar saat melihat wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya datang dengan di apit mama serta ibu mertuanya.
Jelita hanya menatap kosong, kehidupannya sekarang sudah hancur bahkan semua mimpi telah hilang bersama dengan kepergian Riko.
Dimas melirik ke arah Jelita yang duduk tepat di samping dirinya, tentunya dia sangat tau apa yang di rasakan wanita yang sekarang telah resmi menjadi istrinya itu.
Setelah bertukar cincin Jelita di mintai mencium tangan Dimas, sebenarnya berat untuk melakukan hal itu tetapi demi menghormati semua yang datang dia terpaksa melakukannya demi sebuah formalitas saja.
Acara telah selesai para tamu mulai pulang, kini hanya tinggal kedua orang tua mereka berada di sana.
"Papi harap, kamu bisa menerima Dimas sebagai suami kamu," pinta Hendra.
Jelita tak mengatakan sepatah katapun karena dipikirannya hanya Riko, bagaimana bisa lelaki yang begitu dia percaya meninggalkan dirinya tepat di hari pernikahan mereka.
Hendra sangat tau apa yang di rasakan oleh Jelita saat ini, karena pernikahan itu terjadi karena permintaan darinya. Hingga dia tidak yakin dengan hubungan keduanya kelak.
Mereka semua memberi petuah untuk pengantin baru itu, tidak lupa kedua orang tua Dimas meminta maaf kepada Jelita atas apa yang di perbuat Riko. setelah berbincang sebentar mereka berdua segera berpamitan tidak lupa dia mengingatkan Dimas untuk bisa berbaur dengan keluarga barunya.
Dimas di antarkan oleh ibu mertuanya menuju kamar Jelita, tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua terlebih Mia masih belum percaya bahwa yang menjadi menantunya saat ini bukanlah Riko.
"Ini kamar jelita, kamu bisa beristirahat sekarang," ucap Mia sambil tersenyum,mungkin kini dia harus terbiasa menerima Dimas sebagai mantunya.
"Terima kasih, Mi," ujar Dimas.
Mia segera melangkah pergi meninggalkan Dimas, setelah melihat kepergian ibu mertuanya Dimas mematung sejenak di depan pintu sampai dia memberanikan diri membuka pintu. Saat pintu terbuka memperlihatkan Jelita yang sedang kesulitan membuka gaun yang dipakainya.
Dengan langkah pelan Dimas masuk sambil berjalan menghampiri Jelita yang belum sadar dengan kehadirannya, dengan cepat Dimas berdiri dibelakang tubuh jelita dan dia segera meraih resleting yang dari tadi coba dibuka oleh Jelita.
Tentu hal itu membuat dia kaget dan langsung membalik badannya saat sadar Dimas sudah berdiri di belakangnya.
"Kamu jangan kurang ajar," ucap Jelita dengan penuh amarah di wajahnya.
"Apa kamu bilang? aku hanya Berniat membantu," jawab Dimas.
"Aku tidak butuh bantuan," sahut Jelita.
"Baiklah," Jawab Dimas. dia berjalan melewati Jelita begitu saja saat mendapatkan penolakan.
Jelita menatap tidak percaya setelah melihat Dimas dengan beraninya duduk di tempat tidur miliknya.
"kamu kenapa duduk di situ? cepet turun," pinta Jelita.
"Memangnya kenapa?" sahut Dimas.
“Iya karna ini tempat tidur aku," ucap Jelita.
“Dan sekarang ,aku suami kamu jadi aku berhak duduk di sini," jawab Dimas.
“Dimas. Apa kamu lupa? kita menikah karna apa?" tanya Jelita. Dia kembali mengingatkan Dimas tentang pernikahan yang terjadi di antara mereka.
“Tentu saja, aku mengingatnya,” jawab Dimas.
Jelita yang mulai jengah dengan tingkah Dimas, dia lalu menarik lengannya agar segera turun dari tempat tidurnya. Namun, Dimas tetap tidak bergeming, kini dengan sengaja dia menarik tangan Jelita hingga membuatnya terjatuh tepat diatas tubuhnya.
Keduanya langsung terdiam saat pandangan mereka bertemu, sesaat kemudian Jelita yang tersadar bergegas bangkit.
“Kamu harus ingat batas kamu," ucap Jelita.
“Kamu tidak perlu takut, karena aku tidak tertarik padamu," jawab Dimas.
“Bagus kalau begitu," sahut Jelita.
Jelita merasa lega mendengar perkataan Dimas, dia segera melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Dimas masih tetap duduk di tempatnya sambil memikirkan kejadian beberapa saat lalu.
Pandangan mata Dimas tertuju ke arah meja di samping tempat tidur, dia segera meraih bingkai foto dimana terpampang jelas wajah Kakaknya sendiri. Dia tersenyum getir karena tidak menyangka bahwa Riko telah begitu tega membuat dirinya dalam situasi seperti ini.
Kehidupan seperti sedang mempermainkan dirinya, dia harus menghadapi kenyataan menikahi wanita yang seharusnya menjadi kakak iparnya dan sekarang justru menjadi istrinya.
Jelita keluar kamar mandi hanya mengunakan handuk membuat Dimas kaget, dan segera memalingkan wajahnya.
“Apa tidak bisa memakai baju dikamar mandi?" tanya Dimas.