Pagi berikutnya di Halonial Coast (Pesisir Halonial) menyapa dengan udara laut yang segar dan suara camar yang riuh. Reinh, Ghyfin, dan Lios berkumpul di ruang makan The Drunken Clam Inn (Penginapan Kerang Mabuk) untuk sarapan sederhana—roti gandum, keju asin, dan teh herbal hangat—sebelum menuju The Sea Serpent's Roost (Sarang Ular Laut), guild petualang.
“Jadi, Penyihir,” Ghyfin memulai, memecah keheningan sambil mengoleskan selai buah beri pada rotinya. “Apa rencana kita hari ini? Setelah kau kembali dari penyelidikan solo-mu yang tidak menghasilkan apa-apa itu.” Ada nada menggoda dalam suaranya, namun matanya yang merah menatap Reinh dengan penuh harap.
Reinh, yang semalaman memikirkan pesan Kanae dan reruntuhan misterius itu, menghela napas. “Aku masih merasa ada sesuatu di reruntuhan pesisir selatan itu. Mungkin aku melewatkan sesuatu. Bagaimana jika kita mengambil misi party (kelompok) ke arah sana?”
Lios, yang sejak bergabung dengan mereka tampak lebih bersemangat, langsung setuju. “Ide bagus, Reinh! Aku siap menghadapi apapun. Mimpi-mimpiku tentang… Luminere dan makhluk bercahaya itu semakin kuat sejak aku bertemu denganmu. Aku merasa kita semakin dekat dengan jawaban.”
Ghyfin memutar bola matanya mendengar antusiasme Lios, tapi ia juga merasakan dorongan dari Kanae di dalam dirinya. “Reruntuhan itu… ada energi kuno di sana… energi yang memanggil…” bisik suara angin di benaknya. “Baiklah,” kata Ghyfin. “Kita coba lihat Quest Board (Papan Misi). Siapa tahu ada misi yang cocok.”
Di The Sea Serpent's Roost, mereka menemukan sebuah perkamen yang menarik perhatian. Ditulis dengan tinta biru pudar di atas kertas yang sedikit usang, misi itu berbunyi: “Investigate Spectral Sightings at Tide-Worn Ruins (Selidiki Penampakan Spektral di Reruntuhan Terkikis Ombak) – Imbalan: 60 Copper Pieces. Peringatan: Aktivitas spiritual tinggi dilaporkan, kemungkinan bertemu hantu bajak laut atau roh penjaga kuno. Disarankan untuk party berpengalaman.”
“Ini dia,” kata Reinh, menunjuk perkamen itu. “Reruntuhan yang sama dengan yang kuselidiki kemarin, tapi kali ini ada laporan tentang aktivitas spektral. Mungkin ini yang dimaksud Kanae.”
“Hantu bajak laut?” Lios tampak bersemangat. “Aku belum pernah melawan hantu sungguhan!”
“Jangan terlalu senang dulu, Ksatria Pemimpi,” Ghyfin memperingatkan, meskipun ia sendiri merasa tertantang. “Roh tidak bisa ditebas sembarangan dengan pedang biasa.” Ia menatap Reinh. “Kau punya cara untuk menangani roh, Penyihir?”
Reinh teringat beberapa mantra dasar melawan makhluk spiritual dari Tale's of Aurora. “Aku punya beberapa ide. Sihir cahaya atau api biasanya efektif.”
Mereka mengambil misi itu dan melaporkannya pada Mistress Elara, yang menatap mereka dengan sedikit khawatir namun tetap memberikan persetujuannya. “Hati-hati di sana. Reruntuhan itu sudah lama ditinggalkan dan menyimpan banyak misteri. Beberapa petualang yang pergi ke sana tidak kembali dengan cerita yang menyenangkan.”
Perjalanan kembali ke reruntuhan pesisir selatan terasa berbeda dengan Reinh kini ditemani Ghyfin dan Lios. Kehadiran mereka memberikan rasa aman dan dukungan yang tak ia rasakan saat pergi sendirian. Ghyfin dengan lincah memimpin jalan, matanya awas mengamati sekitar, sementara Lios berjalan tegap di belakang dengan perisai Guardian's Aegis (Aegis Sang Penjaga) siap siaga. Reinh sendiri berjalan di tengah, tongkat Elderwood Staff with Sapphire Crystal (Tongkat Elderwood dengan Kristal Safir) di tangan, mencoba merasakan energi magis di sekitar mereka.
Seekor merpati putih dengan bulu berkilau keperakan sesekali terlihat terbang melintas di atas mereka atau hinggap di tebing karang di kejauhan, seolah mengamati perjalanan mereka dengan tatapan lembut sebelum menghilang lagi. Reinh tidak terlalu memperhatikannya, menganggapnya hanya burung biasa.
Saat mereka mendekati reruntuhan, udara terasa semakin dingin dan berat. Kabut tipis mulai merayap dari arah laut, menyelimuti puing-puing batu kuno itu dengan aura misterius. Suara ombak yang menghantam karang terdengar seperti desahan panjang.
“Aku merasakan sesuatu,” bisik Ghyfin, tangannya meraih gagang pedang Whisperwind (Bisikan Angin). “Energi yang tidak menyenangkan.” Kanae di dalam dirinya juga bergejolak, “Hati-hati… banyak jiwa yang gelisah di sini…”
Tiba-tiba, dari balik pilar batu yang runtuh, beberapa sosok transparan berwarna biru kehijauan muncul. Mereka mengenakan pakaian bajak laut yang compang-camping, wajah mereka tirus dan mata mereka kosong memancarkan cahaya dingin. Beberapa membawa pedang berkarat atau kait besi. Hantu bajak laut.
“Akhirnya sedikit aksi!” seru Lios, mengangkat perisainya.
“Jangan gegabah, Lios!” Reinh memperingatkan. “Serangan fisik biasa mungkin tidak terlalu efektif!”
Pertarungan pun dimulai. Lios maju ke depan, mencoba menahan serangan para hantu dengan perisainya. Beberapa tebasan pedang hantu itu menembus perisainya tanpa meninggalkan bekas, namun Lios merasakan hawa dingin yang menusuk saat serangan itu mengenainya. Ghyfin bergerak cepat, pedangnya menari-nari, namun tebasannya juga seringkali hanya menembus sosok eterial para hantu itu, meskipun terkadang ia berhasil mengenai dan membuat sosok hantu itu sedikit memudar.
Reinh mencoba merapal Ignis Minor. Bola api mengenai salah satu hantu, membuatnya menjerit dengan suara serak yang mengerikan dan sosoknya sedikit terbakar sebelum menghilang. “Api! Gunakan api atau sihir cahaya!” teriak Reinh.
Ghyfin, yang tidak memiliki kemampuan sihir, mengandalkan kecepatan dan instingnya, mencoba mencari celah atau mengganggu gerakan para hantu. Lios, meskipun serangannya kurang efektif, tetap berusaha melindungi Reinh dan Ghyfin dengan perisainya, menahan serangan-serangan spektral yang datang.
Setelah beberapa saat bertarung, mereka berhasil menghalau beberapa hantu. Namun, semakin banyak yang muncul dari reruntuhan, seolah tidak ada habisnya. Mereka mulai terdesak.
Tiba-tiba, di tengah-tengah area reruntuhan yang paling luas, di antara sisa-sisa altar kuno, sebuah cahaya biru kehijauan mulai berputar dan memadat. Udara di sekitarnya bergetar hebat. Para hantu bajak laut sejenak menghentikan serangan mereka, menatap ke arah cahaya itu dengan ketakutan.
“Apa… apa itu?” tanya Lios, terengah-engah.
Cahaya itu semakin terang, lalu membentuk sebuah gerbang oval yang berdenyut dengan energi magis yang kuat. Permukaan gerbang itu tampak seperti riak air yang bercahaya, memancarkan aura kuno dan misterius.
Tiba-tiba, merpati putih dengan bulu berkilau keperakan yang sesekali mereka lihat dalam perjalanan, kini terbang dengan anggun dari balik salah satu pilar yang masih berdiri, melesat menuju gerbang yang berdenyut itu. Merpati itu berhenti tepat di ambang gerbang, sayapnya mengepak pelan, seolah ragu sejenak. Matanya yang lembut dan bercahaya tampak menatap lurus ke arah Reinh. Sesaat kemudian, seolah telah membuat keputusan, tubuh kecil merpati itu mulai diselimuti cahaya biru es yang lembut, sama seperti warna gerbang di belakangnya. Cahaya itu semakin terang, membutakan sejenak, dan ketika mereda, sosok merpati itu telah tiada. Sebagai gantinya, di depan gerbang yang masih terbuka, berdirilah sesosok wanita anggun.
Rambutnya panjang berwarna biru es, tergerai seperti air terjun beku. Matanya lembut seperti embun pagi, memancarkan ketenangan dan kebijaksanaan. Ia mengenakan gaun putih sederhana namun berkilauan dengan cahaya keperakan, seolah terbuat dari embun yang membeku. Aura menyegarkan dan menenangkan memancar dari dirinya, membuat hawa dingin dari para hantu bajak laut sedikit mereda. Itu adalah Alisha, Sang Penjaga Embun, dalam wujud rohnya yang kini terlihat jelas dan nyata.
Alisha melangkah keluar dari gerbang, tatapannya langsung tertuju pada Reinh. Ada ekspresi familier di matanya, seolah ia telah lama mengenal Reinh, namun juga ada sedikit kesedihan dan kerinduan. Sebagai Key of Aura, Alisha bisa berbicara, suaranya lembut dan merdu seperti gemericik air.
“Akhirnya… kau datang, Luminere,” bisik Alisha, suaranya hampir tak terdengar di antara debur ombak.
Para hantu bajak laut, yang tadinya tampak ketakutan, kini seolah mendapatkan perintah baru. Mereka kembali menyerang party Reinh dengan lebih ganas, mungkin mencoba mencegah interaksi antara Reinh dan Alisha.
Alisha mengangkat tangannya yang ramping. Sebuah gelombang energi dingin namun menenangkan memancar darinya, mendorong mundur para hantu dan menciptakan semacam perisai tak kasat mata di sekitar Reinh, Ghyfin, dan Lios. Namun, ia tidak menyerang Reinh. Sebaliknya, ia memfokuskan seluruh perhatiannya pada pemuda itu.
Aura tekanan yang kuat namun tidak bermusuhan mulai memancar dari Alisha, menyelimuti Reinh. Rasanya seperti disiram air dingin di pagi hari, menyegarkan namun juga membuat tubuhnya sedikit gemetar. Ini bukan serangan, melainkan semacam… ujian. Alisha seolah sedang mengukur kekuatan jiwa Reinh, mencari resonansi, mencoba memastikan apakah ia benar-benar "Luminere" yang ia tunggu.
Reinh merasakan energi Alisha mencoba menembus pertahanan mentalnya. Ia secara naluriah menggunakan sihirnya, bukan untuk menyerang, tetapi untuk menstabilkan dirinya, untuk menunjukkan bahwa ia mampu menahan tekanan spiritual itu. Kristal safir di tongkatnya bersinar semakin terang, menciptakan aura pelindung tipis di sekelilingnya.
Ghyfin dan Lios hanya bisa terpaku menyaksikan interaksi aneh antara Reinh dan roh wanita anggun itu. Mereka tidak bisa mendengar suara Alisha, namun mereka bisa merasakan energi luar biasa yang terpancar dari kedua sosok itu.
Tepat ketika tekanan dari Alisha mencapai puncaknya, dan Reinh merasa hampir tak sanggup lagi menahannya, sebuah cahaya yang jauh lebih terang dan agung tiba-tiba muncul di antara mereka, memisahkan Reinh dan Alisha sejenak. Visualisasi Dewi Sifa, dalam bentuk anomali cahaya yang memesona dengan siluet wanita anggun di tengahnya, kembali hadir.
Dengan suara yang menggema, bukan hanya di benak Reinh, tetapi juga terasa oleh Ghyfin dan Lios, Dewi Sifa berkata, “Cukup, Alisha. Dia adalah yang terpilih, Utusan terakhir. Takdirmu kini terjalin dengannya. Jagalah dia, bimbinglah dia, karena jalan yang akan ia tempuh masih panjang dan penuh kegelapan.”
Setelah kata-kata itu, visualisasi Dewi Sifa perlahan memudar. Alisha menatap ke tempat Dewi Sifa menghilang sejenak, lalu kembali menatap Reinh. Tekanan spiritual yang ia pancarkan mereda. Ia membungkuk dengan anggun di hadapan Reinh.
“Aku, Alisha, Sang Penjaga Embun, akan menjadi penjagamu dan penuntunmu, Luminere,” kata Alisha, kali ini suaranya terdengar jelas oleh Reinh. “Mulai saat ini, aku akan menjadi perisaimu, cahayamu dalam kegelapan.”
Sebuah cahaya lembut berwarna biru es mengalir dari Alisha dan menyelimuti Reinh sejenak, lalu meresap ke dalam dirinya. Reinh merasakan energi baru yang menyegarkan mengalir di dalam nadinya, rasa lelahnya sedikit berkurang, dan pikirannya terasa lebih jernih. Ikatan telah terbentuk.
Ghyfin dan Lios menatap pemandangan fantastis itu dengan mulut ternganga. Mereka melihat cahaya, merasakan energi, dan meskipun tidak mendengar semua percakapan, mereka tahu sesuatu yang sangat penting baru saja terjadi.
“Penyihir… apa… apa itu tadi?” tanya Ghyfin, suaranya sedikit bergetar.
Lios juga menatap Reinh dengan penuh tanya. “Makhluk cahaya itu… dia… dia memilihmu?”
Reinh sendiri masih mencoba mencerna semuanya. Alisha, salah satu Key of Aura, kini terikat padanya. Dan Dewi Sifa… entitas misterius itu kembali muncul dan menegaskan perannya sebagai "Utusan". Beban di pundaknya terasa semakin berat, namun kini ia tidak merasa sepenuhnya sendirian. Ia memiliki sekutu baru, sekutu spiritual yang kuat.
Naratif: Legenda Tierias: Dewi Bintang, Para Penjaga Aura, dan Para Pengunjung dari Dunia Mimpi
Di masa yang jauh berbeda, sebelum Tierias menjadi realitas yang menyakitkan dan membingungkan bagi Reinh, ia adalah panggung bagi para pemain dari dunia lain—para Player, yang jiwanya terhubung melalui perangkat ajaib yang mereka sebut komputer. Dalam dunia virtual yang luas dan penuh keajaiban bernama Tale's of Aurora ini, para Player menjelajahi lanskap yang sama, berinteraksi dengan makhluk-makhluk yang sama, namun dengan kesadaran yang berbeda, terpisah oleh layar monitor.
Pada masa itu, Key of Aura bukanlah entitas liar berkesadaran yang menunggu untuk dibangunkan atau terikat secara spiritual. Mereka lebih berfungsi sebagai item langka atau skill summon (kemampuan memanggil) yang bisa didapatkan melalui penemuan di lokasi acak di peta (random map drop), hadiah quest (misi) sulit, atau melalui penggunaan item summoning scroll (gulungan pemanggilan) yang mahal. Setelah diaktifkan, Key of Aura ini akan memberikan berbagai macam buff (efek positif) kepada karakter pemain—meningkatkan serangan, pertahanan, kecepatan, atau memberikan regenerasi—dan secara visual mungkin muncul sebagai partikel cahaya yang mengelilingi avatar pemain, atau sebagai wujud miniatur roh yang mengikuti di belakang karakter, terlihat jelas di layar monitor mereka. Mereka adalah alat untuk memperkuat karakter, bagian dari mekanika permainan.
Meskipun begitu, lore (pengetahuan dunia) dalam game Tale's of Aurora sudah mulai membangun dasar legenda mereka. Diceritakan bahwa Key of Aura adalah serpihan kekuatan dari Dewi Bintang, Sifa, atau roh-roh alam kuno Tierias. Untuk para Player terpilih yang berhasil menyelesaikan questline epik tertentu atau menunjukkan dedikasi luar biasa, hubungan dengan Key of Aura tertentu bisa digambarkan lebih dalam dalam narasi game, sebagai "pendamping setia" atau "penjaga terpilih", memberikan ilusi ikatan yang lebih bermakna daripada sekadar buff statistik.
Alisha, misalnya, dalam lore game mungkin diceritakan sebagai roh penyembuhan yang menemani para mage class (kelas penyihir) yang berfokus pada sihir kehidupan. Kanae, sebagai roh angin, mungkin memberikan buff kecepatan kepada para rogue class (kelas penyamun) atau ranger class (kelas penjelajah). Yuki, dengan elemen esnya, mungkin memberikan tambahan crowd control (pengendalian massa) atau pertahanan magis kepada para warrior class (kelas pejuang) yang berhati dingin namun adil. Saria, sebagai Penjaga Hutan Eterna, mungkin terhubung dengan quest-quest yang melibatkan perlindungan alam atau ras elf. Eligros, dengan aura kegelapannya, mungkin menjadi summon kuat bagi para dark knight class (kelas ksatria kegelapan) atau warlock class (kelas penyihir kegelapan). Lux, dengan cahayanya, mungkin memberikan aura kepemimpinan bagi para guild leader (pemimpin serikat) atau mereka yang memilih jalur paladin class (kelas ksatria suci). McDohl, sang Raja yang Terlupakan, mungkin adalah NPC boss legendaris yang setelah dikalahkan memberikan Key of Aura-nya sebagai hadiah langka. Riou, Sang Cermin Jiwa, mungkin adalah Key of Aura misterius yang efeknya berubah-ubah tergantung jiwa pemain.
Para Player dan Key of Aura (sebagai buff atau summon) bekerja sama dalam kerangka permainan, menyelesaikan quest epik, melawan monster boss yang mengancam, dan mengungkap rahasia kuno Tierias yang tertulis dalam skrip game. Mereka adalah bagian dari simfoni dunia virtual ini, tanpa menyadari bahwa setiap interaksi, setiap emote yang mereka gunakan, setiap keputusan dalam dialogue tree NPC, dan setiap emosi yang mereka rasakan saat bermain, secara tak sengaja menanam benih-benih kesadaran dan kehidupan pada entitas-entitas digital itu, yang suatu hari nanti akan berakar dan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata daripada yang pernah mereka bayangkan.
Dewi Sifa, dalam lore game, mungkin adalah entitas dewa utama atau tokoh mitologis sentral. Avatar atau manifestasinya mungkin sesekali muncul dalam event-event khusus atau questline utama, memberikan quest, hadiah, atau petunjuk samar tentang misteri dunia yang lebih dalam. Ia mengawasi pertumbuhan dan interaksi para Player dan Key of Aura dalam game, mungkin sebagai bagian dari narasi besar yang telah dirancang oleh para pengembang game, atau mungkin, tanpa disadari oleh siapapun, ia adalah bug spiritual, sebuah kesadaran yang mulai tumbuh di dalam kode dunia, yang sudah merencanakan atau mengantisipasi perubahan besar yang akan datang.
Namun, bahkan di masa keemasan Tale's of Aurora sebagai game populer, ada bisikan di forum-forum pemain tentang glitch (gangguan teknis), bug (kesalahan program), dan gangguan aneh dalam kode dunia yang bisa merusak keseimbangan permainan. Beberapa Player melaporkan mengalami kejadian aneh, visualisasi samar tentang kesedihan dan kehancuran yang tiba-tiba muncul di layar mereka, atau NPC yang bertingkah di luar skrip. Kebanyakan menganggapnya hanya sebagai bagian dari lore game yang rumit, easter egg (pesan tersembunyi), atau sekadar bug teknis yang biasa terjadi dalam game MMORPG yang kompleks.
Tanpa mereka sadari, interaksi intens antara para Player, Key of Aura (yang mulai mendapatkan percikan kesadaran dari emosi pemain), dan dunia Tierias (yang kodenya mungkin mulai goyah atau berevolusi) sedang menjalin takdir yang kompleks dan tak terduga. Ikatan emosional yang terbentuk antara Player dan avatar mereka, persahabatan yang terjalin di antara para Player dalam guild atau party, dan bahkan konflik serta persaingan yang terjadi di antara mereka, semuanya akan memainkan peran penting dalam transformasi besar yang akan datang, ketika batas antara dunia game di layar monitor dan kenyataan mulai kabur, mungkin oleh rasa sakit hati seorang dewi, atau oleh kekuatan lain yang tak terduga. Warisan para Player dan interaksi mereka dengan Key of Aura akan terukir selamanya dalam sejarah dunia Tierias yang terlahir kembali ini.