Bab 9: Bayangan dari Gubuk Pesisir dan Bisikan Para Roh

2762 Kata
Keterkejutan Ghyfin dan Lios atas kejadian di reruntuhan pantai belum sepenuhnya hilang bahkan setelah mereka kembali ke penginapan The Drunken Clam Inn (Penginapan Kerang Mabuk) di Halonial Coast (Pesisir Halonial). Reinh sendiri masih mencoba mencerna fakta bahwa Alisha, Sang Penjaga Embun, kini terikat padanya. Kehadiran Alisha tidak lagi hanya aura samar yang ia rasakan; setelah ikatan terbentuk, Reinh bisa melihat wujud rohnya yang anggun dengan jelas dan mendengar suaranya yang lembut. Namun bagi Ghyfin dan Lios, manifestasi Alisha berbeda. “Jadi… roh wanita itu… Alisha… dia semacam roh penjagamu sekarang, Penyihir?” tanya Ghyfin malam itu, saat mereka bertiga duduk di sudut ruang makan penginapan yang mulai sepi. Matanya sesekali melirik ke samping Reinh, ke arah gumpalan energi biru lembut seukuran kepala manusia yang melayang tenang, memancarkan cahaya redup seperti warna rambut Alisha yang Reinh deskripsikan. Ghyfin bisa merasakan getaran energi dari gumpalan itu dan terkadang mendengar suara bisikan samar, seperti angin lembut atau gemericik air, setiap kali Reinh tampak merespons sesuatu yang tak terlihat olehnya. Reinh mengangguk. Ia sudah menjelaskan kepada mereka bahwa Alisha kini bersamanya, meskipun hanya ia yang bisa melihat wujud penuhnya. “Sepertinya begitu. Dia menyebutku ‘Luminere’ dan ‘Utusan’.” “Luminere…” Lios menggumamkan nama itu lagi, matanya juga tertuju pada gumpalan energi biru di dekat Reinh. Ia juga bisa mendengar suara-suara halus dari gumpalan itu, meskipun kata-katanya tidak selalu jelas, lebih seperti melodi yang jauh. “Aku yakin pernah mendengar nama itu. Dan ‘Utusan’… roh angin di dalam Ghyfin juga menyebutmu begitu.” “Benar,” suara Alisha terdengar jelas di benak Reinh, namun bagi Ghyfin dan Lios mungkin hanya terdengar seperti desiran lembut atau nada tinggi yang samar dari arah gumpalan energi biru itu. “Kau adalah Luminere, Utusan terakhir yang masih mengingat. Dan ada Key of Aura lain yang juga menunggu untuk dibangkitkan, roh-roh penjaga yang terhubung dengan para Utusan di masa lalu. Aku bisa merasakan beberapa dari mereka, meskipun energinya lemah dan tersebar.” Alisha berhenti sejenak, gumpalan energinya sedikit berdenyut ke arah Ghyfin, lalu ke arah Lios. “Dan aku juga merasakan kehadiran dua roh lain yang dekat denganmu, Luminere. Satu bersemayam kuat di dalam wanita itu, energi angin yang liar namun protektif. Satu lagi mulai bangkit dalam diri ksatria itu, energi es yang dingin namun berpotensi besar.” Reinh terkejut dengan pengamatan Alisha. Jadi, Alisha juga bisa merasakan Kanae di dalam Ghyfin dan energi Yuki yang mulai aktif di Lios. Ia memutuskan untuk menyimpan informasi detail itu untuk dirinya sendiri dulu, tidak ingin membuat Ghyfin dan Lios semakin bingung. Reinh menyampaikan inti pesan Alisha kepada Ghyfin dan Lios, bagian tentang Key of Aura lain. “Alisha mengatakan bahwa ada roh penjaga lain seperti dirinya. Dan ia merasakan keberadaan mereka.” “Roh penjaga lain?” Ghyfin mengerutkan kening, menatap gumpalan biru itu dengan lebih saksama. “Sebanyak apa? Dan apa hubungannya dengan kita?” Kanae di dalam dirinya berdesir, “Banyak… sangat banyak… terpisah… terluka…” “Aku tidak tahu pasti,” lanjut Reinh, meneruskan apa yang Alisha komunikasikan. “Tapi Alisha menyarankan kita untuk mencari seseorang yang mungkin tahu lebih banyak. Seorang penyihir tua yang tinggal di gubuk terpencil di sepanjang pesisir utara Halonial, dekat Tebing Whisperwind (Tebing Bisikan Angin). Katanya, penyihir itu memiliki pengetahuan kuno tentang Key of Aura dan para Utusan.” Lios langsung bersemangat. “Penyihir tua? Seperti di cerita-cerita legenda? Kita harus menemuinya!” Ghyfin tampak lebih skeptis. “Gubuk terpencil? Penyihir tua? Kedengarannya seperti jebakan atau buang-buang waktu. Tapi,” ia melirik Reinh dan gumpalan energi biru di sampingnya, “jika ini ada hubungannya dengan… roh-roh ini, kurasa kita tidak punya banyak pilihan.” Ia masih merasa aneh dengan kehadiran Kanae di dalam dirinya, dan kini ditambah dengan "teman baru" Reinh yang berbentuk cahaya biru. Jika ada yang bisa menjelaskan, ia bersedia mencobanya. Maka, keesokan paginya, setelah membeli perbekalan tambahan—roti keras, dendeng Salted Boar (Dendeng Babi Hutan Asin), dan beberapa kantung air—mereka bertiga memulai perjalanan menuju pesisir utara Halonial. Gumpalan energi biru yang adalah Alisha melayang ringan di samping Reinh, sesekali berdenyut atau berubah intensitas cahayanya saat Alisha memberikan komentar atau arahan yang hanya bisa dipahami sepenuhnya oleh Reinh. Perjalanan ini membuat Ghyfin dan Lios semakin terbiasa dengan keanehan Reinh, meskipun tetap terasa ganjil. Pemuda itu sering terlihat berbicara dengan gumpalan cahaya biru di sampingnya, atau mengangguk dan menggeleng padanya. “Penyihir, apa yang ‘teman birumu’ itu katakan?” tanya Ghyfin suatu kali, saat melihat Reinh tersenyum tipis sambil menatap gumpalan energi itu. Ia sudah menyerah untuk mencoba memahami sepenuhnya, tapi rasa ingin tahunya tak pernah padam. Reinh sedikit tersentak, lalu sadar Ghyfin bertanya tentang Alisha. “Ah… Alisha hanya mengingatkanku untuk berhati-hati dengan jalan setapak yang licin ini.” Alisha, melalui koneksi mereka, terkekeh pelan di benak Reinh. “Mereka mulai terbiasa denganku, Luminere, meskipun hanya sebagai cahaya. Ini lebih baik daripada tidak sama sekali. Wanita itu… roh angin di dalam dirinya sangat kuat. Dan ksatria itu, potensi roh esnya juga menarik.” Lios juga memperhatikan. “Energi dari… Alisha itu… terasa sangat murni dan menenangkan, Reinh. Berbeda dengan bisikan yang kudengar dalam mimpiku, yang lebih… mendesak.” “Mungkin karena elemen mereka berbeda,” jawab Reinh, mencoba menjelaskan sebisanya. “Alisha adalah Penjaga Embun, elemennya air dan penyembuhan. Roh dalam mimpimu, Lios, mungkin memiliki elemen atau tujuan yang berbeda.” Ia sengaja tidak menyebutkan bahwa Alisha juga merasakan roh es di dalam Lios. Ghyfin menyipitkan matanya. Kanae di dalam dirinya berbisik, “Roh Penyihir itu kuat… tapi berbeda denganku… aku adalah badai…” Ghyfin tidak mengatakan apa-apa, namun ia semakin yakin bahwa mereka terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar petualangan biasa. Setelah hampir seharian berjalan menyusuri jalan setapak berbatu yang berkelok-kelok di sepanjang tebing curam yang menghadap ke lautan biru kehijauan, Azure Deep (Biru Tua Samudra), mereka akhirnya melihat sebuah gubuk kecil reyot yang berdiri sendirian di tanjung kecil yang menjorok ke laut. Asap tipis mengepul dari cerobong batunya. Di sekeliling gubuk, tumbuh berbagai macam tanaman herbal aneh dengan warna-warni mencolok, beberapa di antaranya memancarkan cahaya redup. Gumpalan energi biru di samping Reinh sedikit berdenyut lebih terang. “Ini pasti tempatnya,” kata Lios, menunjuk ke arah gubuk. Mereka mendekati gubuk itu dengan hati-hati. Pintunya terbuat dari kayu lapuk dan tampak tertutup rapat. Reinh memberanikan diri untuk mengetuk. Setelah beberapa saat hening, pintu itu berderit terbuka, menampakkan sesosok wanita tua dengan punggung sedikit bungkuk. Wajahnya penuh keriput seperti peta kuno, namun matanya yang berwarna hijau giok bersinar tajam dan penuh pengetahuan, seolah bisa melihat menembus jiwa mereka. Rambut putihnya yang panjang tergerai berantakan, dan ia mengenakan jubah kelabu sederhana yang diikat dengan tali rami. Di lehernya tergantung sebuah liontin giok berbentuk spiral. Ini adalah Nenek Rumi. “Siapa kalian, anak-anak muda? Dan apa urusan kalian mengganggu ketenangan seorang wanita tua di tempat terpencil ini?” suara Nenek Rumi serak namun tegas. “Maaf mengganggu, Nenek,” sapa Reinh sopan. “Kami adalah petualang dari Halonial. Kami mencari seseorang yang memiliki pengetahuan tentang… roh-roh penjaga kuno.” Mata Nenek Rumi menyipit, menatap mereka satu per satu. Tatapannya berhenti sejenak pada gumpalan energi biru yang melayang di samping Reinh, lalu beralih ke Reinh sendiri. “Roh penjaga kuno, katamu?” Ia terkekeh pelan, suara seperti daun kering yang bergesekan. “Dan kau membawa salah satunya bersamamu, bukan begitu, anak muda? Bukan hanya satu, sepertinya. Ada energi lain yang menarik di antara kalian.” Ia melirik sekilas ke arah Ghyfin dan Lios. “Masuklah. Angin laut malam ini dingin.” Ghyfin dan Lios saling pandang, terkejut karena Nenek Rumi bisa merasakan Alisha dan mungkin juga energi lain di antara mereka. Mereka bertiga mengikuti Nenek Rumi masuk ke dalam gubuk yang sempit namun hangat. Aroma berbagai macam herbal kering dan asap kayu bakar memenuhi udara. Rak-rak kayu dipenuhi botol-botol kaca berisi cairan berwarna-warni, bundel tanaman kering, dan buku-buku tebal bersampul kulit yang sudah usang. Di tengah ruangan, sebuah perapian kecil menyala, memberikan kehangatan dan cahaya. “Duduklah,” kata Nenek Rumi, menunjuk beberapa bangku kayu kasar. Ia sendiri duduk di kursi goyang tua di dekat perapian. “Jadi, roh penjaga kuno apa yang kalian cari? Selain Sang Penjaga Embun yang setia menemanimu itu, Utusan Luminere? Dan aku merasakan bisikan angin liar serta embrio es yang membeku di dekat kalian.” Reinh terkejut Nenek Rumi mengetahui nama Alisha, sebutan "Luminere", dan bahkan merasakan Kanae serta Yuki. Gumpalan energi biru di sampingnya bersinar lebih terang, dan suara Alisha terdengar di benak Reinh, “Dia sangat peka, Luminere. Dia salah satu dari sedikit yang masih mengingat tradisi lama dan bisa membaca aliran energi roh dengan baik.” Bagi Ghyfin dan Lios, mungkin hanya terdengar desiran energi yang lebih kuat dari gumpalan biru itu, namun kata-kata Nenek Rumi tentang "angin liar" dan "embrio es" membuat mereka tertegun. Reinh menarik napas. “Nenek tahu tentang Alisha? Dan… Luminere? Serta… energi lain itu?” Nenek Rumi tersenyum. “Tentu saja, anakku. Mata tuaku mungkin rabun, tapi mata batinku masih melihat dengan jelas. Alisha adalah roh yang lembut namun kuat. Sudah lama sekali aku tidak merasakan kehadirannya yang murni.” Ia menatap Reinh. “Dan kau, yang membawa auranya, kau pasti Utusan yang dinanti.” Ia lalu menatap Ghyfin. “Dan kau, gadis pemberani, ada badai yang bersemayam dalam dirimu, menunggu untuk dilepaskan.” Kemudian pada Lios, “Dan kau, ksatria muda, ada kekuatan murni yang membeku, menunggu untuk dibentuk.” “Dia… dia terikat padaku,” aku Reinh, merujuk pada Alisha. “Dan dia mengatakan ada Key of Aura lain yang menunggu, yang terhubung dengan para Utusan di masa lalu.” Nenek Rumi mengangguk pelan. “Benar sekali, anak muda. Key of Aura, atau Para Penjaga Jiwa Tierias, begitu kami kaum tua menyebutnya. Mereka adalah roh-roh penjaga kuno, serpihan dari kekuatan alam dan energi magis dunia ini. Mereka ada jauh sebelum para ‘Pengunjung dari Dunia Mimpi’ datang.” “Pengunjung dari Dunia Mimpi?” tanya Ghyfin, alisnya terangkat. “Ya,” jawab Nenek Rumi, matanya menerawang. “Mereka yang kalian sebut para Utusan Dewi Sifa. Mereka datang dari dunia lain, terhubung ke Tierias melalui cara yang tak kami pahami sepenuhnya. Mereka kuat, memiliki kemampuan luar biasa, dan banyak dari mereka menjalin ikatan dengan para Key of Aura. Bersama-sama, mereka menjaga keseimbangan dunia ini dari ancaman yang lebih besar.” Alisha, melalui gumpalan energinya yang berdenyut, seolah berkomunikasi dengan Nenek Rumi. Nenek Rumi sesekali mengangguk atau tersenyum tipis, seolah memahami. “Tapi setelah para Utusan menghilang secara tiba-tiba,” suara Alisha bergema di benak Reinh, “kami para Key menjadi liar, kehilangan arah dan tujuan. Banyak dari kami yang tertidur, yang lain menjadi agresif, dan beberapa bahkan terpengaruh oleh kegelapan yang mengintai.” Nenek Rumi mengangguk lagi. “Dan sekarang, setelah sekian lama, seorang Utusan baru telah muncul.” Ia menatap Reinh dengan intens. “Kau, anak muda. Kau membawa energi yang sama dengan mereka.” Reinh merasa beban tanggung jawabnya semakin berat. Jadi, legenda tentang Utusan dan Key of Aura itu nyata, bukan hanya lore game. Dan ia adalah bagian dari itu. Ghyfin dan Lios kini juga mulai memahami, setidaknya sebagian, dari apa yang mereka hadapi, melihat interaksi tak langsung antara Nenek Rumi dan gumpalan energi Alisha, serta pengakuan Nenek Rumi tentang energi di dalam diri mereka. Nenek Rumi memperhatikan Ghyfin dan Lios yang masih menatap penasaran pada gumpalan energi biru di samping Reinh. “Kalian berdua,” katanya lembut. “Kalian hanya bisa merasakan kehadirannya, bukan? Belum bisa melihat wujud aslinya dengan jelas?” Ghyfin dan Lios mengangguk serempak. “Hanya… seperti cahaya biru dan bisikan samar, Nek,” jawab Ghyfin. Nenek Rumi tersenyum. Ia bangkit dari kursi goyangnya dan berjalan ke salah satu rak, mengambil sebuah botol kecil berisi cairan bening yang berkilauan seperti cahaya bulan. “Ini adalah Moonpetal Dew Elixir (Ramuan Embun Kelopak Bulan). Dibuat dari kelopak bunga langka yang hanya mekar di bawah cahaya dua bulan purnama. Ramuan ini bisa mempertajam penglihatan spiritual untuk sementara waktu, memungkinkan kalian melihat dunia roh dengan lebih jelas.” Ia menuangkan sedikit cairan itu ke dalam dua cangkir kayu kecil. “Minumlah. Mungkin ini bisa membantu kalian memahami teman baru Utusan ini dengan lebih baik.” Ghyfin dan Lios saling pandang, lalu menatap Reinh yang mengangguk memberi isyarat. Dengan sedikit ragu, mereka mengambil cangkir itu dan meminum ramuan tersebut. Rasanya sejuk dan sedikit manis, dengan aroma bunga yang samar. Sesaat setelah meminumnya, dunia di sekitar mereka tampak sedikit berubah. Warna-warna menjadi lebih cerah, dan mereka bisa merasakan energi halus yang mengalir di udara. Kemudian, mereka menatap kembali ke arah gumpalan energi biru di samping Reinh. Perlahan, cahaya biru itu mulai membentuk kontur yang lebih jelas. Gumpalan itu memanjang, membentuk sosok wanita anggun dengan rambut biru es panjang dan gaun putih berkilauan. Mata Alisha yang lembut kini menatap mereka langsung, senyum tipis tersungging di bibirnya. “Astaga…” bisik Lios, matanya melebar tak percaya. Ghyfin juga terpana. “Jadi… ini wujud aslimu, Alisha?” Suara Alisha yang sebelumnya hanya bisikan samar kini terdengar lebih jelas di telinga mereka, merdu seperti gemericik air. “Benar, anak-anak manusia,” jawab Alisha, suaranya kini bisa didengar oleh Ghyfin dan Lios, meskipun mungkin masih terasa sedikit eterial. “Terima kasih kepada Nenek Rumi, kalian bisa melihatku sekarang.” “Apa yang harus kami lakukan, Nenek?” tanya Reinh, setelah Ghyfin dan Lios sedikit pulih dari keterkejutan mereka. “Alisha mengatakan ada Key of Aura lain. Bagaimana kami menemukan mereka?” Nenek Rumi tersenyum tipis, senyum yang penuh teka-teki. “Kesabaran, anak muda. Membangkitkan para Key membutuhkan lebih dari sekadar keinginan. Butuh resonansi jiwa, keberanian, dan terkadang, pengorbanan.” Ia terdiam sejenak, menatap api di perapian. “Namun,” lanjutnya, “ada tempat di mana energi para Key of Aura dari masa lalu masih terasa kuat. Sebuah lembah tersembunyi di antara pegunungan utara, yang dikenal sebagai Crescent Valley (Lembah Bulan Sabit). Dulu, itu adalah salah satu tempat pertemuan para Utusan dan Key of Aura mereka. Mungkin di sana, kau akan menemukan petunjuk lebih lanjut tentang masa lalumu, Luminere,” Nenek Rumi menggunakan nama itu dengan penekanan, “dan cara untuk memulihkan para Key of Aura yang lain.” Crescent Valley. Reinh mengingat nama itu dari peta Tale's of Aurora. Sebuah desa kecil yang terkenal dengan hutan maple merahnya yang indah dan kuil kuno yang terbengkalai. “Terima kasih atas informasinya, Nenek Rumi,” kata Reinh tulus. “Gunakan pengetahuan itu dengan bijak, anak-anak,” kata Nenek Rumi. “Ramuan itu hanya akan bertahan beberapa jam. Tapi semoga itu cukup untuk membuka mata kalian pada dunia yang tak terlihat.” Ia tersenyum lagi. “Jalan di depan kalian tidak akan mudah. Kegelapan selalu mengintai, menunggu kesempatan untuk menelan cahaya.” Saat mereka bersiap untuk pergi, Nenek Rumi menahan Reinh sejenak. “Satu hal lagi, Utusan,” bisiknya, matanya yang hijau giok menatap tajam. “Jangan lupakan siapa dirimu, dan jangan biarkan bayangan masa lalumu menghancurkan masa depan yang bisa kau ciptakan.” Kata-kata itu menusuk langsung ke hati Reinh, mengingatkannya pada Yui dan sumpahnya. Nenek Rumi seolah tahu segalanya. Dengan pikiran penuh pertanyaan dan secercah harapan baru, serta Ghyfin dan Lios yang kini bisa melihat Alisha dengan lebih jelas (setidaknya untuk sementara waktu), mereka meninggalkan gubuk penyihir tua itu. Mereka kembali menyusuri pesisir Halonial menuju kota, bersiap untuk perjalanan baru mereka ke Crescent Valley. Alisha kini bisa berinteraksi lebih langsung dengan Ghyfin dan Lios, menjawab pertanyaan mereka dengan sabar, meskipun kehadirannya masih terasa seperti mimpi bagi kedua petualang itu. Beban sebagai Utusan terasa berat bagi Reinh, namun ia tidak lagi merasa sepenuhnya sendirian. Setelah ketiga pemuda itu menghilang dari pandangan, Nenek Rumi kembali masuk ke dalam gubuknya yang remang. Ia duduk kembali di kursi goyangnya, menatap api yang berkeretak di perapian. Keheningan menyelimuti gubuk itu sejenak, hanya terganggu oleh suara angin laut yang menderu di luar. Tiba-tiba, dari sudut paling gelap di dalam gubuk, sebuah bayangan perlahan memadat, membentuk sosok pria tinggi yang seluruhnya terbungkus jubah hitam legam. Tudung jubahnya menutupi sebagian besar wajahnya, namun dua titik merah menyala terlihat dari balik bayangan itu, seperti bara api di kegelapan malam. Aura dingin dan mengancam memancar dari sosok itu, kontras dengan kehangatan perapian. Pria berjubah itu melangkah tanpa suara mendekati Nenek Rumi. Ada senyum tipis yang jahat tersungging di bibirnya yang tersembunyi, namun saat ia berbicara, suaranya terdengar anehnya hormat. “Ujiannya akan aku mulai, yah, Nek?” kata pria berjubah hitam itu, matanya yang merah menatap Nenek Rumi. Nenek Rumi tidak menjawab. Ia hanya terus menatap api, seulas senyum tipis yang penuh teka-teki tersungging di bibirnya yang keriput, seolah ia sudah mengetahui segalanya dan membiarkan takdir berjalan sesuai alurnya. Angin laut di luar bertiup semakin kencang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN