Bab 13: Sebuah Janji

1019 Kata
"Kamu sudah berapa hari nggak tidur?" Azura berakhir di sebuah restoran bersama dengan Ocean. Awalnya Azura menolak untuk berbicara dengan pria itu namun Ocean tetap menunggu sampai Azura menyelesaikan pekerjaan di Hidden Grace Bakery. Pria itu bahkan kembali membantu Azura untuk menjaga kasir dan mengantarkan pesanan. "Nggak usah basa-basi. Langsung aja. Apa yang ingin lo bicarakan sama gue?" "Tanggal pernikahan sudah ditetapkan oleh keluarga saya dan keluarga kamu. Mereka melakukan pertemuan keluarga kemarin waktu di Jogja." "Dan lagi-lagi tanpa memberitahu gue?" Azura sudah tidak mengerti lagi apa yang ada di otak semua orang. Mereka membicarakan tentang pernikahan bahkan sudah menetapkan tanggal pernikahan tanpa melibatkannya di dalamnya. "Kenapa kamu tidak menginginkan pernikahannya?" "Kita nggak saling kenal. Gue nggak kenal sama lo begitupun sebaliknya." "Kamu selalu menolak untuk saling kenal Anindya." "Dan lo sekarang menyalahkan gue?" Ocean menggelengkan kepalanya. "Saya tidak menyalahkan kamu. Anindya, kita tidak akan pernah bisa membatalkan pernikahan." "Lo nggak pernah memberitahu gue alasan kenapa lo mau menyetujui pertunangan bahkan sekarang pernikahan, Ocean." Azura sedikit melunak. Sudah lelah berdebat tentang pernikahan ini. Azura berpikir dia bisa menang dari orang-orang dewasa itu saat dia terus memberontak namun nyatanya memang tidak ada yang berubah. Mereka tetap melakukan apa yang mereka pikirkan. "Karena lo mau membuktikan pada Lituhayu kalau lo juga mau menikah?" "Tidak pernah seperti itu Anindya. Saya bukan orang seperti itu." "Ocean, lo pernah mencintai Lituhayu?" "Saya pernah." Azura terkekeh. Dua kata itu sudah ingin Azura dengar sejak lama namun Ocean selalu menghindar setiap kali Azura menyinggung tentang perempuan yang ada di masa lalu pria itu. "Saya dan Lituhayu pernah memiliki hubungan di masa lalu. Saat SMA. Hubungan itu sudah berakhir sejak saya pindah ke Amerika." "Hubungan lo sama dia sudah berakhir tapi komunikasi lo sama dia tetap berlangsung sampai hari ini bahkan liburan bersama saat sudah putus?" "Saya dan Litu tidak akan pernah bisa bersatu sampai kapanpun. Itu adalah hal yang harus kamu tahu. Kapanpun tidak akan pernah." "Jadi, lo dan Lituhayu memutuskan untuk mengakhiri hubungan kalian karena keterpaksaan sedangkan kalian masih saling mencintai?" "Saat itu memang seperti itu namun sekarang sudah tidak lagi Anindya." "Karena Lituhayu sudah menikah?" "Bukan. Semua karena saya sudah terbiasa. Saya sudah melepaskan Lituhayu sejak lama sebagai seorang yang pernah saya cintai. Sekarang perasaan itu sudah tidak ada lagi. Saya hanya milik saya sendiri dan jika suatu hari kamu mengizinkan. Saya akan menjadi milik kamu." Azura terdiam mendengar itu. "Melepaskan orang lain tidak mudah. Saya dan Lituhayu pernah mengalami hal yang sama. Saat saya pindah ke Amerika semuanya terasa berat namun perlahan saya terbiasa tanpa Lituhayu begitu pula sebaliknya sampai akhirnya saya dan dia menemukan kehidupan masing-masing." "Dan lo tetap akan menjadi orang yang siaga setiap kali Lituhayu meminta bantuan sama lo, kan?" Ocean terdiam. Azura terkekeh melihat itu. Menurut Azura Ocean ini terlalu lucu. "Mungkin lo sudah melepaskan Lituhayu sejak lama namun Lituhayu masih memiliki tempat di hati lo. Tempat prioritas dimana lo akan selalu datang ke dia setiap kali dia meminta sesuatu sama lo? Gue benar?" "Anindya, kamu mengatakan hal ini karena kamu pernah mengalaminya?" Gantian Azura yang terdiam. "Kamu pernah ada di posisi seperti itu sampai akhirnya kamu berpikir semua orang akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan?" "Kalau gue memang pernah seperti itu kenapa? Lo akan membatalkan pernikahan? Kalau begitu baguslah. Setidaknya gue tidak mengorbankan siapapun untuk menutupi kelemahan gue." "Gue bukan orang yang mudah disukai orang lain. Gue juga nggak mudah menyukai orang lain. Gue mudah melepaskan orang lain dan sulit untuk membuat orang lain bertahan lama di samping gue karena kehidupan yang gue sangat membosankan. Dunia gue hanya sebatas Hidden Grace Bakery dan kuliah. Gue nggak pernah memiliki waktu untuk hal lain." "Saya tidak keberatan dengan hal itu Anindya. Saya tidak keberatan dengan cara kamu menjalani kehidupan kamu. Saya sudah mengatakan sama kamu. Kita bisa hidup berdampingan karena kehidupan saya tidak jauh berbeda dari kamu." "Saat gue menyayangi seseorang. Gue tetap akan mudah melepaskannya disaat dia menganggap gue sebagai salah satu hal yang penting namun bagi gue dia hanya bagian dari beban hidup gue." "Karena itu kamu tidak ingin menikah?" Azura mengangguk tanpa ragu. Ini untuk pertama kalinya Azura mengakui kelemahannya di hadapan orang lain. Biasanya Azura akan memilih untuk menutupi semuanya. Dia tidak ingin dibilang red flag atau semacamnya. Azura ingin mempertahankan image nya sebagai perempuan baik-baik di mata siapapun. Namun di hadapan Ocean. Pria yang dijodohkan dengannya ini. Azura merasa dia tidak perlu menyembunyikannya. Kejujurannya mungkin akan membuat Ocean berpikir ulang kemudian membatalkan pernikahan. "Anindya, kamu pernah memiliki janji pada seseorang untuk menikah dengannya?" Ekspresi wajah Azura langsung berubah mendengar pertanyaan Ocean bahkan terlihat begitu pias sampai Ocean sendiri terkejut melihat itu. Ini untuk pertama kalinya Ocean melihat Azura seperti itu. "Kamu masih menunggu seseorang itu kembali?" "Gue yang mutusin dia saat lulus kuliah." "Saat itu kamu merasa belum selesai dengan masa lalu kamu dan rasa bersalahnya masih berlanjut sampai hari ini?" Azura berpikir Ocean akan sama meledak-ledaknya seperti dirinya namun kenyataanya tidak seperti itu Ocean begitu tenang seperti biasanya. Sikap yang ditunjukkan oleh pria itu benar-benar layaknya seperti seorang pria dewasa. "Sekarang lo sudah tahu betapa jeleknya gue. Ocean, cari perempuan lain." "Anindya, kamu butuh waktu berapa lama untuk menyelesaikan apa yang belum kamu anggap selesai?" Azura menarik nafasnya. Ini adalah pertanyaan yang tidak akan pernah bisa Azura jawab dengan pasti. Pertanyaan yang tidak akan pernah Azura temukan jawabannya walaupun Azura sudah mencoba mencari jawabanya. "Jangan menolak orang yang ingin serius dengan kamu hanya karena kamu merasa bersalah, Anindya. Diluar sana kamu tidak pernah tahu apa yang dia lakukan dan seperti apa kehidupannya setelah tanpa kamu." "Dia selalu cari gue." "Sampai hari ini?" Azura mengangguk. Azura tidak menutupi apapun. "Sampai hari ini. Dia tidak pernah hilang walaupun gue menolak untuk kembali bersama Ocean." "Kamu berencana untuk kembali sama dia?" Azura bungkam. Azura juga tidak memiliki jawabannya. Ocean tersenyum tipis. Senyum itu nyaris tidak terlihat saking tipisnya. "Masih tersisa enam bulan lagi sebelum pernikahan saya sama kamu. Kamu bisa memikirkan semua hal itu. Jika kamu ingin kembali bersama mantan pacar kamu. Beritahu saya sebelum undangan pernikahan di bagikan. Saya sendiri yang akan berbicara pada Eyang Kakung dan orang tua kamu untuk membatalkan pernikahan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN