"Mbak mobil porsche cayenne ini sudah terparkir satu minggu di rumah ini. Pemiliknya kemana?" Aghnya duduk di samping Azura yang sedang sibuk dengan penelitiannya. Setiap kali Aghnya pulang dari Hidden Grace Bakery selama satu minggu ini. Dia akan selalu menemukan Azura duduk di hadapan laptop lengkap dengan tumpukan buku dan kertas yang mengelilinginya. Azura memang sedang ambis-ambisnya menyelesaikan tesis namun perempuan itu juga tidak melupakan kewajibannya sebagai owner Hidden Grace Bakery. Azura tetap datang ke sana dari pagi sampai siang hari. Selebihnya menyerahkan semuanya pada Aghnya dan karyawannya yang lain.
"Jangan tanya sama gue."
"Berantem, Mbak?"
"Untuk apa?"
"Mas Ocean termasuk tipe yang pantang menyerah sama lo kayak mas—" Aghnya menghentikan ucapannya saat melihat tatapan penuh peringatan Azura.
"Maaf, Mbak."
"Jangan ganggu gue lagi. Pergi." Aghnya menipiskan bibirnya. Berdiri. Baru ingin naik ke lantai atas. Bel rumah mereka berbunyi.
"Mbak, lo punya tamu?"
"Nggak ada."
"Mbak Nayuma kali ya?"
"Sejak kapan Nayuma punya etika mencet bel saat datang ke sini?" tanya Azura sinis membuat Aghnya langsung terkekeh. Azura memang mendadak sensitif juga belakangan ini. Mungkin karena tekanan penelitiannya atau justru tekanan dari pemilik Porsche yang masih nangkring di garasi rumah.
"Mbak Azura." Orion muncul di balik punggung Aghnya setelah membuka pintu dengan pakaian compang-camping dan kalung andalannya.
"Kenapa lo ada disini?"
"Mau antar mobil lo, Mbak."
Azura mengangguk, "Kasih aja kuncinya ke Aghnya. Kunci mobil mas lo ada di lemari dekat pintu masuk."
"Kata mas Ocean mobilnya di taruh disini aja buat mbak Azura pakai."
"Gue nggak butuh."
"Terus butuhnya apa, Mbak. Mas Ocean?" Orion duduk di sofa yang ada di hadapan Azura tanpa di persilahkan
"Mas Ocean juga nggak butuh mobil itu sementara waktu."
"Memang mas Ocean kemana?"
Bukan Azura yang bertanya melainkan Aghnya yang tidak jadi naik ke lantai atas. Gadis itu memilih duduk di kursi single yang ada disana. Itu satu-satunya space yang tersisa disana. Buku-buku dan kertas Azura menutupi hampir seluruh bagian kursi.
"Jogja, sudah tiga hari."
"Ngapian?"
"Nikahan mbak Litu."
Suasana living room itu mendadak senyap. Orion merapatkan bibirnya menatap Aghnya kesal namun gadis itu justru tersenyum dengan ekspresi wajah songongnya.
"Sepupu mas Ocean?"
"Bukan."
"Terus siapa? Kok mas Ocean sampai tiga hari disana?"
"Sebenarnya gue nggak tahu dengan jelas hubungan mas Ocean sama mbak Litu tapi mas Ocean udah kenal sama dia dari jaman SMA terus mbak Litu yang pernah di bawa ke rumah keluarga Pramugara. Mbak Litu juga yang bantuin mas Ocean untuk desain dan beli furniture rumah yang ditempatinya sekarang."
"Spesial banget kayaknya mbak Litu itu buat mas Ocean."
"Spesial. Dulu gue mikir mas Ocean akan nikah sama mbak Litu."
"Kok mereka nggak jadi nikah?"
"Gue nggak tahu. Mas Ocean akan selalu menghindar setiap kali gue membicarakan mbak Litu."
Aghnya pindah duduk di samping Orion mengabaikan tatapan tajam seseorang yang sejak tadi duduk di hadapan laptop.
"Lo yakin mas Ocean nggak pernah punya hubungan khusus sama mbak Litu itu?" Aghnya terus memancing Orion sedangkan yang di pancing benar-benar menangkap umpannya.
"Gue rasa mereka pernah punya hubungan lebih dari seorang teman karena mereka ini nyaris selalu kemana-mana berdua selama bertahun-tahun."
"Pernah liburan berdua?"
"Pernah. Mbak Litu juga pernah nyamperin mas Ocean ke Amerika."
"Terus menurut lo, kenapa mas Ocean tiba-tiba setuju dengan pertunangan nya dengan mbak Azura?"
"Mungkin mau membuktikan sama mbak Litu kalau mas Ocean baik-baik saja walaupun di tinggal nikah—"
"b******n!"
Aghnya dan Orion menoleh mendengar seruan itu. Orion langsung menutup mulutnya dengan tangan sedangkan Aghnya tersenyum puas sambil mendengar informasi dari Orion.
"Thanks, informasinya."
Aghnya berlari naik ke lantai atas. Meninggalkan Orion dengan kepanikan nya.
"Mbak Azura, gue bisa jelasin semuanya."
"Nggak perlu. Lo pulang aja."
"Mbak—"
"Bawa mobil b******n itu sekalian."
"Mbak Azura—"
"Pergi dari rumah gue sekarang juga Orion!"
***
"Mas, gue udah pulangin mobil mbak Azura."
Seperti biasa tugas Orion menjemput Ocean ke Bandara. Raut wajah Ocean terlihat lebih kaku dibandingkan sebelum-sebelumnya membuat Orion diam-diam meringis. Merasa sangat takut bagaimana jika Ocean tahu apa yang ia katakan saat berkunjung ke rumah Azura. Orion baru kali ini begitu menyesal memiliki mulut yang begitu rombeng.
"Mbak Azura suruh bawa mobil lo balik."
"Kenapa?"
"Mbak Azura juga nggak pernah pakai mobil lo saat ditinggal disana. Aghnya yang bilang. Mbak Azura selalu pakai motornya kemana-mana."
Ocean menatap Orion. Orion mencengkram setir lebih erat. Takut sekali dengan tatapan Ocean apalagi dengan wajah pria itu yang kelihatan dingin sekali.
"Kenapa?"
"Mbak Azura kayaknya lagi mumet Mas. Aghnya bilang jarang tidur karena ngambis tesis. Orangnya juga jadi tambah galak."
"Memang lo bilang apa sama Anindya?"
"Mas Ocean lagi ke nikahan mbak Litu."
Tak!
Ocean menjitak kepala Orion sampai membuat pria itu meringis kesakitan.
"Mas, kali ini gue nggak berniat untuk membuat suasana semakin kacau. Gue nggak sengaja, Mas. Semua ini gara-gara Aghnya yang terus menanyakan pertanyaan menjebak sama gue."
"Perhatikan jalan Orion."
"Mas jangan marah. Jangan ngadu sama Eyang Kakung. Gue mohon banget."
"Nyetir yang benar."
***
"Mbak, mas Ocean belum pulang juga?" Azura sedang sibuk membuat adonan cheesecake. Mengabaikan pertanyaan Aghnya.
"Mbak, lo cemburu sama mas Ocean?"
Azura menaruh loyang cukup kasar membuat Aghnya refleks mundur tiga langkah. Menghindari Azura. Loyang itu bisa melayang ke wajahnya kapan saja.
"Semua orang punya masa lalunya, Mbak. Ini mbak Litu itu udah jelas statusnya sekarang sebagai istri orang. Mas Ocean juga pasti udah ngelepasin mbak Litu kalau memang mereka memiliki hubungan spesial di masa lalu."
"Mbak, lo juga sama kan? Lo juga punya masa lalu atau lo masih merasa bersalah sama dia sampai hari ini?"
Azura memejamkan mata sejenak. Hari-hari Azura cukup berat belakangan ini ditambah jam tidurnya yang harus dipangkas habis kemudian celotehan menyebalkan orang-orang yang tidak berhenti membicarakan Ocean membuat Azura merasa sangat lelah.
"Aghnya, balik ke kasir. Jangan ganggu gue."
"Mbak, lo harus memikirkan apa yang gue katakan."
Aghnya mundur namun saat ia memutar tubuhnya. Orang yang mereka bicarakan muncul disana dengan ekspresi wajah tenang seperti biasanya. Azura refleks menunduk. Cincin pertuangan itu masih melingkar di jari manis Ocean. Ocean ternyata memang memanfaatkan semuanya dengan baik. Menjadikannya sebagai alat untuk meyakinkan perempuan yang pria itu cintai bahwa dia tetap baik-baik saja.
"Anindya, punya waktu?"