Bab 11: Perempuannya Ocean

1023 Kata
"Mbak, kesambet apa lo sampai bawa mas Ocean ke rumah?" Aghnya berdiri disamping Azura yang sedang sibuk memasak sedangkan tatapannya tidak lepas dari Ocean yang sedang melakukan bimbingan melalui zoom. Suara pria itu terdengar begitu tegas memecah keheningan membuat mahasiswa bimbingan itu terdengar tidak banyak bicara. "Gue nggak mau punya hutang budi. Lo biarin dia jadi kasir hari ini dan dia juga yang nganter pesanannya sama gue. Menyala sekali Aghnya." Azura menatap Aghnya sinis namun tetap meniup-niup masakannya lalu menyuapi Aghnya. "Gimana rasanya?" Aghnya mengacungkan jempolnya. "Gimana reaksi customer waktu liat lo turun dari Porsche Cayenne sambil bawa cake, Mbak?" "Dia kebingungan cari mobil gue." "Mbak, lo benar-benar nggak tertarik sedikitpun sama mas Ocean? Mbak dia itu tipe-tipe suami idaman banyak orang. Coba lo bayangkan. Menikah sama mas Ocean sama dengan lo akan melihat pemandangan indah seperti sekarang setiap hari. Lo suka banget tuh sama cowok yang punya tujuan hidup yang jelas. Tertata rapi. Semua itu ada di mas Ocean, Mbak." Azura menyumpal mulut Aghnya dengan tempe goreng tentu saja sudah Azura tiup-tiup sebelumnya. "Nggak usah banyak ngayal, Aghnya." Aghnya nyengir. "Mbak, gue boleh ambil makan malam duluan nggak?" "Memang kenapa? Seharusnya Ocean bentar lagi selesai." "Gue mau makan di kamar aja malam ini. Nggak mau ganggu lo sama mas Ocean." Azura belum mengiyakan permintaan Aghnya namun gadis itu sudah mengambil makan malamnya lebih dulu. Azura hanya bisa menggelengkan kepala. "Jangan lupa ambil buah di dalam kulkas." "Oke, Mbak. Selamat dinner sama mas calon suami ya, Mbak." Aghnya nyengir kemudian beranjak ke lantai atas dengan langkah yang terlihat begitu riang. Azura lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Entah sampai kapan ia harus memelihara tuan putri yang melarikan diri dari rumah itu. Azura menyajikan semua masakannya di meja makan tanpa terkecuali. Meja makan Azura hanya terdiri dari tiga kursi saja karena memang hanya Azura, Aghnya dan Nayuma yang sering makan bersama. Itu pun mereka lebih sering makan di living room. Azura menghampiri Ocean. Berdiri tidak jauh dari pria itu membuat Ocean menatap ke arahnya. "Gue mandi dulu." Azura mengatakan itu tanpa suara untung saja Ocean cepat mengerti membuat Azura dengan cepat naik ke lantai atas. Membersihkan diri. Masih tersisa waktu sekitar tiga puluh menit lagi sampai Ocean menyelesaikan sesi bimbingan bersama mahasiswanya. *** "Kamu nunggu saya kelamaan?" Ocean menghampirinya. Pakaian Ocean sepertinya memang template semua. Selalu dengan kemeja slim fit dan celana kainnya. Azura menggelengkan kepala. Pakaian yang Azura gunakan sebenarnya juga tidak jauh berbeda dengan Ocean. Tadinya Azura ingin mengenakan daster namun melihat betapa rapinya seorang Ocean. Jadilah Azura menggunakan pakain yang biasa ia gunakan untuk datang ke Hidden Grace Bakery. Kemeja dan celana kulot namun khusus malam ini Azura sengaja menggunakan yang oversize supaya setelah Ocean pulang. Azura tinggal melepas celana kemudian tidur. "Sekarang lo udah selesai kan? Langsung makan aja." Ocean menarik salah satu kursi. Duduk di sana sambil mengamati masakan Azura yang benar-benar terlihat layaknya seperti masakan rumahan pada umumnya. "Lauk utamanya ayam goreng bawang. Ada sambal terasi. Tempe goreng dan lalapannya. Lo bilang suka masakan rumahan. Gue sering makan ini di rumah selain ayam penyet sambal ijo." Azura menjelaskan menu yang ada di atas meja makan malam ini. "Saya boleh makan sekarang?" "Boleh." Azura menunggu reaksi Ocean. Ekspresi pria itu biasa saja bahkan sama saja saat meminum beracun yang Azura siapkan saat pertama kali mereka bertemu. "Anindya, kamu nggak makan malam?" "Gue nungguin reaksi lo. Sebenarnya enak atau enggak?" Azura menatap Ocean tidak santai namun yang di tatap mengangguk dengan terus memakan makan malamnya. "Enak, Anindya." "Udah gitu doang respon lo?" Azura berdecak pelan. Ocean ini memang manusia yang sulit sekali Azura tebak isi kepalanya. "Memang saya harus mengatakan apa? Masakan kamu memang enak." "Oke, makan deh sampai habis." Azura memilih menyerah. Tapi memang reaksi seperti apa yang Azura harapkan dari seorang Ocean Ringguna Pramugara? Tidak ada. Tidak ada yang bisa Azura harapkan. "Lo ini mati rasa atau bagaimana sih Ocean? Waktu gue kasih lo minum jeruk nipis lima biji plus garam tiga sendok. Ekspresi wajah lo lempeng-lempeng aja. Nggak bisa tantrum dikit lo?" Azura merasa geregetan sendiri pada Ocean. Semakin lama Azura menyadari. Ekspresi Ocean ini minimalis sekali. "Saat itu saya berada di Hidden Grace Bakery kamu. Kalau saya muntahin minumannya. Kesan kamu ke saya akan semakin buruk begitu juga para pengunjung bakery yang akan berpikir semakin buruk." "Pikiran-pikiran buruk mereka juga di mulai dari lo." Azura selesai makan lebih dulu dibandingkan Ocean. Dia mencuci piringnya sendiri. Hal yang sama dilakukan oleh Ocean. Azura menatap pria itu takjub. Ocean ternyata cukup tahu diri. "Anindya, satu hal yang harus kamu ingat. Saya tidak pernah menulis komentar jahat." "Kalau bukan lo yang menulisnya lalu siapa? Pacar lo?" Azura dan Ocean berdiri saling berhadapan. Tatapan Azura tajam sekali. "Saya nggak punya pacar. Saya punya tunangan." "Tunangan yang lo maksud itu perempuan yang sudah ada di hidup lo sebelum gue, kan?" Kondisi keduanya kembali bersitegang. Lebih tepatnya Azura yang membuat keadaan mereka kembali memburuk. "Anindya, kamu satu-satunya perempuan yang pernah menjadi tunangan saya." "Tapi gue bukan perempuan yang ingin lo jadikan tunangan bukan?" Ocean terdiam. Azura terkekeh sinis melihat ekspresi pria itu. "Kenapa diam?" Azura kemudian menunjuk cincin yang melingkar di jari manis Ocean. "Lo memakai cincin ini karena lo ingin membuktikan pada seseorang kalau lo bisa jauh lebih dari dia kan?" "Anindya—" "Lo nggak perlu bertindak seperti ini Ocean. Jangan bersikap terlalu berlebihan pada seseorang yang tidak akan pernah lo jadikan sebagai tujuan yang sebenarnya. Manusia yang berdiri di hadapan lo sekarang memiliki perasaan. Memiliki hidupnya. Manusia ini tidak bertanggung jawab atas rasa sakit lo karena perempuan lain." "Anindya tidak ada perempuan lain." "Lituhayu Entik Ardhinona. Lo kenal, Ocean?" Azura sangat berharap bisa menangkap perubahan ekspresi Ocean namun sayangnya pria ini masih terlihat begitu tenang. "Saya pulang. Kunci mobil saya taruh di atas meja." Azura tertawa sinis mendengar itu. "Lo nggak boleh pergi dari sini sebelum lo mengakui kalau Lituhayu Entik Ardhinona itu adalah perempuan yang ingin lo nikahi selama ini." "Sudah malam, Anindya. Saya pulang." "Lepas cincin tunangannya!" Azura menghalangi langkah Ocean, "Lepas cincinnya. Gue nggak hidup untuk membantu lo kelihatan baik-baik saja di depan perempuan yang lo suka." "Cincin ini milik saya dan akan selalu ada sama saya, Anindya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN