Azura sangat professional. Itulah yang Ocean pikirkan. Saat di meja makan Azura meledak-ledak bahkan sampai menangis saat makan walaupun perempuan itu berusaha untuk menutupi semuanya tapi Ocean yang duduk tepat di hadapan perempuan itu jelas bisa melihat semuanya. Namun saat mereka sudah duduk di meja kerja Ocean. Membicarakan tentang tesis Azura. Perempuan itu menjadi sangat tenang dan fokus. Tidak ada lagi meledak-ledak atau menatap Ocean sinis.
"Jadi bagian kajian pustaka, gue masih harus menambahkan beberapa sumber lagi?" Ocean mengangguk.
"Tambahkan dua lagi supaya lebih akurat. Kamu tidak perlu terburu-buru." Ocean bukan tanpa alasan mengatakan itu. Azura saat itu berjanji padanya akan menyelesaikan revisinya sebelum tiga hari. Azura benar-benar melakukannya.
"Tapi gue memang buru-buru. Gue mau cepat selesai."
"Kamu sudah punya data-data untuk penelitiannya?"
"Gue punya. Semuanya lengkap tinggal gue uji aja. Gue berencana tesis ini selesai dalam satu bulan bagaimanapun caranya."
Ocean sudah membimbing banyak sekali mahasiswa baik skripsi maupun tesis namun mungkin Azura satu-satunya yang tidak mengeluh. Bahkan saat Ocean memberikan banyak coretan di proposal Azura. Azura hanya membutuhkan waktu dua hari untuk memperbaikinya. Hari ini Ocean memberikan beberapa coretan lagi. Azura berjanji akan menyelesaikannya dengan cepat.
Azura hanya mengeluh tentang pertunangan mereka.
"Kenapa kamu terburu-buru?"
Azura mengangkat kepalanya dari layar iPad nya. "Gue sudah terlambat Ocean. Bertahun-tahun sudah berlalu sejak gue menyelesaikan pendidikan S1. Gue harus menunggu waktu yang lama sampai gue bisa melanjutkan pendidikan S2 gue. Gue nggak mau membuang waktu lagi."
"Kenapa kamu menunda?"
"Nggak punya uang. Otak dan keberuntungan gue buat mendapatkan beasiswa juga tidak sebagus itu. Jadi harus bekerja keras untuk bisa melanjutkan pendidikan."
Ocean terpaku mendengar ucapan Azura. Ocean merasa perkenalan sesungguhnya dengan Azura baru di mulai sekarang. Ocean berpikir Azura menunda pendidikan S2 nya karena malas saja. Ocean melihat Azura mengajukan cuti berkali-kali.
"Ini tahun ke empat gue S2. Gue cuti berulang kali karena kehabisan uang. Hidden Grace Bakery tidak berjalan dengan baik awalnya. Jatuh bangun. Setahun buka gue rugi tiap hari. Baru naik sekitar tiga tahun terakhir kemudian lo tahu lah apa yang terjadi setelahnya."
Azura kembali fokus pada iPadnya. Mencari beberapa penelitian yang mendukung tesisnya. Ocean lagi-lagi mengamati perempuan yang tiba-tiba senyap dalam fokus itu.
"Ocean, gue harus ke pulang ke Hidden Grace Bakery. Gue harus revisi bagian yang lo tandain aja kan?" Azura tiba-tiba berdiri setelah terdiam cukup lama. Selama itu juga Ocean terus memperhatikan gerak-gerik Azura.
"Ada masalah?"
"Bukan masalah. Tiba-tiba ada banyak pesanan. Orang dapur sama Aghnya nggak bisa pegang semuanya. Gue harus pulang. Nggak papa?"
"Saya antar dan temani kamu."
"Nggak perlu."
Ocean menggeleng tegas. "Perlu Azura. Saya antar dan bantu kamu."
Pada akhirnya Ocean benar-benar pergi mengantar Azura kembali ke Hidden Grace Bakery menggunakan mobil pria itu sedangkan mobil CRV milik Azura terparkir di rumah Ocean.
"Mas Ocean, nggak papa memangnya jaga kasir?" Aghnya menatap Ocean berulang kali. Ocean mengangguk santai.
"Saya bisa. Kamu bantu Anindya saja."
***
"Kamu sering dapat pesanan mendadak seperti ini?" Azura mengangguk sambil merenggangkan otot-ototnya. Membuat berbagai jenis kue sangat menyenangkan namun juga melelahkan karena menuntut tenaga cukup banyak. Apalagi kalau customer minta pesanannya diantar langsung itu akan lebih melelahkan lagi. Sebenarnya Azura bisa saja menggunakan ekspedisi pengiriman namun beberapa customer itu ingin Azura yang mengantar secara langsung. Salah satu contohnya hari ini.
"Nggak sering juga yang minta di antar langsung sama gue. Ada yang bisa di kirim lewat ekspedisi juga." Azura berdiri di samping Ocean yang bersandar di kap depan mobil. Lengan kemeja pria itu sudah dilipat sampai siku membuat pria itu terkesan sedikit lebih santai walaupun aura dominannya itu tetap kental sekali.
Langit kota Jakarta sore ini cukup bagus. Polusinya tidak terlalu tebal mungkin sudah di sapu hujan semalam.
"Lo beneran nggak punya kerjaan hari ini?"
"Ada nanti malam. Cuma bimbingan sama mahasiswa."
"Datang langsung ke rumah lo?"
Ocean menggelengkan kepala. "Saya sudah bilang. Calon istri dan mahasiswa dapat perlakuan berbeda Anindya. Bimbingan lewat zoom."
Azura mengangguk-anggukkan kepala. Tidak banyak protes. Azura tidak memiliki tenaga untuk tantrum.
"Lo bawa perlengkapan zoom nya?"
"Ada di mobil saya."
"Lo nggak perlu ganti baju?"
"Saya punya baju ganti di mobil."
"Lo selalu bawa pakaian ganti di mobil?"
"Kebiasaan. Untuk menghemat waktu mengingat traffic yang selalu di luar prediksi."
"Lo suka makan apa?"
"Masakan rumahan."
"Bimbingan di rumah gue aja gimana? Gue masakin lo makan malam."
Ocean menoleh saat Azura menawarkan itu. "Anindya, saya nggak salah dengar?"
Azura mengibaskan tangannya di depan wajah Ocean. "Jangan mikir aneh-aneh. Gue bukan orang yang suka punya hutang budi. Lo bantuin gue di Hidden Grace Bakery hari ini dan gua masakin lo makan malam. Adil kan?"
Ocean mengangguk. "Kalau begitu kita ke rumah kamu."
Mereka masuk ke dalam mobil. Azura memilih sibuk membalas berbagai pesan yang dikirim oleh customernya sambil membaca ulasan di marketplace. Ocean menyetir dengan tenang.
"Ocean, lo mau makan apa?"
"Apapun. Saya suka semua jenis masakan rumahan."
Azura mengangguk. Meminta Aghnya untuk membeli bahan makanan.
"Aghnya tinggal sama gue."
"Saya tahu. Aghnya sudah memberitahu saja sebelumnya."
Azura menoleh. Wajah Ocean ini dingin, kaku, dan manly parah tapi siapa sangka Ocean mudah dekat dengan orang lain.
"Mobil gue gimana?"
"Besok kamu punya jadwal apa?"
"Harus ke Hidden Grace Bakery pagi-pagi. Ambil data penelitian di tempat teman. Abis itu ngampus."
"Nanti saja tinggal mobil saya di rumah kamu." Azura langsung melirik mobil Ocean. Porsche Cayenne tipe paling tinggi dibandingkan HRV miliknya dengan tipe paling rendah jelas bagaikan langit dan bumi. Azura bahkan membeli mobil itu dalam keadaan bekas.
"Ocean, lo gila? Nggak bisa. Gue nggak bisa pakai mobil lo. Lo bawa pulang aja nanti mobilnya."
"Kenapa?"
Azura syok berat. Bisa-bisanya pria ini bertanya kenapa. "Ngeri. Harga mobil lo lebih mahal dari harga diri gue. Nggak bisa. Gue nggak bisa pakai takut lecet."
"Saya lebih takut kamu yang lecet. Kamu pakai saja mengingat kegiatan kamu padat sekali. Besok setelah kegiatan saya selesai baru saya antar mobil kamu."
Azura semakin kehilangan kata-katanya.
"Ocean—"
"Pakai saja Anindya."
"Bagaimana kalau mobil lo lecet?"
"Selagi bukan kamu yang lecet nggak papa."
"Ocean, lo gila?"
"Saya tinggal klaim asuransi kalau mobilnya lecet."
Ocean tersenyum tipis, menoleh. Menatap Azura.
"Kamu nggak boleh lecet karena seingat saya kamu nggak punya asuransi."
Azura berdecak mendengar ucapan Ocean.
"Kata lo. Gue punya BPJS bajingan."