Bab 9: Bukan Calon Suami

1074 Kata
"Mana pesanan raja setan?" Azura memasukkan barang-barang yang sekiranya ia perlukan untuk bimbingan tesis bersama dengan Ocean Ringguna Pramugara ke dalam tasnya yang entah sudah berumur berapa tahun namun bisa menampung semua barang-barang kehidupan Azura karena itu Azura tidak pernah mengganti tas daily nya sampai detik ini. "Mbak, bukan seharusnya mas Ocean ini sudah masuk kriteria calon suami yang lo impikan selama ini?" Aghnya menaruh paper bag Hidden Grace Bakery yang berisi beberapa mini cheesecake yang di pesan oleh Ocean beserta minumannya dan tentu saja sudah dibayar lebih dulu. Kalau tidak Azura tidak akan mau repot-repot membawa pesanan pria itu. "Berpendidikan, mapan, tampan dan dewasa. Paling penting dari keluarga yang jelas asal-usulnya. Keluarga baik-baik—" "Keluarga dia nggak baik dan dia bukan calon suami gue." Aghnya menatap Azura lelah. Memang sangat sulit mempengaruhi keputusan Azura kalau tidak Azura sendiri yang memutuskan untuk berubah pikiran. "Mau kemana lo rapi banget?" Nayuma muncul dari balik pintu Hidden Grace Bakery. Azura langsung menatap perempuan itu dengan sinis. "Kenapa lo nggak bilang sama gue kalau Ocean-Ocean itu dosen?" Nayuma tersenyum kalem. Duduk di kursi di depan meja bar. Aghnya langsung menyajikan minuman favorit Nayuma karena sebelum sampai Nayuma sudah memesan lebih dulu. "Lo nggak pernah bisa santai setiap kali ngomongin mas Ocean. Jadi, gue merasa lo memang nggak mau tahu apapun tentang dia." Aghnya menganggukkan kepalanya. Setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nayuma. "Mbak, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Nggak semua laki-laki itu buruk." Azura dan Nayuma menatap Aghnya takjub. "Bocah, lo beneran sudah dewasa sekarang? Kapan lo mau pulang ke rumah orangtua lo?" Azura menatap Aghnya tajam. Aghnya nyengir. "Mbak, gue belum mau pulang." "Kalau lo mau tetap tinggal sama gue. Ikuti aturan gue!" Azura pergi meninggalkan Hidden Grace Bakery setelah mengatakan itu. "Dia tidak berubah sedikitpun." "Keras kepalanya sudah mendarah daging." Nayuma dan Aghnya saling tatap satu sama lain kemudian menghembuskan nafas mereka. Sudah sangat terbiasa dengan Azura bermulut tajam itu namun hati Azura itu sebenarnya lembut sekali. *** "Bagaimana perjalanan kamu?" Saat Azura turun dari mobil. Ocean sudah menunggunya di teras rumah. Pakaian yang pria itu gunakan masih kemeja slim fit dan celana kain seperti biasanya. "Lo berpakaian seformal itu di rumah?" Azura menatap Ocean dari atas sampai bawah sambil memberikan mini cheesecake dan minuman yang di pesan oleh pria itu sebelumnya. "Saya baru pulang meeting, Anindya." "Lo bahkan bekerja saat weekend?" Azura mengikuti langkah Ocean. Masuk ke dalam rumah pribadi pria itu untuk pertama kalinya. Kesan pertama Azura saat masuk ke dalam rumah Ocean. Merasa takjub. Rumah Ocean tertata dengan sangat rapi bahkan furniture yang pria itu pilih benar-benar dipikirkan dengan baik sesuai dengan konsep rumah itu sendiri. "Lo yakin nggak menyimpan perempuan di rumah ini?" Azura menatap Ocean curiga. Yang ditatap justru terlihat sangat santai. "Saya nggak punya Anindya." Azura semakin memicingkan matanya bahkan saat mereka sudah duduk di sofa. Tentu saja di sofa yang terpisah. Sama-sama di sofa single dan saling bersebrangan. Dibatasi oleh meja yang berukuran cukup panjang. Keduanya benar-benar terlihat seperti dosen dan mahasiswa bahkan lebih terlihat seperti dua orang asing tapi memang asing. Mereka tidak mengenal satu sama lain dengan baik. "Mas Ocean, makan siangnya sudah siap." Seorang Mbak berusia awal lima puluhan muncul dari arah dapur. Tersenyum sopan pada Azura. Azura membalasnya jauh lebih sopan. Azura hanya tahu cara tidak bersopan santun pada keluarga Pramugara terutama pria yang duduk di seberangnya. "Kalau begitu Mbak bisa pulang sekarang." Wanita berlalu. Azura kembali menatap Ocean penuh curiga namun lagi-lagi seperti biasa. Ocean sama sekali tidak terlihat terpengaruh oleh tatapannya. "Makan siang dulu, Anindya." Ocean berdiri dari tempat duduknya. Menunggu Azura untuk melakukan hal yang sama kemudian baru melangkah ke meja makan. Azura terus mengikuti langkah Ocean sampai akhirnya mereka sampai di meja makan yang ukurannya cukup panjang walaupun tidak sepanjang meja makan di kediaman utama keluarga Pramugara. Namun meja makan di rumah Ocean ini terlihat sekali meja makan keluarga. "Lo pernah gagal nikah?" Azura bertanya sebelum duduk. Ocean hanya menatapnya sekilas kemudian duduk di kursi. Lagi-lagi bersebarangan dengan Azura. "Rumah ini dirancang untuk rumah keluarga. Bahkan sentuhan manis seorang perempuan terlihat sekali di rumah ini. Ocean jujur sama gue. Lo pernah gagal nikah, kan?" Azura menatap Ocean curiga sedangkan yang di tatap justru menyendokkan nasi ke piring Azura. "Semua makan siang yang ada di atas meja. Menu makanan favorit kamu. Di coba Anindya. Mungkin tidak seenak masakan mama kamu tapi kemampuan memasak Mbak cukup baik." Azura terlalu fokus pada Ocean tanpa memperhatikan makanan yang tersaji di meja makan namun saat Azura memperhatikannya. Di meja makan itu memang tersaji makanan favoritnya. Ayam penyet sambal ijo, terong balado dan beberapa jenis sayuran yang jelas bukan bagian favorit Azura. Azura tidak menyukai sayuran. "Tahu dari mana lo?" "Saya tanya mama kamu." Azura syok berat. Azura jarang sekali mengirim pesan pada mamanya bahkan menelepon pun jarang kalau bukan wanita itu yang melakukan lebih dulu. "Lo chat mama gue?" Ocean menggeleng. "Saya banyak ngobrol sama mama kamu saat saya datang ke Jogja untuk tunangan" Azura sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Ternyata gerakan Ocean sudah terlalu jauh. Pria itu bahkan sudah mengobrol sebanyak itu dengan mamanya sedangkan Azura tetap berada di posisi tidak tahu apa-apa. "Lo sepengen itu nikah?" "Makan Anindya." Azura menggelengkan kepala. "Nggak bisa. Kita harus memperjelas semuanya. Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo , Ocean. Seharusnya orang berpendidikan seperti lo ini tahu bahwa memaksa seseorang itu bukanlah sesuatu yang bisa lo lakukan." "Saya hanya sedang mencoba Anindya. Saya tidak memaksa kamu." "Nggak memaksa gue tapi lo mendekati orang tua gue. Mencari tahu tentang gue yang artinya lo ingin mereka memaksa gue untuk menikah sama lo. Ocean lo b******n banget ya?" Azura merasa sangat tertipu. "Apapun yang sedang lo usahakan tidak akan pernah berhasil Ocean. Gue nggak mau. Tidak ada yang bisa memaksa gue bahkan orang tua gue sekalipun. Mereka tidak berhak." Kedua tangan Azura terkepal di atas pahanya. "Status mereka hanya sebagai orang tua gue. Gue nggak pernah merasakan peran mereka. Jadi, berhenti mengikuti kata mereka. Kata siapapun. Jangan merusak kehidupan yang sudah gue usahakan sejauh ini Ocean. Gue hanya ingin hidup tenang." Mata Azura memanas namun Azura tidak ingin terlihat lemah di hadapan pria ini. Azura tersenyum pahit dengan bibir bergetar kemudian dia langsung makan dengan tatapan Ocean yang tidak lepas sedikitpun dari Azura. "Saya tidak akan melakukannya lagi Anindya. Saya tidak akan bertanya lagi pada mereka tentang kamu. Apapun itu, saya akan mulai bertanya sama kamu." "Jangan melangkah terlalu jauh Ocean. Lo bukan calon suami gue."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN