Bab 8. Sudah Punya Tunangan

1139 Kata
"Non, you gagal dapat dosen pembimbing lagi?" Azura menggenggam tangan Adinda. Gadis muda seumuran dengan Aghnya. Baru berusia di awal dua puluh tahunan namun cukup dekat dengan Azura karena mereka pernah ada di kelas yang sama. Adinda juga baru kembali ke Universitas untuk menyelesaikan tesis setelah cuti. Gadis itu cuti bukan karena kekurangan uang seperti Azura namun karena jenuh dan memilih untuk berlibur ke luar negeri. "Bukan, gue dapat dosen pembimbingnya Dinda." "Terus apa masalahnya, Nona?" Adinda memang memanggil Azura seperti itu sejak pertama kali mereka berkenalan. Gadis itu mengatakan Azura itu memang terlihat seperti seorang nona. Seperti seorang kakak perempuan. "Dosen pembimbingnya yang bermasalah. Sepertinya gue nggak akan lulus-lulus." Azura merasa sangat frustasi melihat nama siapa yang tertera di ponselnya. "Ocean Ringguna Pramugara." Adinda tersenyum cerah setelah membaca nama itu, "Nona, pak Ocean adalah dosen paling keren di kampus kita sekarang. Dia memiliki gelar PhD di belakang namanya. Lulusan universitas terbaik di Amerika Serikat. Orangnya juga tampan. I sudah ketemu kemarin di kelas." "Dia bahkan mengajar disini?" "Benar. Non selain keren. Pak Ocean juga wangi banget. I suka banget sama wangi maskulinnya. Tipe I banget tapi—" "Tapi apa?" "Pak Ocean sudah punya tunangan." "Punya tunangan? Lo tahu dari mana?" "Salah satu teman kelas ada yang iseng tanya pak Ocean sudah punya pasangan atau belum. Beliau langsung menunjukkan cincin di jari manisnya sambil bilang 'saya sudah bertunangan'. Non, you tahu. Waktu bilang sudah punya tunangan pak Ocean super gentlemen banget. I jadi penasaran sekali sama tunangannya." Azura memalingkan wajahnya mendengar itu. Entah kenapa Azura mendadak merasa seperti maling yang baru saja tertangkap basah namun sekarang Azura benar-benar merasa tertangkap saat melihat sosok yang sejak tadi menjadi buah bibir itu berdiri tidak jauh darinya. "Jangan jalan kesini, please." Azura bergumam dalam hati namun yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ocean melangkah ke arahnya. Langkahnya cukup lebar membuat Azura buru-buru menatap Adinda yang masih sibuk mendeskripsikan Ocean padanya. "Adinda, lo tadi ngajak gue buat pergi makan sushi kan? Kita pergi sekarang, bagaimana?" Azura berusaha untuk melarikan diri namun sudah terlambat saat Ocean menghentikan langkahnya tepat di hadapannya. Adinda tidak lagi mendengarkan ucapannya. Gadis itu sudah fokus pada pria yang berdiri menjulang di hadapannya dengan lanyard resmi universitas ini. Statusnya sebagai seorang dosen. "Selamat sore, pak Ocean." Adinda berdiri. Menyalami tangan Ocean dengan senyum secerah matahari membuat Azura cepat-cepat membereskan barang-barangnya. Ingin melarikan diri namun Adinda memegang tangannya lebih dulu. "Nona, ini pak Ocean. Dosen pembimbing you." Adinda memperkenalkan Ocean pada Azura. Azura mengangguk. "Adinda, bukannya mau makan Sushi. Kita pergi sekarang." "Setelah I pikir-pikir lebih baik you ngomongin tesis you aja sama pak Ocean, Non. Next time kita bisa makan sushi bareng." Azura takjub mendengar ucapan Adinda karena biasanya gadis inilah yang selalu mengajaknya untuk bepergian. "Pak Ocean, saya titip Nona ya. Jangan dipersulit pak lulusnya. I sudah nggak sabar lihat Nona saya nikah." "Nona?" Satu alis Ocean terangkat. Terlihat sangat menyebalkan di mata Azura. "Kenapa harus lo?" "Anindya, saya dosen kamu." "Tahu. Walaupun lo dosen gue bukan berarti cara pandang gue ke lo langsung berubah kan?" "Di lingkungan kampus kamu harus memperhatikan sikap kamu." "Mau dipanggil pak Ocean?" "Kamu sudah makan?" Bukannya menjawab pertanyaannya. Ocean justru menanyakan hal lain padanya. "Belum. Gue mau ketemu pak Ocean untuk mendiskusikan tesis gue." Ocean menatapnya tajam. "Oh salah. Saya mau bertemu pak Ocean untuk mendiskusikan tesis saya. Maaf, pak Ocean, anda memiliki waktu?" Azura tersenyum sesopan mungkin pada pria yang berdiri di hadapannya itu walaupun rasanya sulit sekali. Azura sempat berpikir Ocean adalah seorang pengusaha mengingat Pramugara memiliki perusahaan yang sangat besar. Lintang saja salah satu pemimpin perusahaan tersebut. Siapa sangka Ocean justru seorang dosen dengan gelar PhD. "Saya punya banyak waktu buat kamu. Saya absen dan ambil tas dulu sebentar. Kamu tunggu saya disini." *** "Saya sudah baca proposal tesis kamu." "Terus menurut lo gimana? Salah, maksud saya, menurut pak Ocean gimana?" Baru beberapa jam. Azura sudah merasa muak menggunakan kalimat sesopan itu saat bicara dengan Ocean. Wibawa Ocean sebagai seorang dosen di mata Azura itu tidak ada sedikitpun. Pria itu tetap saja terlihat seperti raja setan di mata Azura. "Kenapa kamu milih marketing?" "Kalau milih lo kan nggak mungkin." "Mungkin. Kalau kamu mau, Anindya." Azura mengerjapkan matanya. Ocean ini benar-benar mirip sekali sama setan juga. Sangat pandai menggoda dengan kata-kata manis namun wajahnya tetap lempeng tanpa ekspresi. "Kenapa kamu memilih fokus ke marketing?" "Gue udah ambil keuangan dulu. Gue butuh keahlian baru untuk masa depan Hidden Grace Bakery." "Kamu sudah punya versi lengkapnya dari tesis kamu ini?" "Proposal gue udah lo setujui?" Azura menggeser piring-piring Sushi yang sudah habis sejak beberapa menit yang lalu ke samping membiarkan bagian meja di hadapannya kosong. Ocean mengeluarkan iPad nya. Menampilkan proposal tesis Azura yang sudah penuh dengan coretan merah membuat Azura membatu di tempatnya. "Kamu bisa menggunakan judul itu. Untuk bagian pendahuluan kamu harus mempertegas lagi kalimat-kalimat yang saya tandai. Kalimat itu membuat penelitian kamu terlihat tidak tegas dan terkesan sangat ragu-ragu." Ocean men— scroll ke bagian bawah. Azura terus memperhatikan pria itu. "Untuk bagian kajian pustaka saya mau kamu memperbaiki semuanya ini terlalu dangkal dan tidak terbarukan. Kamu harus lebih banyak membaca jurnal atau buku-buku yang berkaitan dengan penelitian ini. Buat semuanya memiliki kesan yang bagus dan paling penting informasi yang ada di sini harus akurat sampai pembaca kamu nanti mengerti apa yang kamu tulis." Azura mengangguk. Sama sekali tidak terlihat keberatan dengan apa yang dikatakan oleh Ocean. Azura tidak marah. Tidak tantrum. Perempuan itu tenang sekali. "Gue akan memperbaiki bagian yang lo tandai. Kirim file nya ke gue, boleh?" Nada bicara Azura Pun langsung berubah lebih tenang. "Kamu bawa iPad saya aja. Langsung kerjain disitu." Azura langsung berdecak mendengar ucapan Ocean, "Ocean, lo berusaha sekeras itu untuk membuat gue terikat sama lo? Gue nggak mau. Kirim file nya sekarang. Gue punya iPad sendiri." Ocean pada akhirnya menuruti permintaan Azura. Mengirim file proposal tesis yang penuh dengan coretan merah itu. "Saya kasih kamu waktu tiga hari untuk menyelesaikan itu. Saya tunggu." "Iya, gue akan kirim sebelum waktu tiga hari sama lo." Azura menyimpan iPad nya ke dalam tas. Tatapannya tidak sengaja melihat jari manis Ocean. Ocean benar-benar menggunakan cincin tunangan sama persis yang dikatakan oleh Adinda. "Kamu mau saya antar pulang sekarang?" Azura mengangguk. Sudah malam. Azura juga ingin memulai revisi tesis nya. Azura tidak ingin menunda lagi. Azura ingin segera menyelesaikan pendidikannya. Tanggung jawabnya. Bagian dari tujuan hidupnya. "Kamu bisa hubungi saya kapan saja kalau kamu bingung." Azura mengangguk. "Lo bakal gantung chat gue berapa lama? Biasanya dosen kan gitu? Chat hari ini balasnya bulan depan." "Kalau saya nggak balas pesan kamu. Kamu tahu dimana rumah saya, Anindya." "Lo selalu kayak gini sama mahasiswa lo? Mengizinkan mereka untuk datang ke rumah?" "Saya tidak memperlakukan mahasiswa saya yang lain sama seperti kamu." "Kenapa?" "Mahasiswi sama calon istri itu diperlakukan dengan cara yang berbeda, Anindya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN