Bab 3. Bertemu

1264 Kata
"Mbak orangnya mau datang kesini?" Azura mengangguk. Azura masih mempertahankan Hidden Grace Bakery sampai hari ini tepat enam bulan setelah kejadian itu. Azura tidak akan menyerah atas apa yang sudah ia lakukan. Walaupun Azura sudah kehabisan uang tabungannya namun Azura tetap bertahan. "Harus dikasih minum nggak Mbak?" "Kasih perasan jeruk nipis plus garam satu sendok. Dua sendok juga boleh. Se—mood lo aja. Pokoknya kasih dia minum beracun!" Azura melepaskan apron nya setelah menyelesaikan satu cake pesanan Nayuma. Perempuan itu mendadak menjadi pelanggan tetapnya selama enam bulan terakhir. Setiap hari Nayuma akan memesan satu cake sebagai bentuk rasa kasihannya pada Azura tentu saja. Walaupun sebenarnya tidak membantu namun Azura cukup menghargai usaha Nayuma. "Mbak, lo mau bunuh orang?" Aghnya menatap Azura ngeri namun Azura mengangguk tanpa ragu sedikitpun. "Jeruk nipisnya kalau bisa lima biji. Jangan tanggung-tanggung." Aghnya mengangguk cepat. Soal balas dendam Azura memang jagonya. Tidak ada lawan dan selalu totalitas. Nayuma sempat mendiamkan Azura beberapa hari karena Azura melaporkan Ocean Ringguna Pramugara ke polisi namun Azura ikut mendiamkan Nayuma membuat Nayuma datang sendiri kemudian meminta maaf padanya. Mereka kembali baik-baik saja. Nayuma menuruti Azura untuk tidak terlibat dalam perseteruannya dengan Ocean Ringguna Pramugara. Azura juga berjanji tidak akan menyebut nama Nayuma saat berhadapan dengan Ocean ataupun keluarga Pramugara. "Mbak orangnya yang mana? Lo buat janji jam berapa sama dia?" "Seharusnya dia datang lima menit lagi." Azura melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tatapannya tidak lepas sedikitpun dari Hidden Grace Bakery. Azura tidak sabar bertemu dengan orang yang sudah menghancurkan hidup dan rencana-rencana yang sudah tersusun dengan sangat rapi. Azura penasaran seperti apa wajah orang berkomentar jelek di tokonya. "Mbak waktu pernikahan mbak Nayuma lo nggak ketemu sama Pramugara yang satu ini?" tanya Aghnya yang baru saja selesai membuat minuman beracun pesanan Azura. "Enggak. Gue nggak pernah ketemu saja dia. Tipe yang nggak peduli sama keluarga kayaknya. Dia nggak ada waktu nikahan Nayuma dan pangerannya itu." Ekspresi Azura semakin sinis. Aghnya yang berdiri di samping perempuan itu sudah merasa merinding padahal Aghnya sudah terbiasa melihat ekspresi wajah bengis Azura itu. "Suami mbak Nayuma wajahnya memang spek pangeran dari negeri dongeng. Menurut lo bagaimana wajah Pramugara yang satu ini?" "Palingan jelek kayak ketikannya." Aghnya tertawa mendengar ucapan Azura namun tawa itu tidak berlangsung lama saat pintu Hidden Grace Bakery terbuka menampilkan sosok berkemeja slim fit dan celana kain yang membalut tubuhnya dengan begitu sempurna. Aghnya menarik ujung kemeja yang digunakan Azura saat pria itu selangkah mendekat sampai akhirnya berhenti tepat di hadapan mereka yang sejak tadi berdiri di balik meja bar. Dekat mesin kasir. Aghnya sudah menahan diri untuk tidak salah tingkah sedangkan Azura berdiri dengan wajah lempengnya. Benar-benar tanpa ekspresi sedikitpun seolah hati Azura tidak tergerak sedikitpun melihat ketampanan pria yang berdiri menjulang tepat di hadapan mereka. "Azura Anindya Keshwari?" Suara berat itu memecah keheningan. Azura keluar dari area bar sambil membawa segelas jeruk nipis plus garam yang sudah di siapkan untuk pria yang ada di hadapannya. "Ikut mbak Azura aja, Mas." Azura melirik Aghnya sinis. Gadis itu memang tidak bisa sedikit menahan diri. Selama enam bulan ini Aghnya padahal ikut marah-marah dan memaki Ocean namun saat pria itu sudah berdiri di hadapannya sikap Aghnya langsung melembut begitu saja. Azura memilih duduk di meja paling ujung di Hidden Grace Bakery. Meja itu biasanya jarang ditempati walaupun sekarang hampir semua meja yang jarang ditempati. Ocean tidak lama duduk di hadapannya. Pria itu terlihat sangat tenang membuat Azura berdecak dalam hati. Azura mendorong minuman ke arah Ocean. Pria itu mengangkat satu alisnya. Menatapnya cukup curiga namun Azura tetap mempertahankan wajah lempengnya. "Kamu mau saya bertanggung jawab atas hidup kamu?" Suara Ocean cenderung berat dan serak. Tipe-tipe suara cowok manly banget namun Azura sama sekali tidak terpengaruh mendengar suara itu walaupun Azura sudah menahan diri untuk tidak mencakar wajah Ocean. "Lo harus banget nunggu enam bulan untuk menanggapi semua ini? Emang nggak ada otak ya lo!" Azura sudah menahan dirinya selama enam bulan penuh. "Kalau gue nggak mengirim surat panggilan sidang ke rumah keluarga lo. Lo nggak ada niat baik untuk menghubungi gue atau datang ke sini bukan? Emang tai banget ya lo jadi manusia." Azura tidak peduli lagi dengan image nya. Tidak peduli pria di hadapannya ini berpikir bahwa dia adalah perempuan yang tidak memiliki sopan santun. Pria dihadapannya ini jauh lebih tidak sopan lagi. Pria ini membuatnya kehilangan masa depannya yang seluruhnya bergantung pada Hidden Grace Bakery. Ocean tidak kunjung bicara setelah pria itu bertanya. "Lo cuma mau diam? Kalau iya lo boleh pergi sekarang. Kita bertemu di pengadilan." Azura berdiri ingin beranjak dari tempat duduknya namun melihat Ocean meraih gelas jeruk nipis plus garam itu Azura mengurungkan niatnya. Menunggu Ocean sampai pria itu meminum minuman itu namun sialnya apa yang Azura harapkan tidak terjadi. Ocean tidak menyemburkan minuman itu atau memaki atau memasang ekspresi jelek. Kening pria itu hanya berkerut beberapa detik kemudian kembali meminum minuman itu sampai sisa setengah segelas membuat Azura yang mengidik ngeri. "Saya akan bertanggung jawab atas kerugian yang kau alami dengan cara saya sendiri." Pria itu kembali bicara setelah meneguk minuman beracun itu. "Lo memang harus melakukannya." "Sebelum itu kamu tarik dulu laporan kamu. Kita selesaikan dengan baik tanpa melibatkan pihak pengadilan." Azura menatap Ocean curiga. Dia tertawa sinis mendengar itu. "Setelah apa yang lo lakukan bahkan mengabaikan semua laporan dan panggilan sidang menurut lo gue akan percaya dengan apa yang lo katakan? Nggak akan semudah itu." "Katakan apa yang kamu inginkan setelah itu saya juga akan mengatakan apa yang saya inginkan." Azura menatap Ocean cukup lama. Menilai pria itu sampai akhirnya Azura merasa apa yang dikatakan oleh Nayuma benar adanya. Bahwa Ocean jauh lebih dominan dibandingkan Lintang. Si pangeran Pramugara itu. Ocean mungkin raja setannya. Ocean sama sekali tidak terpengaruh walaupun Azura sudah memasang ekspresi seperti ingin membunuh orang bahkan ekspresinya biasa saja saat meminum minuman beracun dari Azura. Pria itu seolah sedang mengatakan bahwa hal itu tidak ada artinya untuknya. "Kembalikan lagi citra bakery gue seperti semula." "Saya akan melakukannya untuk kamu." "Bayar semua kerugian yang gue alami selama enam bulan terakhir. " "Kamu kirim nomor rekening kamu ke saya beserta nominalnya nanti saya transfer." Azura menatap Ocean takjub. Dia pikir bernegosiasi dengan Ocean akan sulit sekali namun pria itu membuat semuanya begitu mudah namun Azura tidak akan percaya pada pria ini begitu saja. "Lo pikir gue akan percaya dengan apa yang lo katakan? Lo mengabaikan semuanya selama enam bulan." "Saya sudah tidak menggunakan akun itu selama enam bulan dan saya baru kembali dari Amerika, Anindya." Tubuh Azura membeku ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan tenang Ocean apalagi saat pria itu memanggilnya menggunakan nama tengah. Nama rumahnya. "Ada lagi yang kamu inginkan?" Azura menggelengkan kepalanya. Ocean memperbaiki posisi duduk membuat Azura ikut memperbaiki posisi duduknya. "Sekarang saya akan mengatakan apa yang saya inginkan. Pertama saya ingin kamu mencabut laporan kamu." "Gue akan melakukannya saat lo sudah melakukan dua permintaan gue." "Saya akan menyelesaikannya hari ini. Kamu bisa melihatnya sendiri." Azura mengangguk namun rasanya Azura merasa ada yang tidak beres melihat saat melihat Ocean. "Lo punya permintaan yang lain?" Azura memilih untuk bertanya dibandingkan harus menahan rasa penasarannya. "Kamu datang ke Eyang Kakung saya dan meminta saya untuk bertanggung jawab atas hidup dan masa depan kamu?" Azura mengangguk. Azura sudah sangat hilang akal apalagi cicilan rumahnya hampir jatuh tempo membuatnya memberanikan diri bertemu orang yang paling ditakutkan oleh Pramugara. "Hidden Grace Bakery adalah masa depan gue—" "Sekarang saya masa depan kamu." Azura mengerjapkan matanya menatap pria yang duduk di hadapannya. Kekehan Azura tidak lama lolos begitu saja. "Maksud lo apa?" "Menikah sama saya, Anindya. Saya akan bertanggung jawab atas hidup dan masa depan kamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN