Bab 2. Pengadilan

1204 Kata
"Mas lo bunuh anak orang?" Ocean mendorong troli kearah Orion yang langsung disambut pria itu secepat kilat dengan wajah yang cukup terkejut namun tidak berani protes. Ocean melewati Orion begitu saja. Masuk ke dalam mobil tanpa mau repot memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi. Itu sudah seharusnya menjadi tugas Orion sebagai Pramugara yang paling muda. "Mas, lo melakukan kejahatan jenis apa sampai ada yang melaporkan lo ke polisi dan dapat panggilan sidang?" Kening Ocean berkerut dalam. Tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Orion. "Pagi ini gue mampir ke rumah lo. Ada surat panggilan dari pengadilan. Lo bisa baca sendiri." Orion memberikan sebuah amplop disana tertulis dengan jelas pengadilan negeri. Kening Ocean semakin berkerut dalam. Benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi. "Kata orang rumah lo ini sudah surat panggilan kedua kalinya. Mas sebenarnya ada apa sampai lo berakhir di pengadilan?" "Yang tau cuma Mbak yang bersihin rumah gue?" "Seharusnya memang cuma dia yang tahu. Kalau sampai orang rumah utama yang tahu. Lo pikir apa yang terjadi? Lo pikir lo masih bisa hidup dengan tenang?" Ocean membuka amplop itu dengan cepat. Membaca surat panggilan sidang itu dengan seksama. Orion yang sudah penasaran sejak tadi mendekat ke arah Ocean. Ikut membaca surat panggilan mengikuti sidang itu. "Azura Anindya Keshwari? Lo kenal sama orangnya Mas?" Orian menatap Ocean penasaran. Pria yang baru kembali ke Indonesia setelah enam bulan menetap di Amerika untuk menyelesaikan pendidikan S3 nya yang sempat tertunda beberapa saat namun sekarang Ocean sudah resmi menyandang gelar PhD. Ocean menggelengkan kepala. Nama penggugat yang tertera di surat itu sangat asing. Ocean belum pernah sekalipun mendengarnya. "Sidangnya masih minggu depan, Mas. Lebih baik lo cari tahu apa yang terjadi dan selesaikan semuanya sebelum berita ini sampai di dengar Eyang Kakung" Ocean menatap bocah yang duduk di balik kemudi itu takjub. "Udah dewasa lo sekarang?" "Bukan masalah dewasa Mas tapi keadaan di rumah utama itu benar-benar kacau. Mas Lintang bikin masalah. Dia mau cerain mbak Nayuma." Ocean terdiam cukup lama mendengar itu namun dia juga tidak terkejut. Dia sangat mengenal Lintang Hestama Pramugara dengan baik. Sikap mudah bosan pria itu ternyata tidak pernah berubah sedikitpun, "Kalau di pikir-pikir mbak Nayuma itu nggak ada kurangnya. Mungkin kurangnya cuma terlalu nurut sama mas Lintang." "Antar gue pulang ke rumah." Ocean memilih untuk tidak menanggapi karena percuma saja melakukannya sekarang. Itu sama sekali tidak akan menyelesaikan apapun. Dibandingkan masalah Lintang. Ocean lebih memilih untuk memikirkan masalahnya sendiri. Pengadilan agama dan pengadilan negeri. Dua tempat itu sangat terlarang untuk keluarga Pramugara. "Rumah utama, Mas?" "Rumah pribadi gue, Orion." *** Gerakan Ocean masih kurang cepat dibandingkan Eyang Kakung. Pria yang sudah berusia tujuh puluh tahun itu mendengar informasi yang berusaha Ocean sembunyikan. Tentang kasus yang seharusnya tidak terjadi dan menjadi sebesar ini. "Kamu bisa jelaskan ini?" Ocean mengangguk. "Sudah tahu apa yang harus kamu lakukan?" Ocean kembali mengangguk. Ruang kerja Eyang Kakung selalu dingin. Selalu mencekam namun Ocean sama sekali tidak pernah memperlihatkan ketakutannya. Ocean tidak akan pernah menunduk saat duduk berhadapan dengan Eyang Kakung. Ocean akan selalu menatap Eyang Kakung lurus dan duduk tegak. Sebesar apapun kesalahannya. Ocean memang tidak pernah menundukkan kepala. Itu adalah prinsip Ocean sejak dia kecil. Bukan ingin menentang ataupun melawan. Ocean merasa dengan cara seperti itu ia bisa mempertahankan harga dirinya. "Aku akan membayar kompensasi dan meminta maaf." "Menurutmu pemilik bakery itu mau menerima semua itu atas apa yang sudah kamu lakukan? Kamu menghancurkan bisnis yang sudah ia rintis selama bertahun-tahun. Eyang bahkan tidak habis pikir kau bisa melakukan hal menjijikan itu? Kamu kekurangan kerjaan sampai menjatuhkan bisnis orang lain?" Ocean kembali merapatkan bibirnya. Cara meredakan amarah Eyang Kakung cukup dengan tidak banyak bicara dan membantah. "Kamu membuat perempuan itu kehilangan hidupnya. Masa depannya." Ocean duduk semakin tegak, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Eyang Kakung selanjutnya. "Kamu harus menyelamatkan hidupnya. Masa depannya." "Eyang ingin aku melakukan apa?" "Nikahi perempuan itu." *** "Punya kasus apa lo sampai masuk ruang pengakuan dosa itu?" Ocean menerima segelas orange juice yang diberikan oleh Lintang. Pria yang selalu tampil menggunakan jas yang sangat pas di tubuhnya itu duduk di sampingnya. Ocean sudah tidak bertemu dengan Lintang kurang lebih enam bulan namun Ocean melihat tidak ada yang berubah dari Lintang. Pria itu masih sama saja. Berpenampilan layaknya seorang pangeran. Terlihat begitu kaku dan membosankan walaupun sebenarnya Ocean tidak jauh berbeda dibandingkan Lintang hanya saja Ocean jarang sekali menggunakan jas. "Mas Ocean terlibat kasus pencemaran nama baik." Orion muncul dari arah dapur dengan segelas s**u coklat hangat. Duduk di sofa single dengan wajah yang terlihat masih sangat mengantuk. "Urus dulu iler lo baru ikut campur urusan orang dewasa. Lagipula berani-beraninya lo baru bangun jam segini. Mau jadi apa?" "Yang penting nggak cerai kayak mas Lintang." Lintang menatap bocah yang belum kunjung lulus kuliah itu tajam. Orion adalah Pramugara paling malas diantara yang lain. Hanya suka bersenang-senang. Tidak punya tujuan hidup. Lihatlah di usianya yang sudah dua puluh dua tahun Orion masih tidak bisa lepas dari s**u coklat hangatnya disaat anak-anak seusia pria itu sudah menjajah berbagai macam kopi. "Nggak ada yang mau cerai. Siapa yang bilang sama lo?" Lintang menatap Orion sengit. Ocean menatap dua orang itu bergantian. Lintang dan Orion memang selalu bertentangan satu sama lain. Mereka selalu ada di posisi yang berlawanan. Lintang yang selalu perfectionist sedangkan Orion selalu serampangan. "Mbak Nayuma. Dia mau cerai sama mas Lintang. Cerain aja mas setelah itu gue yang nikahi mbak Nayuma. Dia tipe gue banget soalnya." Orion dengan mulut kurang ajarnya. Ini alasan Ocean tidak menanggapi ucapan Orion perihal Lintang yang menggugat cerai Nayuma. Ucapan Orion sulit di percaya. Sejak kecil pria itu selalu menjadi pengacau. Orion memang sangat ahli dalam membuat sesuatu yang sudah kacau semakin semrawut. "Gue pulang." Ocean beranjak dari sofa setelah orange juice nya habis. Perdebatan tidak berguna Lintang dan Orion tidak akan selesai secepat itu. Keduanya bahkan bisa berakhir di ring tinju jika sudah seperti ini. "Lo belum jawab pertanyaan gue, Mas. Kenapa cucu kesayangan Eyang Kakung sampai masuk ruang pengakuan dosa itu. Punya masalah apa lo?" Lintang menahan Ocean. Ocean kembali duduk. Dia menatap Orion. "Akun mas Ocean di pakai sama mbak Litu buat hate komen ke salah satu bakery yang terkenal enam bulan lalu sampai bakery itu terancam bangkrut atau sudah bangkrut kayaknya." Orion menjawab lebih serius. "Lagian bisa-bisanya lo nggak tahu informasi sepenting ini mas. Udah heboh dari semalam saat surat dari pengadilan sampai ke tangan Eyang Kakung." "Mas ini serius?" Ocean memilih mengangguk saja. Tidak ingin banyak bicara karena memang pada dasarnya Ocean memang tidak suka terlalu banyak bicara. Itu salah satu cara Ocean untuk tidak berlebihan tentang sesuatu. "Enam bulan yang lalu berarti lo masih di Indonesia. Mas lo masih ketemu sama mbak Litu sebelum kembali ke Amerika?" "Kok gue nggak kepikiran. Mas seriusan lo masih ketemuan sama mbak Litu sebelum ke Amrik?" Ocean menatap Lintang dan Orion bergantian. Pergi meninggalkan ruang belakang yang selalu jadi tempat favorit mereka untuk bersantai karena hanya tempat itu yang jauh dari jangkauan tamu-tamu Eyang Kakung yang selalu banyak setiap harinya. Termasuk juga jauh dari jangkauan para orang tua. Jadi mereka bisa lebih leluasa untuk melakukan sesuatu apalagi ruang belakang itu langsung tersambung dengan ruang olahraga dan kolam renang membuat mereka lebih betah ada disana. "Mas Ocean ingat mbak Litu udah mau nikah." "Move on Mas move on!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN