“Bim, pikirin lagi. Ini nggak nyelesaiin masalah kalian. Tolong dong, Bim,” pinta Reno sambil berusaha mengimbangi langkah lebar Bimo menuju area parkir bandara. “Lo kenapa jadi sewot begini, sih? Ini kan yang dari awal lo minta? Supaya gue nggak gangguin Wulan lagi?” Bimo tak lagi menanggapi rengekan Reno. Matanya menerawang jauh ke depan, dan dia juga sedang menyakinkan diri akan keputusan yang diambilnya adalah benar. Ketika mobil Reno berhenti di depan rumah bercat hijau, Bimo tahu dia tidak ada pilihan untuk mundur kembali. “Jadi?” “Saya akan bertanggung jawab.” Nenek Sumi mengangguk puas mendengar jawaban Bimo. “Bagaimana keadaan Wulan saat kamu tinggal pergi?” “Saya meninggalkan pesan, bahwa saya harus segera kembali ke Indonesia karena masalah pekerjaan.” Lagi-lagi Nene

