Pagi hari di kediaman rumah Bella, kegaduhan mulai terdengar.
“Bella, mana sarapannya?” teriak Anastasya.
“Ih, lama banget. Gue lapar.” Rebecca ikut teriak.
“Iya sebentar.” Bella menyajikan sandwich dan s**u dengan terburu-buru.
“Lama sekali, kamu ingin membuat kita mati kelaparan, hah?”
“Maaf, Tante.”
Saat Bella akan duduk di kursinya, Anastasya mencegah Bella.
“Ngapain kamu?”
“Bella mau sarapan juga, Tante.”
Rebecca tertawa mendengar jawaban Bella. “Hah? Aku gak salah denger Mami. Ngapain dia sarapan di sini, pembantu itu harusnya sarapan di belakang.”
“Sana pergi.” Anastasya mengusir Bella.
Bella menundukkan kepalanya, beginilah tante dan saudaranya sekarang. Mereka memperlakukan Bella seperti seorang pembantu yang bisa mereka suruh dengan seenaknya. Padahal sebelum orang tuanya kecelakaan, kedua orang tuanya dengan baik hati menawarkan tempat tinggal untuk Anastasya dan Rebecca. Dengan senang hati Bella dan juga Jesse menyambut kehadiran mereka berdua. Mereka diperlakukan dengan baik, bahkan setara. Tapi air s**u dibalas dengan air tuba.
Meski Anastasya merupakan adik dari ayahnya, tak seharusnya Anastasya seperti itu. Bella bisa saja melawan, tetapi untuk apa, sekarang kendali rumah bahkan keuangan ada di tangan Anastasya. Setelah kecelakaan, Anastasya dengan kendali penuh mengambil apa yang ada, dan mengatakan bila tak baik jika mereka membagikan harta waris, di saat ibunya masih terbaring koma. Bella sama sekali tak memikirkan soal waris, dia justru berharap, ini tak nyata dan kedua orang tuanya itu baik-baik saja.
“Heh! Malah diam. Sana pergi,” teriak Rebecca.
Bella lantas pergi dari ruang makan, dia akan sarapan di kamarnya saja.
Saat Anastasya dan Rebecca akan menyantap sarapan, suara bel rumah mengalihkan perhatian mereka.
“Siapa pagi-pagi bertamu? Tidak tau sopan santun. Sayang, tolong buka pintu.” Anastasya menyuruh Rebecca.
“Mami saja yang buka pintu, aku lapar.”
“Sayang!”
“Iya Mami, iya.” Dengan kesal, Rebecca pergi untuk membuka pintu dan melihat siapa orang tidak tau diri yang datang di pagi hari.
Saat membuka pintu, Rebecca ingin sekali mencaci orang itu. Namun, begitu pintu dibuka, Rebecca tidak jadi marah. Rebecca tersenyum saat melihat pria tampan berdiri di depannya.
“Hai,” sapa Rebecca dengan wajah yang menurut Ian itu terlihat konyol.
“Di mana Bella?”
“Hah? Bella! Kenapa kamu menanyakan Bella?”
Ian menatap Rebecca dengan ekspresi jengah. Ini wanita tuli, bisu atau apa. Dia menanyakan Bella, bukannya malah balik bertanya.
“Sayang, siapa yang datang,” teriak Anastasya dari dalam.
Karena tak ada jawaban dari anaknya, Anastasya lantas bangkit dan pergi melihat tamu yang datang. Saat tahu jika yang datang itu Ian, Anastasya tampak ketar ketir.
“Tuan. Ayo silahkan masuk Tuan.”
Ian melangkah masuk melewati Rebecca yang tak hentinya menatap dia.
Anastasya duduk di sofa, lalu mempersilahkan Ian untuk duduk juga. Ian duduk di hadapan Anastasya. Rebecca yang melihat itu ingin mendekati Ian, tapi Anastasya langsung menarik anaknya agar duduk disampingnya saja.
“Aku ingin membawa Bella pergi.”
“Boleh, tapi Tuan tidak lupa sesuatu bukan?”
Ian menyodorkan sebuah map. Anastasya dengan senyum mengembang mengambil map itu dan makin tersenyum saat melihat apa yang ada di dalam map tersebut. Ini tentu saja sesuatu yang sangat dia inginkan.
“Jadi di mana Bella?”
“Dia ada di kamarnya. Rebecca panggil Bella.”
“Tidak perlu, biar aku saja yang ke sana.”
“Tapi Tuan.”
Ian tak mendengarkan ucapan Anastasya. Ian langsung saja pergi mencari di mana kamar Bella berada.
Rebecca memeluk lengan Anastasya. “Mami, kenapa Mami tak bilang jika pria itu sangat tampan.”
“Kamu sendiri yang menolak.”
“Kalau tahu seperti itu, aku mau.”
“Terlambat.”
“Mami.” Rebecca mencoba membujuk, tapi Anastasya menolak dan mengatakan Rebecca bisa mencari pria yang lebih tampan lagi. Juga, mencari pria yang memiliki sikap yang baik dan tau sopan santun.
***
Ian naik ke lantai atas, lalu menatap sekitar. Dia membuka satu persatu pintu, sampai, Ian berhenti di sebuah pintu yang ada di pojok ruangan.
Dengan sekali dorong, Ian membuka pintu itu. Bella yang ada di dalam tampak terkejut karena pintu kamarnya terbuka begitu saja. Belum lagi, saat dia melihat kehadiran Ian, mata Bella membulat sempurna.
Ian tersenyum melihat Bella, Bella tengah makan di atas ranjang. Jangan lupakan, Bella yang kini memakai pakaian pendek.
“Kamu, kenapa bisa ada di sini?” tanya Bella sambil menelan sisa makanannya.
“Pagi.” Ian masuk ke dalam dan duduk di samping Bella.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan di sini, Kak?”
“Aku datang untuk mengajak kamu pergi.”
“Kemana?”
“Mempersiapkan pernikahan kita.”
Bella tiba-tiba saja tersedak. Ian mengambil air minum dan memberikannya kepada Bella, Bella menerima air itu dan meminumnya.
Ian mengelus punggung Bella dengan pelan. “Kamu baik-baik saja?”
“Emm, tapi bisakah kamu tidak datang tiba-tiba? Juga, aku belum siap-siap.”
“Aku akan menunggu.”
Bella menyipitkan matanya, sudah mulai kelakuan Ian.
“Ya sudah sana keluar, aku mau ganti pakaian.”
“Mau aku yang menggantikannya?” tanya Ian dengan alis naik turun guna menggoda Bella.
“Ian,” teriak Bella.
“Tapi sebentar, ada sesuatu yang aku lupakan.”
“Apa?”
Ian mendekati Bella, Bella tentu saja akan menghindar.
“Apa sih?” tanya Bella kebingungan.
Karena Ian makin mendekat, Bella ingin bangkit dan melarikan diri. Akan tetapi, Ian sudah lebih dulu menariknya dan menjatuhkan Bella ke ranjang. Ian mengunci pergerakan Bella yang ada dibawahnya.
Tanpa ba-bi-bu, Ian langsung saja melancarkan aksinya. Dia menciumi bibir Bella. Bella yang mendapati serangan tiba-tiba, hanya diam tak berkutik. Namun, saat tangan Ian mulai meraba kemana-mana. Bella mulai berontak. Tangan Ian mengelusi paha Bella, bahkan Ian dengan berani memegang salah satu buah d**a Bella yang tertutup pakaian.
“Emm ... Kak.” Bella terus mencoba lepas dari kungkungan Ian. Namun sulit, Ian malah semakin menghimpit tubuhnya.
Merasa sia-sia saja dia berontak, Bella lantas diam. Untuk apa berontak, Ian tetap akan melakukan keinginannya itu.
Ian yang tidak lagi merasakan pemberontakan dari Bella, lantas menghentikan aktivitasnya. Ian mengakhiri aktivitas paginya dengan mencium kening Bella lama.
“Bersiaplah, aku akan menunggu di luar.”
Bella mencibir dan bergumam, "Seharusnya dari tadi, bukannya malah menyerangku."
Ian bangkit dan pergi dari kamar Bella dengan wajah tanpa dosa. Sedangkan Bella, begitu Ian keluar, Bella bernapas lega. Meski, Bella menatap penampilannya yang hampir berantakan gara-gara perbuatan Ian. Bella rasanya ingin menangis, dia hampir dilecehkan oleh Ian. Dan Ian, dengan seenak jidat bersikap biasa saja. Keterlaluan.
“Nyebelin,” teriak Bella saking kesalnya dengan tingkah laku Ian.
Dan yang paling membuat Bella kesal, sentuhan Ian itu masih terasa ditubuhnya. Bella buru-buru menggelengkan kepalanya, dia membenarkan penampilan dan pergi ke kamar mandi untuk siap-siap.
Tampaknya Bella harus semakin waspada, Ian makin tidak terkendali dan bisa saja menerkamnya kapan saja. Juga, gerakan Ian sama sekali tidak terbaca, sehingga Bella sulit untuk menghindar dan mencoba kabur dari serangan yang akan Ian lakukan.