Fitting Baju

1105 Kata
Begitu telah siap, Bella keluar dari kamarnya. Namun saat keluar, Bella dikejutkan dengan keberadaan Ian. "Apa, Ian sedari tadi ada di sini? Ya ampun, bagaimana ini?" batin Bella. Sebelumnya Bella menggerutu kesana-kemari karena perbuatan Ian. Bahkan, Bella mengatakan Ian itu om-om p*****l. “Siapa yang tadi menggerutu tidak jelas?” tanya Ian. “Tidak ada,” jawab Bella sambil menggelengkan kepalanya. “Baiklah, aku tak akan menghukum kamu sekarang.” Ian memeluk pinggang Bella, Bella tampak mencoba menghindar. “Tapi aku sedikit tak terima dengan ucapan kamu.” “Maaf, tapi itukan benar adanya.” “Ouh, ya?” Ian mendekat dan berbisik, “perlu aku buktikan agar kamu tahu?” Bella mundur ke belakang, sampai pelukan Ian terlepas. “Tidak perlu. Aku akan menarik ucapanku.” Ian tersenyum, lalu kembali memeluk pinggang Chloe. “Kita pergi sekarang?” “Iya.” Ian dan Bella berjalan ke lantai bawah, mereka berpapasan dengan Anastasya dan Rebecca. Namun, Ian tampak tidak peduli dengan kehadiran mereka berdua. “Tuan.” Tanpa sepatah kata, Ian langsung saja menarik Bella untuk pergi. Bella memperhatikan tante dan saudaranya, Anastasya mencoba untuk tetap tersenyum, meski terlihat sangat terpaksa, sedangkan Rebecca menatapnya dengan tatapan sengit. Bella tidak tau harus merasa bersyukur atau tidak dengan kehadiran Ian, tetapi setidaknya, Bella tak akan merasa bosan karena seharian harus di rumah bersama tante dan saudaranya itu. Ian mempersilahkan Bella untuk masuk ke dalam mobil, kali ini Ian secara khusus membawa mobilnya sendiri demi bisa pergi bersama Bella. Bella masuk ke dalam, lalu disusul oleh Ian. Ian menatap ke arah Bella dan mendekat. Bella yang tahu buru-buru menghindar. Ian tersenyum kecil, tampaknya Bella salah paham. Ian menarik seatbelt dan memasangkannya untuk Bella. Mengetahui itu, Bella menatap Ian malu. “Aku hanya ingin membantu.” “Tapi aku bisa sendiri.” Bella membenarkan seatbeltnya sambil menggerutu, "Ian pikir aku anak kecil apa?" Ian tersenyum, lalu mencium pipi Bella. Bella menatap Ian sewot, bagaimana tidak, dia berusaha untuk menghindar tapi masih saja kena dengan sentuhan Ian. Ian tampak masa bodoh, dia mulai melajukan mobilnya. Sedangkan Bella lagi menggerutu dalam hati. *** Sesampainya di sebuah butik, Ian mengajak Bella keluar dari dalam mobil. Ian menggenggam tangan Bella dan menuntun Bella masuk ke dalam. Meski Bella menolak, Ian tidak mendengarkan penolakan Bella yang tidak mau tangannya dia genggam. Para karyawan butik menyambut kedatangan mereka, lalu pemilik butik datang dan mempersilahkan mereka untuk duduk. Pemilik butik sudah menyiapkan kemeja dan gaun pengantin yang telah Ian pesan. Ian lantas menyuruh Bella untuk mencoba beberapa gaun yang telah dia pilihkan untuk Bella. Bella bangkit dari tempat duduknya, dia akan mencoba gaun dengan dibantu oleh para karyawan wanita. Saat tengah mencoba gaun, Bella tampak melamun, benarkah dia akan menikah. Ini terasa tidak nyata, tapi mau bagaimanapun, nyatanya dia akan menikah juga. Bella memakai gaun pertamanya. Begitu sudah, para karyawan membuka tirai, Bella tampak memperhatikan penampilannya lalu menatap ke arah Ian. Ian menatap penampilan Bella dan hanya menganggukkan kepalanya. Bella menaikkan alisnya, Ian hanya mengangguk. Bella lantas akan mencoba gaun yang lain. Saat mengenakan gaun kedua, Bella tampak risih karena bagian bahu dan dadanya yang terlalu terekspose. Bella membenarkan gaunnya ke atas agar bagian dadanya tak begitu terlihat. Tirai kembali dibuka, Ian tersenyum kecil, lalu menganggukkan kepalanya lagi. Bella tampak cemberut, apa tidak ada komentar. Juga, Bella tak mau mencoba banyak gaun. Dengan berat hati, Bella kembali akan mencoba gaunnya yang ketiga. Saat melihat penampilan gaunnya, Bella menolak kepada karyawan dan mengatakan dia tak mau memakai itu. Bagaimana tidak, ini gaun paling seksi yang pernah Bella lihat. Para karyawan yang membantu Bella tampak saling melihat, mereka mencoba merayu Bella dan mengatakan gaun ini akan sangat cantik jika Bella pakai. Belum lagi, Ian pasti akan terpesona dengannya. Bella menggelengkan kepala, bukan terpesona, Ian bisa menerkamnya saat itu juga. Karena tak ada pilihan, Bella lantas memakai gaunnya. Terdengar suara helaan nafas yang begitu panjang. Bella menatap penampilannya di cermin, ouh tidak, bahu, d**a, bahkan satu pahanya terlalu terekspose. Saat Ian melihat penampilan Bella yang ketiga, Ian tampak tersenyum miring, bahkan tatapannya itu sudah menyiratkan sesuatu yang tentunya sangat tidak baik. “Cantik,” komentar Ian. Ian berkata kepada pemilik butik, jika dia yang kini akan mencoba kemeja. Pemilik butik lantas pergi bersama para karyawan untuk menyiapkan kemeja Ian. Setelah mereka pergi, Ian mengulurkan tangannya dan menyuruh Bella untuk mendekat. Bella lantas mendekati Ian, Ian menggenggam tangan Bella dan mendudukkan Bella di atas pahanya. Bella yang terkejut mengedipkan matanya. “Aku bisa duduk sendiri.” Bella ingin turun, tapi Ian memegang pahanya yang terekspose dan tak mengizinkan Bella untuk turun. “Apa masih lama? Aku tak suka memakai gaun ini!” “Kenapa?” “Ini terlalu terbuka tahu,” kesal Chloe. Ian tertawa kecil, lalu kedua tangan Ian menempatkan kedua tangan Bella dilehernya. Bella tentu saja tidak mau, saat tangannya terangkat, maka bagian dadanya akan lebih kelihatan. Akan tetapi, yang namanya Ian, dia tetap pada pendiriannya. “Ian,” panggil Bella sambil cemberut. “Kamu cantik sekali, kita ambil gaun ini saja ya?” “Gak, gak mau!” “Ya sudah kita ambil yang kedua, tapi yang ini khusus untukku.” Bella menatap Ian sengit, memang tak akan benar berurusan dengan Ian. Tangan Ian yang ada di paha Bella, mulai menjelajah. Bella tentu saja akan menepis dan menjauhkan tangan Ian dari pahanya. “Ih jangan pegang-pegang.” “Bentar aja, aku cuman mau pegang.” “Nggak mau, nanti gerak lagi,” kesal Bella. Ian tertawa melihat ekspresi Bella. Terlalu gemas, dengan cepat Ian menyerbu bibir Bella. Bella rasanya ingin memaki, kenapa sih Ian selalu menyerangnya dengan tiba-tiba. Apa tak bisa kasih tahu dulu, agar dia bisa ancang-ancang untuk menghindar. Dan sesuai perkiraan Bella, Ian menciumnya dan memegang tubuhnya kemana-mana. Jika saja ini bukan tempat umum, Bella rasanya ingin memukul Ian, agar pikiran mesumnya itu hilang. Ketika Ian tampak menutup mata dan menikmati kegiatannya, bedahalnya dengan Bella yang tampak ingin segera ini berakhir. Belum lagi, Bella menyadari kedatangan pemilik butik dan para karyawan yang langsung berbalik karena melihat keadaan mereka berdua. Dengan berani Bella berontak dan mendorong Ian ke belakang. Ian menatap Bella, lalu menaikkan alisnya dan tampak bertanya-tanya. Saat Ian akan mendekat lagi, Bella memukul d**a Ian. “Ih udah dong.” “Belum, Sayang.” Bella mendekati telinga Ian, lalu berbisik, “Kakak gak malu apa? Mereka lihat kita.” Ian balas berbisik, “Kenapa harus malu? Salah mereka kenapa lihat!” Bella menggelengkan kepalanya. Bella ingin heran, tapi inikan Ian. Ian berbisik lagi, “Kalau kamu malu, oke aku berhenti. Tapi nanti lanjut ya!” Bella memukul d**a Ian lagi, suka sembarangan, dia tak mau. Bella mencibir Ian, "Ian otaknya mesum."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN