"Tak selamanya kebencian itu berakhir pada permusuhan.
Ada pula kebencian yang berarti cinta"
***
"Apa katamu? Jadi, kemarin kau salah sangka dan mengira bahwa gadis itu adalah Alin?" Dimas terbahak mendengar cerita konyol sahabatnya. "Dan parahnya, dia ada di sini?" Tawa pria itu semakin menjadi-jadi.
Alle hanya bisa tertunduk malu. Sebuah fakta yang entahlah, dia harus senang atau kesal. Alle ingin menuntaskan rasa penasaran yang kemarin tertahan. Namun, ada juga keinginan untuk menghindar dari manager keuangan itu. Keprofesionalan sangat dibutuhkan dalam hal ini. Dia harus tetap berwibawa dan mengesampingkan rasa malunya saat berhadapan dengan Reina nanti.
"Siapa dia?" Dimas kembali antusias.
"Manager keuangan kita."
"WHAT!" Dimas tercengang. Alle bertemu dengan gadis yang menyimpan banyak misteri. Gadis yang dia kenal tertutup, tidak ramah, dan garang. Itu lucu.
Pria yang selalu membanggakan harga dirinya telah menemukan lawan yang imbang. Dimas tersenyum sinis membayangkan saat keduanya bertemu secara pribadi.
"Bagaimana jika dia menceritakan peristiwa kemarin kepada karyawan lain? Ah, harga diriku bisa hancur." Alle mengusap wajahnya.
Dia mulai gusar saat membayangkan akan ada banyak sorot mata merendahkan tertuju padanya. Dia yakin, Reina akan tertawa puas ketika moment itu terjadi.
Dimas terkekeh. "You are the bos, dude. Ngapin takut? Ajak dia makan malam!"
Alle mengangkat alisnya.
Ide yang bagus, ujarnya dalam hati.
"Namun aku rasa, itu akan sulit. Aku akui dia memang wanita yang cantik dan sexy. Akan tetapi, Reina terkenal sebagai wanita yang cuek, garang, dan tidak punya ketertarikan pada lawan jenis."
Alle mengernyit, "Tidak tertarik ... apa?"
"Terdengar sedikit berlebihan, tetapi itulah penilaian para lelaki di gedung Savana Corp. Entah berapa banyak pria yang mencoba untuk mendekati Reina. Namun, semuanya gagal. Sikap cuek dan jutek wanita itu berhasil membuat mereka mundur dan menyerah tanpa syarat," lanjut Dimas.
"Jadi, dia belum punya pacar?" Alle menyandarkan pungung di sandaran kursi. Ada perasaan lega yang menjalar ke seluruh sisi hatinya.
"Pacar? Kamu pikir, janda sejutek dia bisa punya pacar?"
Lagi-lagi Dimas semakin membuatnya penasaran pada sosok Reina. Dia pun mulai mengingat peristiwa yang lalu. Tentang buket mawar putih dan kemarahan wanita itu saat dia merebut miliknya. Dia juga teringat akan kesedihan yang gambar di wajah Reina, sesaat setelah meletakkan buket itu di bangku.
Mungkinkah?
Pria berkacamata bening itu tersenyum saat menemui rasa keingin-tahuan di wajah Alle yang begitu kentara. "Kau tertarik padanya?"
Alle mengangkat wajah, lalu
menatap tajam sosok di hadapannya. "Berhentilah menggodaku dan keluar dari ruanganku sekarang juga!" sentak Alle kesal. Sorot matanya penuh kebimbangan yang tak mampu terucap oleh kata.
Dimas masih tetap dengan senyumnya. Akan lebih menarik jika dia sedikit menjahili pria dengan tingkat profesionalisme tinggi itu. "Ok, aku akan keluar. Tapi sebelum itu, aku akan memanggilkan Reina untukmu," ucapnya sembari beranjak dari dudukan.
"A-apa? Untuk apa aku ...." Alle mencoba berkilah.
"Bukankah kau harus memeriksa laporan keuangan yang dia kerjakan?" potong Dimas. Pria itu pun pergi dan menghilang di balik pintu lift.
Alle meninggalkan kursi kebesarannya. Langkah kakinya begitu tenang. Berbanding terbalik dengan wajahnya yang tampak cemas. Berulang kali dia menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Sementara otaknya terus berputar untuk bersiap menyusun kalimat pembuka, obrolan ringan hingga penutup.
Setelah beberapa saat, senyum terlihat di wajahnya.
***
Dentingan lirih terdengar. Saat pintu terbuka lebar, Reina melihat makhluk berdiri gagah menatap jauh ke luar dinding kaca. Punggung yang mengagumkan. Namun, tidak untuk pemiliknya.
"Aku tidak menyangka akan bertemu lagi denganmu, Nona Jutek."
Suara rendah yang memesona. Namun, tak mampu meruntuhkan ego sang wanita. Reina mulai menginjak karpet tipis ruang itu, lalu meletakkan map dan flashdisk di atas meja kayu berwarna cokelat gelap.
"Selamat siang, Pak. Ini laporan keuangan untuk beberapa bulan terakhir. Saya juga sudah menyimpan salinannya di dalam USB. Saya permisi dulu. Selamat siang."
Dengan mudahnya Reina berucap lalu membalik badan dan segera meninggalkan ruang itu.
"Aku minta maaf." Celetukan Alle berhasil menghentikan langkah Reina. Pria itu mendekat sebelum Reina kembali berubah pikiran.
"Maaf, saya tidak mengerti dengan apa yang Anda katakan. Jika tidak ada yang lain, saya permisi," ucap Reina datar.
Wanita itu mencoba untuk tak mengacuhkannya. Dia tak ingin ada masalah selama bekerja di perusahaan itu. Reina beranggapan, hidupnya akan kembali tenang dengan sedikit menghapus ingatannya beberapa waktu lalu.
Alle mengernyit. Semudah itukah pria setampan dia dilupakan? Alle jelas tak terima itu. Reina sungguh telah meremehkan dirinya.
Pria itu mengeluarkan satu tangannya untuk meraih lengan Reina, menariknya hingga membuat tubuh ramping itu berputar dan mendekat.
Iris cokelat bertemu pandang dengan iris hitam milik Alle. Untuk sesaat, pria itu terpana. Ada sesuatu yang indah dalam lensa mata wanita di hadapannya. Keindahan yang mampu membuat letupan kecil di hati.
Mata Alle mulai nakal. Dia menyusuri garis wajah Reina dan terhenti di bibir tipis yang sangat menggoda untuk dicicipi. Keinginan untuk memulas tepian mulut itu dengan miliknya muncul tanpa perintah. Rasa hangat jelas akan menjalar ke seluruh tubuh. Sensasi yang menakjubkan.
"Apa Anda bisa melepas lengan saya?"
Suara Reina memorak-porandakan imaji liar Alle. Pria itu melepas tangannya, lalu mendeham seraya menatap tanpa arah.
Sementara itu, Reina memijat lengannya yang nyeri akibat cengkeraman Alle. Kemarahan di hati pun meningkat akibat tindakan sewenang-wenang pria itu. Sungguh tak tahu malu. Sudah salah, masih berulah. Entah hukuman apa yang pantas Reina berikan padanya, batin Reina. Gadis itu memajang wajah garang.
"Emm, apa kamu benar-benar tidak mengingatku? Kemarin kita bertemu di kebun raya. Kau ingat?" Alle terlihat kikuk. Dia bahkan bertanya tanpa berani memandang wajah lawan bicaranya.
"Tentu. Aku masih mengingatnya. Dengan-sangat-jelas," sahut Reina dengan suara tegas yang sedikit terseret.
Alle memutar tubuhnya. Benar kata Dimas, Reina seperti kucing liar yang sulit dijinakkan, yang tampak begitu terobsesi untuk mencakar wajah dan menorehkan gigitan di beberapa bagian tubuhnya. Akan tetapi, Alle lebih suka jika dia melakukannya di tempat yang lebih tertutup. Ah, khayalan kotor lagi. Hapus.
"Baguslah. Aku harap kamu tidak menceritakannya pada yang lain." Pria itu melangkah menuju meja kerjanya, lalu memeriksa berkas yang baru saja diterima dari Reina.
"Aku juga tidak akan pernah menceritakan peristiwa memalukan seperti itu kepada orang lain, kecuali terpaksa."
Ancaman? Reina seperti sedang mengeluarkan ultimatum kepada atasannya. Alle berbalik otomatis. Ada amarah yang muncul. Namun, dia berhasil menekannya dengan senyum palsu. Negosiasi lembut mungkin akan berhasil.
"Lupakan kejadian itu dan makan malamlah denganku!"
Suara bariton mengalun di samping telinga Reina. Gelombang angin tipis melewati tengkuknya. Bulu halus Reina meremang. Getaran hebat menjalar ke seluruh tubuh. Sial! Dia menepisnya cepat-cepat.
Lancang!
Reina geram dengan tingkah genit CEO baru Savana Corp. Wanita itu mundur selangkah, memberi jarak di antara keduanya. Dia berpikir, Tak pantas seorang pimpinan melakukan hal di luar otoritasnya. Sangat tidak profesional.
"Maaf, saya tidak bisa! Permisi."
Sungguh Reina menahan semua amarahnya kuat - kuat. Mungkin dia akan meledak saat masuk ke dalam kantornya nanti.
Alle mengangkat wajahnya. Lalu tertawa. "Kau berani menolak atasanmu? Ini akan semakin menarik, Nona Reina." Alle tetap ingin mempertahankan harga dirinya.
Dia laki-laki tampan, kaya, berwibawa. Banyak wanita yang mengejarnya. Reina ialah satu-satunya wanita yang berani menolak karismanya. Benarkah wanita itu tidak tertarik pada pria? Membayangkannya saja sungguh menggelikan.
Alle tak pernah tergoda untuk mendekati wanita. Akan tetapi, Reina terlihat sangat menarik untuk diuji. Alle ingin mencari tahu seberapa kuat pertahanan wanita itu. Lesbian? Atau ada sesuatu yang membuatnya bertahan dalam kesendirian.
"Saya harap Anda tidak mengusik saya lagi, Mr. Julian. Atau saya akan menceritakan semuanya pada karyawan lain!"
Ancaman kembali terlontar dari Reina. Sorot mata tajam tak segan-segan dia arahkan kepada atasannya. Dipecat pun tak mengapa. Bagi Reina, ini tentang harga diri.
Perang dingin sedang berlangsung di antara mereka.
Alle tersenyum miring, lalu kembali memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Ceritakanlah kepada mereka semua! Aku tak peduli. Namun, jangan salahkan aku jika aku mengatakan kepada mereka bahwa kita sedang berkencan!"
Reina mengeratkan giginya. Rahangnya mengeras. Sang pemimpin benar-benar sudah di luar batas. Sikap otoriternya sangat memuakkan!
Wanita itu maju selangkah ke depan. Membuat jarak di antara mereka semakin menipis. Sorot mata mengancam masih begitu jelas keluar dari lensanya.
"Tahukah Anda, saya tidak suka dengan ketidakprofesionalan Anda dalam bekerja Mr. Julian. Saya harap Anda bisa memperbaiki itu."
Kalimat Reina berhasil membungkam Alle. Lelaki itu terpaku melihat kepergian sang manager yang menghilang di balik pintu besi.
Sudut bibirnya terangkat. Diakui, jantungnya terhenti beberapa saat yang lalu. Reina berhasil mengalahkannya.
Alle tertawa keras ... sangat keras, lalu menatap tajam pintu lift dengan seringai mengerikan.
Hari ini, Reina butuh banyak sekali caffein. Sudah empat cangkir ditambah gelas plastik yang dibawa Jihan pagi ini tak mampu memberi ketenangan padanya. Sikap CEO baru itu begitu mengusik pikirannya.
"Tidak bisakah dia melupakannya saja? Apa susahnya melupakan sesuatu yang nggak penting? Dia benar-benar pria gila," monolog Reina.
Mungkin beralih suasana bisa membuatnya lebih tenang. Dia yang biasanya paling rajin hingga pulang larut, hari ini mengemas barang-barangnya di saat jam kerja telah usai.
Reina merapikan blazer, lalu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Dengan tas jinjing berwarna senada, wanita itu melenggang menuju lift.
Langkahnya terhenti, menanti pintu besi itu terbuka. Hanya ada dia? Tampaknya karyawan lain terlalu bersemangat untuk segera pulang atau dia yang selalu senang sendirian.
Pintu terbuka otomatis. Reina melangkah masuk dengan tatapan menunduk malas. Wanita itu meletakkan salah satu tangannya di pundak, memberi pijitan pelan di sana.
"Kau terlihat menikmatinya, Nona."
Reina terbelalak. Suara rendah itu berasal dari sang penghuni lantai teratas. Alleando Julian.
Alle sengaja menanti kepulangan wanita itu dan kembali memulai permainannya. Akan seru berduaan di dalam lift yang terhenti.
Reina kembali dikejutkan oleh tindakan sewenang-wenang pimpinannya. Lift yang terhenti, seolah memaksa dia untuk tetap tinggal di kandang macan yang kelaparan.
Ketukan langkah Alle, spontan membuat wanita itu mengambil langkah mundur. Punggungnya terhenti pada dinding baja yang dingin. Reina menatap benci pada Alle, namun sorot mata tajam lelaki itu, mengalahkannya.
Reina tak bisa berbuat apapun saat kepalanya terhalang oleh kedua lengan kekar Alle. Pria itu semakin mendekatkan diri hingga ia bisa merasakan embusan napas Reina menerpa wajahnya.
Jantung wanita itu seakan terlepas dari tempatnya. Sinat mata Alle bak aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuh. Sungguh menggetarkan raganya. Wajah Reina memanas akibat tatapan intens bosnya. Selebihnya, ketakutan yang sangat kentara.
Alle tersenyum, lalu menarik diri dan kembali menjalankan lift. Ada sesuatu yang tertangkap oleh instingnya. Wanita itu tak terlihat seperti seorang janda. Dia malah seerti gadis perawan yangtak pernah tersentuh oleh pria manapun.
"Anda tersenyum? Apa Anda pikir ini lucu?"
Reina tak terima atas perlakuan intimidasi dari atasannya itu. Kemarahan kembali memuncak.
"Anda benar-benar menyebalkan!"
"AAAA ...! AAUU ...!" Alle memekik keras saat ujung heels Reina menghantam kakinya. Pria itu meloncat - loncat kecil dengan satu kaki terangkat.
Reina puas, sangat puas di buatnya. Wanita itu pun keluar dari box besi dan meninggalkan Alle sendiri dengan rintihan.
----------- to be continue -------------