"Jangan terlalu membenci, karena benci adalah salah satu jalan cinta kan bersemi"
***
Aroma maskulin tercium pekat dalam lift. Seorang pria berparas rupawan berdiri menatap angka yang terus bertambah. Kedua tangannya tersembunyi di saku celana. Dengan setelan jas mahal, karya salah satu desainer ternama Indonesia, dia tampil penuh wibawa dan karisma.
Alleando Julian terpaksa terbang dari Australia usai dapat mandat dari sang ayah. Selain sebab kosongnya kursi CEO, keputusan ayahnya untuk pasif dari perusahaan jadi pertimbangan. Padahal, dia sedang fokus merintis cabang di negeri kanguru.
Denting lift terdengar. Alle merapikan dasi sebelum keluar dari lift dan membuat sepasang mata terkejut memandangnya.
"A-Alle.” Sapaan gugup keluar dari mulut Dimas. Pria berkacamata itu pun langsung merapikan lembar-lembar kertas yang tercecer di karpet.
Alle geram. Lelaki itu menginjak karpet tipis menuju sofa tanpa memedulikan general manajernya yang kelimpungan. Dia duduk tenang dan menanti seseorang berlutut memohon ampun.
Kening Dimas dibasahi bulir-bulir keringat. Alle adalah tipe orang yang sangat mengagungkan harga diri. Apa yang terjadi kemarin, jelas membangunkan sisi mengerikan pria itu.
"Aku minta maaf soal kemarin. Bukan maksudku ...."
"Kamu tahu apa yang telah aku alami?" Suara Alle terdengar tenang, tapi terasa seperti ribuan panah yang menyasar telinga Dimas.
Dimas bungkam. Wajahnya memanas oleh tatapan sengit CEO baru Savana Corporation. Saliva yang mengganjal di tenggorokan tertelan sudah oleh ketakutan. Hawa dingin air conditioner seakan-akan tak berfungsi baginya. Walau telah bersahabat sekian lama, tetap saja dia tak bisa menandingi aura Alle.
"Aku janji akan mengatur ulang pertemuan kalian.”
Sebuah negosiasi yang diajukan Dimas tak berjalan mulus. Alih-alih mendapat maaf, kalimat itu justru semakin mendidihkan magma di kepala Alle. Pria beriris hitam berdiri sambil mengentakkan kaki. Dia rapikan jas, lalu menatap hampa ke luar jendela kaca.
"Al, aku mohon maafkan aku.” Dimas berlutut dengan seluruh ketakutan yang dimiliki. Lututnya bergetar.
Hening menjadi benteng di antara mereka.
Tak lama kemudian, Alle tertawa keras. Puas sudah dia mempermainkan sahabatnya. Ketakutan di wajah Dimas terasa bagai gelitikan peri malam.
"Al, kamu?" Pemuda berumur 26 tahun itu mendongak dan menatap tak percaya. Lalu dia meluruskan lutut yang sedikit nyeri. Ada keinginan untuk memaki. Namun, dia sadar canda Alle adalah imbas dari kesalahan adiknya yang tak menepati janji.
Dimas menghela napas malas, lalu menekuk kedua tangan di pinggang. Lama tak jumpa, lelaki di depannya masih sama, menyebalkan. Entah sampai kapan sifat buruk itu akan bertahan. "Kamu puas, heem? Lihat saja nanti! Aku akan membalas tawamu itu."
Ancaman yang tak berarti apa-apa bagi sang penguasa. Alle yakin, pria berkacamata itu hanya menggertak. Selamanya, akan seperti itu. Sampai saat ini, Alle memang tak pernah menemukan lawan yang seimbang. Mungkin karena harta dan kedudukan yang dimiliki hingga tak seorang pun berani mengalahkannya.
“Lakukan saja sekarang jika kamu ingin kupecat," balas Alle dengan senyum sinis. Lelaki itu melangkah menuju kursi mewah yang berada di depan kabinet. Dia menata posisi hingga menemukan kenyamanan.
Dimas mendengkus. Dia bosan mendengar ancaman yang terlontar dari Alle. Saat masih bekerja sama dengan Alle, dia sering mendapat teguran yang sama. Untuk kesalahan sepele maupun sekedar keusilan yang disengaja. Sahabatnya itu selalu mengedepankan sifat otoriter. Akan seru jika Alle menemukan lawan yang seimbang. Dia akan menjadi penonton dengan pop corn di tangan, menyaksikan adu keangkuhan dan keegoisan.
Dimas mendekati meja kerja, lalu menyerahkan beberapa berkas kepada Alle. Laporan hasil penjualan, nilai saham, proyek yang sedang berjalan dan beberapa proposal. Ada satu yang masih tertinggal, laporan keuangan. Manajer keuangan belum menyerahkannya hingga kini.
Alle mulai memperhatikan lembar demi lembar kertas di tangan, membalik, dan membacanya sekilas. Butuh banyak waktu untuk meneliti tumpukan itu. Juga konsentrasi.
“Kita ada meeting dengan para manajer. Bersiaplah! Kamu harus berkenalan dengan anak buahmu,” ucap Dimas.
Alle menyandarkan punggung, lalu melempar map ke meja. Ada rasa malas yang datang tiba-tiba. Wajahnya berubah masam.
"Apa itu perlu? Mereka hanya para pencari muka. Kamu saja! Aku tidak berselera menemui para manula," sahut Alle cuek.
"Hei, come on. Tak selamanya tempat kerja itu membosankan. HRD kantor ini pintar memilih karyawan. Manajer di sini tidak seperti di Ausey. Mereka masih muda dan memiliki etos kerja luar biasa. Terutama Manajer Keuangan, wanita, penggila kerja.” Dimas mengangkat kedua alis, menampakkan senyum penuh misteri.
Alle melirik pria di seberang meja, lalu mengelus dagu. Ekspresi Dimas sarat arti. Dia pun dibuat penasaran tentang sesuatu yang tampak menarik.
Kedua petinggi gedung itu beranjak dari ruang kerja CEO menuju satu tingkat di bawahnya. Dimas menyerahkan map merah, berisi data para manajer, kepada pria yang mengekor di belakang. Dia pun menjabarkan karakter mereka satu per satu. Belum tuntas dia bercerita, pintu besi telah terbuka lebar.
Alle tersenyum seramah mungkin pada karyawan yang terlihat antusias menyambutnya. Terlebih para wanita yang takjub dengan sosok pimpinan baru mereka.
Tak seperti yang mereka bayangkan. Seorang CEO selalu identik dengan umur di atas 40 tahun, berambut semburat putih, alis naik ke atas, dan bersikap dingin. Sama seperti sebelumnya.
Namun, apa yang mereka lihat sekarang, berbanding terbalik dengan angan yang lebih layak disebut mimpi buruk.
Kedatangan sosok pria muda dengan wajah rupawan, bagai oase di tengah Gurun Sahara. Senyumnya bak tetesan embun pagi yang menyejukkan. Karisma yang terpancar darinya, sontak membuat para wanita berlomba mendekat.
Akan tetapi, Alle tak berminat sedikit pun untuk menikmati godaan mereka. Dia selalu mengutamakan profesionalisme dalam bekerja dan benci pada rayuan genit wanita. Lebih-lebih pada mereka yang gila harta.
Dimas menuntunnya ke ruang berdinding terang. Terdapat meja panjang yang telah dikelilingi oleh sepuluh orang, empat di antaranya wanita. Benar kata Dimas, mereka masih muda. Hanya lelaki di paling ujung yang tampak tua. Mungkin berumur empat puluhan.
"Selamat pagi," sapa Dimas dengan senyum formal. Dia mengambil posisi di kursi depan untuk memimpin jalannya rapat.
"Selamat pagi, Pak,” balas sapa dari semua.
Dimas meletakkan beberapa berkas di samping notebook. Lalu, dia menarik napas dan membuka obrolan. “Terima kasih atas kehadiran kalian dalam meeting dadakan ini. Di sini, saya akan memperkenalkan CEO baru kita, Pak Alleando Julian."
Alle berdiri dan memberi salam sekedarnya. Kemudian dia kembali ke posisi semula.
“Mulai hari ini beliau yang akan mengambil keputusan penting dalam perusahaan kita, sekaligus mengatur jalannya semua operasional di Savana Corp," lanjut Dimas, disambut oleh riuh tepukan tangan.
Satu demi satu mulai dipanggil dan memperkenalkan diri. Mereka tampak antusias mengikuti jalannya rapat. Terkecuali, seorang wanita yang tampak sibuk dengan lamunan. Rambut panjang terikatnya tak bergerak sedikit pun. Sepasang mata berlensa cokelat memandang kosong ke bawah.
"Reina Prameswari ... Nona Reina.” Dimas mengulang panggilan yang terabaikan.
Wanita itu tersentak saat sesuatu menyenggol lengannya. Lirikan tajam dia arahkan pada Alvin, si pelaku. Alvin memberi isyarat agar Reina bergegas menanggapi panggilan general manajer.
"Nona Reina, jika kamu tidak fokus pada meeting ini, silakan keluar!" Gelombang suara mengalun tenang dan tegas dari mulut Alle.
Suara itu terasa tak asing di telinga Reina. Dia mendongak. Matanya melotot usai melihat wajah Alle. Dia tutup mulutnya yang menganga dengan tangan.
Bukankah dia pria gila di kebun raya? batinnya.
Siapa sangka, pria asing yang mengusik kemarin kini berada di ruang yang sama dan memiliki jabatan tinggi di gedung Savana. Perempuan itu berdiri tergesa-gesa.
“Mohon maafkan saya! Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," ucap Reina dengan wajah tertunduk. Sementara jemarinya saling bergelut di belakang tubuh.
Kalimat itu menarik perhatian Alle. Penasaran, dia pun mengangkat wajah dan sesuai dugaan. Berdiri di bangku ke tiga, wanita dengan blazer marun, kemeja putih yang terkancing hingga ke leher, celana kain hitam, dan rambut kucir kuda. Wanita yang sama. Si Jutek yang membuatnya jengah kemarin.
Keduanya sama-sama tak menyangka akan hadirnya pertemuan kedua ini. Namun, Alle lebih pintar menyembunyikan ekspresi malu di balik topeng ketenangan. Semua itu berkat ilmu psikologi singkat yang pernah dia baca dari buku-buku milik Dimas. Personality Plus, Stifin, teori yang terkadang tak bisa menjadi acuan.
"Meeting kita akhiri. Serahkan laporan kalian ke mejaku!" ucap pria yang langsung beranjak dari ruang. Dia tak bisa bertahan lebih lama dalam satu tempat bersama sosok wanita bernama Reina.
***
Di sela jam istirahat.
"Ada apa denganmu, Rei? Tidak biasanya kamu melamun saat meeting.” Alvin mulai penasaran dengan sikap aneh dari seorang Reina. Gadis yang selalu fokus dalam pekerjaan dan tak pernah lengah, pagi ini melepas predikat itu.
Reina mendengkus kesal. Dia melempar raga ke atas kursi putar. Lalu menatap kosong langit-langit. Satu harapannya, semoga CEO itu tetap bersikap profesional dan melupakan kejadian kemarin, karena dia pun akan begitu.
"Tidak apa-apa," ucapnya sembari memijit kening yang sama sekali tak pening. Hanya pengalihan dari rasa jengkel di hati.
"Kopi datang!" Jihan masuk ke ruang Reina tanpa permisi bersama tiga gelas kopi dalam box kertas. Gadis berambut pendek itu meletakkan bawaannya di atas nakas, lalu menduduki kursi kosong di samping Alvin.
"Black coffee untuk Reina dan coffee latte dengan banyak cream untuk Yayang Alvin," ucapnya sembari mengerlingkan mata ke arah pria berkacamata.
Alvin buang muka dan lebih memilih menatap wanita yang sedang menyeruput kopi di seberang. Janda Kembang yang telah dia tetapkan sebagai calon ibu dari anak tunggalnya.
"Rei, bagaimana menurutmu CEO baru kita? Dia tampan, 'kan?"
Reina memutar bola mata udai dengar ucapan Jihan. Tak disangkal memang, pria menyebalkan itu memiliki paras di atas rata-rata. Namun, sikapnya kemarin sudah cukup memberi nilai minus. Banyak nilai minus. Jauh berbeda dengan apa yang dia tampilkan di ruang rapat tadi.
"Tampan apanya. Di pasar juga banyak." Reina berusaha membantah fakta. Gadis itu selalu bertingkah ketus saat membahas pria. Siapa pun dan sebaik apa pun dia, tetap terlihat tak menarik di matanya.
"Gila aja. Cowok setampan dia ada di pasar. Kamu pikir dia ikan?" cibir Jihan kesal, "Rei, sesekali lihat cowok, tuh, pake hati ... hati, Rei. Jangan emosi!" lanjutnya.
"Dilihat pakai hati pun tetap aja sama. Pria gila dengan tingkat kepedean dua ratus persen kayak gitu, mana ada bagusnya," sahut Reina ketus, sembari melipat kedua tangan di depan d**a.
"Apa, Rei? Pria gila? Haah, kamu, tuh, emang enggak pernah berubah dalam menilai cowok," sahut Alvin, menggelengkan kepala. Dalam hati dia berjingkrak mendengar ucapan Reina tentang atasan baru mereka. Setidaknya, hati wanita itu masih aman.
Telepon di samping pigura berdering. Reina meletakkan gelas kopi di atas nakas, lalu menyambut sambungan interkom itu dengan malas.
"Halo," ucapnya.
"Pak Alleando menunggumu di ruangannya. Siapkan laporan keuangan yang kuminta kemarin!" pinta Dimas.
Reina terkesiap. "Baik, Pak."
Panggilan sekilas itu menyesakkan d**a. Setelah meletakkan kembali gagang telepon ke tempat semula, Reina menarik napas dalam, lalu menembuskannya kuat. Dia ingin mengusir hawa panas yang mengganjal tetiba.
"Ada apa, Rei?" tanya Jihan.
"Aku harus mengantar laporan keuangan ke ruang CEO," jawabnya sembari merapikan berkas—yang telah dia kerjakan semalaman—dan flashdisk yang tertancap di laptop.
Ada rasa malas yang tak tertolak. Namun, dia harus tetap bersikap profesional dan mengesampingkan urusan pribadi. Sejauh mungkin membuang kebencian dan menyuguhkan rasa hormat. Ah, dia sendiri ragu akan hal itu.
Reina berjalan dengan map di depan d**a dan benda kecil berkapasitas 32 Gigabyte di saku blazer. Suara ketukan highheels membuat siapa pun di ruang itu akan menoleh dan menyajikan senyum-senyum formalitas. Seperti biasa, wanita itu hanya membalasnya dengan lengkung singkat yang terkesan tempelan.
Di dalam lift, dia kembali mengatur napas. Penuh harap CEO baru itu tidak mengingat peristiwa lalu. Karena dia sendiri telah melupakannya dan bahkan tak berminat untuk bertemu lagi. Namun, Tuhan berkehendak lain.
Denting lirih terdengar. Lorong sunyi menyapa. Reina kembali melangkah menuju ruang berpintu ganda. Meja sekretaris masih kosong. Tampaknya, divisi personalia belum menemukan pengganti Meira, sekretaris yang mengundurkan diri karena tak tahan dengan sikap culas Markus, penghuni ruang CEO sebelumnya.
“Mungkin setelah ini, aku akan menyusulmu, Mei.”
Setelah mengetuk pintu tiga kali, Reina memasuki ruangan yang jarang dia jenguk. Di sana, dia melihat pria yang berdiri gagah menatap jauh ke luar dinding kaca. Punggung yang mengagumkan. Namun, tidak untuk pemiliknya.
"Aku tidak menyangka akan bertemu lagi denganmu, Nona Jutek.”
***