Alle tak lagi memperhatikan apa yang orang-orang itu lakukan. Nanar dia menatap Reina yang tak henti-henti meneteskan air mata. Apakah semua akan berakhir di sini? Dia tidak ingin seperti Kara yang menyerah dan meninggalkan Reina. Dia tidak ingin meninggalkan wanita itu dengan luka yang sama. Hanya doa yang bisa dia panjatkan. Lagi dan lagi. Ketika Alle pasrah kepada-Nya, letusan senjata api terdengar keras dari belakang. Sebutir peluru melesat mengenai pria yang nyaris memukul kepalanya. Deni menjerit saat timah panas menembus lengannya. Perih menjalar cepat, mengerutkan wajahnya yang garang. Samurainya terlempar jauh ke depan. "Seharusnya kau juga mengundangku untuk pesta ini, Yanto. Bukankah kita berteman baik?" Suara dalam menggantikan letup pistol yang menggema. Sesosok pria bertubu

