Meera dan Gyan mampir ke sebuah hotel yang untungnya memiliki dua kamar yang masih kosong, begitu mereka kembali memasuki daerah perkotaan. Meera membasuh tubuhnya yang beraroma asin, dan sedikit lengket karena berenang di laut, kemudian melaundry setelannya. Tidak mungkin kan dia pergi mengunjungi perusahaan dengan setelan dekil. Selagi menunggu pakaiannya dicuci kering dan setrika, Meera menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Lalu matanya terlelap. Sampai akhirnya dia dibangunkan oleh suara gedoran di pintunya. Seorang pegawai hotel mengembalikan setelannya yang sudah siap pakai. Ponsel Meera berbunyi dan itu adalah Gyan. Sebuah pesan. “Aku sudah di restoran. Kamu cepat turun ke sini.” Meera begitu lapar, sehingga dia buru-buru turun ke restoran tanpa menggunakan make up. Gyan menatap

