"Mina, ada apa ini sebenarnya?" Tanya Hudi dengan suara serak, menatap bergantian antara Mina dan istri serta anak tirinya. "Ayah bingung, kamu tiba-tiba datang dengan ekspresi marah lalu menyuruh Ayah memilih antara kamu dan ibumu."
"Pertama, Tante Jina bukan ibuku dan selamanya tak akan pernah menggantikan posisi ibu. Kedua, apa Ayah tahu apa yang dua mak lampir itu lakukan di belakang kita?" Bukan lagi emosi, Mina sudah tak tahan lagi dan kini kesabarannya sudah benar-benar berada di puncak.
"Tidak," geleng Hudi.
"Aku rela menikah dengan Tara yang katanya hanya dapat duduk di kursi roda, memiliki bekas luka di wajah, dan sangat pendiam. Bahkan aku juga sabar saat Tara menolak bertemu hingga usia pernikahan tiga bulan, itu semua kulakukan demi Ayah hanya karena bila aku mau menikah dengan Tara maka dia akan membiayai pengobatan Ayah." Sungguh Mina sebenarnya tidak ingin meninggikan suara di depan sang ayah, tapi lagi puncak kesabarannya benar-benar berada di ambang batas.
Mendengar apa yang Mina katakan, Hudi masih belum mengerti. "Mina, katakan dengan jelas apa maksudmu."
"Maksudku adalah aku selama ini menyangka Tara mengingkari janjinya yang akan membiayai pengobatan Ayah," dari yang tadinya marah-marah sampai meninggikan suara, tiba-tiba Mina memelankan nada suaranya bahkan kali ini sambil terisak sakit. "Namun, rupanya aku salah. Tara tak pernah absen mengirim uang itu, tapi akunya yang gak tahu sebab selama ini uang itu malah digunakan oleh Tante Jina dan Hana untuk berpoya-poya."
"A-apa?" Gagap Hudi, melirik Jina dan Hana dengan tatapan tak percaya.
Mina mengusap kasar air mata yang mengenang di pelupuk matanya, bukan dirinya cengeng tapi air mata itu keluar saking marahnya dia pada Jina dan Hana. Mina sudah tidak sanggup lagi mentoleransi dua orang yang selalu dirinya sebut mak lampir itu, sebab kesalahan kali ini yang diperbuat benar-benar fatal.
Saat Jina dan Hana hanya numpang tinggal dan makan, Mina masih oke. Saat Hana selalu mengambil semua barang-barang dirinya dan Jina malah mendukung kelakuan putrinya, Mina juga masih oke. Juga, saat Jina dan Hana menjual beberapa perabot rumah hingga barang peninggalan almarhumah ibunya Mina juga masih bisa bilang oke. Namun, saat Jina dan Hana menyabotase uang pemberian Tara untuk biaya pengobatan sang ayah, kali ini Mina tidak dapat mentoleransinya lagi. Jina dan Hana lebih dari keterlaluan.
Melihat wajah kecewa sang ayah tiri, dengan cepat Hana menyenggol lengan sang mamah sambil mengkode agar Jina melakukan sesuatu.
Jina yang baru sadar langsung berucap membuat pembelaan, "Ayah, Mamah memang memakai uang itu untuk mencukupi kebutuhanku dan Hana." Jina melirik Hana, hanya untuk menemukan wajah dang putri malah semakin kesal karena dirinya mengakui telah menyabotase uang pemberian Tara. Namun, Jina tidak berhenti di sana, dia melanjutkan ucapannya. "Namun, menurutku itu sama sekali tidak masalah."
"Tidak masalah?" Ulang Mina pada perkataan Jina dengan keinginan untuk melempar meja pada wajah tak berdosa sang ibu tiri.
"Ya, tidak masalah." Angguk Jina membenarkan pada ucapan Mina. Dengan wajah angkuh Jina menatap Hudi, lalu melanjutkan ucapannya. "Selama ini Ayah hanya dapat terbaring di tempat tidur, tidak bekerja dan menghasilkan uang. Sedangkan Mama dan Hana butuh uang, ada kebutuhan yang harus ditutupi. Jadi Mama menganggap uang pemberian Tara untuk biaya pengobatan Ayah adalah ganti dari nafkah yang harusnya Ayah berikan untuk Mama dan Hana."
"Dasar tidak tahu malu!" Geram Mina.
Jina hanya melengoskan wajah, sama sekali tak merasa bersalah karena sudah memakai uang yang seharusnya digunakan untuk Hudi berobat sampai habis.
Mina menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Setelah dirasa cukup tenang, Mina kembali menoleh le arah Hudi. "Sekarang Ayah sudah tahu apa yang terjadi, jadi aku minta Ayah segera putuskan ingin mempertahankan aku di rumah ini dengan cara menceraikan tante Jina atau Ayah boleh mempertahankan Tante Jina tapi aku pergi dari rumah ini?"
"Mina, jangan pinta hal itu Nak." Pinta Hudi dengan wajah sedihnya.
Untuk kali ini Mina tidak mau kasihan pada wajah sedih sang ayah, baginya sudah cukup mentoleransi segala sesuatu yang menyulitkan akibat kelakuan dua mak lampir itu.
Mina menggeleng, kekeh dengan keinginannya. Dia menatap Hudi dengan sorot bertanya, "Jadi keputusan Ayah apa?"
"A-ayah ...," Hudi menatap Jina dan Hana dengan pandangan rumit, lalu tanpa mau melihat ke arah Mina dia menjawab. "Ayah tidak akan menceraikan istri Ayah, maaf Mina."
Setelah mendengar keputusan sang ayah, tubuh Mina berubah lemas. Dirinya yang tadinya marah-marah berubah menjadi diam, menatap kecewa pada Hudi. Dengan senyum miris Mina mengangguk paham pada keputusan sang ayah, "Baiklah kalau itu yang Ayau inginkan."
"Maafkan Ayah, Mina." Lirih Hudi.
Hudi merasa bersalah pada Mina, sebab secara tak langsung dia sudah mengusir putri kandungnya sendiri dari rumah. Namun, dirinya juga tak mungkin menceraikan Jina hanya karena alasan dia dan putrinya menggunakan uang yang seharusnya digunakan berobat oleh dirinya untuk poya-poya, sebab lebih dari apapun Hudi sadar dirinya memang tak berhak marah dengan apa yang Jina lakukan karena tidak pernah memberikan nafkah.
Jadi ... Hudi mengartikan uang pengobatan dirinya adalah ganti nafkah untuk Jina.
Jina dan Hana puas dengan keputusan Hudi, kini keduanya menatap Mina dengan tatapan mengejek.
"Ayah, aku pergi. Jaga diri Ayah baik-baik," Mina pamit, melangkah keluar dari kamar sang ayah denga hati retak.
Saat Mina hendak lewat, Jina dan Hana langsung memasang ekspresi siaga. Namun, keduanya malah dibuat tercengang, sebab Mina tidak lagi menjambak rambut seperti yang tadi dilakukannya.
***
Setelah semua barang dia kemas, Mina keluar dari rumah dan berjalan linglung di jalanan. Jangan kira Mina akan menangis karena kini dirinya tak punya tempat tinggal, sorry itu bukan gaya Mina. Mau semenderita apapun dirinya, Mina pantang menyerah pada kerasnya hidup.
Jadi yang Mina lakukan sekarang adalah menghubungi Tara, meminta rumah untuk dirinya tinggali.
'Saya masih istrimu, bukan?'
Saat mengetikkan pesan barusan, Mina meringis begitu melirik surat cerai di dalam tas. Dia menggeleng samar, memutuskan menunggu balasan Tara. Cukup lama Tara tak kunjung membalas, hingga hampir saja Mina menutup layar ponsel anda bunyi notifikasi tidak lebih dulu masuk.
ting
Balasan datang.
'Masih."
"Sepertinya Tara memang spesies laki-laki irit bicara," gumam Mina sambil mengetikkan balasan.
'Karena saya masih istrumu, maka sediakan rumah untukku. Saya pergi dari rumah ayah, malu sama ayah karena sudah punya suami masa masih tinggal sama orang tua.'
Bohong dikit gak apa-apa, Mina malu bila harus jujur kalau dirunya minggat dari rumah sang ayah karena tidak menang dalam perdebatan. Gengsi dong, jadi Mina memilih sedikit berbohong pada atara dengan alasannya.
ting
'Baik.'
Singkat dan padat balasan Tara, membuat Mina mendengus karena kesulitan membalas pesan agar terdengar lebih akrab.
ting
Kembali balasan dari Tara masuk.
'Jalan A perumahan nomer 6.'
Setelah mendapatkan alamat rumahnya, Mina bergegas pergi ke alamat tujuan. Begitu sampai di rumah yang Tara sebutkan, Mina terperangah karena melihat betapa besar rumah yang disediakan.
"Tara sangat kaya, seharusnya dengan harta sebanyak ini dia bisa melakukan sesuatu pada kaki dan wajahnya agar sembuh. Namun, dia malah membiarkan keadaannya tetap begitu, seakan putus asa dengan nasib yang dideritanya." gumam Mina, menatap rumah di depannya dengan pandangan sayang.
Diam-diam Mina jadi penasaran apa alasan Tara menikahi dirinya?
Padahal selama tiga bulan ini tak sekalipun Tara menemui Mina, aneh bukan?
Begitu sampai di depan pintu, Mina mengetuk pintu rumah. Selagi menunggu, Mina tidak dapat untuk tidak memikirkan kemungkinan Tara juga ada di rumah yang saat ini akan dirinya tempati.
"Apa sekarang adalah waktunya aku dan Tara saling bertemu?" gumam Mina penuh harap, jantungnya cukup berdebar saat mendengar langkah kaki dati dalam rumah yang Mina dengar kian mendekat.
ceklek
Suara Handle pintu diputar, perlahan daun pintu dibuka. Dengan rasa penasaran begitu tinggi Mina memperhatikan pintu yang semakin jelas memperlihatkan seseorang di baliknya, hingga akhirnya pintu rumah benar-benar terbuka dan kini Mina hanya dapat berkedip saat melihat siapa yang kini berdiri di depannya.
"Ka-kamu ...
***