Bab 4. Murka

1722 Kata
"Dari mana kamu?" "Hana, aku lelah. Sekali saja kamu jangan menggangguku." Mina melewati Hana yang berdiri di depannya, menghalangi jalan masuk ke dalam rumah. Dengan langkah lemas Mina masuk rumah, menjatuhkan tubuh ke kursi sambil meletakkan tas ke atas meja. Hana yang dilewati begitu saja menoleh mengikuti ke mana Mina pergi, dengan tatapan tak percaya dia mendengus sebelum kemudian mendekati Mina. "Bagus, ya, setelah semalam tidak pulang kamu malah masih bisa-bisanya santai duduk. Tahu tidak kalau malam tadi ayah BAB dan itu bau sekali, harusnya kamu membersihkannya." Mendengar apa yang Hana katakan, refleks Mina melirik ke arah Hana dengan tatapan curiga. "Hana, jangan bilang sampai sekarang baik kamu maupun ibumu belum mengganti diapers ayah?" Dengan ekspresi santainya Hana mengedikkan bahu, kemudian melenggang pergi begitu saja. Di belakang, Mina menggeram tertahan melihat kelakuan saudari tirinya itu. Bila bukan karena sang ayah yang masih mempertahankan Jina di rumah ini, sudah dari lama Mina mengusir keduanya. Toh, baik Hana maupun Jina hanya nambah-nambah beban saja tinggal di rumahnya, keduanya sama sekali tidak mau membantu dirinya mengurus rumah atau sang ayah yang hanya dapat terbaring lemah di atas ranjang. "Arghhhh," Mina memukul-mukul kursi untuk melepaskan rasa kesalnya, sebelum kemudian dengan ekspresi yang tidak bisa menahan cemberut bangun dari duduknya. Begitu Mina membuka kamar sang ayah, refleks dia menutup hidung saat bau menyengat menusuk. Mina membuang wajah sejenak hanya untuk menarik nafas panjang, sebelum kemudian menghembuskannya perlahan. Setelah siap, Mina memasang wajah tersenyum sambil masuk ke dalam. "Ayah," panggil Mina. Laki-laki paruh baya bernama Hudi itu menoleh, tersenyum tak enak pada sang putri. "Aku bantu ganti diapers Ayah, ya." Semarah apapun Mina pada Hudi, dia tak pernah menbentaknya. Bukan karena Hudi hanya terbaring lemah dan tak berguna sebab Mina marah, tapi karena laki-laki ini dulu sempat menyia-nyiakannya dan lebih mementingkan ibu serta saudari tirinya. Jangan dikira mengganti diapers orang tua dan dan bayi itu sama, jelas berbeda. Mina harus mati-matian menahan mual, apa lagi ayahnya BAB dari semalam dan sore hari baru diganti. "Sudah," Mina berseru sambil menarik nafas banyak-banyak, lanjut mengambil mangkuk berisi bubur panas yang dibelinya. "Mina, bagaimana kabar Tara?" Gerakan bibir Mina yang tengah meniup bubur refleks terhenti, untuk sesaat dia tampak bingung bagaimana menjawab pertanyaan sang ayah. Namun, selang beberapa saat kemudian perlahan dia tersenyum, lalu mulai menyuapi sang ayah sambil berbicara. "Mungkin baik." "Kamu belum ketemu dengannya?" Lagi, Hadi bertanya. Mina menggeleng pelan, "belum saatnya kali." "Maafkan Ayah," lirih Hudi, merasa bersalah atas nasib putrinya sekarang. "Kalau bukan karena Ayah sakit, pasti kamu tak akan mau menerima penawaran orang untuk melunasi biaya pengobatan dengan syarat harus mau menikah dengan orang tak dikenal." Mina tidak mengatakan apapun, terus menyuapi Hudi dengan telaten. Setelah habis Mina membereskan peralatan bekas makan Hudi, baru pergi setelah memastikan Hudi meminum obatnya. Sampai di kamar Mina mengeluarkan ponsel, cukup terkejut saat melihat ada pesan yang Tara kirimkan untuknya. Dengan cepat dia membuka pesan, membacanya dengan mata melotot. 'Bagaimana kabar ayahmu?' "Cih, dia bertanya seolah membantu membiayai pengobatannya." Gerutu Mina sambil mengetikkan balasan. "Janjinya mau bantu biayain pengobatan ayah, tapi sampai sekarang tak sepeserpun mengirimkan uang." 'Buruk! Seseorang berjanji untuk membiayai pengobatannya, tapi dia malah ingkar janji.' ting Balasan dari Tara sangar cepat datang. 'Apa maksudmu?' "Ha ha ha, lucu sekali dia bertanya seperti itu." Mina tertawa sarkas setelah membaca balasan cepat yang Tara kirimkan. Dia menipiskan bibir dengan jari tangan bergerak lincah di atas layar ponsel membalas pesan Tara. 'Maksudku mana janjimu?' ting 'Janji apa?' "Ini Tara benar-benar lupa apa pura-pura lupa?" gerutu Mina. 'Aku minta maaf karena dulu setuju menikah denganmu karena uang, jujur itu membuatku merasa bersalah bahkan sampai sekarang. Namun, apapun akan aku lakukan demi membuat ayah sehat lagi, salah satu caranya yaitu menerima penawaran seorang laki-laki asing untuk menikah dengannya dan dia berjanji akan membiayai pengobatan ayah.' ting Balasan dari Tara datang setelah waktu berlalu cukup lama. 'Jadi kamu tidak pernah menerima uang yang saya kirimkan?' Kali ini Mina terdiam, jari tangannya menggantung di udara. Dia berpikir serius tentang Tara yang bertanya mengenai uang kirimannya, setelah yakin dirinya tak pernah menerima uang itu Mina baru membalasnya. 'Bukankah kamu memang tak pernah mengirimkannya?' ting 'Saya rutin mengirimkannya atas nama 'Mina Prasasti'.' "Tunggu," seru Mina setelah membaca balasan dari Tara kali ini, dia mengingat-ngingat rekening dengan nama itu. Tiba-tiba dahinya mengernyit, merasa ada yang salah. Rekening dengan nama 'Mina Prasasti' itu hilang, Mina sudah mencari-carinya ke manapun bahkan sampai membongkar seluruh kamar tetap saja tak bisa ia temukan. Rekening itu hilang, bila Tara mengirimkan pada nomer itu oh jelas Mina tak akan menerimanya. 'Rekening itu hilang,' balas Mina pada Tara. ting 'Maaf, saya ceroboh. Harusnya saya bertanya dulu padamu sebelum mengirim uang agar kejadiannya tidak seperti ini.' "Eh, eh?" Mina memekik saat membaca pesan Tara, "Kenapa dia yang minta maaf?" Mina buru-buru menutup layar ponsel hingga gelap, melemparkannya sembarangan saat merasakan wajahnya memanas. Entah mengapa setelah bertukar pesan dengan Tara, ada getaran dalam hati yang dia rasakan. Padahal Mina belum pernah sekalipun bertemu dengannya, anehnya Mina seakan sudah mengenal saja. "Sepertinya Tara adalah laki-laki yang baik," guman Mina, melirik surat cerai di atas meja yang sudah dirinya siapkan untuk diberikan pada Tara jika nanti bertemu. Kini Mina ragu, antara meneruskan niatnya untuk bercerai atau mempertahankan pernikahan. Mina menggelengkan kepala, memutuskan untuk keluar kamar guna menenangkan gemuruh dalam hatinya. Sayangnya alih-alih mendapat ketenangan, Mina malah disuguhi pemandangan mengherankan. "Loh, kalian belanja?" Tanya Mina sambil melipat tangan di depan d**a. Jina dan Hana yang kedua tangannya penuh dengan belanjaan melirik tak acuh pada Mina, keduanya malah sibuk mengeluarkan satu-persatu barang belanjaan dari dalam paper bag ke atas meja. Mina mengambil satu tas milik Jina dari atas meja, membulak-baliknya sebentar sebelum kemudian tas itu direbut kembali oleh Jina. Mata Mina msnyipit saat satu pemikiran masuk dan itu sungguh mengganggu, "dari mana kalian berdua punya uang banyak untuk belanja semua ini?" "Bukan urusanmu," timpal Hana sinis. Mina menggeleng samar, menolak satu pemikiran yang terus meracuni otaknya. Untuk membuktikan semuanya, dia melangkah pergi dan berniat masuk ke kamar Hana. Di belakang Hana dan Jina saling pandang saat Mina masuk ke kamar, terperanjat keduanya langsung mengejar. "Mau ngapain?" Delik Hana sambil menghalangi Mina yang hendak masuk ke kamarnya. "Minggir!" Sentak Mina. "Enggak," Hana membalas. Jina ikut berdiri bersama Hana menghalangi Mina dari pintu kamar, memasang wajah galak untuk membuat Mina takut. Sayangnya ekspresi yang dia tunjukkan sama sekali tidak membuat Mina merasa terimtimidasi, malah yang ada Mina membalas dengan sama galaknya. "Yang sopan jadi orang! Kamu gak bisa seenaknya masuk ke kamar Hana sembarangan, tahu sopan santun gak sih?" Jina menyindir, berusaha keras untuk tidak membiarkan Mina masuk ke kamar Hana. Mina meniup udara lewat mulutnya, jengkel dengan dua mak lampir di depan. Mulanya Mina tersenyum sambil memejamkan mata, tampak tenang dan damai. Namun, begitu membuka mata, bahkan Hana dan Jina saja sampai tersentak kaget karena melihat betapa besar amarah yang terlihat pada sorot mata Mina. "Kalian benar-benar menjengkelkan," teriak Mina. "Akhhh, sakit! Lepaskan!" Jerit Hana saat rambutnya dijambak oleh Mina. "Durhaka kamu, lepaskan! Sakit!" Jina juga berteriak, kondenya tanpa berperasaan ditarik oleh Mina hingga rasanya kulit kepala akan terkelupas. bruk Sekali sentak, Mina melemparkan dua mak lampir di depannya hingga terjatuh dilantai. Baik Hana maupun Jina meringis sakit, begitu meraba rambut dan terdapat banyak helai yang rontok sontak keduanya histeris. "Mama, rambutku yang baru dicreambath rusak." Rengek Hana sambil memegang helaian rambutnya yang jatuh di tangan, dia hampir menangis darah melihat semua itu. Begitupun Jina, dia meratap dengan nelangsa saat kondenya sudah rusak membuat tatanan rambutnya tidak jauh berbeda dengan rambut hantu. Kusut dan jelek, tangan Mina benar-benar tampil merusaknya. Setelah tidak ada lagi yang menghalangi pintu, Mina memutar handle pintu dan mendorongnya masuk. Mina ikut melangkah masuk, tujuannya adalah lemari Hana. Saat membukanya, seketika pemandangan di depan membuat Mina geram. Mina menoleh ke belakang tepat saat Hana dan Jina ikut masuk, dia tidak dapat untuk menahan teriakannya. "Semua tas, baju, sepatu, dan perhiasan dalam lemari ini dari mana?" Mendapati keterdiaman Hana dan Jina, Mina makin menjadi. "DARI MANA UANG YANG KALIAN GUNAKAN UNTUK MEMBELI SEMUA ITU?" Hana dan Jina saling pandang, sorot mata keduanya menujukkan ketakutan. Namun, karena gengsi kalah oleh Mina, Jina mencoba berani dengan memaksakan mengangkat dagu hingga terlihat angkuh. "Itu uang kami, kamu gak perlu tahu." Dengan kuat Mina menggigit bibir bawahnya, berusaha menekan amarah yang hampir menguasai akal pikiran. Tak sengaja pandangan Mina tertuju pada tas tangan milik Hana dan Jina, tanpa kata dia merebut kedua tas itu dan mengeluarkan semua isinya hingga berceceran di atas lantai. "Kamu gila, Mina." Teriak Hana tak terima karena semua barang dalam tasnya berhamburan. Gerakan tangan Mina yang tengah mengeluarkan semua barang dalam dua tas terhenti begitu apa yang dirinya cari ketemu, Mina melemparkan dua tas di tangannya sebelum kemudian menunduk mengambilnya. Kartu ATM. Milik dirinya. Ternyata bukan hilang, melainkan diambil oleh Jina dan Hana. Sekarang Mina tahu jawaban dari pertanyaannya, tentang dari mana Hana dan Jina punya uang banyak untuk belanja tas-tas dan barang tak berguna lainnya. Itu semua sumbernya dari uang yang seharusnya digunakan untuk biaya pengiriman sang ayah, uang yang selama ini rutin Tara kirimkan. Sedangkan Hana dan Jina saling pandang, keduanya saling berpegangan karena takut Mina semakin mejgamuk setelah kelicikan yang mereka perbuat telah tebongkar. Saking marahnya, Mina sampai meneteskan air mata. Tanpa membereskan kekacauan yang dirinya buat, dia berjalan keluar dari kamar dan sengaja menubruk baju Hana yang menghalangi langkahnya. "Mau ke mana dia?" Tanya Jina panik setelah melihat Mina mengambil kartu ATM dari dalam tasnya. "Ayo, kita ikuti." Hudi yang tengah terlelap sampai terkejut saat mendengar pintu kamar terbuka dengan keras, laki-laki patuh baya yang hanya dapat terbaring lemah di atas ranjang menatap kaget Mina. "Ada apa?" Tanya Hudi khawatir. Nafas Mina memburu begitu melirik Hana dan Jina yang baru datang menyusul, lalu mengalihkan pandangan pada sang ayah dengan emosi. "Sekarang katakan! Ayah pilih aku atau dua mak lampir itu," tunjuk Mina pada Hana dan Jina yang berdiri mematung di ambang pintu. "Kalau Ayah memilih aku, aku akan bertahan di rumah ini mengurus Ayah. Namun, jika Ayah memilih dua mak lampir itu," Mina menggeleng pelan, ada air mata yang mengalir saat dia melanjutkan ucapannya yang berubah lirih di akhir kata. "Maka aku akan pergi dari rumah ini." "Mi-mina, apa yang kamu katakan?" Dengan susah payah Hudi bertanya, wajah sedihnya tampak rapuh. Mina mencoba abai pada wajah sedih sang ayah, tetap bertahan dengan apa yang ingin dirinya katakan. "Katakan Ayah! Siapa yang Ayah pilih?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN