Chapter 5. Ancaman Don Vittorio

1063 Kata
"Dia bukan pria biasa. Kau harus siap dengan kehidupannya yang penuh bahaya. Setiap hari selalu berurusan dengan nyawa, dan satu lagi ...." Don Vittorio menatap Alessia dengan tatapan yang semakin tajam. "Jangan pernah mencampuri bisnis gelap cucuku, apalagi sampai melaporkannya pada polisi." Alessia hanya bisa mengangguk sembari menampilkan senyum terbaiknya, meski jantungnya berdentum keras di dalam d**a. "Tidak, Tuan. Saya tidak berani. Saya ... saya akan patuh," jawabnya dengan suara bergetar. Leon yang menyadari ketakutan wanita itu segera menggenggam lembut tangannya yang ada di bawah meja, berusaha memberikan ketenangan. Alessia yang merasakan sentuhan lembut itu seketika mendongak, menatap Leon yang tengah menampilkan senyum manisnya. "Sebenarnya, apa motifmu menjalin hubungan dengan cucuku? Padahal jelas-jelas kau tahu kalau cucuku ini pria yang berbahaya. Apa karena uang, kekuasaan atau lainnya? Aku butuh jawaban jujur dari mulutmu." Perhatian Alessia kembali teralih ketika mendengar suara berat Don Vittorio. Tatapan penuh intimidasi yang ditunjukkan pria itu berhasil membuat Alessia tercekat. Sorot matanya memancarkan kewaspadaan yang nyata. Don Vittorio menganggap seolah-olah Alessia adalah salah satu dari musuh-musuhnya. Wanita itu terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Dia merasa setiap jawaban yang akan keluar dari bibirnya akan membawanya pada malapetaka. Leon hendak angkat suara membantu Alessia menjawab, tapi sang kakek segera menghentakkan keras tongkatnya ke lantai hingga menimbulkan suara nyaring yang menggema memenuhi ruangan. “Diam, Leonard! Aku ingin mendengar jawabannya.” "Kek, Alessia hanya gadis biasa. Please, jangan keterlaluan! Jangan anggap dia seolah dia musuhmu." "Lebih baik waspada sejak awal daripada menyesal dikemudian hari. Musuh kita ada dimana-mana, bisa jadi wanita ini dikirimkan mereka untuk menjebak kita." Ketegangan seketika memenuhi ruang makan pagi itu. Perdebatan antara Leonard dan kakeknya membuat suasana berubah mencekam. "Ini pertama kalinya kau memperkenalkan wanitamu ke hadapanku secara resmi seperti ini. Wajar jika aku merasa waspada. Aku penasaran wanita seperti apa yang berhasil memikat cucuku," sambung pria tua itu. "Aku melakukan ini karena serius dengan Alessia. Aku sudah bosan bermain-main." Alessia mengalihkan pandangan ke arah Leon dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia ingin memercayai ucapan itu, tetapi hatinya menyangkal keras. Mengingat, statusnya di sisi pria itu hanya sebatas sugar baby. "Apa panah Dewi Amor telah melesat tepat di jantungmu?" tanya Don Vittorio dengan senyum mengejek. "Pria yang tidak percaya dengan cinta, yang menganggap wanita hanya sebatas mainan ... bisa-bisanya mempunyai keinginan untuk menjalin hubungan serius, apalagi dengan wanita yang baru dikenal." Leon mengatupkan rahangnya. Dia tahu betul seperti apa sikap kakeknya yang keras, sinis, dan selalu menaruh curiga pada setiap orang baru yang masuk ke keluarganya. Akan tetapi, kali ini dia yakin jika Alessia bukanlah wanita seperti yang dituduhkan kakeknya. Dia hanya wanita biasanya yang sedang mengalami kesulitan, lalu mengambil jalan pintas dengan menjadi simpanannya. "Alessia bukan wanita seperti yang kakek tuduhkan. Dia hanya wanita lugu. Dia tidak akan membahayakan bisnis kita. Aku berani menjaminnya." Hentakan tongkat kayu yang ada di tangan Don Vittorio kembali terdengar, bahkan kali ini lebih keras dari sebelumnya. Tatapan menyiratkan kemarahan yang nyata. "Dengan apa kau bisa menjaminnya, Leonard? Apa dengan nyawamu?" Teriakan pria tua itu menggema memenuhi ruangan. "Jika memang nyawaku bisa membuat kakek percaya, aku bersedia memberikannya," sahut Leon cepat tak kalah berteriak. Alessia yang berada di tengah perselisihan itu pun, tidak bisa untuk tetap diam. Pada akhirnya, dia pun memberanikan diri bersuara, "Saya bukan kiriman siapa-siapa, Don Vittorio. Saya hanya gadis biasa yang tinggal di sebuah unit kecil di kawasan apartemen yang ada di Kota Roma." "Saya menjalin hubungan dengan Tuan Leon karena saya butuh uang untuk melunasi utang ayah saya di Caesar Club senilai €100.000. Jika Anda mengganggap saya mata-mata, Anda salah besar." Don Vittorio menatap lekat ke arah Alessia, lalu memerhatikan penampilannya dari atas hingga bawah, kemudian segaris senyum tipis tersemat di bibirnya. "Oh, kau calon wanita penghibur di Caesar Club rupanya? Ternyata, seleramu masih sama, Leon. w************n!" Don Vittorio menatap rendah cucunya. "Meskipun murahan, setidaknya dia bukan barang bekas. Aku sendiri yang membuka segelnya." Don Vittorio mengeraskan rahang mendengar jawaban menohok yang keluar dari bibir cucunya. Bongkahan kekesalan bercokol dalam dadanya. Tak ingin larut dalam kekesalan, pria tua itu memilih bangkit meninggalkan ruang makan mewah itu. “Baik, untuk saat ini aku percaya dengan jawabanmu. Aku tidak akan melarang cucuku berhubungan dengan siapa pun. Tapi jika kehadiranmu membawa masalah untuk cucuku atau bisnis gelapku, maka aku sendiri yang akan menyingkirkanmu dari dunia ini," ucap Don Vittorio ketika berhenti tepat di belakang kursi yang diduduki Alessia. Alessia menggenggam ujung dress di pangkuannya erat-erat. “Saya mengerti, Signore. Saya tidak akan membuat masalah.” Don Vittorio kembali menatapnya sepersekian detik, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke arah Leon. “Dia memang terlihat polos. Tapi jangan terkecoh dengan kepolosannya, Leon ... bisa jadi itu hanya tipu muslihat.” Leonard tak menjawab, tetapi tatapannya berubah semakin tajam. "Bawa dia ke pesta ulang tahun esok lusa. Perkenalkan dia sebagai wanitamu agar wanita dari keluarga Moretti itu berhenti mengejarmu," kata Don Vittorio sebelum benar-benar pergi "Dan kau, Alessia. Aku ingin melihat bagaimana kau menghadapi wanita itu. Kalau kau berhasil menjauhkan wanita bermarga Moretti itu dari cucuku, aku akan menganggapmu layak bersanding dengan cucuku. Kalau gagal, bersiaplah untuk menanggung akibatnya." Setelahnya, Don Vittorio pergi meninggalkan kediaman mewah itu diikuti seorang ajudannya. Alessia hanya bisa memandang punggung lebar pria tua itu dengan pikiran yang berkecamuk. Setiap ucapan yang keluar dari bibir pria itu seolah mengandung ancaman mematikan. *** "Selidiki latar belakang gadis itu. Aku ingin semua informasi tentangnya hari ini juga," titah Don Vittorio dengan nada tenang, tapi mengandung tekanan kuat. Bruno–ajudan setia sekaligus pengawal pribadinya, hanya mengangguk patuh sembari terus melangkah mengikuti sang Don tanpa banyak bicara. Begitu mereka tiba di teras, Bruno sigap membukakan pintu mobil untuk tuannya. Don Vittorio masuk ke dalam mobil dengan tenang, tanpa mengucap sepatah kata pun. Setelah memastikan sang tuan telah duduk nyaman, Bruno segera duduk di belakang kemudi, menyalakan mesin, dan melajukan mobil mewah berwarna hitam itu keluar dari pelataran. Beberapa menit berlalu dalam diam sebelum Bruno akhirnya memberanikan diri bertanya. "Don, apakah Anda berniat memanfaatkan gadis itu?" Don Vittorio menatap lurus ke depan, suaranya terdengar datar, tetapi penuh makna. "Dia cukup berani melangkah masuk ke keluargaku dan menikmati kemewahan yang tidak seharusnya jadi miliknya. Akan sangat disayangkan jika dia hanya jadi penumpang gratis." Bruno sesekali menatap sang Don dari kaca spion tengah, menunggu kelanjutan ucapannya. "Setidaknya ... dia harus berguna. Kalau tidak, habisi dia secara diam-diam. Lakukan semuanya dengan bersih. Jangan sampai Leon tahu." Bruno mengangguk pelan. “Saya mengerti.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN