Chapter 6. Wanita Masa Lalu.

1349 Kata
Dua hari kemudian .... Alessia menemani Leon ke sebuah pesta perayaan ulang tahun Don Vittorio Alvaro yang ke 70 tahun. Pesta mewah itu digelar di sebuah villa mewah milik keluarga Alvaro. Musik jazz mengalun lembut, menyatu dengan gelak tawa para tamu yang datang dari kalangan kelas atas. Alessia memasuki tempat acara dengan tangan berada dalam gandengan Leon, gaun hitam panjang membalut sempurna lekuk tubuhnya dengan elegan. Gaun itu terbuka pada bagian punggung dan dipenuhi aksen renda halus, membuat penampilannya terlihat memesona. Penampilannya yang anggun berhasil menghipnotis banyak pasangan mata dari kaum laki-laki ketika baru memasuki tempat acara. Meskipun begitu, Alessia tetap merasa asing di tengah keramaian. Tangannya yang sejak bertengger di lengan kekar Leon, tiba-tiba mengerat demi melampiaskan rasa gugup yang melanda. Sungguh, dia merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian banyak orang. Leon yang menyadari perubahan sikap Alessia pun segera berbisik di telinganya. "Tenangkan dirimu! Selama ada aku kau akan aman." "Aku benar-benar tidak nyaman, Tuan. Tatapan mereka seperti ingin menelanjangiku," jawab Alessia yang tak kalah berbisik. "Jangan jauh-jauh dariku! Segera ubah mimik wajahmu! Jangan tunjukkan wajah takutmu di depan mereka." Alessia segera menarik kedua sudut bibirnya secara paksa, meskipun dadanya berdegup keras. Akan tetapi, senyuman itu seketika menghilang saat seorang wanita tinggi semampai dengan gaun merah menyala menghampiri keduanya. Wajahnya cantik menawan dipadupadankan dengan riasan bold. Bibirnya yang merah merona tampak menyunggingkan senyum penuh ejekan pada wanita yang ada di samping Leon. "Hai, Leon ... lama gak jumpa, rupanya kebiasaanmu masih sama. Suka gonta-ganti boneka," ucapnya dengan nada mencibir. "Semua yang kulakukan, tidak ada urusannya denganmu, Valery," sahut Leon dengan geraman tertahan. Alessia menatap lekat wanita itu. Mendengar nama yang disebut Leon, dia bisa menebak jika wanita itu adalah Valeria Moretti. Putri tunggal keluarga Moretti yang merupakan rival keluarga Alvaro dalam dunia bisnis, yang pernah menjalin hubungan singkat dengan Leon. Sebelum akhirnya, pria itu meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Setidaknya, itulah secuil informasi yang dia dapat dari Rosa ketika menanyakan tentang wanita masa lalu Leonard yang bermarga Moretti. Rosa juga mewanti-wanti dirinya untuk selalu berhati-hati menghadapi wanita itu. Pasalnya, Valery tergolong wanita yang ambisius, arogan, dan tak segan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi jalannya. Dia bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya, termasuk mencelakai hingga menghilangkan nyawa seseorang. Valery menatap Alessia dari ujung kepala sampai kaki, seperti sedang menilai barang murah dari toko diskon. "Siapa dia, Leon? Kenapa dia menggandeng tanganmu dengan sangat mesra,” tanyanya disertai kecemburuan yang tergambar jelas di wajahnya. Alessia hendak menjawab, tetapi urung ketika Valery tiba-tiba melepas paksa tautan tangannya pada lengan Leon. "Singkirkan tangan kotormu dari tubuh Leon! Jalang sepertimu tidak pantas bersikap mesra seperti itu." Tatapan mata Alessia berubah tajam mendengar hinaan yang keluar dari bibir wanita itu. Detik itu juga, dia merasakan darahnya mulai mendidih. Namun, di tengah amarah yang mulai menguasai diri, dia berusaha untuk bersikap tenang dan berpikir jernih memikirkan cara untuk membalas hinaan itu. "Kalau aku seorang jalang ... lantas sebutan apa yang pantas untuk dirimu sendiri, Nona? Putri keluarga terhormat yang mengemis cinta pada pria? Setidaknya, Tuan Leon lebih sudi dekat denganku yang seorang jalang daripada wanita terhormat sepertimu." Alessia berucap dengan penuh ketenangan disertai segaris senyum penuh ejekan. Valery menatap marah ke arah Alessia. Ucapan wanita itu berhasil melukai harga dirinya. Tangan bersiap melayangkan tamparan ke pipi Alessia. Namun, tindakannya itu berhasil dicegah oleh Leon. "Berani kau menyentuhnya, kau akan berurusan denganku, Valery," katanya disertai tatapan tajam, kemudian menghempaskan kasar tangan wanita itu. Valery menggeleng pelan, tidak percaya dengan sikap yang ditunjukkan Leon. "Kau membelanya, Le? Kau mempermalukan aku di depan semua orang hanya demi wanita rendahan ini," ucapnya tidak terima seraya menunjuk ke arah Alessia. "Jaga bicaramu, Nona. Aku bukan jalang atau wanita rendahan seperti yang kau katakan." Alessia menyela tegas pembicaraan mereka. Dia melangkah mendekati Leon, lalu meraih lengannya dan menggenggamnya erat. "Perkenalkan, saya Alessia Giovanni kekasih Leonard Alvaro." Beberapa tamu yang tadinya sengaja mengabaikan pertengkaran kecil itu seketika menoleh mendengar pengakuan Alessia. Suasana seakan hening sesaat. Valery tampak menyipitkan matanya, seolah tak memercayai pengakuan Alessia. “Kekasih?” Wanita itu tertawa sumbang. “Kalau kau sedang tidur, lekaslah bangun! Mimpimu ini terlalu tinggi. Gelar kekasih Leonard Alvaro tidak pantas disandang wanita rendahan sepertimu.” “Pantas atau tidaknya, aku yang menentukan. Bukan kau, Valery." Leon bersuara lantang yang berhasil mengalihkan perhatian semua tamu yang hadir. Tanpa segan, Leon menarik pinggang ramping Alessia di hadapan semua orang untuk mengikis jarak. "Dia memang kekasihku. Ralat! Bukan kekasih tapi calon istriku. Tidak ada yang boleh memperlakukannya dengan tidak hormat, termasuk kau, Valery.” Alessia tersentak mendengar pengakuan Leon. Dia mengalihkan tatapan pada pria di sampingnya, berusaha mencari jejak kebohongan atau pun sandiwara pada raut wajahnya. Tapi yang dia temukan hanyalah ketegasan, tanpa adanya keraguan sama sekali. Valery membeku. Tatapan mata yang semula penuh percaya diri, dalam sekejap berubah menjadi kilatan kebencian yang tertahan. “Menarik. Sangat menarik, seorang Leonard Alvaro yang tidak bisa menjalin hubungan dengan satu wanita. Malam ini memberikan pengumuman resmi jika dia telah memiliki calon istri.” Wanita itu tersenyum miring menatap pria di depannya. "Para tamu undangan yang hadir, kalian menjadi saksi atas pengakuan Leon. Kita lihat saja! Berapa lama hubungan mereka bisa bertahan." Valery melangkah mendekat, mengikis jarak pada Leon, membisikkan kata-kata yang mampu didengar jelas oleh Alessia. "Kalau suatu saat kau bosan, buang dia dan datanglah padaku! Aku akan menerimamu dengan tangan terbuka," ucapnya sambil membelai lembut pipi pria itu. Leon tidak menjawab, justru memalingkan wajah menghindari sentuhan itu. Dia hanya menatap Valery datar. “Kalau kau sudah selesai membuat keributan, silakan pergi!" ucap Leon dingin. “Aku bisa dengan mudah menyingkirkan biang onar sepertimu dari tempat ini." Valery mengeraskan rahang melihat Leon yang secara terang-terangan menolak dirinya. Wanita itu melangkah pergi, melewati Alessia, bahkan tidak segan untuk menubruk pundaknya, sambil berbisik, “Jangan mengira kau sudah menang? Aku punya seribu cara untuk merebut Leon kembali, termasuk melenyapkanmu." Tanpa menunggu jawaban, dia segera berjalan pergi dengan langkah gemulai. Tapi sebelum benar-benar menjauh, dia kembali menoleh dan menatap Alessia penuh ancaman. Alessia mematung di tempat dengan jantung berdegup kencang. Tanpa sadar, dia mengeratkan genggaman pada lengan Leon, yang berhasil membuat pria itu menoleh. "Ada apa? Kenapa wajahmu cemas seperti itu?" tanya Leon yang menyadari perubahan raut wajah Alessia. "Sepertinya, aku salah mengambil keputusan, Tuan. Tidak seharusnya aku mengaku sebagai kekasihmu di depannya," ucapnya lirih, "Sekarang, dia ... dia akan melenyapkanku demi dirimu." "Tenanglah! Selama ada aku, tidak ada yang bisa menyentuhmu, termasuk wanita gila itu. Asal kau patuh pada aturanku, kau akan aman." Alessia mengangguk pelan. "Aku akan patuh, Tuan. Apapun yang terjadi ... aku akan mematuhi semua aturanmu." "Good, Baby. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Kita temui kakek, dia pasti sudah melihat aksimu dari tempatnya." Alessia menyunggingkan senyum paksa untuk menutupi ketakutan yang masih bersarang dalam d**a. Dia mengikuti langkah Leon yang akan membawanya ke tempat Don Vittorio. *** Sementara di tempat lain yang berada tak jauh dari Leon dan Alessia berdiri, Valery mengepalkan tangan kuat disertai d**a yang naik turun menahan amarah yang bergejolak. Sorot matanya tajam menatap ke arah Alessia yang diperlukan dengan mesra oleh Leon. Sejatinya, dia bukanlah sosok yang tenang ketika dikuasai amarah. Biasanya, dia akan meluap kemarahannya dengan membanting barang atau menyakiti orang ketika ada yang membuatnya kesal. Namun, kali ini dia berusaha keras menahan diri untuk tetap tenang dan menjaga sikap. Dia sadar ini bukan tempat yang tepat untuk melampiaskan kekesalan. Villa ini dipenuhi orang-orang penting dan kamera pengawas. Salah bergerak saja, bukan hanya nama baiknya, melainkan reputasi keluarga Moretti juga akan tercoreng, dan yang lebih penting lagi, pengawal keluarga Alvaro bisa dengan mudah menyeretnya keluar jika dia nekat membuat keributan. "Aku harap setelah malam ini kau sadar, Valery. Leon tidak lagi menginginkanmu." Suara berat pria paruh baya berhasil mengalihkan Valery. "Diamlah, Dad! Jika saja dulu daddy bisa membedakan urusan pribadi dan bisnis. Leon tidak akan bersikap sedingin ini padaku." Valery menatap ayahnya dengan tajam. Sorot matanya memancarkan kemarahan yang nyata. Benardino Moretti hanya memiringkan senyumnya menanggapi kemarahan putri semata wayangnya. Dia dengan santainya menenggak wine yang ada di tangannya. "Jangan terkecoh dengan urusan asmara, Valery! Asmara terkadang membawa kita pada gerbang kehancuran. Yang daddy lakukan saat itu hanya untuk menyelamatkan keluarga kita."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN