"Stop, Matteo! Aku mau ke toilet. Kenapa kau terus membuntutiku? Kau mau babak belur diserang para gadis karena masuk toilet wanita?" Alessia berteriak seraya berkacak pinggang saat tak bisa lagi membendung rasa kesal.
Matanya menatap tajam pria bertubuh tegap yang sejak pagi tadi terus membuntutinya. Dialah Matteo–seorang pengawal yang ditugaskan Leon untuk mengikutinya ke kampus. Bukan, tidak hanya ke kampus, tapi kemana pun dia pergi, bahkan di rumah sekali pun selama Leon tidak bersamanya. Maka Matteolah sosok pengganti Leon yang terus mengawasinya.
"Baik, Nona ... saya akan tunggu di sini," jawab pria itu datar seraya berhenti di depan pintu toilet.
Banyak pasang mata yang memerhatikan keberadaannya, ada yang menatap aneh, ada pula yang menatapnya penuh ketertarikan karena parasnya yang tampan disertai tubuh yang tegap. Akan tetapi, Matteo seolah tidak terpengaruh dengan semua tatapan itu. Baginya, menjalankan tugas dari sang tuan adalah hal yang utama.
Setelah memastikan Matteo tak lagi membuntutinya, Alessia segera memasuki pintu toilet wanita. Untuk sejenak, dia merasa lega karena bebas dari pengawasan, meski hanya beberapa menit.
Wanita itu terduduk di sebuah closed yang tertutup. Kedua tangannya tertangkup menutupi wajah disertai helaan napas panjang yang keluar dari bibirnya.
Semua utangnya di kasino telah lunas, bahkan, pihak kasino tak lagi mengusiknya. Seharusnya, dia merasa nyaman karena tak lagi mendapat teror.
Tidak hanya utang yang telah lunas, kini dia juga dilimpahi begitu banyak kemewahan dari Leon. Gaun-gaun mahal, sepatu dari desainer ternama, ponsel keluaran terbaru, credit card unlimited, hingga supir pribadi yang siap sedia mengantarnya ke mana pun. Semua telah dimilikinya. Namun, tidak ada satu pun dari kemewahan itu yang membuatnya bahagia, yang dia rasakan justru sebaliknya. Dia merasa terkekang karena kebebasannya terenggut.
Hidupnya yang sekarang tak lagi sama seperti dulu. Leon membatasi ruang geraknya. Kini, Alessia seperti burung dalam sangkar emas. Indah dari luar, tapi terkurung di dalam.
Sejak malam pesta itu, Leon menjadi semakin posesif, bahkan berulang kali meng-klaim jika kendali hidupnya telah dimiliki pria itu. Kini, pria itu menugaskan Matteo–salah satu orang kepercayaannya untuk membuntutinya ke mana pun dia pergi, meski ke kampus sekali pun. Bahkan untuk masalah sepele seperti tugas kuliah, Leon selalu ikut campur berusaha memastikan tidak ada lawan jenis yang menjadi teman kelompoknya.
Suara dering ponsel yang ada di tas kecil milik berhasil mengejutkan lamunannya. Alessia segera meraih ponsel tersebut, dilihatnya nama Matteo menghiasi layar.
Lagi-lagi, dia merotasi bola matanya karena merasa jengah. Ingin sekali, dia me-reject panggilan itu, tapi jika sampai itu terjadi. Matteo pasti akan melapor pada Leon kalau dia sengaja mematikan panggilan darinya, dan seperti biasa ... Leon akan mengoceh panjang lebar hanya untuk menceramahinya karena sengaja mematikan telepon dari Matteo.
Akhirnya, dengan penuh kemalasan dia segera mengangkat panggilan tersebut.
"Hmmm."
"Anda di mana, Nona? Sudah lebih dari 10 menit saya menunggu, tapi Anda tak kunjung keluar dari toilet."
"Berisik."
"Nona, Anda jangan main-main! Atau saya–"
"Akan laporkan ke Tuan Leon, gitu?" Alessia segera menyela ketus, "Lapor sana! Lapor! Perkara lama di toilet jadi masalah. Penting aku gak kabur, kamu masih aman."
Hening sejenak, sampai kemudian Matteo kembali bersuara, "20 menit lagi kelas akan dimulai. Segera keluar kalau tidak ingin mendapat hukuman dari dosen Anda."
Alessia hanya mendengus kasar. Seandainya, setelah ini tidak ada kelas dari dosen killer mungkin dia akan mengurung diri di dalam toilet lebih lama lagi untuk merasakan sejenak kebebasannya tanpa pengawasan Matteo.
"Iya, berisik!"
Setelahnya, Alessia mematikan panggilan sepihak.
***
Sore harinya, setelah jam kuliah usai, Alessia mengajak Elena mampir ke sebuah kafe yang ada di dekat kampus. Dia butuh teman bicara untuk mengutarakan semua unek-uneknya, sebelum akal sehatnya benar-benar lenyap karena keposesifan Leon.
“Aku merasa seperti bukan diriku sendiri, El,” kata Alessia pelan membuka pembicaraan, “Semua orang mengatakan aku beruntung karena berhasil menaklukkan Leonard Alvaro. Tapi, aku justru merasa ini sebuah kesialan. Aku merasa seperti tahanan.”
Elena yang sejak tadi mencari perhatian pada Matteo seketika menoleh, menatap lekat sahabatnya karena merasa terkejut mendengar pernyataan terakhir Alessia.
"Ale, kamu hanya belum terbiasa," ucapnya singkat sebelum akhirnya kembali menggoda Matteo yang berdiri tak jauh di belakang Alessia.
“El, sikapnya itu tidak normal. Setiap detik aku diawasi seolah aku ini musuhnya. Lihat! dia bahkan meminta pengawal untuk membuntutiku ke mana pun, bahkan saat ke toilet sekali pun. Aku gak nyaman, Ele ...."
Elena menanggapi keluh kesah sahabatnya dengan seutas senyum kecil. "Alessia Sayang, banyak wanita yang rela melakukan apapun demi berada di posisimu. Hidup di rumah mewah, punya semua yang kau inginkan. Tapi kau malah terus mengeluh seperti ini."
Wanita berambut pirang itu menggeleng disertai tatapan tak percaya. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya.
“Aku mendapatkan semua kemewahan, tapi dia mengatur hidupku seolah aku ini properti miliknya,” sela Alessia dengan nada getir. "Kadang aku memiliki keinginan untuk kabur."
Elena seketika membelalakkan matanya, kemudian menoleh panik ke arah Matteo yang berdiri tak jauh di belakang Alessia. Dia takut Matteo mendengar perkataan terakhir Alessia dan melaporkannya pada Leonard.
Namun, dilihat dari gelagat Matteo yang masih tampak tenang sepertinya pria itu tidak mendengar apapun pembicaraan mereka.
"Ale, jangan pernah berpikiran seperti itu! Kalau sampai Matteo mendengarnya, urusan bisa runyam."
Akan tetapi, Alessia seolah menghiraukan peringatan itu. Dia tampak acuh sambil menyesap coffe latte pesanannya.
"Akan lebih baik kalau Matteo mendengarnya."
Elena menghela napas panjang melihat sahabatnya yang keras kepala.
“Ale, ambil sisi positifnya. Mungkin ini bentuk perlindungan Tuan Leon padamu. Kau tau sendiri 'kan ... seperti apa dunia yang dijalani Tuan Leon. Lelaki seperti Tuan Leon bukan tipikal pria romantis. Tapi, dia langsung menunjukkan perasaannya dengan sebuah tindakan."
Wanita itu menggenggam lembut jemari tangan sahabatnya yang ada di atas meja. "Tuan Leon tidak pernah berlaku seperti ini pada wanita-wanita sebelumnya. Dia menganggapmu berharga dalam hidupnya, bahkan terang-terangan mengakuimu sebagai wanitanya di depan umum. Kamu sangat beruntung, Ale ...."
Alessia terbungkam mendengar perkataan sahabatnya. Lagi-lagi dia berhasil dibuat tak berdaya dengan logika umum. Di mata semua orang, dia terlihat sangat beruntung karena mendapatkan segalanya. Tapi apakah benar dia seberuntung itu?
***
Hari berikutnya ....
"Jav, stop, please ... jangan ikuti aku dan jangan pernah menemuiku, kalau kamu gak mau terlibat masalah." Alessia menghentikan pergerakan teman lelakinya yang sejak tadi membuntutinya untuk mendiskusikan tugas mereka. Tugas yang mereka terima sebelum Alessia terlibat perjanjian dengan Leon dua minggu sebelumnya.
Wanita itu tampak resah dengan pandangan sesekali mengarah pada Matteo yang tengah menatap tajam ke arahnya.
Javier menatap aneh ke arah Alessia sekaligus merasa tidak percaya atas perubahan sikapnya. Biasanya, Alessia akan dengan senang hati membahas tugas atau pelajaran dengannya.
"Apa maksudmu melarangku untuk menemuimu, Ale. Aku menemuimu untuk tugas kelompok, bukan kencan!”
Alessia menghela napas panjang, kemudian menatap teman prianya itu. Jemarinya meremas tali tas selempang yang menggantung di bahunya.
“Aku terpaksa melakukan ini, Jav. Aku ... aku sudah punya kekasih, dan dia sangat pencemburu. Aku hanya tidak ingin membuat masalah baru untukmu."
“Masalah?” tanya Javier dengan tatapan tak percaya. “Sejak kapan membahas presentasi menjadi sebuah masalah? Lagian kita duduk berdua di tempat ramai, bukan tempat sepi atau pun gelap. Gelagat kita juga bukan seperti orang pacaran. Keterlaluan sekali kekasihmu itu, Ale ...."
Javier memerhatikan gelagat Alessia yang sejak beberapa minggu terakhir berubah drastis. Wanita itu terlihat lebih pendiam, enggan berbicara lama dengan lawan jenis, dan selalu menghindari setiap ada teman pria yang menyapa. Padahal sebelumnya Alessia tergolong wanita yang ramah dan ceria, juga suka membaur pada semua teman, entah itu teman pria ataupun wanita.
Alessia hanya menghela nafas panjang. Rasanya tidak mungkin menjelaskan detail ceritanya pada Javier. Yang jelas, sekarang dia harus menghindar dari Javier karena Matteo sejak tadi terus menatap tajam ke arahnya.
Dia tidak ingin Javier bernasib sama seperti para teman pria sebelumnya yang berakhir babak belur hanya karena menyapa dan mendekatinya.
"Terserah, kamu mau beranggapan seperti apa. Yang jelas ... mulai sekarang, stop dekati aku meski sekedar menyapa."
Tanpa menunggu tanggapan, Alessia bergegas pergi meninggalkan Javier yang mematung di tempatnya. Kepergian wanita itu segera diikuti oleh Matteo yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan.
Kedua mata Javier tampak menyipit memerhatikan pria yang sedang berjalan di belakang Alessia. Dia seperti mengenal pria itu, bahkan pernah melihatnya.
"Itu 'kan tangan kanan keluarga Alvaro. Ada hubungan apa Alessia dan keluarga Alvaro? Jangan-jangan, kekasih yang dimaksud Alessia adalah Leonard Alvaro."
Kedua mata pria itu membelalak sempurna ketika menyadari sesuatu. Satu tangannya terkepal erat saat menyadari kenyataan itu.
Dia tahu betul, orang seperti apa Leonard Alvaro yang suka berganti-ganti pasangan setiap bulannya, bahkan tidak segan menyakiti para wanita simpanannya dan akan membuangnya ketika sudah bosan. Sungguh, dia tidak rela jika Alessia sampai diperlakukan seperti itu.
Terlebih kecemasan yang tergambar jelas di wajah Alessia tadi, semakin menguatkan dugaannya.
"Tidak salah lagi, kamu telah masuk perangkap mereka, Ale. Aku gak akan biarkan pria kejam itu menyakitimu. Tunggu, aku! Aku akan menyelamatkanmu."