. Kedatangan Faritzal di ruangan besar yang terang benderang itu disambut dengan penuh hormat oleh seluruh jajaran tinggi militernya, kecuali Eurfo yang masih dalam proses pengobatan. Mereka duduk setelah Faritzal duduk di kursinya, di kepala meja panjang itu. Semua orang berwajah tegang siang ini. Bahkan dengan siraman cahaya matahari yang membuat ruangan ini begitu terang, ekspresi mereka semua masih tetap suram. “Berita pasti sudah tersebar,” ucap Faritzal mengawali dengan suara rendah. Dia menatap mereka satu per satu, dengan serius. Tak ada yang membantah apalagi berani menyela. Faritzal menarik napas lagi sebelum melanjutkan. “Status keamanan kita naik menjadi siaga. Aku mengumpulkan kalian semuanya di sini karena situasi kita sedang darurat. Secepatnya aku ingin m

