Angkasa tiba di gerbang luar istana ketika malam telah begitu larut. Hujan telah reda, kuyub pakaiannya. Sang kuda mengibas-kibaskan rambutnya hingga percikan air mengganggu wajah Angkasa. Jalanan protokol utama yang menuju lurus ke gerbang istana, sangat lengang. Di balik kelengangan itu pun, Angkasa tidak merasakan adanya pengawasan sedikit pun. Tidak satupun mata-mata yang terpantau dalam radar kewaspadaannya. Angkasa memutuskan berhenti di tempat itu sejenak. Dia mundur lagi, beberapa meter untuk mendongar ke atas dinding benteng itu. Penjagaan juga sangat lengang di atas maupun di bawah. Satu-satunya pintu menuju istana itu tertutup rapat, seperti biasanya. Angkasa membanting tali kemudi ke kanan, menyusuri sisi timur dinding tinggi itu kemudian memacu kudanya cepat. Dia mengambil a

