Keesokan harinya di sekolah, hubungan mereka mulai berubah sedikit demi sedikit. Levi tidak lagi terlalu menghindar. Ia bahkan duduk bersama Destia saat istirahat, meski masih diam. Teman-teman mulai menggoda mereka, tapi Levi hanya menatap mereka dengan tatapan dingin khasnya.
Destia penasaran dengan Levi. Ia mulai mendengar cerita—bahwa Levi pernah kehilangan kakaknya dalam kecelakaan saat hujan deras, bahwa sejak itu ia berubah. Tidak ada yang tahu pasti, karena Levi tak pernah membicarakannya.
Namun, semakin banyak ia mendengar, semakin besar keinginannya untuk memahami Levi. Baginya, ada sesuatu dalam sorot mata pemuda itu—kesedihan yang tidak pernah selesai, luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Suatu sore, di perpustakaan, Destia memberanikan diri bertanya.
“Levi… soal cerpen kamu itu… emang kamu pernah kehilangan seseorang?”
Levi mendadak menutup bukunya dan berdiri.
“Jangan ikut campur, Destia. Kamu nggak tahu apa-apa.”
Suasana jadi kaku. Destia merasa bersalah, tapi juga bingung. Ia hanya ingin mengenalnya lebih dalam. Ia menatap punggung Levi yang perlahan menjauh, merasa ada tembok tinggi yang belum bisa ia tembus.
Malam harinya, saat ia hendak tidur, sebuah pesan masuk:
> “Maaf. Aku cuma belum siap ngomong soal itu.”
Destia menatap layar ponselnya lama. Di luar, hujan kembali turun.
Ia membuka jendela, menatap langit yang menitikkan rintik perlahan. Bau tanah basah menyelinap masuk bersama angin yang sejuk. Kenangan-kenangan akan momen-momen singkat bersama Levi berkelebat di pikirannya—cara Levi memalingkan wajah saat malu, caranya diam tapi hadir, caranya melindungi perasaan orang lain meski dengan kasar.
"Aku akan menunggu, Levi. Sampai kamu siap." katanya dalam hati.
Hatinya terasa hangat meski udara dingin menyusup ke dalam kamar. Ia tahu, perasaan ini bukan sekadar rasa ingin tahu. Mungkin, ia benar-benar peduli.