Sudah seminggu sejak Levi mengirim pesan maaf itu. Sejak hari itu, mereka mulai saling menyapa—singkat, canggung, tapi cukup untuk membuat Destia terus tersenyum sepulang sekolah. Hanya sebaris “Hai” atau “Udah belajar belum?” yang terlontar, namun bagi Destia, itu sudah seperti pintu kecil yang mulai terbuka perlahan.
Di kelas, Levi tetap pendiam, tapi kini sesekali ia mengangguk saat tatapan mereka bertemu. Meski hanya sedetik, Destia merasa ada sesuatu yang berubah. Ia tahu, tembok yang memisahkan mereka belum runtuh, tapi setidaknya sudah mulai retak.
Namun ada hal-hal yang tidak bisa ia katakan langsung. Kata-kata yang terlalu rumit untuk diucapkan, terlalu rapuh untuk didengar. Maka Destia mulai menulis surat.
Bukan untuk dikirim. Hanya untuk dirinya sendiri. Sebuah cara untuk mengurai perasaan yang tumbuh diam-diam dalam diamnya Levi. Perasaan yang tak ia pahami sepenuhnya, tapi semakin hari semakin sulit diabaikan.
> "Hai, Levi... kamu tahu gak? Kadang aku pengin marah karena kamu terlalu diam. Tapi anehnya, aku malah makin penasaran. Kamu kayak hujan. Dingin, tapi ada yang bikin tenang. Mungkin aku belum kenal kamu sepenuhnya... tapi aku pengin. Boleh, ya?"
Ia lipat surat itu dan menyelipkannya di buku harian. Entah kenapa, menulis itu membuat hatinya terasa lebih ringan. Seolah kata-kata yang tak bisa ia ucapkan kini menemukan tempatnya.
Sore itu, ia duduk di dekat jendela, memperhatikan bayangan pohon yang bergoyang diterpa angin. Dedaunan yang mulai gugur melayang pelan di halaman sekolah. Hatinya terasa damai, meski ada bagian yang tetap penuh tanya.
Destia tahu, tidak semua perasaan harus segera terjawab. Beberapa cukup dirasakan, perlahan, sambil menunggu waktu yang tepat untuk diungkapkan.
Di luar, langit mulai mendung lagi. Dan entah kenapa, ia menantikan hujan.