Di kelas, Destia mulai dekat dengan banyak teman. Salah satunya Dimas, cowok humoris yang selalu berhasil membuat semua orang tertawa. Termasuk Destia. Kehadiran Dimas membuat suasana kelas jadi lebih hidup. Ia pandai mencairkan suasana, tahu kapan harus serius, dan kapan melempar candaan receh yang justru membuat orang tertawa lebih keras.
Namun Dimas mulai berubah sejak melihat kedekatannya dengan Levi. Tatapannya jadi berbeda. Tidak seceria biasanya. Ada sesuatu di matanya—ketidaksukaan yang sulit disembunyikan. Ia lebih sering diam saat Levi lewat, dan kadang, menatap Levi dengan sinis, seolah menilai tanpa suara.
Suatu hari, saat jam istirahat, Dimas nyeletuk di tengah obrolan teman-teman, “Eh, Des, kamu yakin dia itu nggak cuma pura-pura baik? Soalnya Levi tuh nggak pernah deket sama siapa-siapa sebelumnya.”
Tawa kecil yang tadi mengisi ruang kelas tiba-tiba hilang. Suasana langsung canggung.
Levi menoleh ke arah Dimas. Mata mereka saling bertaut—dingin bertemu panas. Tapi Levi tak membalas. Ia hanya berdiri dan pergi, langkahnya tenang, tapi jelas ada sesuatu yang mengganggunya.
Destia mengejarnya keluar kelas. Hatinya berdegup tak karuan. Ia tak suka dengan kata-kata Dimas, dan lebih tak suka lagi melihat raut wajah Levi yang terluka, meski hanya terlihat sekilas.
“Maaf, Levi. Dimas cuma...” ucapnya tergesa, mencoba menahan Levi yang terus berjalan.
“Aku tahu,” potong Levi. “Aku udah biasa dianggap aneh.”
“Tapi aku nggak pernah anggap kamu aneh,” kata Destia cepat. Nafasnya sedikit terengah karena mengejar.
Levi menatapnya lama, tatapan yang sulit diterjemahkan. Kemudian ia mengangguk pelan, seolah mengerti sesuatu yang tidak ia ucapkan.
“Kamu beda.”
Ucapan itu sederhana, tapi bagi Destia, cukup untuk membuat dadanya hangat meski angin siang itu terasa dingin. Mereka berdiri dalam diam, tapi kali ini bukan diam yang canggung. Ada pemahaman di antara keduanya—halus, tapi nyata.