Berani

1249 Kata
Safira sudah berusaha dengan giat, dia mencari pekerjaan ke sana dan ke mari. Semua perlengkapan untuk melamar pun sudah sangat lengkap. Namun, nasib baik belum berpihak padanya. Dia masih harus pergi dari perusahaan satu ke perusahaan yang lain. Sampai akhirnya tidak sengaja bertemu dengan suami Lana di sebuah lift. "Safira!" Ingin sekali dia menghindar. Namun, sayangnya tidak bisa. Karena dia sedang berada di sebuah lift yang sudah naik. "I-ya." Dia malu, entah kenapa. Rasa seperti itu masih sangat kuat dirasakannya. "Sedang apa di sini?" tanyanya dengan ekpresi menelisik. Safira diam, ingin sekali berbohong. Namun, takut ketahuan. "Hey! Malah bengong." "Aku mau me-" Ting Suara pintu lift terbuka menyelematkannya. Dia segera keluar dari lift tersebut, berharap lelaki itu tidak mengikutinya. Sayang sekali, harapannya musnah. Karena ternyata dia mengikuti Safira. "Kamu mau melamar pekerjaan?" tebaknya. Karena memang sedari awal, dia sudah curiga. Jika perempuan ini mau melamar kerja. Dengan pakaian yang khas para pelamar. "Iya," jawabnya sembari nunduk, tapi terus berjalan ke tempat yang sudah ditentukan saat bertanya pada resepsionis. "Mau aku bantu?" Tawaran yang sangat menarik, sampai dia memberhentikan langkahnya yang cepat itu. "Bantu apa?" Siapa yang tidak senang, mendapatkan bantuan? Apalagi di saat sedang kesusahan. Meskipun, dia selalu menolak belas kasiahan kakaknya yang ingin menitipkannya pada teman yang memiliki perusahaan. Bukan kenapa-kenapa, dia tidak memiliki pengalaman. Takut mengecewakan, ataupun tidak kuat bekerja lama di sana. Nanti malah mencoreng nama baik sang kakak. "Perusahaan ini, kebetulan managernya temanku. Mau Aku bantu?" Mengingat dia yang sudah sangat lelah mencari kerja hampir semingguan ini, Safira pun mengangguk cepat. "Ya sudah, mari kuantar." "No! Maksudnya mengangguk tanda mengerti. Aku gak mau dibantuin. Biar dapat sendiri aja. Kalau keterima syukur, gak keterima cari lagi yang lain." "Serius? Cari kerja susah loh." Lelaki itu kaget, ada yang menolak bantuan di kala sedang kesusahan. Dia cukup mengerti, kenapa Safira sampai susah payah cari kerja. Dia pasti kebingugan dengan penghasilannya. Sebab, Haidar pergi begitu saja.. "Memang susah, tapi gak mau nyusahin orang." Prok prok Pria itu tepuk tangan. "Kamu hebat, tidak perlu gengsi menerima bantuan. Anggap saja, Saya sedang berbaik hati." "Beneran gak apa-apa. Aku bisa sendiri. Masih banyak perusahaan di kota ini." "Ck, keras kepala sekali." "Sudah, sana kembali bekerja. Aku mau masuk ruang HRD dulu." Perempuan itu segera pergi meninggalkan pria tersebut. Dia malas jika harus ditanya-tanya. Apalagi masalah Lana dan Haidar. Suami Lana, memperhatikan tingkah menggemaskan dari Safira. Dia merasa wanita itu sangat unik. Sayang sekali nasibnya tidak seberuntung itu. Safira masuk setelah mengetuk pintu, dia pun dipersilahkan duduk oleh pria yang memperkenalkan dirinya sebagai HRD di kantor ini. "Jadi, kesibukan Kamu apa selama ini? Jika melihat dari cv yang Saya baca, Kamu belum pernah bekerja sama sekali." Safira sudah tidak kaget, ketika ditanya seperti ini. Menurut beberapa sumber yang dibacanya. Cara untuk menutupi dengan nada bicara yang formal dan alasan logis namun berkelas. "Setelah Saya memutuskan untuk menikah, sebagai seorang istri sudah sepantasnya untuk mengabdi. Namun, seiring berjalannya waktu. Perempuan memiliki hak untuk mendapatkan kesetaraan. Seperti bekerja, meskipun sudah memiliki suami. Saya memang tidak mempunyai pengalaman, tapi dengan niat yang tulus beserta usaha yang dilakukan. Saya yakin, pasti bisa." HRD itu tersenyum, mendengar ucapan Safira. "Lalu, bagaimana jika Saya tidak percaya Anda bisa melakukannya, sementara pekerja profesional saja bisa melakukan banyak kesalahan." Tangannya sudah mulai gemetar, tapi dia tahan. "Saya tidak perlu berjanji, karena hal yang patut diperlihatkan bukanlah omong kosong, melainkan bukti." Keberanian yang cukup luar biasa, untuk dia bisa menjawab dengan lugas. "Saya percaya Kamu bisa. Namun, perusahaan ini bukan milik Saya. Jadi, kita tetap harus mengikuti standar profesional tenaga kerja yang dibutuhkan." Akhir-akhir ini dia sudah terbiasa bahkan hafal dengan kata-kata penolakan berbasis halus seperti itu. Namun, karena sudah janji pada diri sendiri. Dia tidak akan pernah mengeluh. "Baik Pak, terima kasih." "Tunggu dulu, Saya memiliki penawaran lain untukmu. Jika memang berkenan, Kamu bisa tetap bekerja di perusahaan ini. Namun maaf sekali, jika tidak sesuai harapan." "Apa itu Pak?" "Menjadi cleaning servis." Safira kaget, tapi dia tidak banyak bereaksi. Selain berkedip beberapa kali. Mencoba mencerna dengan baik. "Bagaimana? Kamu mau atau tidak. Saya tidak memaksa. Melihat kegigihan Kamu, Saya sangat respect." Dalam otaknya. Ini seperti sebuah kesempatan. Namun bagaimana dengan tanggapan keluarganya yang sudah menyekolahkan hingga sarjana. "Ba-" "Jangan ragu-ragu. Tidak perlu dijawab sekarang, Saya tunggu sampai besok. Ini kartu nama Saya. Silahkan hubungi, jika sudah yakin." Dia menerimanya, karena belum bisa memutuskan sekarang. "Terima kasih Pak." "Iya, sama-sama." "Kalau begitu, Saya permisi dulu, sekali lagi terima kasih atas waktunya." "Sama-sama. Hati-hati di jalan. Saya tunggu kabar baiknya." "Baik, Pak." Safira keluar dari ruangan tersebut. Sembari memegangi kartu nama itu, dia berpikir panjang. "Sudah diterima?" tanya seseorang yang mengagetkannya. Saat dilihat, lelaki itu tampak biasa saja. Tidak merasa bersalah sedikitpun sudah membuat jantungnya kaget. Safira segera memasukan kartu nama itu ke dalam tasnya. Namun sial, malah jatuh. Belum sempat dia mengambilnya, sudah lebih dulu diambil oleh pria itu. "Oh ini, dia bawahannya teman Saya padahal." Safira mengambil kartu nama tersebut, kupingnya panas mendenga pria itu berkata dengan nada yang sombong. "Semua orang sama di mata Allah." "Bukan begitu, Kamu pasti belum mendapatkan pekerjaan itu kan? Seharus-" "Terserah. Semua orang punya jalan hidupnya masing-masing. Tidak perlu memaksakan diri, jika memang jalannya bukan di situ. Ya sudah, pasrah." "Kamu selalu naif. Dunia kerja itu tidak akan cocok dengan orang yang masih memikirkan orang lain." Benar apa yang dikatakan pria itu, dia memang terlalu memikirkan orang lain, bahkan dia merasa bersalah jika pakai orang dalam. Sebab, hal itu akan memutuskan harapan mereka yang melamar secara manual. "Setidaknya tidak merampas kesempatan orang lain." Mereka masuk ke dalam lift yang sama lagi. Safira curiga pada lelaki di sebelahnya. "Kamu gak ngikutin Saya kan?" "Nggak, buat apa ngikutin kamu? Saya aja banyak pekerjaan." Safira diam saja, lagi di sebelahnya sangat menjengkelkan. "Gimana kalau kita kerja sama, untuk menjemput pasangan kita. Saya sudah tahu, di mana mereka berada." Tidak ada angin tidak ada hujan, pria itu mengatakan hal tersebut. Safira sampai membulatkan matanya dengan sempurna. Dia bahkan mengusap telinganya agar tidak salah dengar. "Sayangnya aku sudah tidak tertarik. Silakan Kamu urus sendiri," ujarnya dengan ketus. Wajahnya sangat julid sekali. Sungguh dia masih ingat betul bagaimana lelaki itu dengan sombongnya membuatnya kehilangan harga diri ketika mengunjungi rumah pria itu. "Bukankah ini kesempatan bagus? Saya tidak akan menerima dua kali. Atau kamu lebih senang jika Haidar pulang hanya dengan membawa nama." Sebuah ancaman yang sangat kuno, Dia pikir Safira akan percaya begitu saja. Sudah sekarang negara ini sudah menjadi negara yang taat pada hukum. Semisalnya hal itu terjadi pria itu pasti orang pertama yang dicurigai. "Lakukanlah sesukamu, jika kamu menyakiti Haidar, sama saja dengan melukai Lana. Aku sudah pasrah, mempertahankan lelaki yang tidak mempertahankanku bukan hal yang bagus. Hidup harus terus berjalan, seperti tidak ada wanita lain saja. Sampai Kamu menjatuhkan harga dirimu hanya untuk seorang anak yang hobi berselingkuh." Pria itu kaget. Wanita yang dia ketahui seringkali menangisi suaminya itu ini sangat tegar. Bahkan mulutnya sangat pedas sekali, tidak bisa dipungkiri dia merasa dipermalukan. "Jaga bicaramu. Kamu pikir saya bercanda?" "Bercanda ataupun tidak bukan urusan Saya." Safira dan kekuatan yang selama ini terpendam. Dia seperti orang yang dibangunkan dari tidur panjangnya. "Kamu akan menyesal. Saya sudah menawari baik-baik. Sekali lagi, jika terjadi apa-apa terhadap Haidar. Jangan salahkan Saya." Ting Pintu itu pun terbuka, pria tersebut keluar melangkah dengan kaki yang lebar. Meninggalkan Safira dengan perasaan yang tidak karuan. Dia hanya mengedikkan bahunya, kemudian berjalan meninggalkan kantor ini. Akan dia pikirkan baik-baik penawaran yang diberikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN