Sejak membuka matanya, senyuman Irene tak hentinya tersungging di bibirnya. Perlakuan manis Reiki semalam tak mungkin bisa dia lupakan. Dia masih merebahkan tubuhnya dalam tenda, tubuhnya yang terasa pegal-pegal membuatnya ingin lebih lama lagi bermalas-malasan. Sesekali dia melirik ke arah depan dimana Reiki tengah membuatkan bubur instan untuk mereka. Tak perlu sikap romantis atau menebar kata-kata gombal, bagi Irene melihat perhatian kecil Reiki seperti sekarang saja sudah cukup membuatnya bahagia. “Orang lain pasti ngira kamu gila kalau senyum-senyum terus.” Irene seketika bungkam, bibirnya dia katupkan serapat mungkin. Darimana suaminya tahu dia sedang senyum-senyum sendiri padahal pria itu sejak tadi memunggunginya? “Cepat bangun, jangan malas-malasan. Ini buburnya udah jadi

