LEVEL 37

2457 Kata

Sejak membuka matanya, senyuman Irene tak hentinya tersungging di bibirnya. Perlakuan manis Reiki semalam tak mungkin bisa dia lupakan. Dia masih merebahkan tubuhnya dalam tenda, tubuhnya yang terasa pegal-pegal membuatnya ingin lebih lama lagi bermalas-malasan.  Sesekali dia melirik ke arah depan dimana Reiki tengah membuatkan bubur instan untuk mereka. Tak perlu sikap romantis atau menebar kata-kata gombal, bagi Irene melihat perhatian kecil Reiki seperti sekarang saja sudah cukup membuatnya bahagia.  “Orang lain pasti ngira kamu gila kalau senyum-senyum terus.”  Irene seketika bungkam, bibirnya dia katupkan serapat mungkin. Darimana  suaminya tahu dia sedang senyum-senyum sendiri padahal pria itu sejak tadi memunggunginya?  “Cepat bangun, jangan malas-malasan. Ini buburnya udah jadi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN