“Oh My God, it’s very beautiful!!”
Irene berteriak takjub ketika melihat hamparan pantai yang begitu indah di depan matanya. Laut yang membentang luas dengan airnya yang jernih seolah memantulkan birunya langit. Pasir putih yang tampak menggiurkan untuk ditelusuri. Senyuman tak kunjung sirna dari wajah cantiknya.
Dia menoleh dan menatap tak percaya pada sosok suaminya yang berdiri di sampingnya. Tak disangkanya pria itu akan membawanya ke tempat menyenangkan seperti ini.
“Jangan salah paham dulu, bukan di sini kita akan berlibur.” Dan Irene yang sudah membuka mulutnya lebar hendak melontarkan berbagai pujian serta ucapan terima kasih pada Reiki, seketika itu pun dia katupkan kembali mulutnya.
“Maksudnya?” tanya Irene, tak paham.
“Lo bawa gue ke kota Cancun ini buat ngabisin sisa waktu bulan madu kita kan?” tambahnya, meminta penjelasan.
Setelah dengan paksa membawa Irene pergi meninggalkan Korea selatan dan mendarat di Negara Mexico, lebih tepatnya di kota Cancun, Reiki masih belum memberitahukan dengan jelas tujuan sebenarnya dia membawa Irene pergi. Tempat mana yang menjadi tujuan sebenarnya pun belum Irene ketahui. Irene pikir mereka akan menghabiskan waktu menyenangkan di kota Cancun yang terkenal dengan pantai eksotisnya. Siapa sangka sang suami justru mengatakan bahwa tempat indah yang bagaikan surga dunia bagi Irene itu ternyata bukanlah tujuan utama mereka.
Irene memutar bola matanya bosan, padahal dia sudah senang sekali tadi. Tapi setelah mengetahui suaminya akan membawanya ke tempat lain, semangat yang menggebu-gebu tadi sirna dalam sekali hembusan napas.
“Jadi sebenarnya kita mau kemana sih?”
“Jangan bawel, nanti juga lo tahu,” balas Reiki seraya melangkahkan kakinya menjauhi Irene. Irene menghentakan kakinya, dia kesal bukan main saat ini. Entah kemana pria yang dibencinya setengah mati itu akan membawanya pergi. Sialnya Irene tak bisa melakukan apa pun selain mengikuti langkahnya meski dengan terpaksa tentunya.
Irene menatap bosan ke arah Reiki ketika dia sudah berdiri di samping pemuda itu. Lalu mengembuskan napas malas ketika yang didapatinya dari Reiki bukanlah jawaban dari pertanyaan yang sudah dia lontarkan entah untuk yang keberapa kalinya, melainkan hanya tatapan datar dari pemuda itu yang didapatkannya.
“Lo bener-bener nyebelin, gue nanya dari tadi tapi gak lo jawab-jawab. Apa sih susahnya ngasih tahu tempat tujuan kita? Padahal gue udah seneng tadi. Kirain gue, kita bakalan ngabisin waktu disini. Nyewa hotel di dekat pantai, haah... sempurna banget tuh,” gerutu Irene, tiada henti. Kini giliran Reiki yang memutar matanya bosan. Dia sudah kehilangan akal untuk menghentikan ocehan Irene yang tidak ada habisnya. Padahal dia sudah mengabaikan pertanyaan gadis itu sejak meninggalkan hotel di Korea, dia pikir dengan mengabaikannya maka Irene akan berhenti bertanya. Faktanya apa yang diharapkannya hanyalah harapan semu. Irene tetap mengoceh dan menggerutu, tak peduli seberapa cuek Reiki padanya.
“Dibilangin jangan bawel. Lo nggak capek ya dari tadi ngomong melulu? Kerongkongan lo gak kering apa?”
“Harusnya gue yang nanya kayak gitu. Lo gak capek apa dari tadi diem kayak patung, atau...” Irene menjinjitkan kakinya agar tingginya yang hanya mencapai bahu Reiki bisa sedikit mengikis perbedaan tinggi badan mereka. Irene mendekatkan wajahnya pada telinga Reiki dan berbisik pelan di sana.
“Atau lo lupa cara ngomong, ya?” bisiknya atau lebih tepatnya sindirnya. Reiki menoyor kening Irene dengan jari telunjuknya, sukses membuat Irene terhuyung ke belakang. Beruntung dia berhasil mengembalikan keseimbangan tubuhnya, jika tidak ... akan sangat memalukan jika dia jatuh terjengkang di depan ribuan wisatawan yang tengah bersenang-senang di pantai.
“Heeh... apaan sih lo, untung gue gak jatoh!” Maki Irene dengan suaranya yang melengking. Reiki lagi-lagi mengabaikannya, dia berjalan ke arah sebuah truk berwarna hitam yang baru saja parkir tidak jauh darinya.
Irene memicingkan tatapannya, dia memasang wajah super bingung sekarang. Sama sekali tidak mengerti kenapa pemuda yang berstatus sebagai suaminya itu berjalan menghampiri sebuah truk.
Irene berlari menghampiri Reiki yang dilihatnya sedang terlibat perbincangan dengan dua pria yang keluar dari dalam truk. Irene mengernyitkan dahinya, dia tak paham apa yang sedang mereka bicarakan karena dia tidak mengerti bahasa mereka. Diam-diam Irene berdecak kagum pada Reiki yang begitu fasih berbahasa Spanyol. Setahu Irene orang mexico memang menggunakan bahasa Spanyol dalam berkomunikasi.
Kedua pria berambut pirang yang sepertinya penduduk asli kota itu, menyapa Irene. Irene tersenyum kecil, dia tak tahu apa yang harus dikatakannya untuk membalas sapaan mereka. Dia hanya terdiam menatap kedua pria tersebut yang kini berjalan masuk kembali ke dalam truk.
Reiki merebut koper yang sedang dipegang Irene, lalu melemparkannya ke atas box truk. Irene melotot tak percaya, terutama ketika melihat Reiki melakukan tindakan yang sama pada koper miliknya.
“Hei, kenapa lo lempar koper kita ke atas truk?” tanya Irene dengan sedikit membentak, jangan lupakan kedua matanya yang sedang melotot seram ke arah Reiki.
Untuk kesekian kalinya pemuda penggila game itu mengabaikan pertanyaan istrinya. Dia merangkak naik ke atas truk, sukses membuat Irene membeku di tempatnya berdiri. Irene semakin melotot tak percaya ketika Reiki mengulurkan tangan kanannya seolah menawarkan bantuan pada Irene untuk naik ke atas truk.
“T-Tunggu, lo ngajakin gue naik truk ini?” Reiki mengangguk, Irene membuka mulutnya lebar hingga nyaris membentuk huruf ‘O’, sungguh dia tak habis pikir dengan kegilaan yang sedang dilakukan Reiki.
“Cepet naik nanti truknya keburu jalan,” titah Reiki tegas dengan tangan kanannya yang masih terulur pada Irene.
“Emangnya gak ada yang jemput kita ya ampe kita numpang di truk ini? Atau kita bisa kan nyewa taksi aja?”
“Tempat tujuan kita masih jauh, gak ada taksi yang bisa nganter kita kesana. Gak ada kendaraan umum juga. Truk ini mobil jemputan kita.” Irene lagi-lagi melongo. Dia mulai curiga Reiki akan membawanya ke tempat antah berantah yang jauh dari pemukiman warga. Tempat terpencil yang akan membuatnya terkurung tanpa mampu pergi kemana pun. Tempat sunyi yang jauh dari keramaian.
“Cepetan atau lo mau ditinggal sendirian di sini?!” Irene berdecak sebal, meski pada akhirnya dia terima juga uluran tangan Reiki. Dia merangkak naik ke atas box truk, hingga kedua kakinya berhasil berpijak sempurna di atas truk tersebut.
Irene membekap hidungnya begitu aroma tak sedap tertangkap indera penciumannya. Di atas truk itu tidak ada apa pun tapi aroma tak sedap yang menguar dari sana sangat mengganggu Irene. Dia sungguh tak nyaman, terutama dengan angin yang berhembus kencang hingga membuat rambut panjangnya berantakan ketika truk itu mulai melaju.
Reiki berjalan menuju kepala truk. Dia duduk santai seraya menyenderkan punggungnya pada kepala truk. Irene terpaksa mengikutinya karena dia bisa saja berakhir jatuh jika terus berdiri di saat truk sudah mulai melaju kencang membelah jalanan. Dia pun ikut mendudukan dirinya di samping Reiki.
“Kok di sini bau banget?” tanya Irene dengan tangannya yang masih setia membekap hidungnya.
“Tempat yang kita tuju itu ada peternakan kudanya, jadi bisa lo simpulin sendiri aroma yang lo cium itu dari mana asalnya kan?” jawab Reiki asal, namun sukses membuat Irene berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya.
“Jangan bilang truk ini sering dipake buat ngangkut kuda?” Reiki mengangguk mantap, Irene menggeleng tak percaya dirinya sedang menaiki truk yang biasanya digunakan untuk mengangkut seekor kuda atau mungkin berekor-ekor kuda.
“Emangnya nggak ada jemputan lain apa? Kenapa kita harus naik truk buat ngangkut kuda ini?”
“Lo ngarep kita dijemput mobil limosin gitu?” sindir Reiki.
“Ya, nggak harus limosin, seenggaknya mobil yang layak buat ditumpangi aja.”
“Jangan rewel, syukuri aja. Masih mending ada yang jemput,” jawab Reiki, tak peduli dengan raut menderita yang sedang mendominasi wajah Irene.
“Lagian kenapa kita gak duduk di depan aja sih? Atau seenggaknya gue duduk di depan, gue kan cewek.”
“Sesuatu yang beda, ingat? Lo kan minta sesuatu yang beda. Belom pernah kan lo naik truk terus duduk di box belakang? Nikmatin aja ya sesuatu yang beda itu, lo sendiri kan yang minta. Anggap aja pengalaman hidup.” Irene mengepalkan tangannya erat, ingin rasanya dia menghajar pria menyebalkan yang duduk di sampingnya itu. Namun dia urungkan ketika berpikir bisa saja dia akan dilempar turun dari atas truk ini jika membuat Reiki murka. Jadi dia putuskan untuk menahan amarahnya untuk saat ini saja.
“Gue mau tidur, jadi jangan berisik.” Reiki mulai memejamkan kedua matanya, tanpa dia sadari Irene sedang menyeringai jahat di sampingnya.
“WAAH... SERU BANGET. KEREEEEN... ANGINNYA KENCENG. GUE SUKA, PEMANDANGAN DISINI JUGA BAGUS. WOOW... IT’S AMAZING!!” teriak Irene tak tanggung-tanggung mengeraskan volume suaranya hingga level maksimal.
Reiki menutup telinganya yang terasa berdengung sakit mendengar teriakan Irene. Dan sepanjang perjalanan itu Reiki benar-benar tak bisa tidur barang sedetik pun karena Irene yang terus berteriak atau melakukan tindakan konyol seperti mengguncang-guncang tubuhnya kencang setiap kali dia nyaris terlelap.
***
Kecurigaan Irene terbukti benar, Reiki benar-benar membawanya ke desa terpencil di belahan selatan kota Cancun. Di sana tak ada apa pun yang bisa membuat Irene takjub. Hanya ada hutan belantara, lahan yang gersang serta udara panas yang membuat Irene tersiksa. Irene sangat benci jika tubuhnya berkeringat, dan sekarang udara panas disana membuatnya bagai mandi keringatnya sendiri.
Irene menyeka peluh yang bercucuran dari pelipisnya dengan punggung tangannya. Matahari tampak bersinar dengan angkuhnya di atas sana, seolah tengah menyemburkan semua hawa panasnya ke muka bumi. Irene benci tempat yang sedang didatanginya ini.
Dia menatap sebal ke arah Reiki yang sedang berbincang dengan sepasang pria dan wanita yang entah siapa. Sedangkan dua pria yang tadi menjemput mereka dengan truk, sudah pamit pergi sejak tadi.
“Nona Irene, semoga betah ya liburan di sini.” Irene mengangguk seraya menyunggingkan senyum palsu, sebelum dia akhirnya terbelalak kaget karena nyaris tak percaya pria paruh baya di depannya baru saja mengajaknya bicara dengan menggunakan bahasa Indonesia. Irene menatap bingung ke arah Reiki, tatapan yang menyiratkan sebuah tanda tanya besar dan Reiki sangat menyadarinya. Tanpa diminta Irene, pemuda itu menjelaskan sendiri alasan pria tadi bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia.
“Perkenalkan ini Paman Benny, dia orang Indonesia tapi sudah lama menetap di Cancun.” Reiki menjeda ucapannya dan melirik ke arah wanita paruh baya yang berdiri di samping pria bernama Benny.
“Dan ini Bibi Brigida, istri Paman Benny. Dia penduduk asli di sini tapi sudah cukup fasih berbahasa Indonesia,” tambah Reiki.
“Kalau membutuhkan sesuatu, nona bisa mengatakannya pada kami,” ucap Paman Benny yang diangguki disertai senyuman oleh istrinya.
“Iya, terima kasih,” sahut Irene, berusaha bersikap sesopan mungkin meski suasana hatinya sangat bertolak belakang dengan ekspresi wajahnya yang terlihat ramah. Jika boleh jujur, dia ingin sekali mengamuk saat ini. Dia ingin memukuli Reiki tanpa ampun jika perlu, untuk mengungkapkan betapa buruknya suasana hatinya.
“Mari, saya antarkan ke penginapan,” ajak Paman Benny, sedangkan istrinya pamit entah pergi kemana.
Entah sudah berapa kali Irene dibuat melongo hari ini. Sekarang pun dia kembali memasang wajah tak percaya bercampur nelangsa. Dia sedang berdiri di depan sebuah rumah teramat sederhana. Bahkan rumah itu lebih pantas disebut sebagai gubuk dibandingkan rumah jika melihat sekelilingnya hanya terbuat dari triplek yang akan terhempaskan dengan mudah jika tertiup angin kencang.
“Semoga nona betah, silakan panggil saya jika anda membutuhkan sesuatu.” Paman Benny kembali menawarkan bantuannya dengan ramah, untuk kali ini Irene mengabaikan kebaikan pria paruh baya tersebut. Fokusnya sedang tertuju sepenuhnya pada gubuk reot yang akan ditinggalinya.
“Ayo masuk, Ren,” ajak Reiki seraya dia buka pintu gubuk itu selebar-lebarnya. Pria itu tak terlihat enggan sama sekali masuk ke dalamnya dengan kedua tangannya yang mendorong koper miliknya serta milik sang istri. Berbeda dengan Irene yang meneguk salivanya susah payah sebelum menginjakan kakinya dengan terpaksa ke dalam gubuk.
Irene menggulirkan bola matanya ke sekeliling ruangan. Hanya ada satu ruangan disana, sama persis seperti apa yang dibayangkannya ketika melihat gubuk itu dari luar.
Di sana hanya ada sebuah tempat tidur berukuran sedang yang cukup untuk ditempati dua orang. Sebuah kursi panjang zaman dulu yang pastinya terasa keras kalau diduduki. Serta sebuah meja dan dua kursi terbuat dari kayu. Tidak ada lemari atau pun meja rias yang sangat dibutuhkan Irene untuk berdandan.
Irene menggelengkan kepalanya tak percaya. Dia seorang model terkenal yang terbiasa dengan kemewahan. Jika dia sedang mengunjungi suatu negara guna keperluan pemotretan, dia akan disediakan hotel atau penginapan mewah dengan berbagai fasilitasnya. Namun kini dia harus tinggal di gubuk reot yang kapan pun bisa hancur tertiup angin. Dia bahkan sangsi gubuk itu akan mampu melindunginya dari air jika hujan turun. Jangan lupakan hawa panas layaknya berada di dalam sauna yang sedang dirasakan Irene. Jangan ditanya bagaimana perasaannya sekarang, satu kata yang paling cocok... dia sangat menderita.
“Rei, serius kita tinggal di sini?” tanya Irene dengan suara pelan, awalnya dia ingin meluapkan seluruh amarahnya. Namun entah mengapa begitu melihat keadaan tempat yang akan ditinggalinya ini, seketika membuatnya lelah dan kehilangan tenaganya untuk marah-marah.
“Ya,” jawab Reiki, cuek.
“Tapi tempat ini gak layak disebut rumah. Gue pikir...”
“Apa? Lo pikir kita bakalan tinggal di Villa atau penginapan mewah gitu? Sesuatu yang beda, ingat?” Lagi-lagi Reiki menyindir Irene. Irene memutar bola matanya bosan. Dia memang mengatakan ingin suasana yang berbeda maksudnya dia hanya ingin mengunjungi tempat yang belum pernah didatanginya, bukannya tinggal di gubuk derita seperti ini.
“Lo salah paham maksud gue, maksud gue itu...”
“Lo pengin suasana yang beda, lo pengin datang ke tempat yang belom pernah lo kunjungi, kan?” Irene mengangguk penuh semangat, apa yang dikatakan Reiki persis seperti apa yang dia inginkan.
“Dan gue kasih yang lo pengin. Gue jamin lo belum pernah kan datang ke sini? Lo juga pasti belum pernah tinggal di tempat sederhana kayak gini. Jadi pas dong, sesuai sama keinginan lo. Lagian keluarga gue gak punya Villa di sini. Jadi terima aja ya tinggal di sini. Harusnya lo seneng, suami lo ini udah ngabulin apa yang lo pengin. Sesuatu yang beda.” Reiki tersenyum di akhir ucapannya. Senyuman yang bagi Irene terlihat bagaikan senyuman iblis.
Reiki merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, seolah hawa panas di dalam ruangan itu sama sekali tidak mengganggunya.
“Lo mau tidur di kasur itu, terus gue gimana?” tanya Irene, hanya bisa pasrah menerima kenyataan dia harus tinggal di gubuk itu.
“Lo bisa tidur di sana,” jawab Reiki, menunjuk ke arah kursi panjang dengan dagunya.
“Gak salah lo nyuruh gue tidur di kursi itu? Buat duduk aja keras apa lagi buat tidur!!” bentak Irene. Sudah cukup, dia tak sanggup lagi menahan amarahnya.
“Gue sih gak keberatan kalau lo mau tidur di kasur ini sama gue,” sahut Reiki seraya menyeringai.
“Jangan mimpi, gue gak sudi tidur sama lo.” Reiki mengedikan bahunya cuek, dia meraih smartphonenya, menyibukan diri dengan aplikasi game yang terpasang di dalamnya.
Irene menggeram kesal, tatapannya kembali bergulir ke sekeliling ruangan yang sempit dan pengap itu. Dia tersentak ketika sesuatu yang nyaris dilupakannya kini baru saja diingatnya.
“Di sini gak ada kamar mandi?!” tanyanya histeris, ketika tak melihat ada satu pun kamar mandi di dalam ruangan itu.
“Ada di luar,” sahut Reiki, tanpa mengalihkan atensinya dari game seru yang sedang dimainkannya.
Irene berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruangan untuk memastikan ucapan Reiki. Dia tatap sekeliling halaman rumah. Tak ada apa pun selain tanah gersang yang ditumbuhi rumput yang telah menguning yang dilihatnya. Lalu dia berjalan ke samping kanan, dan disanalah dia melihat sebuah ruangan kecil terbuat dari kayu yang tak layak sama sekali disebut kamar mandi. Ruangan itu lebih cocok disebut kakus.
Kakus itu sangat sempit hanya bisa dimasuki satu orang. Ada kloset jongkok dan sebuah ember serta gayung. Bahkan bak kecil dan keran air pun tak ada disana. Alasan lain yang membuat Irene tak sudi menggunakan kakus itu untuk mandi adalah atapnya yang terbuka. Ya... tak ada atap yang menutupi kakus sempit itu.
Irene menggebrak pintu kakus dengan kasar, urat-urat marah sudah bermunculan di keningnya. Dia merasa sedang berada di neraka sekarang, hidupnya tak pernah sesengsara ini. Dan keadaan menyedihkannya ini disebabkan oleh Reiki, pria b******k yang sialnya telah resmi menjadi suaminya.
Irene berjalan penuh amarah kembali ke dalam. Dia menghampiri Reiki yang masih telentang di kasur seraya memainkan gamenya. Dia rebut smartphone milik Reiki paksa dan menggenggamnya erat seolah ingin meremukan benda pipih nan tipis berharga fantastis milik Reiki tersebut.
“Lo kenapa sih? Marah-marah melulu dari tadi?” tanya Reiki dengan dahi mengernyit.
“Lo bilang kakus itu kamar mandi? Jangan gila! Gak ada air juga di sana.”
“Lo gak liat ada sumur di belakangnya? Kalau lo mau mandi atau pake air, lo tinggal timba aja airnya dari sumur itu.” Irene bertolak pinggang dengan wajahnya yang memerah menahan amarahnya yang menggebu-gebu.
“Gue gak sudi mandi di sana. Gak ada atapnya, gimana kalau ada yang ngintip?”
“Hahahaha... emangnya siapa yang mau ngintip lo? Gak ada orang yang bakalan lewat ke sini. Lagian emang ada gitu orang yang tertarik ngintip badan lo yang kurus kering?” Reiki tertawa lantang setelahnya, sepenuhnya mengabaikan Irene yang jelas-jelas sedang tidak main-main dengan amarahnya.
“Gue gak sudi tinggal di sini,” ucap Irene. Dia banting smartphone Reiki ke kasur. Berjalan cepat menuju kopernya tersimpan dan melangkah mantap menuju pintu keluar. Dia serius dengan ucapannya, dia tidak tertarik sedikit pun tinggal meski hanya menginap satu malam di tempat yang bagaikan neraka baginya. Dia akan mencari cara agar bisa meninggalkan tempat terkutuk itu.
“Gue kasih tahu aja, di sini gak ada penginapan apalagi hotel. Rumah penduduk juga jauh banget dari sini. Gak ada kendaraan umum juga yang lewat ke sini. Di sini cuma ada laut sama hutan belantara. Boleh aja lo pergi kalau pengen berenang di laut atau main sama binatang buas di hutan.” Reiki terkekeh geli ketika melihat Irene menatapnya tajam.
Irene menjambak rambutnya frustasi, dia benar-benar terjebak di tempat yang bagaikan neraka. Dia bodoh sudah mengikuti pria b******k macam Reiki. Satu hal lagi yang membuatnya tak bisa berkutik, dia tidak tahu dimana dirinya berada saat ini.