LEVEL 10

2395 Kata
Irene berjalan mondar-mandir seraya kesepuluh jari tangannya saling meremas erat di dalam ruangan sempit yang menjadi tempat tinggalnya selama sisa waktu bulan madunya bersama sang suami. Sebuah tempat yang baginya lebih pantas disebut neraka dibandingkan tempat tinggal.  Irene benci situasi yang dialaminya sekarang. Meskipun dia bukan berasal dari keluarga kaya raya seperti Reiki, tapi dirinya terbiasa hidup nyaman. Jelas kondisinya sekarang ini membuatnya sangat tersiksa.  Dia menyeka keringat yang tak hentinya bercucuran dari pelipisnya dengan punggung tangannya. Dia kepanasan... dia merasa sedang berada di dalam ruangan sauna sekarang.  “Ck... kemana perginya si maniak game itu?” Gerutunya, masih tetap mempertahankan pergerakan kedua kakinya yang berjalan kesana-kemari tanpa tujuan. Kesepuluh jarinya yang tadi saling meremas kini berganti dia letakkan di pinggang rampingnya. Dia bertolak pinggang seraya mendecih berkali-kali karena kemarahannya pada Reiki sudah diambang batas kesabarannya.  Entah kemana pria itu pergi? Dia melenggang pergi begitu saja tanpa mengajak Irene atau sekadar memberitahukan kemana dia pergi pun tidak. Sebenarnya Irene tak peduli kemana pun pria itu pergi, hanya saja perutnya keroncongan sekarang. Irene tidak tahu dimana dia bisa mendapatkan makanan. Di gubuk mungil itu tak ada peralatan untuk memasak. Di luar pun mustahil ada penjual makanan. Irene kelaparan, dia menjambak rambutnya frustasi. Awalnya dia yang berniat menyiksa Reiki selama bulan madu ini. Dia ingin membuat pria itu menyesal karena sudah menerima perjodohan ini. Namun justru dirinyalah yang berakhir dibuat sebegitu tersiksanya oleh pria b******k yang sialnya telah resmi menjadi suaminya.  Irene mendelik ke arah pintu ketika terdengar suara berderit pertanda seseorang masuk ke dalam gubuk.  “Lo pasti lapar, kan?” Ucap Reiki tanpa dosa seraya mengangkat tangan kanannya yang menenteng sebuah kantong plastik.  Tanpa menunggu respon dari Irene, dia mendudukan dirinya di sebuah kursi kayu di ruangan itu. Dia mengambil dua bungkusan yang berada di dalam kantong plastik dan meletakannya di atas meja. Dia ambil satu bungkusan dan membukanya tanpa ragu. Dari kejauhan Irene meneguk salivanya, berusaha mati-matian agar air liurnya tidak menetes ketika dilihatnya Reiki sedang menyantap makanannya dengan tenang. Makanan yang dibungkus dengan kertas nasi itu berupa nasi, beberapa potong daging dan sayur hijau yang ditumis.  Reiki tetap menyantap makanannya dengan tangan kanannya yang memegang sendok, sedangkan tangan kirinya sibuk memainkan smartphonenya. Dia mengabaikan sepenuhnya sosok Irene yang masih berdiri mematung menatap ke arahnya.  “Lo nggak makan?” Tanyanya. Sebenarnya dia menyadari Irene sedang menatap lapar ke arah makanannya. Namun gadis itu sepertinya terlalu gengsi untuk makan bersama dengannya.  “Kalau lapar jangan ditahan nanti lo sakit gimana? Gue juga kan yang repot,” tambahnya. Irene mendelik tak terima. Amarah yang dirasakannya kini mengalahkan rasa lapar yang sejak tadi menyiksanya.  “Gue nggak laper,” jawab Irene bohong dengan nada ketus. Dia mendudukan dirinya di kursi panjang yang keras, memalingkan wajahnya tak sudi beradu pandang dengan Reiki.  Reiki tersenyum kecil melihat tingkahlaku Irene yang kekanakan menurutnya.  Dia tahu persis gadis itu pasti lapar karena mereka memang belum memakan apa pun sejak mendarat di Bandara Cancun siang tadi.  “Jangan keras kepala, Ren. Gue sengaja bawain makanan buat lo. Ayo, cepet makan!” Ajaknya lagi, namun diabaikan oleh Irene. Gadis itu masih betah memalingkan wajahnya ke arah lain. “Ya udah, terserah lo.” Reiki mengedikan bahunya, dia sudah mencoba bersikap baik pada istrinya tapi dia justru diabaikan. Sudah cukup... Reiki merasa harga dirinya akan semakin jatuh jika dia terus mengajak Irene makan bersamanya, sedangkan gadis itu tak mau peduli sedikit pun pada ajakannya.  Setelah menghabiskan makanannya, Reiki berjalan keluar gubuk. Irene menyadari pria yang dibencinya itu pergi ketika telinganya menangkap suara deritan yang dia yakini berasal dari daun pintu yang dibuka.  Cepat-cepat Irene berjalan menuju meja tempat Reiki meletakan bungkusan nasi miliknya. Dia duduk di kursi yang tadi diduduki Reiki dan dengan gesit membuka bungkusan tersebut.  Dia menyantap dengan lahapnya makanan yang tersaji di depannya, ditemani butir-butir air matanya yang mulai berjatuhan. Dia menangis... menangisi betapa naasnya nasib hidupnya. Lihatlah... dia yang biasa makan di restoran mewah, kini dia makan layaknya buruh pabrik yang mendapat jatah makan siang dari tempatnya bekerja. Sungguh miris, Irene tak sanggup menahan kesedihan yang meluap dia rasakan di dalam hatinya.   ***   Entah sudah berapa jam berlalu Irene berbaring di kursi panjang yang keras. Dia sudah berusaha memejamkan matanya namun tak kunjung terlelap. Kerasnya kursi membuatnya tak nyaman, punggungnya sakit. Dia bergerak gelisah mencari posisi yang nyaman, namun... percuma, semua posisi terasa tak nyaman baginya.  Dia menatap tajam ke arah Reiki yang sudah terlelap di kasurnya. Pria itu seolah tak punya hati, dia benar-benar tidur di atas kasur dan membiarkan seorang gadis tidur di kursi yang keras. Irene menggeleng, tak menyangka ada pria sekejam suaminya itu di dunia ini.  “Harusnya gue gak pernah nikah sama lo,” gumamnya, tatapannya masih tajam ke arah Reiki yang tak terganggu sama sekali meskipun di ruangan itu panas dan banyak nyamuk beterbangan menimbulkan suara dengungan yang menjadi alasan terbesar Irene tak sanggup tertidur.  Entah sudah berapa puluh nyamuk yang Irene bunuh malam itu. Kulitnya di beberapa bagian terasa begitu gatal karena terkena gigitan nyamuk. Terutama di bagian tangan dan kakinya. Padahal selama ini Irene selalu merawat kulitnya. berprofesi sebagai seorang model membuat Irene harus rajin datang ke salon untuk merawat tubuhnya, dia harus menjaga keindahan tubuhnya terutama kulitnya agar karirnya tidak merosot.  Tapi kini, dia merasa kulitnya begitu kering karena udara panas yang dia rasakan baik di siang hari maupun di malam hari. Dia pun merasakan perih di beberapa bagian ketika dia menggaruk terlalu kencang kulitnya yang bentol-bentol.  Irene bangkit dari berbaringnya. Dia sudah tak tahan mengahadapi nyamuk yang seperti tak ada habisnya. Dia berjalan menghampiri Reiki. Dia menatap aneh ke arah kulit Reiki yang terlihat mulus tanpa ada satu pun bentol akibat gigitan nyamun, padahal pria itu tidur dengan bertelanjang d**a seperti biasanya. Irene merasa keadaan ini sungguh tidak adil. Kenapa hanya dirinya yang merasa tersakiti disini?  Tak terima dengan semua siksaan yang dirasakannya sendirian, Irene mengguncang-guncang tubuh Reiki tanpa belas kasihan.  “Rei, bangun, bangun!!” Teriaknya kencang. Reiki tetap bergeming di tempat tidurnya, tak terganggu sama sekali dengan guncangan di tubuhnya yang disebabkan oleh tangan Irene. Irene mengembuskan napas frustasi. Sudah cukup, dia tak peduli meskipun harus melakukan kekurang ajaran pada Reiki sekarang.  Irene menendang-nendang punggung Reiki yang sedang tidur dalam posisi menyamping, dengan kakinya. Dia tendang cukup keras hingga kedua iris gelap milik Reiki yang sejak tadi terbungkus kelopak matanya, kini terbuka dengan sempurna.  Dia menangkap kaki kanan Irene yang masih menendangnya, membuat Irene nyaris terjengkang ke belakang jika saja tangan Reiki yang bebas tidak menariknya tepat waktu.  Irene tersungkur ke depan membentur d**a bidang Reiki yang kini tengah duduk di atas kasur. Irene memekik kaget ketika merasakan tubuhnya melayang karena Reiki mengangkatnya dan membantingnya kasar ke atas tempat tidur. Lalu dengan kurang ajarnya pria itu menindihnya. Sontak Irene geragapan, dia panik sekaligus takut. Dia memberontak hebat mencoba menyingkirkan tubuh Reiki dari atas tubuhnya.  Tak ada perlawanannya yang membuahkan hasil, tubuh Reiki yang lebih besar darinya serta tenaganya yang jelas lebih kuat darinya, membuat Irene tak berkutik.  “Lepasin gue, lo mau apa?!” Bentak Irene, dengan kedua matanya melotot penuh amarah. “Lo duluan yang nendang-nendang gue? Lo maunya apa sih?” Sahut Reiki, seperti biasa memasang wajah datarnya. “Gue kesel sama lo, lo jahat tahu gak? Lo tega banget sih sama cewek.” Satu alis Reiki terangkat naik, dia tak mengerti sama sekali dengan ucapan istrinya yang kini sedang dia kungkung di bawahnya.  “Maksud lo?” Tanyanya. “Lo tega ngurung gue di gubuk sialan ini. Lo juga enak-enakan tidur di kasur empuk sedangkan gue tidur di kursi yang keras. Lo gak punya hati atau hati nurani lo udah mati. Yang namanya cowok itu harusnya ngalah sama cewek, bukannya nindas cewek kayak gini.” Reiki menarik sudut bibirnya membentuk seringaian. Irene sudah berhenti memberontak, dia terlalu lemah seolah tenaganya sudah tak bersisa lagi. Kendati demikian tatapan tajamnya masih dia pertahankan. Dia mengangkat wajahnya memasang gestur menantang pada pria yang menindihnya.  “Gue udah nawarin lo tidur di kasur ini, kan? Lonya aja yang nolak,” sahut Reiki, tak merasa berdosa sedikit pun. “Tidur di sini sama lo gitu? Jangan mimpi!!” Ucapnya, sedikit berteriak. “Emang apa salahnya tidur di sini sama gue, toh gue gak bakalan ngapa-ngapain lo kok?” “Lo cowok, emangnya lo pikir gue bisa percaya sama lo. Ya, kecuali kalau lo bukan cowok normal.” Kini balas Irene yang menyeringai. Dia tampak puas melihat raut wajah Reiki yang tengah terbelalak kaget mendengar tuduhan Irene. “Kalau gue gak salah inget, lo pernah bilang gak bakalan tergoda meskipun lihat gue telanjang di depan lo, kan? Apa secara gak langsung lo lagi mengakui kalau lo itu banci?”  Ucap Irene lagi, berusaha menyulut emosi Reiki. Dia berusaha mendorong d**a telanjang Reiki yang masih setia menindihnya, namun bagaikan batu karang, tubuh pria itu sangat sulit dia singkirkan.  “Jadi lo nantang gue, Ren? Jangan salahin gue kalau detik ini juga gue perkosa lo.” Irene menegang seketika, rontaannya berhenti. Jantungnya berdegup kencang, dia baru sadar telah melakukan kesalahan besar. Tidak seharusnya dia mengejek Reiki yang membuat pria itu terbakar api amarah. Irene merutuki kebodohannya.  “Kyaaa! Lepas, lepasin gue!!” Teriaknya histeris, ketika Reiki tiba-tiba semakin rapat menindihnya, dia juga mendekatkan wajahnya pada Irene. “Rei,  please... gue minta maaf. Jangan ingkari janji lo. Lo udah janji gak bakalan sentuh gue!!” Jeritnya, semakin frustasi terutama ketika dia merasakan hembusan napas Reiki begitu hangat menerpa kulit wajahnya. Irene berusaha mendorong Reiki lagi agar menjauh darinya, namun dia kembali tak berkutik ketika kedua tangannya kini dicengkram erat oleh Reiki. Kedua kakinya pun bernasib sama naasnya, kedua kaki Reiki yang menghimpitnya membuat kakinya tak bisa melakukan pergerakan sekecil apa pun.  Irene memejamkan kedua matanya ketika dia merasakan sesuatu yang lembut, basah dan hangat menempel di bibirnya. Itu bibir Reiki, pria itu menciumnya tepat di bibirnya. Dan Irene semakin ketakutan sekarang hingga tubuhnya gemetaran. Tampaknya Reiki benar-benar akan memperkosanya malam ini.  Tangisan Irene meluncur bebas ketika Reiki melepaskan ciumannya. Pria itu menatap datar ke arah Irene yang menangis tersedu-sedu dengan kedua mata terpejam di bawahnya.  “Akhirnya lo diem juga,” ucap Reiki seraya bangun dan menyingkir dari tubuh Irene. Irene seketika membuka kedua matanya, dia beringsut menjauh dari Reiki. Dia hendak turun dari kasur namun tangan Reiki mencekalnya dan kembali menariknya agar mendekat padanya.  “Lo jahat, Rei. Gue nggak nyangka lo kayak gini.” Air mata semakin meluncur deras membasahi wajah cantik Irene. “Gue cuma pengin lo diem jangan kayak cacing kepanasan kayak tadi.” “Jadi, gue harus diem gitu dilecehin sama lo?” Irene mendelik di akhir ucapannya. Reiki tak menyahut lagi, dia turun dari kasur dengan satu tangannya masih mencekal tangan Irene, tak membiarkan gadis itu pergi.  Dia mengambil sesuatu dari kopernya yang ternyata sebuah lotion anti nyamuk. Dengan telaten dia mengeluarkan lotion tersebut dan memakaikannya di sepanjang kulit Irene yang terekspos. Dia pun mengambil gel pengurang gatal dan mengoleskannya ke kulit Irene yang terdapat beberapa bentol akibat gigitan nyamuk.  “Kenapa lo gak bilang kalau punya lotion anti nyamuk? Pantas aja lo gak digigitin nyamuk,” ucap Irene dengan nada lembut kali ini. Tak ada nada sinis maupun membentak seperti tadi. “Lo nggak nanya,” jawab Reiki cuek, membuat Irene yang mulai luluh kini kembali mendelik kesal.  Irene memekik terkejut ketika lagi-lagi Reiki mengangkat tubuhnya tanpa kesulitan seolah tubuhnya itu seringan kapas. Dia kembali meronta hebat ketika Reiki lagi-lagi membantingnya ke tempat tidur. Dia pikir Reiki akan kembali mengurungnya dalam kungkungan pria itu, tapi ternyata dia salah. Reiki memposisikan Irene tidur dalam posisi miring membelakanginya. Lalu dia peluk tubuh Irene dengan posesif dari belakang.  Irene tentu tak terima perlakuan Reiki, dia berusaha bangun namun kedua tangan Reiki yang melingkar erat di tubuhnya membuatnya tak bisa melakukan perlawanan yang berarti.  “Udah tidur aja, gue janji gak bakalan ngapa-ngapain lo,” bisik Reiki, tepat di telinga Irene. Merasa tak berdaya karena bergerak pun rasanya mustahil bisa dilakukannya, akhirnya Irene mengembuskan napas pasrah. Meskipun sebal tapi tak dipungkirinya dia merasa nyaman dengan pelukan yang diberikan Reiki padanya.  Dia pun mencoba memejamkan matanya, membiarkan posisi memalukan antara dirinya dan Reiki tetap bertahan entah sampai kapan. Dia hanya merasa kedua matanya mulai merasa berat. Dia mengantuk, hingga akhirnya tak mampu lagi mempertahankan kesadarannya. Dia pun terlelap dengan cepat.   ***    Hal pertama yang Irene lakukan ketika dia bangun dari tidurnya adalah merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku dan pegal. Semalam dia tidur dengan nyenyak, meskipun panas tapi kasur empuk yang ditidurinya cukup ampuh membuatnya bisa menikmati tidurnya semalam.  Tatapannya bergulir ke arah sampingnya ketika dia mengingat kejadian memalukan yang terjadi semalam antara dirinya dan Reiki. Mereka memang tidak melakukan apa pun selain tidur dalam posisi Reiki yang memeluknya dari belakang. Tetap saja bagi Irene, itu merupakan pengalaman pertamanya tidur sambil dipeluk seorang pria. Posisi yang terlalu intim menurutnya, dan jujur saja Irene membencinya.  Dia tak mendapati sosok Reiki di sampingnya, sepertinya pria itu sudah bangun lebih dulu. Seperti biasa dia pergi entah kemana tanpa memberitahu Irene. Bahkan pria itu dengan teganya meninggalkan dirinya yang masih terlelap.  Kendati demikian dia tersenyum tipis ketika mendapati sebuah bungkusan yang sudah dia prediksi isinya makanan, tergeletak di atas meja. Rupanya pria yang dianggapnya menyebalkan tingkat dewa itu masih peduli padanya.  Dengan malas Irene turun dari atas kasur, berjalan menuju kursi panjang untuk mengambil smartphone-nya yang tergeletak malang disana.  Dia melihat jam yang terpampang di layar smartphonenya, seketika dia terbelalak kaget, tanpa disadarinya waktu sudah menunjukan siang hari sekarang.  “Ck... gila, berarti gue nyenyak banget tidurnya,” gumamnya. Lalu kembali meletakan smartphone-nya di atas kursi.  Irene mengambil handuknya dari dalam koper dan berjalan keluar gubuk. Dia harus mandi, semalam dia memilih untuk tidak mandi karena terlalu takut menggunakan kakus di luar yang tampak menyeramkan pada malam hari. Ada pohon besar di belakang kakus itu, membuat sekeliling kakus tampak horor, ditambah ada sebuah sumur tua juga disana yang sukses membuat keberanian Irene menciut.  “Selamat pagi, Nona.” Irene terenyak kaget ketika seseorang menyapanya. Dia menoleh ke arah belakang dan tersenyum ramah ketika mendapati Paman Benny lah yang menyapanya. “Pagi juga, Paman,” sahutnya. “Nona ingin mandi?” Irene mengangguk karena memang itulah yang akan dilakukannya, dia harus mandi meskipun terpaksa menggunakan kakus yang sangat tidak layak untuk dijadikan kamar mandi. “Tunggu sebentar, saya ambilkan air untuk nona.” Irene hanya tersenyum, dia tak menolak karena sejujurnya dia memang membutuhkan bantuan Paman Benny untuk menimba air dari sumur.  “Silakan, Nona. Sepertinya Tuan Muda Reiki sudah mandi tadi, perlengkapan mandi seperti sabun sudah ada di dalam,” ucap Paman Benny, setelah dia memasukan ember yang sudah penuh air ke dalam kakus. “Iya, Paman. Terima kasih.” Paman Benny mengangguk, lalu melenggang pergi dari sana.  Irene masuk ke dalam. Menyampirkan handuknya di pinggiran kakus yang memang tidak beratap. Dia was-was sebenarnya karena bagian atas kakus itu tidak tertutupi apa pun. Tapi tak ada pilihan lain, tak mungkin dia tidak mandi selama berada di tempat itu.  Dia mulai melepas satu persatu kain yang melekat di tubuhnya. Dan itulah kesalahan fatal yang dilakukannya. Dia masuk ke dalam kakus dan melepas pakaiannya tanpa melihat sekelilingnya, dia tidak menyadari seseorang tengah duduk manis di atas dahan pohon besar yang tumbuh menjulang tinggi di belakang kakus. Sosok itu menyeringai ketika melihat tubuh polos Irene yang terekspos sedikit demi sedikit.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN