LEVEL 11

2197 Kata
Irene tengah sibuk dengan aktivitas mandinya, hingga detik ini dia masih belum menyadari keberadaan seseorang yang memperhatikannya dari atas pohon. Orang tersebut sesekali terkekeh geli melihat tingkahlaku Irene. Sang gadis bersenandung seraya tangannya sibuk mengoleskan sabun ke seluruh tubuhnya maupun shampoo ke rambutnya.  Dia membasuh tubuhnya dengan air di dalam ember, bibirnya masih betah menyenandungkan salah satu lagu favoritnya. Dia berdecak ketika air yang berada di embernya sudah habis, padahal rambutnya belum benar-benar bersih. Busa-busa dari shampoo di rambutnya masih ada dan terasa lengket.  “Ck... airnya habis. Embernya terlalu kecil buat nampung airnya. Mana cukup air sedikit gini buat mandi,” gerutunya jengkel, berbanding terbalik dengan seseorang yang tampak menikmati pemandangan yang sedang dilihatnya. Orang itu terkikik geli, butuh perjuangan keras agar tak berubah menjadi tawa lantang yang beresiko membuat Irene mendengarnya.  “Butuh bantuan?” Irene menegang di tempatnya berdiri, telinganya baru saja mendengar suara baritone yang rasanya sangat familiar di telinganya. Secepat kilat dia memalingkan wajahnya, menatap ke arah pohon di belakang kakus yang dia yakini merupakan asal suara itu berada.  Bola matanya membulat sempurna dengan mulutnya yang terbuka, ketika melihat pria yang begitu dibencinya sedang menertawakannya di atas pohon dengan tatapan matanya yang menusuk ke arah tubuh polos Irene.  “Kyaaaaaaaaaaaaa!!” Teriak Irene histeris. Dia tutupi bagian tubuh vitalnya dengan telapak tangannya, meskipun tak terlalu berpengaruh karena Reiki masih bisa melihatnya dengan jelas.  Irene menarik kasar handuk yang dia sampirkan di atas dinding kakus, lalu dia lilitkan pada tubuhnya.  Bunyi gebrakan pintu kakus yang dibuka kasar, menjadi musik pengiring ketika Irene keluar dari kakus dengan ekspresi wajah penuh amarah.  “Ngapain lo di sana? Lo sengaja ya mau ngintipin gue mandi? Dasar cowok tidak tahu diri, b******k!!” Kini Irene sudah berdiri tepat di bawah pohon sambil bertolak pinggang, sama sekali tak peduli jika seandainya handuk yang melilit tubuhnya itu akan merosot ke bawah.  “Turun lo !” Bentaknya dengan volume suara lebih tinggi dibanding sebelumnya. Reiki melompat turun, dia berdiri menjulang tinggi di hadapan Irene sekarang. “Lo cowok m***m b******k, gue benci banget sama lo!!” Irene memukuli Reiki membabi buta, tindakan yang selalu dia lakukan di saat amarahnya meluap-luap karena ulah Reiki.  Reiki tak melakukan perlawanan apa pun, dia justru tertawa begitu lantangnya, mengabaikan sepenuhnya wajah Irene yang memerah karena amarah yang bercampur rasa malu. Memangnya siapa yang tidak malu ketika diperhatikan seseorang di saat sedang mandi?  “Lo bilang gak tertarik sama gue, lo bilang gak bakalan tergoda meskipun lo liat gue telanjang di depan lo. Tapi lo malah ngintipin gue lagi mandi. Dasar tukang boong, belagu.” Reiki mengernyit tak suka, kedua alisnya menukik tajam ke atas. Dia mencekal tangan Irene yang masih memukulinya bagaikan mereka sedang berada di arena tinju.  “Kegeeran banget lo, emangnya siapa yang ngintipin lo mandi? Makanya kalau mau mandi itu liat-liat dulu sekeliling lo. Asal lo tahu aja, sebelum lo masuk kamar mandi, gue udah lama duduk di dahan pohon.” “Terus kenapa lo gak ngomong? Lo tahu gue mau mandi, kenapa lo gak pergi? Kenapa lo malah diem disitu merhatiin gue? Ngaku aja lo emang sengaja duduk disitu mau ngintipin gue.” “Lo yang ceroboh, kenapa jadi gue yang disalahin? Makanya kalau punya mata tu dipake, liat dulu sekeliling lo. Untung gue yang duduk disitu, gimana kalau cowok laen?” Irene berhenti meronta, dalam sekali hentakan dia berhasil melepaskan tangannya dari cekalan Reiki.  “Mendingan lo terusin deh mandinya, belum selesai, kan? Mau gue bantuin timbain airnya?” Irene mendelik tajam, amarahnya belum mereda sedikit pun. Tapi dia sadar, jika dia terus menyahut maka perdebatan mereka tidak akan ada habisnya. Lagipula Reiki selalu bisa membalik kata-katanya, membuat dirinya yang jadi korban justru dirinya juga yang tersudutkan. Dia selalu berada di posisi yang kalah jika berhadapan dengan Reiki yang tanpa sepengetahuan Irene, ternyata pandai bersilat lidah atau memutar balikan fakta.  “Gue gak butuh bantuan lo!” Ujarnya tegas seraya mengangkat tinggi dagunya membuat gestur menantang pada Reiki. Reiki menggelengkan kepalanya disertai kekehan yang kembali meluncur mulus dari bibirnya.  “Kenapa lo ketawa?” Tanya Irene, tersinggung. “Lucu aja liat lo. Ya udah, lo timba sendiri airnya kalau gitu. Cepet terusin mandinya sana ntar handuk lo melorot lagi.” Irene menggeram murka, dia membungkuk memungut batu berukuran sedang di dekat kakinya. Reiki yang sudah menebak apa yang akan dilakukan Irene dengan batu itu, seketika mengambil langkah seribu untuk melarikan diri. Lemparan Irene pun meleset jauh dari targetnya yang sudah berlari jauh meninggalkannya.  “Dasar cowok gila!!” Umpatnya seraya menjambak rambutnya, frustasi.  ***   Irene tengah bersandar di dinding gubuknya, kedua matanya menatap sayu ke arah depan tanpa arah dan tujuan. Dia hembuskan napas bosan dan letih. Matahari sedang bersinar terik di atas sana, membuat hawa di dalam gubuk menjadi begitu panas dan pengap. Karena itu Irene lebih memilih diam di luar gubuk.  Sempat terlintas di benaknya untuk pergi jalan-jalan, namun dia urungkan karena khawatir dirinya akan tersesat jika jalan-jalan sendirian. Tempat itu sangat asing baginya, begitu terpencil dan jauh dari keramaian. Rumah penduduk pun tak terlihat seolah dia sedang berada di daerah pelosok, antah berantah.  Suaminya yang baru diketahuinya merupakan pria paling m***m yang pernah dikenalnya, belum kembali sejak melarikan diri tadi. Entah kemana dia pergi? Biasanya Irene tak akan peduli kemana pun dia pergi, tapi kondisinya yang terjebak di tempat terpencil itu membuatnya merasa ingin mengikuti kemana pun Reiki pergi. Dia benci ditinggalkan sendirian seperti ini. Dia kesal bukan main pada Reiki yang dengan teganya membawa dia ke tempat menyengsarakan sekaligus menelantarkannya sendirian.  “Nona Irene, sedang apa berdiri di luar?” Irene terenyak, lamunannya buyar seketika. Tak lama kemudian seulas senyum lega terbit di wajahnya. Dia senang bukan main melihat Paman Benny berdiri di hadapannya sekarang.  “Saya bosan di dalam, Paman. Jadi saya coba cari udara segar di sini. Reiki juga gak tahu pergi kemana.” Paman Benny tidak mengatakan apa pun, dia hanya menganggukan kepalanya. “Paman mau pergi kemana?” “Mau memetik sayuran di kebun,” sahutnya seraya mengangkat keranjang untuk tempat sayur yang dia pegang. “Waah, boleh saya ikut, Paman? Saya bosan di sini sendirian.” Paman Benny terdiam sesaat, tampak dia sedang menimbang-nimbang. Irene tersenyum lebar ketika dilihatnya paman Benny mengangguk menyetujui permintaannya. “Tapi di sana panas lho?” “Nggak apa-apa, Paman. Di sini juga panas kok,” jawab Irene diiringi senyuman manisnya.  Paman Benny tak bersuara lagi, dia berjalan di depan dan diikuti Irene tepat di belakangnya.  Irene memekik girang ketika mereka akhirnya tiba di kebun yang dimaksud paman Benny tadi. Tempat itu cukup luas dan ditumbuhi banyak tanaman hijau yang memanjakan kedua mata Irene yang menatapnya. Pemandangan seperti ini sudah jarang dilihatnya, mengingat zaman sudah begitu canggih. Lahan-lahan perkebunan seperti ini sudah banyak yang dihancurkan dan diganti dengan gedung pencakar langit, terutama di kota-kota besar.  “Paman, biar saya bantu.” Paman Benny tak menolak, dia memberikan sarung tangan pada Irene untuk melindungi tangannya ketika memetik sayuran. Dia juga memberikan sebuah plastik pada Irene.  Irene begitu menikmati aktivitas memetik sayurannya seolah dia seorang putri petani dan bukan seorang model terkenal. Teriknya matahari yang terasa membakar kulit, tak dihiraukannya. Senyuman tak pernah luntur dari bibirnya. Inilah pengalaman pertamanya terjun langsung untuk memetik sayuran di kebun.  “Jangan sentuh tanaman itu, Nona!” Irene terlonjak kaget hingga melompat dari tempatnya berdiri ketika paman Benny tiba-tiba berteriak. Irene baru saja hendak memetik sebuah tanaman, dia tidak tahu jenis apa tanaman itu karena baru pertama kali dilihatnya. Dia pikir semua tanaman yang tumbuh disana bisa dia petik tapi sepertinya pemikirannya salah besar.  “Tanaman itu berbahaya, bisa membuat gatal dan panas jika terkena kulit,” jelas Paman Benny menyadari tatapan Irene yang penuh tanda tanya ke arahnya. “Memangnya ini tanaman apa paman, saya baru lihat?” “Namanya Stinging nettle, tanaman ini banyak ditemukan di beberapa daerah Amerika termasuk disini. Nona lihat tanamannya ada bulu-bulunya kan?” Irene mengangguk, dia memang melihat ada bulu-bulu halus dan berbentuk seperti jarum yang tumbuh di batang dan daun tanaman tersebut. “Bulunya itu mengandung racun, kalau bersentuhan dengan kulit bisa menyebabkan gatal dan panas.” “Oh gitu ya, Paman. Untung saja saya gak sempat nyentuh tadi.” “Iya, Nona harus hati-hati. Nona petik sayuran seperti yang saya petik aja.” Irene mengangguk tegas.  Paman Benny pun melanjutkan memetik sayuran. Berbeda dengan Irene yang tengah menyeringai seraya menatap tajam pada tanaman yang nyaris mencelakainya tersebut. Sebuah ide jahat menari-nari dengan lincahnya di dalam kepalanya. Tanpa sepengetahuan paman Benny, dia memetik tanaman itu dengan hati-hati agar tidak mengenai kulitnya. Lalu dia memasukannya ke dalam plastik yang tadi diberikan paman Benny padanya.  Irene kembali ke gubuk setelah paman Benny merasa sayuran yang mereka petik sudah cukup banyak.  Irene tengah bertolak pinggang dengan seringaian yang terbit di wajahnya, tatapannya menusuk ke arah tempat tidur. Tangannya yang masih terbalut sarung tangan, mulai bertindak. Dia keluarkan tanaman beracun tadi dari dalam plastik. Menggesek-gesekan tanaman itu ke atas tempat tidur hingga bulu-bulunya yang bagaikan jarum, menempel disana.  “Biar tahu rasa si cowok m***m itu,” gumamnya jahat. Setelah selesai, dia membuang plastik berisikan tanaman beracun tersebut. Mendudukan dirinya di atas kursi seolah tak ada sesuatu yang terjadi. Dia memainkan smartphone miliknya, sekarang dia hanya perlu menunggu kepulangan Reiki. Dia yakin sebentar lagi Reiki akan pulang jika melihat langit di luar sana yang mulai menghitam.  Sesuai dugaannya, Reiki akhirnya menampakan batang hidungnya setelah seharian dia memilih berkelana di luar.  “Inget pulang juga lo, kirain mau nginep di luar. Ternyata lo pengecut juga, kabur sangking takutnya gue lempar pake batu,” sindir Irene, Reiki mendelik sebal namun dia memilih diam tak menggubris sama sekali sindiran pedas yang dilayangkan Irene padanya.  “Gue pulang karena gue inget lo pasti kelaperan. Nih, makanan buat lo,” ucapnya seraya dia letakan bungkus nasi yang dibawanya di atas meja. Irene tersenyum lebar, tatapan matanya tertuju pada bungkusan tersebut.  Tanpa basa-basi dia melangkah menuju meja dan mendudukan dirinya di kursi kayu. Dia buka bungkusan itu, dan memakan isinya dengan begitu lahap.  “Lo nggak makan?” Tanyanya ketika melihat Reiki tidak ikut makan tapi malah memainkan smartphone-nya seraya duduk di atas kasur. “Gue udah makan tadi.” “Enak banget lo makan duluan sedangkan gue kelaperan di sini.” Reiki berdecak cuek, dia sedang malas berdebat dengan Irene karena itu dia lebih memilih membaringkan tubuhnya di kasur dengan kedua tangannya yang sibuk memegangi smartphone mahalnya.  Irene menyeringai puas di kursinya, menyaksikan Reiki tengah berbaring di atas kasur yang sudah dia lumuri tanaman beracun. Dia yakin sebentar lagi Reiki pasti sengsara karena kulitnya panas dan gatal-gatal. Irene terkekeh pelan, sudah tidak sabar melihat reaksi Reiki nanti disaat racun tanaman itu mulai bereaksi.  “Lo beli makanan ini dimana?” Tanya Irene, memulai pembicaraan. “Lo gak perlu tahu, lo cukup makan aja.” Dan Irene pun memberengutkan bibirnya, dia mengumpat pelan yang hanya bisa didengar sendiri olehnya.  “Lo kenapa sih ngajak gue ke tempat antah berantah kayak gini? Gue sengsara tahu gak disini?” “Bagus dong kalau lo sengsara, lo kan udah terbiasa hidup enak, sekali-sekali gak ada salahnya lo ngerasain gimana rasanya hidup sengsara,” sahut Reiki, tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar smartphonenya. “Dasar cowok gak punya hati lo.” “Lo cewek manja,” balas Reiki, yang untuk kedua kalinya membuat Irene memberengutkan bibirnya tak suka. “Sebagai suami harusnya lo buat istri lo bahagia, bukannya malah bikin istri lo menderita kayak gini.” “Oh, akhirnya lo ngakuin juga kalau lo istri gue. Harusnya lo juga sadar dong sebagai istri lo harus patuhin kata-kata suami lo.” Seketika Irene kehilangan selera makannya. Dia lipat kembali bungkusan nasi di depannya meski makanannya masih tersisa banyak.  “Ngapain gue patuhin kata-kata lo, toh lo juga gak nganggap gue istri lo kok. Kalau lo nganggap gue istri, lo gak bakalan bawa gue ke tempat kayak neraka ini.” Reiki memutar bola matanya malas. Terkadang dia bosan, setiap kali berada dalam satu ruangan dengan Irene, selalu pertengkaran yang terjadi di antara mereka.  “Gue bosen tahu gak di sini? Gue pengen pulang!!” Bentak Irene, tak ada lagi candaan atau pun menahan kesabarannya lagi. Dia mengutarakan dengan jujur sesuatu yang paling diinginkannya saat ini.  “Masih ada waktu tiga hari lagi ampe cuti bulan madu kita selesai. Lo nikmatin aja. Kalau lo bosen, lo bisa jalan-jalan. Ada laut gak terlalu jauh dari sini. Tapi lo jangan coba-coba berenang disana kalau gak mau dimakan hiu. Di sana banyak hiunya, ombaknya juga kenceng. Jadi lo harus hati-hati.” Irene mendengus, dia tak peduli dengan informasi yang baru saja dijelaskan Reiki.  Di atas kasur, Reiki mulai membuka kaos yang dikenakannya. Sesuatu yang biasa dia lakukan jika ingin tidur.  Irene menahan mati-matian keinginannya untuk tertawa ketika dilihatnya Reiki kembali membanringkan tubuhnya di kasur dengan bertelanjang d**a.  “Ren, lo gak mau tidur di sini lagi sama gue? Lo nyaman kan tidur sambil gue peluk? Buktinya semalam tidur lo nyenyak banget.” “Nggak usah, makasih. Lo nikmatin aja tidur di kasur empuk itu. Biar gue ngalah tidur di kursi keras ini.” “Serius lo? Ntar lo ngatain gue cowok kejam lagi. Padahal gue selalu nyuruh lo tidur di kasur sama gue.” “Nggak kok. Serius, lo tidur aja di situ.” “Ya udah, terserah lo.” “Selamat tidur Reiki Savian Altezza. Semoga mimpi indah ya.” Reiki mengernyitkan dahinya mendengarr ucapan Irene yang terlampau aneh menurutnya. Tumben sekali istrinya yang cerewet dan keras kepala itu berbicara lembut padanya. Mencoba mengabaikan kecurigaan di dalam hatinya, Reiki pun mencoba memejamkan kedua matanya.  Di kursinya, Irene pun mulai merebahkan tubuhnya. Kekehan tak hilang dari bibirnya seraya kedua matanya tak berpaling sedikit pun dari sosok Reiki.  15 menit kemudian, tiba-tiba Reiki bangkit dari posisi berbaringnya. Dia turun dari kasurnya dan tak hentinya menggaruk punggungnya.  “Lo kenapa, Rei?” Tanya Irene sok peduli, padahal di dalam hatinya dia sedang menahan mati-matian agar suara tawanya tidak keluar. “Nggak tahu nih, tiba-tiba kulit gue gatel sama panas benget.” “Oh, ya ampun, Rei. Punggung lo merah-merah tuh kayak kebakar. Lo kenapa? Alergi?” Reiki tak menyahut, dia merasa kulitnya benar-benar panas dan gatal tak tertahankan.  Tanpa kata dia berjalan tergesa-gesa menuju pintu, lalu melesat pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Irene. Dan detik itu juga Irene tak lagi menahan tawanya. Dia tertawa terbahak-bahak, hingga suaranya terdengar membahana di dalam gubuk mungil itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN